Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Aura menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi kampus. Wajahnya pucat, dan kedua tangannya masih sedikit gemetar saat menyalakan keran untuk membasuh muka. Air dingin yang menerpa kulitnya tidak mampu mengusir rasa sesak di dadanya. Ia baru saja menggadaikan kebebasannya demi selembar kertas beasiswa.
Budak. Pengawasan. Kontrol. Kata-kata Devan terus terngiang, terasa seperti rantai kasat mata yang menjerat lehernya.
"Aku tidak boleh kalah," bisik Aura pada dirinya sendiri di depan cermin. Suaranya serak namun penuh tekad. "Ini cuma sampai skripsi selesai. Setelah lulus, aku akan pergi jauh-bisa ke luar kota, bawa Ibu, dan tidak perlu melihat wajah berandalan itu lagi."
Aura mengeringkan wajahnya dengan tisu, merapikan kembali kardigan rajutnya, lalu melangkah keluar. Namun, baru tiga langkah ia meninggalkan toilet wanita, ponsel di dalam saku roknya bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan singkat.
0812-XXXX-XXXX:
Kantin utama. Meja nomor 4. Sekarang. Bawa laptop lo.
Aura meremas ponselnya. Ia tahu persis siapa pemilik nomor ini. Dengan berat hati, ia memutar arah langkahnya menuju kantin utama, tempat yang beberapa jam lalu mati-matian ia hindari.
Kantin utama siang itu sangat padat. Aroma mi goreng, ayam geprek, dan es teh manis bercampur di udara, bersahutan dengan riuh rendah obrolan ratusan mahasiswa. Namun, suasana di sekitar meja nomor 4 tampak sangat berbeda. Ada radius sekitar dua meter yang dibiarkan kosong oleh mahasiswa lain, seolah meja itu memiliki medan magnet berbahaya.
Di sana, Devan sedang duduk santai sambil memainkan korek api zippo-nya. Di sebelahnya ada Bram yang sedang asyik mengunyah siomay, dan Kenzo—cowok berkacamata berwajah datar yang terkenal sebagai otak taktis di lingkaran pertemanan Devan.
Aura melangkah mendekat, mengabaikan tatapan mata dan bisikan-bisikan yang langsung tertuju padanya begitu ia memasuki area kantin. Ia berdiri di ujung meja, meletakkan tas ranselnya yang berat dengan hentakan pelan.
"Aku di sini. Apa yang kamu mau?" tanya Aura, berusaha terdengar sedingin mungkin.
Devan tidak langsung menjawab. Ia memasukkan korek apinya ke saku jins, lalu mengetuk permukaan meja yang kosong di depannya. "Duduk."
Aura menarik kursi di seberang Devan dan duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di dada. "Katakan cepat. Kelas hukum internasional-ku mulai dua puluh menit lagi."
Kenzo menggeser sebuah flashdisk hitam dan seonggok buku tebal ke hadapan Aura. Aura melirik benda-benda itu, lalu beralih menatap Devan dengan kening berkerut.
"Itu draf laporan magang gue di firma hukum bokap gue," kata Devan santai. "Gue gak punya waktu buat ngetik dan ngerapiin formatnya sesuai panduan kampus. Kerjain itu, rapiin bahasanya, buat analisis kasusnya jadi terlihat meyakinkan seolah-olah gue yang mikir keras. Besok pagi jam delapan, gue mau filenya udah ada di email gue."
Aura terbelalak. "Laporan magang? Kamu minta aku memalsukan analisis hukum laporan magangmu? Devan, itu pelanggaran akademis yang serius!"
"Pelanggaran akademis?" Devan menumpu dagunya dengan satu tangan, menatap Aura dengan seringai tipis yang menyebalkan. "Yang serius itu kalau beasiswa lo hilang sore ini, Aura. Lo lupa aturan main kita?"
Aura mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Sifat arogan cowok ini benar-benar menguji batas kewarasannya. "Analisis kasus membutuhkan waktu berhari-hari, Devan. Aku juga punya tugas akhir sendiri yang harus kukerjakan!"
"Gue gak peduli," potong Devan tajam, sisa-sisa keramahan palsunya menguap. Matanya menatap Aura dengan intimidasi yang pekat. "Lo pintar, kan? Juara umum angkatan. Tugas kayak gini harusnya cuma butuh waktu beberapa jam buat otak encer lo. Jangan membantah kalau lo gak mau gue mempersulit hidup ibu lo di rumah sakit."
Mendengar kata 'ibu', jantung Aura rasanya seperti berhenti berdetak. Seluruh keberanian yang ia kumpulkan di kamar mandi tadi runtuh seketika. Wajahnya kembali pias, dan matanya membelalak menatap Devan dengan rasa tidak percaya yang bercampur ketakutan murni.
"Kamu... dari mana kamu tahu tentang ibuku?" bisik Aura, suaranya bergetar.
