Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejut Lagi 25
Degh!
Amar tersentak ketika mendengar tentang kabar putrinya. Dan Amar juga baru sadar bahwa sekarang ini Afira berada di rumah sakit. Karena saking pusingnya dan bingung pikirannya, dia bisa lupa dengan Afira yang sedang sakit.
"Mas!" pekik Farrah dari seberang sana.
"Ah maaf, iya aku denger. Aku habis ini langsung ke sana. Aku bener-bener minta maaf. Semalam aku pulang ke rumah karena tiba-tiba kepalaku sakit. Tunggu ya, aku jalan sekarang,"jawab Amar.
Ia mematikan panggilan telepon tersebut dan segera pergi menuju ke rumah sakit. Ia pergi dengan terburu-buru, tanpa berpamitan kepada sesiapa pun yang ada di ruang rapat itu.
Arimbi jelas tidak peduli. Baginya sekarang apapun yang dilakukan oleh Amar kepada selingkuhannya tak lagi jadi urusannya. Yang penting sekarang adalah dia harus segera menyelesaikan dua urusan penting yang ada di depan mata.
"Apa dia mungkin akan pergi menemui wanita itu?"
Farhan bergumam lirih melihat salah satu atasannya pergi tanpa pamit. Dan agaknya pertanyaan yang sama juag dilontarkan oleh para investor yang ada di sana. Meski tidak diucapkan lewat mulut, tapi tatapan mata mereka jelas mengisyaratkan pertanyaan yang sama dengan Farhan.
Setelah menatap kepergian Amar, mereka mengalihkan pandangan kepada Arimbi. Kasihan dan iba, itulah yang dirasakan oleh Arimbi.
Tapi Arimbi tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia tidak akan menolak tatapan iba dan kasihan. Malah menjadi hal yang bagus, karena orang-orang dengan jelas mengetahui bahwa dirinya tengah merasa disakiti oleh suami yang tidak tahu diri.
"Bisa pindah tempat aja Kak, di sini nggak nyaman banget," pinta Arimbi kepada Ran. Mereka masih harus membahas hal lainnya terkait pemisahan perusahaan.
"Oke, mau kemana enaknya. Aku manut aja,"jawab Ran yang mengetahui rasa tidak nyaman Arimbi.
"Ke ruanganku aja, Kak. Ayo. Lagian aku juga udah nggak ada urusan sama mereka. Aku sudah cukup ngasih pancingan ke mereka. Beberapa diantara investor itu, tidak kutemui secara pribadi. Jadi biarlah mereka memutuskan akan berpihak pada siapa. Dan beberapa diantaranya sudah memastikan akan berpihak padaku nantinya."
Ran tersenyum lebar. Arimbi adalah wanita yang tegas dan cerdas. Pola berpikirnya juga cepat dan tepat. Ran secara sadar memuji Arimbi dan kagum dengan wanita tersebut.
Lalu Amar, dia benar-benar berusaha untuk sampai di rumah sakit dengan cepat. Sesampainya di rumah sakit, Amar bergegas masuk menuju ke bagian ICU. Di sana dia melihat Farrah yang tergugu.
"Sayang," panggil Amar. Dia lalu duduk di sisi Farrah lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Afira, Mas. Kasihan Afira. Semalam, semalam tiba-tiba dia kejang. A-aku takut banget dia kenapa-napa,"ucap Farrah sambil menangis terisak.
"Maafin aku ya, aku beneran lupa kalau hape dimatiin. Aku, aku juga sempat lupa kalau Afira di rumah sakit."
Degh!
Sejenak Farrah terkejut mendengar Amar berkata bahwa suaminya itu lupa dengan putrinya. Sungguh dia tidak menyangka bahwa Amar bisa lupa Afira sedang sakit. Bagaimana bisa, begitulah isi kepala Farrah
Akan tetapi wanita itu tidak ingin ribut. Dia tidak mau menyulut sebuah masalah. Terlebih saat ini situasi mereka sedang tidak baik-baik saja. Pertama, Amar dan dirinya sedang sangat terdesak oleh pemberitaan di luar sana. Dan yang kedua adalah, Afiira sedang sakit. Farrah tidak ingin rasa kesalnya menjadi bumerang buat dirinya sendiri.
"Nggak apa-apa, Mas. Kamu pasti juga capek, jadi wajar kamu ketiduran atau apa. Sekarang yang penting kita doakan buat Afira. Semoga anak kita baik-baik aja. Ngomong-ngomong kamu dari mana Mas?"
