NovelToon NovelToon
Tuan Galak & Nona Kecil

Tuan Galak & Nona Kecil

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Patahhati / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Casilla Bella

Karya ini murni dari imajinasi penulis. Tidak ada unsur plagiat.

🌺🌺🌺

Angga Pratama, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia terkenal dengan kedinginannya. Mamanya memaksa Angga untuk segera menikah. Jika Angga tidak menikah juga. Maka, Santi akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya.

Anastasya, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun. Ia dibesarkan oleh asisten rumah tangganya. Yang di kenal dengan panggilan Bibi Ratih.

Suatu hari Angga dan Tasya dipertemukan. Namun, bukan pertemuan yang baik seperti pada umumnya.

Penasaran dengan kisah mereka? Jangan lupa favoritkan novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casilla Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter-23

"Apa semuanya berjalan dengan rapi?" tanyanya.

"Iya Bos! Semua terlihat murni karena kecelakaan!" jawab orang suruhan pria itu.

"Lalu bagaimana dengan mobil truk itu?"

"Tenang Bos. Kami membuat semuanya dengan rapi. Tidak ada orang yang melihat kami merusak remnya juga!" ujarnya.

"Bagus!" pria itu tersenyum.

"Lalu bagaimana dengan keadaan sopir truk itu?" tanyanya lagi.

"Sopir truk itu meninggal di tempat Bos!"

"Baiklah, kerja kalian sangat bagus! Apa dia juga meninggal di tempat?"

"T-tidak Bos! Tapi, menurut informasi hari ini dia sedang koma."

"Koma ya?" pria itu menyeringai.

"Ini bayaran untuk kerja kalian!" pria itu memberikan uang untuk mereka berdua.

"Terima kasih Bos!" seru kedua orang itu. Lalu pergi meninggalkan bosnya.

"Angga... Angga. Aku hanya tinggal menunggu kematianmu saja!" gumam pria itu sambil tersenyum jahat.

Di sisi lain...

"Dok, kira-kira kapan suami saya dan Bije sadar?" tanya Tasya.

"Saya juga tidak tahu pasti. Semoga saja mereka berdua lekas siuman." Ujar dokter itu.

Tasya mengangguk, "Ma, Mama pulang saja dulu. Biar Tasya yang jagain Angga. Mama butuh banyak istirahat," ujarnya.

Santi menggelengkan kepala, bibirnya bergerak-gerak, namun ia tidak dapat berbicara.

"Tidak, Mama ingin di sini!" ucapnya dalam hati.

"Ma, Mama harus beristirahat. Mama juga harus meminum obat, supaya Mama cepat sembuh!" bujuk Tasya.

Akhirnya Santi pun mengangguk, menuruti perkataan Tasya.

"Bi, tolong bawa Mama pulang ya? Jangan lupa, untuk memberi Mama obat tepat waktu!"

"Baik Nona," Asih mendorong kursi roda Santi.

"Permisi Bu, pasien yang bernama Bejontara Bima Sakti sudah siuman!" ucap sang perawat.

"Siuman?" Tasya segera memasuki ruangan tempat Bije dirawat. Kamarnya juga bersebelahan dengan kamar Angga.

"Bije?" lirihnya, sambil berjalan mendekati Bije.

"Nona?" lirihnya.

"Alhamdulillah, kamu sudah sadar!" ujarnya senang.

"Bagaimana dengan keadaan Tuan Angga?" tanya Bije.

Pertanyaan itu membuat Tasya merasa sedih, "Bije... Angga masih belum sadar dari komanya." Lirih Tasya.

"Ah! Ini semua gara-garaku!" ucap Bije dengan frustrasi.

"Bije, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini semua sudah takdir..."

"Nona, andai saja aku bisa membelokkan mobil itu dengan cepat, pasti aku dan Tuan Angga tidak akan seperti ini!" ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi.

"Bije, tolong jangan lakukan ini! Lukamu belum sembuh, tolong jangan seperti ini Bije!"

"Nona, maafkan aku! Maafkan aku!" sesalnya.

"Tidak apa-apa Bije. Yang penting kamu selamat. Semoga suamiku juga segera sadar sepertimu," Tasya menghela nafasnya.

"Nona, saya ingin melihat keadaannya."

"Tidak Bije, kamu masih belum benar-benar pulih!"

"Nona, aku mohon!" pintanya memaksa.

