Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
"Adel....."
"Siap dokter."
"Pasien di kelas satu ruang Rinjani tolong di ganti perban luka operasinya."
"Siap dokter."
"Pasien atas nama Karel Imanuel Barnabas."
Sudah enam bulan Adel melakukan praktek lapangan di rumah sakit polri. Dan ini adalah hari terakhir dia di rumah sakit ini.
Adel Emanuella Sanjaya tahu, bahwa pasien yang akan dia ganti perban lukanya adalah pasien dokter Wibowo yang adalah dokter bedah terkenal dan merupakan dokter senior yang Adel idolakan.
Dengan perlengkapan lengkap, Adel datang keruang Rinjani untuk menganti perban luka operasi. Di ruangan itu ternyata sangat ramai. Namun Adel memberanikan diri untuk masuk ruangan ini.
"Permisi......."
"Silahkan suster."
Orang di ruangan ini mengira Adel adalah seorang suster. Mereka tidak tahu bahwa adel adalah seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang sedang melakukan praktek dirumah sakit ini.
"Permisi pak Karel aku mau mengantikan perban luka operasi."
Karel memperhatikan Adel dari atas sampai ke bawa. Sangat intens. Sehingga membuat Adel merasa malu.
"Kamu suster di rumah sakit ini."
"Tidak pak, saya mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang sedang praktek disini."
"Oooo mahasiswa, saya kira kamu suster atau dokter."
"Selamat sore iptu Karel. Mohon maaf, saya tugaskan calon dokter terbaik kami untuk menganti perban luka operasinya."
"Rekomendasi dokter Wibowo sangat bagus. Saya percaya sama pilihan dokter."
"Terima kasih. Adel kamu boleh menganti perban ini."
"Siap dokter."
Akhirnya Adel tahu, bahwa yang mau di ganti perban luka operasi adalah seorang iptu bernama Karel. Maka dengan hati - hati Adel menganti perban itu.
"Siapa nama kamu??"
"Adel pak."
"Kok pak sih, masih muda begini. Panggil aku mas." Adel melihat ke arah Karel. "Kamu tidak keberatan kan??"
"Ah... Tidak mas."
"Kamu kuliah di universitas mana??"
"Indonesia mas."
"Anak Jakarta??"
"Tidak. Aku dari Indonesia Timur."
"Ambon??? Papua???NTT???"
"Ambon besar di Bali."
Selesai menganti luka itu Adel langsung meninggalkan ruangan tempat Karel di rawat.
Karel Imanuel Barnabas, terkenal di antar lettingnya playboy. Karena perawakannya yang ganteng. Nyong Ambon besar Jakarta ini sangat di idolakan oleh kaum hawa diantara lettingnya.
"Bro, Ambon bro satu suku. Cantik juga mahasiswa kedokteran."
Karel hanya senyum - senyum saja. Dia akui sih bahwa Adel cantik dan manis. Namun sayangnya dia tidak bisa kenal banyak siapa itu Adel. Ternyata sore ini Iptu Karel Imanuel Barnabas sudah di ijinkan pulang oleh dokter Wibowo. Ini kesempatannya untuk mencari informasi tentang Adel.
"Kemu kenal dengan Adel mahasiswa kedokteran yang sedang praktek di rumah sakit ini??"
Karel sedang berada di resepsionis rumah sakit di loket depan. Pegawai di rumah sakit Polri ini kenal siapa itu Iptu Karel Imanuel Barnabas. Di lingkungan kepolisian semua orang tahu tentang dia.
"Maksud Komandan Adel Emanuella Sanjaya??"
"Adel Emanuella Sanjaya namanya. Keren juga namanya."
"Ini hari terakhir dia bersama teman - temannya praktek komandan."
"Terakhir???"
"Iya, dan tadi pihak kampus sudah datang menarik mahasiswanya."
"Nomor kontaknya ada??"
Sebenarnya itu privasi Adel tidak bisa di bagikan. Namun yang meminta komandan intel ini maka mereka pun memberikan kepada Iptu Karel.
"Bagaimana??"
"Hari terakhir di rumah sakit ini bro??"
Reza yang adalah sahabat Karel tertawa, karena dia baru melihat wajah kecewa Karel sahabat lettingnya ini.
"Masa intel hanya segitu informasinya."
"Bangke loe."
"Mereka juga menjaga rahasia dia lah."
