Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suasana di dalam tenda medis terasa begitu kontras dengan keriuhan di luar lapangan. Di sini, hanya ada suara putaran kipas angin kecil dan aroma minyak kayu putih yang menyengat. Wulan masih terbaring lemah, wajahnya pucat pasi, namun matanya sudah terbuka, menatap hampa ke langit-langit tenda yang berwarna putih kusam.
Hasna berlari kecil memasuki tenda dengan wajah penuh kecemasan. Di belakangnya, Fatih melangkah dengan jantung yang berdegup kencang. Pertemuannya dengan gadis pembawa sembako tadi masih menyisakan getaran aneh di dadanya, dan kini Hasna membawanya menemui "Wulan".
"Wulan... kamu tidak apa-apa? Ya Allah, aku khawatir sekali saat dengar kamu pingsan," suara Hasna memecah keheningan. Ia segera duduk di tepi ranjang, membelai tangan Wulan yang terasa sedingin es.
Wulan hanya menggeleng lemah. Ia ingin bicara, tapi tenggorokannya terasa tersumbat oleh gumpalan sesak yang tak kunjung hilang. Namun, detik berikutnya, seluruh tubuh Wulan menegang. Ia melihat sosok pria yang berdiri di belakang Hasna. Pria yang sepuluh tahun lalu ia cintai dengan seluruh nyawanya, pria yang seminggu lalu mengusirnya seperti sampah, kini berdiri tepat di hadapannya.
Fatih tersentak. Langkahnya terhenti tepat di samping Hasna. Tatapan matanya terkunci pada sepasang mata di balik cadar itu.
“Mata itu...” batin Fatih berteriak. Sorot mata yang sendu, dalam, dan menyimpan luka yang begitu luas. Sorot mata yang sama dengan Wulan di Tasikmalaya sepuluh tahun lalu, dan sorot mata yang sama dengan Bella yang ia usir di Jakarta.
"Nama kamu... Wulan?" Tanya Fatih, suaranya serak, hampir tidak keluar.
Wulan mengangguk perih. Ia tidak bisa menghindar lagi. Namun, di balik cadarnya, hatinya sedang berperang. Ada rasa cemburu yang aneh dan menyakitkan yang tiba-tiba membakar dadanya. Ia cemburu pada dirinya sendiri. Bella—identitas yang ia gunakan untuk melayani Fatih sebagai istri—merasa cemburu melihat bagaimana Fatih menatap "Wulan" dengan penuh rasa ingin tahu dan perhatian yang mendalam.
Hasna, yang tidak menyadari ketegangan hebat di antara keduanya, mencoba mencairkan suasana. Ia menoleh pada Wulan dengan senyum bangga.
"Wulan, kenalin, ini yang namanya Ustadz Fatih. Sosok yang kemarin aku ceritain ke kamu... dialah orang baik yang menolong aku saat aku benar-benar rapuh dan terjatuh di jembatan itu."
Mendengar pujian Hasna, hati Wulan semakin terbakar. Ia teringat cerita Hasna tentang bagaimana Fatih menyelamatkannya, membimbingnya, dan menjadi cahaya baginya. Sementara baginya, Fatih hanyalah hakim yang menjatuhkan vonis tanpa mau mendengar pembelaan. Rasa benci dan cinta beradu, menciptakan badai yang menyiksa di dalam batinnya.
Fatih tidak bisa menahan rasa penasarannya. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang besar di balik cadar ini. "Kamu... kamu asal dari mana?"
Wulan menelan ludah, suaranya keluar kecil namun tegas. "Jakarta... saya dari Jakarta."
Fatih terdiam. Bahunya merosot seketika. Harapan yang tadi sempat melambung tinggi kini jatuh menghantam bumi. “Jakarta? Bukan... mungkin aku memang salah. Wulanku berasal dari Tasikmalaya. Bukan Jakarta,” pikir Fatih dengan rasa kecewa yang amat dalam. Ia lupa bahwa seorang wanita yang hancur bisa saja mengganti seluruh identitasnya untuk menghilang.
### **Luka yang Tersayat Lagi**
Tiba-tiba, tirai tenda medis terbuka. AKBP Ridwan masuk dengan langkah tegap, membawa sebungkus besar buah-buahan segar di tangannya. Wajah polisi tegas itu melunak saat melihat Wulan sudah sadar.
"Dek Wulan sudah mendingan? Syukurlah," ucap Ridwan lembut. Ia meletakkan buah-buahan itu di meja kecil samping ranjang. "Ini saya bawa buah-buahan buat nambah energi. Kamu harus kuat, jangan sampai telat makan lagi."
"Terima kasih... terima kasih banyak, Pak," jawab Wulan tulus. Suaranya terdengar lebih lembut saat bicara pada Ridwan, sebuah kontras yang menusuk telinga Fatih.
Fatih merasakan ada sesuatu yang bergejolak di ulu hatinya. Rasa cemburu. Aneh, ia merasa cemburu melihat kedekatan Ridwan dengan Wulan, padahal ia baru saja meyakinkan dirinya bahwa gadis ini bukanlah "Wulannya".
Ridwan baru menyadari kehadiran Fatih. "Eh, Ustadz di sini juga?" Ridwan mengulurkan tangan, menjabat tangan Fatih dengan erat.
"Iya, Pak Ridwan..." jawab Fatih, mencoba bersikap normal meski hatinya sedang berkecamuk.