"Ba-baiklah. Tapi, kamu harus menggunakan kursi roda," Tasya mengambil kursi roda di sudut ruangan yang cukup luas itu.

"Aku akan membantumu!" tambahnya.

"Tidak Nona, aku bisa sendiri!" tolaknya.

"Bije, kamu masih lemah. Aku akan tetap membantumu!" tegasnya. Tasya membantu Bije berpindah dari ranjang ke kursi roda.

"Tuan Angga beruntung sekali memiliki Nona Tasya yang sangat baik!" gumam Bije sambil memperhatikan Tasya.

***

"Mona, kamu tidak boleh pergi ke sana Nak!"

"Aku harus segera ke sana! Angga membutuhkanku!"

"Mona!" bentak Romi.

"Apa sih Pa? Sejak kemarin, aku selalu menuruti keinginan Papa. Seharusnya aku sudah menemani Angga sejak kemarin!" Mona pergi begitu saja.

"Mona!"

"Sudahlah Pa, biarkan Mona pergi. Dia berhak menggapai cintanya!" ujar Rike.

"Kalian berdua selalu saja egois!" ucap Romi penuh amarah.

"Tasya, maafkan Paman..." lirihnya dalam hati.

"Angga, tunggu aku! Aku akan segera datang!" gumam Mona di dalam mobil.

Mona telah sampai di rumah sakit. Ia segera ke ruangan VVIP tempat Angga dirawat.

BRAK!

Mona membuka pintu itu dengan sangat kencang, sampai orang-orang yang ada di dalam terkejut.

"Kamu!" Tasya menatap Mona bingung.

"Menyingkirlah dari hadapanku!" Mona mendorong Tasya sampai tersungkur ke lantai.

"Nona!" teriak Bije.

Tasya menggeleng, "Aku tidak apa-apa Bije," Tasya langsung berdiri.

"Ngapain kamu ke sini?" tanya Tasya. Ia melihat Mona sedang menggenggam tangan Angga.

"Lepaskan tanganmu dari tangan suamiku!" Tasya menyingkirkan tangan Mona, sampai tubuh Mona agak terdorong ke samping.

"Berani-beraninya kau padaku!" bentak Mona.

"Keluarlah dari sini! Keluar!" bentak Tasya, tidak mau kalah dengan Mona.

"Permisi Bu, tolong jangan membuat keributan!" ucap seorang perawat yang tiba-tiba datang ke ruangan itu.

"Nona Mona. Tolong keluarlah dari ruangan ini!"

"Heh kau! Sekretaris bodoh! Beraninya kau mengusirku!"

"Nona, biarkan Tuan Angga beristirahat dengan tenang. Atau, saya akan panggil keamanan untuk menyeret anda keluar!"

"Angga... bangunlah! Marahi sekretarismu yang kurang ajar ini!" lirihnya dengan manja.

"Menjauhlah dari suamiku!" Tasya berusaha menjauhkan Mona dari suaminya.

Mona menyeringai, "Seharusnya kau yang menjauh dari kekasihku ini!"

Tasya tersentak, "Ke-kekasih?!"

"Iya. Aku adalah cinta pertama Angga Pratama. Dan kau!" Mona mendorong tubuh Tasya.

"Hanyalah pelampiasan Angga, karena tidak mendapatkanku!" sambungnya.

"Itu tidak benar Nona Tasya! Jangan percaya padanya!" seru Bije.

"Diam! Aku tidak sedang berbicara padamu!" ucap Mona sinis.

"Mona... Mona... jangan tinggalkan aku..."

Semua orang melirik ke arah Angga.

"Angga! Kamu sadar sayang?" seru Mona senang.

"Kenapa Angga memanggil nama Mona? Apa benar yang dikatakan Mona tadi?" seketika saja Tasya menitihkan air matanya.

"Mona..." lirih Angga. Perlahan ia mulai membuka matanya.

"Mona, jangan tinggalkan aku..." lirihnya lagi.

"Aku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!"

Angga mulai menggenggam tangan Mona, "Kita akan menikah bukan?" tanya Angga.

Mona mengeryit, "Tunggu! Kenapa Angga berbicara seolah-olah dia tengah mengejarku saat aku meninggalkannya dulu?"

"Iya. Kita akan menikah Ga..." jawab Mona.

"Tidak!" teriak Tasya. Sedari tadi ia menahan tangisnya, meski ia selalu gagal.

