NovelToon NovelToon
Kembalinya Dewa Kematian

Kembalinya Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:148.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.

Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.

Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelompok Bulan Kelam

Boqin Changing mengangkat tangan kanannya. Kilatan cahaya redup melintas di cincin ruang yang melingkar di jarinya. Seketika sebuah kursi kayu sederhana muncul di hadapannya. Kursi itu tidak memiliki ukiran mewah. Bentuknya biasa saja, namun cukup kokoh untuk menopang seseorang.

Tidak lama kemudian terdengar suara langkah cepat dari arah sungai.

Tap! Tap! Tap!

Tan Sue telah kembali. Di pundaknya, pria berpakaian hitam itu masih tergantung lemas. Seluruh tubuhnya sesekali bergetar hebat akibat racun yang masih bekerja.

Begitu tiba di hadapan Boqin Changing, Tan Sue segera membungkukkan badan.

"Senior."

Boqin Changing mengangguk pelan.

"Dudukkan dia di kursi itu."

"Baik."

Tan Sue segera melaksanakan perintah. Ia mengangkat tubuh mata-mata itu, lalu mendudukkannya di atas kursi kayu. Karena seluruh tubuhnya telah kehilangan tenaga, pria itu hanya bisa terkulai dengan kepala sedikit tertunduk.

Kini seluruh pandangan tertuju kepadanya. Di bawah cahaya api unggun, pakaian hitam yang dikenakannya terlihat jelas. Di bagian dada sebelah kiri terdapat lambang Tengkorak Hitam.

"Itu lambang Kelompok Tengkorak Hitam."

Salah seorang tetua berbisik pelan. Beberapa orang lain ikut menganggukkan kepala.

Namun setelah memperhatikan wajah pria itu cukup lama, mereka semua menggeleng.

"Tidak ada yang mengenalnya."

"Aku juga belum pernah melihat wajah orang ini."

Bahkan Wang Zhou dan Tetua Agung Peng pun tampak mengernyit. Mereka juga sama sekali tidak mengenal pria itu.

Boqin Changing memperhatikan wajah pria itu beberapa saat. Sorot matanya tenang, seolah sedang mengamati seekor binatang kecil yang terjebak.

Tiba-tiba senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Kau pasti sangat kesakitan, bukan?"

Pria berpakaian hitam itu langsung mengangkat kepalanya. Matanya dipenuhi amarah sekaligus ketakutan.

Boqin Changing tetap tersenyum.

"Racun yang kuberikan tadi bukan racun biasa."

Ia menyandarkan tubuhnya ke batu besar di belakangnya.

"Itu racun yang berasal dari Katak Panah Perak."

Beberapa tetua langsung saling berpandangan. Mereka pernah mendengar nama racun itu.

Boqin Changing melanjutkan dengan nada santai, seolah sedang menceritakan sesuatu yang biasa.

"Racun ini sangat ganas. Ia tidak langsung membunuh korbannya."

"Sebaliknya... ia akan merusak organ tubuh manusia satu per satu selama dua puluh empat jam."

"Jantung... Paru-paru... Hati... Ginjal... Semuanya akan perlahan-lahan mengalami kerusakan."

Ia tersenyum semakin lebar.

"Dan selama dua puluh empat jam itu... kau akan terus merasakan rasa sakit yang luar biasa."

"Tidak akan ada satu tarikan napas pun yang terasa nyaman."

Pria itu membelalakkan matanya. Seluruh tubuhnya kembali bergetar hebat. Ia berusaha membuka mulut.

"Agh..."

"A...!"

Namun tidak ada suara yang keluar. Hanya desahan pelan yang terdengar.

Mulutnya seolah tidak lagi mematuhi perintah otaknya. Lidahnya pun terasa kaku.

Boqin Changing mengangguk pelan.

"Jangan dipaksakan. Racun itu sudah mengganggu mulut dan lidahmu."

"Untuk saat ini... kau memang tidak bisa berbicara."

Mata pria itu mulai dipenuhi kepanikan.

Boqin Changing bangkit dari duduknya. Ia berjalan perlahan hingga berdiri tepat di depan pria tersebut.

"Kau pasti lebih memilih mati daripada menjawab pertanyaanku. Tapi..."

Ia menundukkan sedikit badannya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal.

"Masalahnya... apakah kau mampu bertahan menghadapi rasa sakit itu?"

Pria itu hanya mampu menatapnya dengan napas memburu. Perlahan-lahan, guratan-guratan berwarna ungu mulai muncul dari lehernya, kemudian menjalar ke pipi hingga pelipis. Racun itu jelas semakin menyebar.

Boqin Changing memperhatikan perubahan itu sambil tersenyum puas.

"Lihat. Racunnya mulai bekerja lebih dalam."

