Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:
"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."
Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Nadir
Hujan deras di luar seolah-olah berusaha menenggelamkan teriakan yang tertahan di dalam koridor rumah Ardhana. Kilatan petir sesekali menerangi wajah Paman Hendra yang dingin dan kejam, serta wajah Zidan yang dipenuhi keringat dingin meski udara malam itu menusuk tulang. Pistol di tangan Hendra tidak bergetar sedikit pun. Itu adalah tangan seorang pembunuh yang sudah lama berlatih, bukan sekadar eksekutif kantoran.
"Letakkan senjatanya, Nak," ucap Hendra pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan dan gemuruh petir. "Jangan buat aku mengotori karpet Persia ini dengan darah saudaraku sendiri. Atau... darah adik iparmu yang manis itu."
Zidan merasakan otot-ototnya menegang. Ia menghitung jarak. Lima meter. Terlalu jauh untuk serangan mendadak tanpa risiko tembakan. Di sampingnya, Viona menggigil, napasnya tersengal-sengal, namun matanya tetap terkunci pada sosok Pak Wahyu yang terbaring lemas di lantai, dikelilingi oleh dua anak buah Hendra yang bertubuh kekar.
"Apa maumu, Paman?" tanya Zidan, suaranya berusaha tetap stabil meski jantungnya berdegup seperti genderang perang. "Kau sudah punya uang, kekuasaan, dan sekarang Ayah ada di tanganmu. Apa lagi yang kurang?"
Hendra tertawa kecil, tawa yang terdengar garing dan hampa. "Kau masih belum mengerti, Zidan. Uang dan kekuasaan itu rapuh jika fondasinya busuk. Fondasi keluarga Ardhana busuk karena dosa masa lalu. Selama skandal Kendal itu masih hidup, selama ada orang seperti kau dan Viona yang terus menggali, aku tidak akan pernah tidur nyenyak. Aku tidak ingin memimpin perusahaan yang setiap detik bisa runtuh karena skandal lama. Aku ingin membersihkannya. Dan cara satu-satunya... adalah menghapus sumber kebocoran itu."
Ia menggeser laras pistolnya sedikit, mengarahkannya bergantian antara Zidan dan Viona.
"Kalian berdua adalah kanker," desis Hendra. "Dan kanker harus diangkat. Total."
Viona tiba-tiba melangkah maju, melepaskan genggamannya dari lengan Zidan. Matanya berkaca-kaca, namun suaranya lantang. "Jadi kau akan membunuh kami? Di rumah sendiri? Dengan saksi-saksi ini?" Ia menunjuk para preman bertopeng di belakang Hendra. "Mereka akan bicara, Om. Mereka akan menjualmu demi mengurangi hukuman mereka."
Hendra menoleh sekilas pada anak buahnya, lalu tersenyum sinis. "Mereka tidak akan bicara. Karena mereka bukan manusia bayaran biasa. Mereka adalah mantan tentara yang 'hilang' dari daftar dinas. Bagi mereka, identitas sudah mati. Yang tersisa hanya loyalitas pada uang dan perintah. Dan setelah malam ini, mereka akan menghilang lagi, bersama dengan jenazah kalian yang akan diklaim sebagai korban perampokan tragis."
Rasa dingin menjalar di tulang punggung Zidan. Rencana ini sudah dipikirkan matang-matang. Hendra tidak gegabah. Dia monster yang metodis.
"Tapi ada satu masalah," lanjut Hendra, matanya menyipit licik. "Flashdisk asli. Aku tahu kalian tidak bodoh menyerahkan yang palsu kepada Surti tanpa menyembunyikan yang asli di tempat lain. Berikan padaku sekarang, dan mungkin... aku akan mempertimbangkan untuk membuat kematian kalian cepat dan tanpa rasa sakit."
Zidan tertawa pahit. Tawa yang penuh dengan keputusasaan dan kemarahan. "Kau pikir kami akan percaya pada janji pembunuh? Kau bahkan tega menyiksa Mbak Surti dengan ancaman terhadap cucunya."
"Sentimentalitas adalah kelemahan, Zidan," potong Hendra tajam. "Hitung sampai tiga. Jika flashdisk itu tidak muncul di tanganku, aku akan menembak lutut Viona dulu. Biar dia menjerit. Lalu aku tembak kakimu. Dan terakhir... kepala Ayahmu."
Satu.
Zidan memandang Viona. Dalam tatapan wanita itu, ia melihat ketakutan yang mendalam, namun juga sebuah pesan diam-diam. Viona mengedipkan mata dua kali. Kode mereka. Tunggu sinyal.
Dua.
Zidan mengalihkan pandangannya ke jendela besar di ujung koridor. Kaca itu tebal, tahan peluru standar, namun tidak tahan terhadap ledakan atau benturan benda berat dari luar. Dan di luar sana, di tengah hujan dan kegelapan, Raka dan timnya sedang menunggu. Tapi bagaimana memberi sinyal tanpa suara?