"Kamu itu suamiku Ga! Kamu tidak boleh menikahi wanita ini!" ucap Tasya sambil menangis.

"Sayang? Siapa wanita ini?" tanya Angga sambil menatap Tasya dengan bingung.

"Kamu tidak mengingatku Ga?" tanya Tasya tidak percaya.

"Tuan, ini Nona Tasya. Istri Tuan!" timpal Bije.

"Bije? Kapan aku menikah? Aku belum menikah, dan aku hanya akan menikahi Mona saja!" ujar Angga.

Tasya sudah tidak tahan untuk berada di dalam ruangan itu. Ia segera berlari keluar.

"Angga... kenapa kamu jadi seperti ini?" lirihnya sambil terisak.

"Aku... aku harus menemui dokter!" Tasya segera pergi menemui dokter yang merawat Angga.

"Permisi, saya ingin bertemu dengan Dokter Derrick!"

"Maaf Bu, saat ini sedang ada pasien di dalam ruangan. Harap tunggu dulu!" ujar perawat itu.

Tidak lama kemudian, dokter Derrick keluar dari ruangannya. "Apa ada yang terjadi lagi pada Pak Angga?" tanya dokter itu.

"Iya Dok! Mengapa suami saya tidak bisa mengingat saya sebagai istrinya? Tetapi dia malah mengingat orang lain!"

"Baiklah, mari kita ke sana!" dokter itu dan Tasya pergi ke ruangan Angga.

"Dok, cepat periksa suami saya!"

"Iya, sabar Bu!" ucap dokter itu.

"Pak Angga, saya akan memeriksa Bapak ya?" ia segera memeriksa Angga.

"Pak Angga, apa anda mengingat wanita ini?" tanya dokter sambil menunjuk Tasya. Angga pun menggeleng.

"Kalau laki-laki ini?" tanyanya lagi sambil menunjuk ke arah Bije.

Angga mengangguk, "Dia sahabat saya Dok!" jawabnya.

"Lalu, dengan wanita ini, bagaimana?"

.

Happy reading 😘

1
Qaisaa Nazarudin
Wahh licik,itu mah tanda gak laku..kalo yg laku itu harus ada peguamnya keluarga tasya sekalian..
Qaisaa Nazarudin
Dasar ngenyel,udah gak punya urat malu.ilfil langsung aku dgn cewek kayak gini,paling gak demen dgn cewek yg ngejar2 cowok..
Qaisaa Nazarudin
Ngebet banget pengen cucu...
Qaisaa Nazarudin
wkwkwk udah ku duga..
Qaisaa Nazarudin
Ciih udah kebaca modusnya papa kamu..
Supriatun Khoirunnisa
Luar biasa
gemini 210
😂😂😂. masa bos galak takut sama ibu kost wkwkwk
Yeni Sri
ceritanya lumayan menarik
Devi Handayani
yaahh yahhh yaahhhhh
.... payyyaahhhhh dahhh😤😤😤😤😤😤
Devi Handayani
yg sabar ya tasya😢😢😢
Devi Handayani
wkwkwkwkwkwkwkwkk... mules perut gw.... waddoiiwwww😂😂😂😂😅😅🤣🤣😅😅😅😅😅🤣🤣🤣🤣😅🤣🤣🤣
Devi Handayani
dubraakkkk😅😅😅😂😂😂😂😂😅😅
Devi Handayani
iya tasya mainkan magic muuu... buat dia terbucin bucin padamu tasya🤪😚😋
Devi Handayani
waahhh wahhhh niat nyaa dah ngga bener ini....nanti kena kutuksn mm reader baru tau kamu angga🤨🤨🤨
Devi Handayani
mama memang the best deh😍😍😍😍
Devi Handayani
hayooo loohhh😏😏😏😏
Devi Handayani
wahhh ibu nya si galak ini.... jodohin Buu si tasya ama si galak biar tau rasa dia hahhaahhaahh🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Devi Handayani
sungguh sadis caramu tuan angga.... awas aja jatuh cinta ama tasyaaa😏😏😏😏😏😏😏😏😏😏
Devi Handayani
gpp jadi OG..... tapi OG nya CEO hihihihi😁😄😄😄😁😄😄😄😁😁😁😁
Devi Handayani
untung ada bibi peri sang penolong.... klo ga tinggal dimana tasya?? 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!