Devan menyandarkan punggungnya ke kursi, ekspresinya kembali datar dan dingin. "Gisela Aura, jangan pernah meremehkan apa yang bisa gue cari tahu tentang lo dalam waktu lima menit. Gue tahu semua tentang lo. Jadi, kerja sama yang baik, dan ibu lo akan tetap aman mendapatkan fasilitas kesehatannya tanpa gangguan."
Aura merasakan dunianya berputar. Laki-laki di depannya ini bukan sekadar bad boy kampus yang suka mencari gara-gara. Dia benar-benar monster. Dia adalah darah daging dari sebuah keluarga yang terbiasa menggunakan kuasa untuk menghancurkan hidup orang lain.
"Ra..." Bram yang sejak tadi diam, berdeham pelan, tampak sedikit tidak nyaman dengan ketegangan yang terlalu intim itu. "Mending lo bawa aja dulu tugasnya. Devan kalau udah ngomong A, gak bisa diganggu gugat."
Aura menarik napas dalam-dalam, menahan air mata yang mendesak ingin keluar di matanya. Ia menolak menangis di depan monster ini. Dengan gerakan cepat, Aura menyambar flashdisk dan buku tebal itu, memasukkannya ke dalam tas dengan kasar.
"Akan kuselesaikan," ucap Aura dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan kebencian. "Tapi ingat satu hal, Devan. Kamu bisa mengendalikan beasiswaku, kamu bisa mengancamku, tapi kamu tidak akan pernah bisa membuatku menghormatimu. Kamu... tetaplah seorang pengecut yang berlindung di balik nama besar keluargamu."
Setelah melontarkan kalimat itu, Aura berdiri, menyampirkan tasnya, dan berjalan setengah berlari meninggalkan kantin.
Bram bersiul pelan, menatap punggung Aura yang menjauh. "Gila, Dev. Tuh cewek bener-bener punya nyali. Belum pernah ada yang berani ngatain lo pengecut di depan muka lo sendiri."
Kenzo melirik Devan dari balik kacamata kutu bukunya. "Lo keterlaluan membawa-bawa ibunya, Dev. Dia cuma mahasiswi beasiswa yang mencoba bertahan hidup."
Devan tidak menyahut. Sepasang matanya tetap terkunci pada pintu keluar kantin tempat Aura menghilang. Tangannya meraba saku jins, kembali mengeluarkan korek api zippo-nya, memainkannya dengan gerakan mekanis yang lambat. Kata-kata Aura—seorang pengecut yang berlindung di balik nama besar keluargamu—terasa menghantam bagian terdalam dari ego dan harga dirinya. Seringai liciknya hilang, digantikan oleh tatapan gelap yang sulit diartikan.
Malam harinya, kamar kos Aura yang kecil dipenuhi oleh tumpukan buku hukum perdata dan pidana. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun Aura masih terjaga di depan layar laptopnya yang menyala terang. Matanya terasa panas dan kepalanya berdenyut-denyut.
Ia baru saja menyelesaikan bab tiga skripsinya sendiri, dan kini ia terpaksa menghabiskan sisa energinya untuk membedah berkas laporan magang milik Devan. Sialnya, analisis yang ditulis Devan—atau entah siapa pun yang menulis draf kasarnya—sangat berantakan. Namun, saat Aura membaca lembar demi lembar berkas kasus yang dilampirkan, keningnya berkerut.
Kasus yang ditangani oleh firma hukum Bratadikara di laporan ini bukan kasus perdata biasa. Ini tentang sengketa kepemilikan pelabuhan logistik dan beberapa transaksi ekspor-impor yang memiliki banyak celah hukum mencurigakan. Ada nama-nama perusahaan fiktif yang terkesan disembunyikan di balik istilah-istilah hukum yang rumit.
Sebagai mahasiswa hukum terbaik, otak Aura otomatis bekerja mendeteksi adanya kejanggalan. Ini bukan sekadar laporan magang biasa. Ini seperti sebuah dokumen pencucian uang yang dikemas secara legal.
Apakah Devan sengaja memberikan ini padaku? pikir Aura, bulu kuduknya meremang. Atau dia memang sebodoh itu sampai tidak sadar kalau dokumen ini sangat berbahaya jika dibaca oleh orang luar?
Aura menggelengkan kepalanya cepat, mencoba mengusir pikiran-pikiran menakutkan itu. Ia tidak boleh tahu terlalu banyak. Semakin banyak ia tahu tentang dunia gelap Devan, semakin sulit baginya untuk melepaskan diri. Ia segera mengetik analisis hukum yang aman, memperbaiki tata bahasanya, dan menutup laptopnya tepat saat adzan subuh mulai berkumandang di kejauhan.
Dengan sisa tenaga yang ada, Aura mengirimkan file tersebut ke email Devan, lalu merebahkan tubuhnya di kasur tipisnya. Sebelum matanya terpejam karena kelelahan yang luar biasa, satu pikiran terakhir melintas di benaknya: Esok hari akan menjadi perang yang baru.