"Saya sedang bertugas pengamanan di sini tadi, Ustadz. Pas banget tadi Dek Wulan jatuh pingsan di kerumunan, jadi saya reflek membopongnya ke sini. Berat badannya ringan sekali, seperti orang yang tidak makan berhari-hari," cerita Ridwan tanpa bermaksud apa pun.
Prank!
Hati Fatih benar-benar tersayat mendengar kata "membopong". Bayangan Ridwan mendekap tubuh Wulan yang tak berdaya, membawanya dengan penuh perlindungan, membuat ulu hati Fatih terasa nyeri. Mengapa ia harus sepedih ini? Padahal pria di hadapannya ini adalah sahabatnya sendiri, seorang polisi yang baik. Namun, rasa memiliki yang primitif bangkit di dalam dirinya, menyiksa batinnya yang sedang kalut.
Hasna kemudian menyentuh bahu Ridwan. "Pak Ridwan, sepertinya ada yang perlu kita bicarakan mengenai kelanjutan acara baksos di luar. Barisan di meja ujung perlu tambahan personel."
"Baik, Bu Hasna. Mari kita bicarakan di luar," jawab Ridwan patuh.
Mereka berdua pun melangkah keluar, meninggalkan Fatih di dalam tenda bersama Wulan dan dua orang rekan panitia lainnya yang sedang sibuk merapikan alat medis di sudut ruangan.
### **Tatapan yang Terabaikan**
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti tenda. Fatih berdiri mematung di sisi ranjang, mencoba menatap mata Wulan, mencari kebenaran di sana. Ia ingin memastikan sekali lagi, apakah di balik kain putih itu benar-benar bukan istrinya. Namun, Wulan berpura-pura sibuk mengambil botol minum di meja, tangannya yang gemetar sengaja menghindari jangkauan pandangan Fatih.
Wulan tidak sanggup. Ia tidak sanggup menatap mata Fatih yang penuh dengan rasa bersalah namun juga penuh dengan ketidaktahuan. Ia merasa seperti sedang dipermainkan oleh takdir.
"Ukhti... saya ingin beristirahat dulu. Tolong... saya butuh ketenangan," ucap Wulan kepada dua rekannya, namun tujuannya jelas untuk mengusir Fatih secara halus.
"Baik, Ukhti Wulan. Ustadz, mohon maaf, sepertinya Wulan butuh istirahat total dulu," ucap salah satu rekan Wulan dengan sopan.
Fatih merasa seperti dihempas oleh tembok besar. Ia merasa diabaikan, ditolak, dan diasingkan. Mungkin karena batasan syariat, pikirnya. Ia bukan muhrim gadis ini, tidak pantas baginya berlama-lama di sana. Dengan langkah berat dan hati yang hancur berkeping-keping, Fatih berlalu keluar tenda.
Di luar, ia melihat Hasna dan Ridwan masih berbincang serius di dekat panggung utama. Fatih mendekat untuk berpamitan.
"...dia tidak pernah menceritakan detail dirinya, saya sangat menghargai privasinya, Pak Ridwan," lamat-lamat Fatih mendengar suara Hasna yang sedang menjelaskan sesuatu tentang Wulan kepada Ridwan.
Fatih berhenti sejenak. Kalimat Hasna seolah menegaskan bahwa gadis bernama Wulan itu adalah sosok yang penuh misteri, sama seperti Bella-nya. Namun, ego dan keraguan kembali menyelimuti pikirannya.
"Hasna, Pak Ridwan... saya pamit dulu. Lukman dan yang lain sudah menunggu di depan," ucap Fatih dengan suara yang kehilangan daya.
"Oh, sudah mau pulang, Ustadz? Hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mampir membantu," jawab Ridwan sambil menepuk bahu Fatih.
Fatih hanya mengangguk lemah. Saat ia berjalan meninggalkan lapangan, ia menoleh sekali lagi ke arah tenda medis. Di dalam sana, ada seorang wanita yang sedang menangis tanpa suara di balik cadarnya, meratapi cinta yang begitu besar namun terhalang oleh dinding kesalahpahaman yang begitu tinggi.
Fatih masuk ke dalam mobil di mana Lukman sudah menunggu.
"Gimana, Tih? Ada hasil?" tanya Lukman penuh harap.
Fatih menyandarkan kepalanya ke jok mobil, matanya terpejam rapat. "Ada gadis bernama Wulan di sana, Man. Sorot matanya... sangat mirip. Tapi dia bilang dia dari Jakarta. Hasna juga bilang dia bukan Bella."
Lukman terdiam. Ia meraba saku celananya, merasakan kertas surat yang masih tersimpan di sana. Hatinya bergejolak. Ia melihat betapa menderitanya sahabatnya itu. “Tih, kalau saja kamu tahu... kalau saja kamu tahu betapa dekatnya kamu dengan kebenaran tadi,” batin Lukman merana.
Mobil itu pun bergerak menjauh, meninggalkan lapangan yang penuh debu, meninggalkan Wulan yang sedang menggenggam foto ijab kabul yang sudah lecek, dan meninggalkan Ridwan yang masih menatap tenda medis dengan tatapan yang sulit diartikan. Di bawah langit pinggiran kota, takdir sedang menyiapkan babak baru yang jauh lebih menyakitkan bagi mereka semua.