Farrah ternyata penasaran juga dengan kegiatan Amar selama tidak bersamanya. Terlebih penampilan Amar sangat rapi hari ini seperti akan pergi bekerja.
"Aku tadi dari kantor. Ada beberapa hal yang perlu ditangani. Arimbi juga tadi ada di sana. Dia ditemani pengacara. Katanya dia udah melayangkan gugatan ke PA, dan tinggal tunggu panggilan,"jawab Amar.
Farrah seketika membuka matanya. Tangisnya yang sedari tadi belum juga selesai itu tiba-tiba berhenti. Seutas senyum tipis terbit di bibirnya. Akan tetapi Amar tidak melihat senyum Farrah itu karena hanya sekilas.
Ya, Farrah tidak ingin Amar mengetahui isi hatinya. Farrah tidak ingin Amar menyadari bahwa dirinya sangat senang dengan kabar perceraian itu. Bukan hanya sekedar senang tapi Farrah begitu menginginkan perceraian Amar dengan Arimbi.
"Haaah, pusing aku,"keluh Amar.
"Kenapa Mas, soal perceraian kamu?" tanya Farrah basa-basi. Dia sebenarnya ingin mengorek infomasi lebih jauh lagi.
"Bukan, bukan soal itu. Aku udah pasrah dengan perceraian itu. Biar Arimbi yang melakukan sesuai kemauannya. Yang bikin aku pusing adalah, Arimbi mau pecah kongsi. Dia mau memecah FAE, dan mengambil bagiannya."
APA??
Farrah terkejut bukan main. Dia yang awalnya berada di pelukan Amar seketika mengurai pelukan suaminya itu dan duduk dengan tegak. Suaranya juga sedikit agak keras sehingga Farrah langsung menutup mulutnya sendiri ketika sadar apa yang dilakukannya.
"Apa maksudnya itu, Mas?" tanya Farrah memastikan.
"IYa, Arimbi mau pecah kongsi. Dia mau memecah FAE dan sepertinya mau mendirikan usahanya sendiri,"jawab Amar sambil mengusap kasar kepalanya.
"Kok bisa gitu? Kenapa dia tiba-tiba ngelakuin itu?"
"Ya dia jelas bisa ngelakuinnya. Sebagian modal yang dipakai buat bikin FAE kan emang dari dia. Dia juga direktur di sana yang sangat paham pembagian hasil dan lain sebagainya. FAE, meskipun F emang singkatan nama kamu, tapi sebenarnya sebagian nya adalah milik Arimbi."
Degh!
Terkejut, terperangah, terkesiap. Farrah sampai sulit mendeskripsikan apa yang dirasakannya sekarang. Dia sungguh tidak tahu bahwa Arimbi juga memiliki sebagian dari FAE.
Farrah pikir, FAE murni milik Amar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata itu merupakan usaha bersama.
"T-terus, apa yang akan terjadi nanti?"
"Ya otomatis bagi dua. Para investor juga udah setuju, mau gimana lagi. Aku tetap akan pake FAE dan nggak tahu Arimbi akan pake nama apa buat bikin nama perusahannya."
Farrah masih tidak percaya. Malah dia sangat tidak percaya. Dia tidak pernah berpikir bahwa Arimbi ternyata punya andil yang sangat besar dalam perusahan yang dikepalai oleh Amar.
"Sial,"gumamnya lirih, nyaris tanpa suara.
Keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Amar dan Farrah memiliki hal yang mreka pikirkan sendiri dan tidak diungkapkan.
Namun semuanya serempak tersadar dan berdiri ketika dokter memanggil mereka.
"Bapak dan Ibu, mohon maaf. Kondisi putri Anda berdua sekarang sangat tidak baik. Masa kritis yang dialami tadi malam sampai sekarang belum juga terlewati. Sebaiknya Anda berdua berdoa, dan kami akan terus berusaha sebaik mungkin."
"Apa, bagiamana bisa begitu? Dok, anak saya pasti akan sembuh kan?" pekik Farrah. Sejenak dia tadi melupakan putrinya karena larut dengan pikirannya sendiri.
"Kita akan berusaha, Bu. Mari kita semua berusaha."
Bruk!
"Farrah!"
TBC
mbak mbi yg sabar ....mak lakor tu anggap j angin kentut ...bau..jd lebih baik menjauh..
datang tp di maki diam saja buat apa, ya maki balik lah. sekalian viral nya kl mbales jng setengh setengh.
mampus si amar nyesel ternyata bukan ibu peri yg didapat mak Lampir 🤭🤭🤭
kasian JD korban dari orang tua tapi hati hati Arimbi mnt km mlh disalahkan m orang picik