Tiga.
Jari telunjuk Hendra mulai menekan pelatuk. Otot di lengannya menegang.
TING!
Suara dentingan keras terdengar tiba-tiba dari arah tangga belakang. Bukan suara tembakan, tapi suara logam yang jatuh. Semua kepala, termasuk Hendra, refleks menoleh ke sumber suara selama sepersekian detik.
Di saat itulah, Zidan bertindak.
Dengan kekuatan penuh, ia mendorong Viona ke samping, menjatuhkan diri ke lantai sekaligus menendang meja konsol kayu berat di sampingnya ke arah Hendra. Meja itu terbang, menghantam dada Hendra dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Pistol di tangan Hendra meletus—DOR!—namun pelurunya meleset, menghancurkan lampu gantung kristal di atas kepala mereka.
Kegelapan total menyelimuti koridor sekali lagi, kini diperparah oleh pecahan kaca yang berhamburan.
"Lari!" teriak Zidan, merangkak menuju tubuh Pak Wahyu.
Namun, sebelum ia bisa mencapai ayahnya, sepasang kaki kuat menendang perutnya, membuatnya terpental ke dinding. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya. Zidan mengerang, mencoba bangkit, namun sepatu bot berat sudah menginjak dadanya.
Itu adalah salah satu preman bertopeng.
"Dasar anak nakal," geram suara kasar di atasnya.
Dari kejauhan, di tengah kebingungan dan kegelapan, Viona berteriak, "Zidan!" Suaranya pecah, penuh horor. Ia mencoba berlari kembali, namun tangan besi lainnya menahan bahunya.
Hendra, yang baru saja bangkit dari balik meja yang roboh, mengusap darah tipis dari hidungnya. Wajahnya merah padam karena amarah. Ia memungut pistolnya dari lantai, lalu berjalan mendekati Zidan yang masih tertindih.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku," desis Hendra. Ia menempelkan ujung pistol dingin itu ke pelipis Zidan. "Sekarang, lihatlah adik iparmu. Lihatlah bagaimana dia menangis karena ketidakmampuanmu. Ini adalah pelajaran terakhir dariku, Zidan. Cinta itu lemah. Kekuasaan itu abadi."
Viona menatap Zidan, air mata mengalir deras di wajahnya. Ia tidak berteriak lagi. Ia hanya menatap, tatapan yang meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan.
Hendra menarik pelatuk.
KLIK.
Senjata macet.
Hendra mengerutkan kening, bingung. Ia menarik tuas pengaman dan mencoba lagi.
KLIK.
"Woi! Senjatamu kosong!" teriak salah satu anak buahnya dari kegelapan.
Wajah Hendra berubah dari marah menjadi panik. "Tidak mungkin! Aku baru mengisinya tadi sore!"
Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah taman yang masuk melalui pintu kaca yang sudah retak. Cahaya senter sorot yang silau menerobos kegelapan koridor.
"Polisi! Jangan bergerak!" teriak suara lantang yang sangat dikenali Zidan. Itu adalah suara Inspektur Bayu, rekan lama Zidan di kepolisian yang telah dihubungi secara rahasia oleh Raka sejak awal.
Hendra terpaku. Ia menoleh ke arah pintu, di mana siluet beberapa anggota Densus 88 dan polisi reserse kriminal sudah mengepung area tersebut. Lampu-lampu mobil polisi di halaman depan berkedip-kedip, menerangi hujan deras dengan cahaya biru dan merah yang dramatis.
Permainan kucing-kucingan telah berakhir. Namun, bagi Zidan yang terbaring di lantai dengan napas yang semakin berat, kemenangan ini terasa hambar. Ia menoleh ke arah Viona, yang kini dilepaskan oleh para penyerang karena panik. Mata mereka bertemu sekali lagi di tengah kekacauan.
Mereka selamat. Untuk saat ini.
Tapi di mata Hendra yang kini diborgol dengan kasar oleh polisi, Zidan melihat sesuatu yang lebih mengerikan daripada kemarahan. Ia melihat senyuman tipis. Senyuman seseorang yang tahu bahwa meskipun ia kalah dalam pertempuran ini, perang sesungguhnya—perang untuk jiwa dan warisan yang teracun—baru saja memasuki fase yang jauh lebih gelap.
Karena saat borgol mengunci pergelangan tangan Hendra, ia berbisik pelan, hanya cukup untuk didengar Zidan yang berada dekatnya:
"Kau pikir ini akhir? Aku hanya pion, Zidan. Raja sebenarnya... masih duduk di takhta, menonton semuanya. Dan dia tidak akan selemah aku."
Siapa raja itu? Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih berat daripada hujan yang mengguyur Semarang malam itu.