Kemudian ia berkata dengan suara datar.

"Aku bisa meracunimu."

"Dan aku juga bisa menyembuhkanmu."

Ia mengangkat satu jari.

"Jawab semua pertanyaanku dengan jujur. Aku akan memberimu obat penawar."

"Tetapi..."

Senyumnya perlahan berubah menjadi dingin.

"Kalau kau tetap memilih diam... Aku akan meracunimu lagi setelah racun ini sembuh."

"Dan satu jam sebelum kematianmu... aku akan memberimu penawar."

"Seluruh tubuhmu saat itu sudah tidak bisa bergerak. Kau tidak akan bisa berteriak."

“Tidak akan bisa bunuh diri."

"Tidak akan bisa pingsan."

"Kau hanya bisa terus merasakan penderitaanmu sendiri."

Ia menatap lurus ke mata pria itu.

"Pada saat itu... kau akan berpikir..."

"Bahwa kematian jauh lebih baik daripada tetap hidup."

Wajah mata-mata itu berubah pucat pasi. Tatapan matanya yang semula penuh kebencian kini mulai dipenuhi rasa takut.

Boqin Changing kemudian merogoh saku jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah pil berwarna putih kebiruan. Tanpa memberi kesempatan pria itu menolak, ia langsung membuka paksa mulutnya dan memasukkan pil tersebut ke dalam tenggorokannya.

"Glek."

Pil itu tertelan. Boqin Changing kemudian melangkah mundur beberapa langkah.

Di belakangnya, suasana benar-benar sunyi. Para tetua dan murid hanya mampu mengembuskan napas panjang. Beberapa orang bahkan tanpa sadar menelan ludah.

Wajah para murid tampak pucat. Apa yang baru saja diucapkan Boqin Changing terdengar jauh lebih mengerikan daripada ancaman kebanyakan pendekar aliran hitam.

Salah seorang tetua sekte kecil menggeleng pelan.

"Metode interogasinya... benar-benar membuat bulu kuduk berdiri."

Murid lain menatap Boqin Changing dengan ekspresi rumit. Entah mengapa, di mata mereka saat ini, sosok yang nampak tenang itu justru terlihat lebih menyeramkan daripada banyak pendekar aliran hitam yang pernah mereka temui.

Di barisan paling belakang, seorang murid menyenggol lengan rekannya pelan. Ia kemudian berbisik dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Benar, kan... apa yang kukatakan tadi?"

Rekannya menoleh.

Murid itu menelan ludah sebelum melanjutkan bisikannya.

"Dia... psikopat."

Rekannya buru-buru menepuk lengannya.

"Ssst! Kalau dia mendengar, kita yang bisa jadi korban berikutnya."

Seketika kedua murid itu langsung menutup mulut dan berdiri setegak mungkin, tidak berani lagi melontarkan sepatah kata pun.

...*******...

Perlahan-lahan, guratan-guratan ungu di wajah pria itu mulai memudar. Warna hijau dan ungu pada kulitnya juga berangsur menghilang. Tubuhnya yang semula terus bergetar kini mulai tenang.

Semua orang memperhatikan perubahan itu tanpa berkedip.

"Racunnya mulai hilang..."

Salah seorang tetua berbisik pelan.

Beberapa tarikan napas kemudian, pria berpakaian hitam itu perlahan mengangkat kepalanya. Kali ini mulutnya dapat bergerak kembali. Ia membuka bibirnya dengan susah payah.

Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuat semua orang terdiam.

"Ji... jika aku menjawab semua pertanyaanmu..."

Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang.

"...apakah kau akan membiarkanku hidup?"

Boqin Changing tersenyum tipis. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya.

"Tentu saja."

Nada suaranya terdengar begitu tenang.

"Aku berjanji tidak akan menyerangmu saat kau pergi nanti."

Ia kemudian menyapu seluruh orang yang berada di sekitarnya dengan pandangan datar.

"Aku juga memastikan tidak ada seorang pun di tempat ini yang akan menyerangmu."

Suasana kembali sunyi. Pria itu menatap Boqin Changing cukup lama, seolah sedang menilai apakah kata-kata itu layak dipercaya.

Beberapa saat kemudian, ia mengembuskan napas pelan.

"Baiklah... kalau begitu... aku akan menjawab."

Boqin Changing menganggukkan kepala pelan.

"Bagus."

Ia tidak membuang waktu.

"Pertanyaan pertama."

"Siapa dirimu?"

"Dan... apakah kau berasal dari Kelompok Tengkorak Hitam?"

Pria itu terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab.

"Namaku... Liu Bin."

Ia menarik napas pelan. Tatapannya sempat beralih ke lambang tengkorak di dadanya. Kemudian ia berkata dengan suara pelan,

"...aku bukan berasal dari Kelompok Tengkorak Hitam."

