Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Gunung Pedang
Keesokan harinya, Jing Hu berangkat lebih awal ke pusat pelabuhan udara kota untuk memesan tiket perjalanan. Kendaraan yang akan mereka tumpang bukanlah kereta darat maupun kapal sungai biasa, melainkan sebuah kapal layar besar yang dirancang khusus untuk melayang di angkasa. Bentuknya memang sangat mirip dengan kapal laut, namun tidak memiliki layar atau dayung—gaya penggeraknya sama sekali berbeda. Kapal raksasa ini ditarik oleh tiga ekor Binatang Roh Elang Emas Tingkat Tiga, makhluk yang memiliki kecepatan luar biasa dan stamina yang kuat untuk terbang jarak jauh.
Di wilayah Kerajaan Song ini, binatang roh jenis terbang adalah barang yang sangat langka dan berharga. Harganya melambung tinggi bukan hanya karena kemampuannya untuk terbang, tetapi juga karena sifat aslinya yang liar, sulit ditundukkan, dan butuh waktu bertahun-tahun serta keahlian khusus dari penjinak binatang roh tingkat tinggi agar mau bekerja sama dengan manusia. Oleh karena itu, jasa angkutan udara semacam ini hanya bisa diakses oleh orang-orang yang memiliki cukup kemampuan ekonomi atau kedudukan istimewa.
Setelah urusan pemesanan selesai, Jing Hu segera kembali ke penginapan. Ia mengetuk pintu kamar Riu Han dengan pelan.
Tok... tok... tok...
“Riu Han, apakah kau sudah tidur?” tanyanya lembut.
“Belum, Senior. Ada apa?” jawab Riu Han dari dalam, lalu pintu pun terbuka lebar.
Jing Hu tersenyum melihat ekspresi anak itu yang selalu waspada namun tetap tenang. Semakin lama ia bersama Riu Han, semakin ia menyukai kepribadiannya. Selain bakat kultivasi yang luar biasa, sifatnya yang sopan, rendah hati, dan tidak banyak bicara namun penuh perhatian adalah hal yang sangat sulit ditemukan pada anak seusianya.
“Sungguh keberuntungan besar bagiku dan bagi Sekte Pedang bisa bertemu dengan anak ini,” batin Jing Hu. “Mungkin sekarang belum terlihat seberapa jauh ia bisa melangkah, tapi aku yakin sepenuhnya bahwa suatu hari nanti, namanya akan menggema ke seluruh penjuru benua, bahkan bisa mengguncang dunia kultivasi yang sudah diam selama ribuan tahun. Betapa beruntungnya aku yang menemukan dia lebih dulu dan berhasil membawanya masuk ke dalam sekte kita.”
Tanpa menunda lagi, mereka berdua turun dari lantai atas dan berjalan menuju rumah makan yang terletak tepat di samping penginapan. Tempat itu cukup luas dan terlihat sangat ramai, tidak hanya diisi oleh tamu yang menginap, tetapi juga penduduk kota dan pelancong lain yang sengaja datang untuk menikmati hidangan khas tempat itu.
Mereka memilih meja kosong di sudut ruangan yang cukup tenang. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang dengan senyum ramah.
“Selamat datang, Tuan-tuan. Mau pesan apa?”
“Sediakan dua porsi kambing bakar, roti gandum hangat, dan dua cangkir teh melati hangat,” pesan Jing Hu dengan tenang.
Meskipun penginapan dan rumah makan ini bukan termasuk kelas mewah, suasana di dalamnya tetap tertib dan damai. Pemilik tempat ini sendiri adalah seorang kultivator yang sudah mencapai tingkat Perwira, sehingga ia memiliki cukup wibawa dan perlindungan dari pihak kota. Di samping itu, banyak juga petugas keamanan yang merupakan kultivator berpengalaman yang selalu berjaga. Siapa pun yang berakal sehat tidak akan berani membuat keributan di sini, karena konsekuensinya pasti tidak akan sebanding dengan apa yang didapat.
Pesanan mereka datang dengan cepat. Aroma daging panggang yang gurih dan harum roti hangat langsung menyebar, membuat perut Riu Han terasa semakin lapar. Ia tidak lagi sungkan dan langsung menyantap makanannya dengan lahap. Di hadapan Jing Hu, ia merasa sangat nyaman dan diterima dengan tulus.
Selama ini Riu Han sering mendengar cerita tentang Sekte Pedang. Di antara Delapan Sekte Teratas di benua ini, Sekte Pedang adalah yang paling dihormati dan disegani. Bukan hanya karena pemimpinnya yang kekuatannya mendekati tingkat Dewa, tetapi juga karena para tetua dan anggotanya yang dikenal memiliki prinsip teguh dan keadilan yang tinggi. Jing Hu sendiri adalah salah satu tetua yang dihormati itu. Berbeda jauh dengan Sekte Iblis atau Sekte Pedang Darah yang terkenal kejam, sewenang-wenang, dan sering menindas yang lemah, Sekte Pedang justru dikenal ramah dan melindungi rakyat.