Bukan Karel namanya jika dia tidak mengetahui dimana Adel tinggal. Sebagai intel, alat lacak semua dia gunakan.
Sementara itu Adel yang baru selesai mandi, sedang merampungkan laporan dan skripsinya yang besok pagi akan dia bawa ke kampus.
Sebagai mahasiswa berprestasi, Adel tidak bermain dengan usaha orangtuanya yang menginginkan dia menjadi dokter. Makanya selesai kuliah dia akan langsung mendaftar untuk koas satu setengah sampai dua tahun. Agar mama dan papanya bangga kepada dirinya.
Adel mendapat telepon dari nomor yang tidak dia kenal. Dia tidak mengangkatnya. Karena itu kebiasaan Adel. Namun tiba - tiba ada pesan masuk yang mengancam Adel.
"Selamat malam, saya Karel pasien yang tadi siang kamu ganti perbannya. Saya minta tanggung jawab kamu, karena saya lihat luka saya kembali berdarah."
Setelah membaca pesan itu Adel kaget. Dia tidak menyangka bahwa ada pasien yang menghubunginya.
"Selamat malam seharusnya bapak sebelum keluar rumah sakit sampaikan kepada perawat di rumah sakit."
"Bapak??? Emang kamu anak saya."
"Eh sori .....mas."
Karel tersenyum membaca pesan balasan dari Adel. Dia yakin bahwa Adel sudah mulai terjebak dalam permainannya.
"Kamu harus bertanggung jawab."
"Bagaimana bisa mas."
"Ya bisa saja, besok waktu kamu kosong jam berapa."
"Saya besok ada konsultasi skripsi di kampus jam sepuluh."
"Saya jemput kamu jam dua belas di kampus."
Malam ini, Adel tidak bisa tidur. Karena ini kali pertama dalam hidupnya dia mengalami masalah. Sedari kecil dia selalu berusaha untuk tidak membuat masalah dengan orang lain. Karena sifatnya yang introvert.
Sehingga pagi ini, dia kekampus dengan muka pucat karena kurang tidur dan ketakutan menjadi satu. Sebelum ke kampus dia memberi obat - obatan untuk luka operasi dan perlengkapan lainnya.
"Selamat pagi, mba Dian cantik."
"Selamat pagi Adel manis. Kamu kenapa sayang, kok mukanya pucat."
"Ngak bisa tidur mba Dian." Adel yang terbiasa manja dengan Dian. Langsung dipeluk oleh Dian.
"Apa yang kamu takutkan. Semua dosen di fakultas ini sayang sama kamu."
"Adel ngak takut lagi."
Adel bisa berkata begitu, karena dia baru saja mendapat informasi berupa pesan dari Karel, bahwa dia tidak bisa mampir ke kampus Adel untuk meminta pertanggung jawaban karena ada tugas negara. Namun masih saja ada pesan mengancam dari Karel "Bukan berarti kamu lolos dari tanggung jawabmu Adel Emanuella Sanjaya." Ternyata polisi itu tahu nama lengkapnya. Namun Adel kembali cuek, setidaknya hari ini dia tidak mengalami kesulitan.
Prinsip hidupnya tentang hidup, bahwa kesulitan hari ini, cukup untuk hari ini itu yang menjadi kekuatannya untuk bisa melalui hari - hari hidup.
Seminggu berlalu tidak ada kabar dari iptu Karel, kemudian sebulan pun berlalu. Adel merasa senang, dan dia terus berdoa semoga tidak ada pesan dari beliau.
Adel mulai disibukan dengan ujian skripsinya. Dan tepat dua bulan setelah selesai praktek lapangan, Adel melakukan ujian skripsi. Dia angkatannya dia adalah mahasiswa pertama yang ujian skripsi. Semua persiapan sudah dilakukan. Pagi - pagi dia bangun siap dengan jas berwarna hitam dan tas kuliah berisi laptop, ipad dan handponenya. Skripsinya sudah berada di tangannya.
Pukul delapan pagi, Adel Emanuella Sanjaya sudah berada di ruang ujian nomor satu. Hati ini dia akan mempertanggung jawabkan semua kuliahnya selama tiga tahun setengah lewat skripsinya. Dua dosen pembimbing dan tiga dosen penguji, bersama dengan petinggi kampus hadir dalam ujian hari ini, saat ini. Hanya untuk melihat mahasiswa terbaik mereka menyelesaikan studinya.