"Apa?"

Tetua Agung Peng langsung mengernyit.

Beberapa tetua dari sekte lain pun tampak terkejut.

"Mustahil."

"Bukankah pakaian itu milik Kelompok Tengkorak Hitam?"

"Informasi yang kami terima juga mengatakan bahwa orang-orang yang memasuki Hutan Kematian adalah sisa-sisa Kelompok Tengkorak Hitam."

Bisikan segera terdengar dari berbagai arah.

Namun di tengah keterkejutan semua orang, hanya Boqin Changing yang tetap terlihat tenang. Seolah-olah jawaban itu sama sekali tidak mengejutkannya.

"Oh..."

Boqin Changing tersenyum tipis.

"Jadi kau bukan dari Kelompok Tengkorak Hitam."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan santai,

"Kalau begitu... apa mungkin kau berasal dari Kelompok Bulan Kelam?"

Begitu nama itu disebutkan, wajah Liu Bin langsung berubah drastis. Kedua matanya membelalak. Ekspresi terkejut jelas terlihat di wajahnya.

Di dalam hatinya, gelombang keterkejutan terus bermunculan.

"Dia..."

"Bagaimana dia bisa tahu..."

Kelompok Bulan Kelam merupakan kelompok yang sangat rahasia. Keberadaan mereka hampir tidak pernah diketahui dunia luar.

Bahkan di kalangan para pendekar papan atas, hanya segelintir orang yang pernah mendengar nama kelompok tersebut. Lalu bagaimana mungkin pemuda yang berdiri di hadapannya dapat menyebut nama itu dengan begitu mudah?

Boqin Changing melihat Liu Bin hanya terdiam sambil menatapnya. Senyumnya perlahan menghilang.

"Jawablah dengan jujur."

Nada suaranya kembali berubah dingin.

"Kalau kau berbohong..."

Ia menatap lurus ke mata Liu Bin.

"Percayalah. Aku akan meracunimu kembali."

"Dan saat itu terjadi... kau bahkan akan lebih memilih mati daripada merasakan rasa sakit itu lagi."

Liu Bin tanpa sadar menelan ludah. Ancaman itu langsung mengingatkannya pada penderitaan yang baru saja ia alami.

Tubuhnya bahkan masih menyimpan sisa-sisa rasa nyeri dari racun tersebut. Dengan wajah gugup, ia akhirnya menundukkan kepala.

"...Benar. Aku berasal dari Kelompok Bulan Kelam."

Suasana di sekitar api unggun kembali sunyi.

Tetua Agung Peng mengernyit dalam. Beberapa tetua lain saling bertukar pandang dengan ekspresi bingung.

"Kelompok Bulan Kelam?"

"Aku belum pernah mendengar nama itu."

"Jadi... selama ini musuh yang kita intai bukan Kelompok Tengkorak Hitam?"

Kini mereka menyadari satu hal. Selama ini, mereka bahkan tidak benar-benar mengenali siapa musuh yang sedang mereka hadapi.

Namun berbeda dengan mereka, Boqin Changing justru tampak sangat tenang. Seolah-olah ia telah mengenal Kelompok Bulan Kelam sejak lama.

Boqin Changing sendiri nampak tersenyum mendengar jawaban pria itu.

“Baiklah. Kita lanjut pertanyaan kedua...”

1
Iban Hakim
Keren
budiman
satu mawar 🌹
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤣🤣🤣🙏
Zainal Arifin
sehebat apapun pencapaian seorg anak,ddepan org tuanya dia ttaplh seorg anak yg harus menghormati ortunya,itulah pesan dan pelajaran bagi kita....😍🤲🤲
Mahayabank
Mantap Lanjuuuut lagi.. 🔁👍💪💪✅
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁👀
Mahayabank
💪💪💪👍👍✅✅
Mahayabank
Makasih upnya 👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
Rinaldi Sigar
lnjut
Mahayabank: Lanjuuuuut 👍👍
total 1 replies
Baim Putra Kirana
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Raju
hadeeeeech.....
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍
Nanik S
Baru kejutan si Tuan muda menyerah 👍👍👍
Nanik S
Wkwkwkwkwk Tuan besar kalah sama Boqin Feng...🤣🤣🤣🤣
yayat
diracunin ayahnya untuk mancing n dpt ijin dr ibunya boqin ga berkutik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe ayoooo mancing mania 👍🤣
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hiburan 🌽🔥
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Wu Xing tepat untuk tetap diSekte, karena dia Ketua Sekte yang ikut Boqin Changing ke Kaisaran Qin. selain menjaga Sekte bisa juga melatih orang diSekte.
Zainal Arifin
libur ???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!