Riu Han teringat perkataan ayahnya: kekuatan Jing Hu jauh di atas pemimpin kota Ling Cun, bahkan gabungan mereka berdua pun belum tentu bisa mengimbangi kekuatan sejati Jing Hu. Namun, orang yang memiliki kedudukan begitu tinggi dan darah keturunan langsung pendiri sekte ini justru bersikap sangat ramah, rendah hati, dan tidak pernah memandang rendah dirinya yang dulu dianggap sampah. Kebaikan tulus Jing Hu sangat membekas di hatinya, membuatnya semakin bersyukur dan bertekad untuk tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan.
Melihat tingkah Riu Han yang polos namun tulus, Jing Hu pun tersenyum puas. Ia senang karena anak itu sudah mulai merasa nyaman dan tidak lagi bersikap kaku atau ragu di dekatnya.
“Riu Han, makanlah dengan kenyang. Setelah selesai, sebaiknya kau beristirahat dengan baik. Besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat,” pesan Jing Hu lembut.
“Baik, Senior,” jawab Riu Han sambil mengangguk mantap.
Keesokan paginya, begitu matahari baru saja muncul di ufuk timur, mereka sudah selesai bersiap dan berangkat menuju pelabuhan udara. Di sana, sebuah kapal layar raksasa sudah siap berangkat. Tiga ekor Elang Emas berukuran sangat besar berdiri di ujung tali penarik, matanya tajam dan sayapnya sesekali mengepak pelan seolah tidak sabar untuk melesat ke angkasa.
Riu Han terpana melihat kapal itu. Bentuknya persis seperti kapal laut besar yang pernah ia lihat di gambar, lengkap dengan geladak, ruang kabin, dan tiang penyangga, namun tidak terbenam di air—melainkan melayang setinggi beberapa meter di atas tanah.
Mereka memilih tiket kelas bawah, yang berarti mereka akan berbaur dengan penumpang lain di geladak terbuka. Sebagian besar penumpang adalah kultivator dari berbagai latar belakang: ada yang muda berkelana mencari pengalaman, ada pedagang senjata dan ramuan, hingga kelompok petualang yang tampak tangguh. Seperti halnya dunia luar, di sini pun ada orang yang ramah menyapa, namun tidak sedikit pula yang menatap sinis atau menganggap remeh orang asing.
Namun, begitu Jing Hu melangkah naik ke atas kapal, suasana riuh di geladak tiba-tiba hening seketika. Meskipun ia sengaja menyembunyikan auranya agar tidak mencolok, wibawa alami yang terpancar dari tubuh seorang kultivator tingkat tinggi tetap tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. Setiap orang di sana bisa merasakan bahwa pria tua yang berjalan tenang itu adalah sosok yang tidak boleh diusik sembarangan. Tidak ada yang berani bersuara keras atau melancarkan niat jahat selama perjalanan berlangsung.
Perjalanan berjalan sangat lancar. Hanya dalam waktu satu hari penuh, kapal itu mendarat dengan mulus di pelabuhan Kota Su. Kota ini berbeda dengan yang lain; suasananya lebih tenang, banyak kediaman sekte kecil, dan gerbangnya sering dilewati murid-murid Sekte Pedang yang sedang menjalankan tugas. Tidak heran jika banyak orang di sana langsung mengenali wajah Jing Hu dan menyapanya dengan hormat.
Dari Kota Su, mereka tidak berjalan jauh. Hanya memakan waktu setengah hari perjalanan menuju arah utara, akhirnya pemandangan yang luar biasa indah dan megah terbentang di hadapan mata mereka.
Di sanalah tempat tujuan mereka: Kaki Gunung Pedang.
Gunung ini menjulang sangat tinggi, seolah menembus langit biru. Puncaknya tersembunyi di balik lapisan kabut putih yang tebal dan abadi, membuatnya terasa misterius dan suci. Lerengnya tertutup hutan hijau yang rimbun, namun di sana-sini terlihat tebing batu yang tajam dan curam yang bentuknya menyerupai mata pedang yang menancap ke bumi. Angin yang berhembus dari atas membawa aura tajam namun jernih, seolah setiap hembusan angin pun mengandung makna pedang yang mendalam.
Riu Han berdiri terpaku, matanya terbelalak memandang keagungan gunung itu. Jantungnya berdegup kencang karena takjub. Di puncak gunung yang tersembunyi di balik kabut itulah tempat Sekte Pedang berdiri, tempat di mana ia akan melangkah menuju babak baru dalam hidupnya.
Lanjut Up Thor 💪💪