Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan di Ruang Anak
Tangga batu di bawah lantai kamar terbuka seperti mulut yang menunggu mangsa.
Udara dingin mengembus dari kedalamannya, membawa bau tanah lembap, logam berkarat, dan bunga malam yang telah lama membusuk. Cahaya dari gelang Aelora menyentuh tiga anak tangga pertama, kemudian berhenti seolah kegelapan di bawah sana terlalu tebal untuk ditembus.
Kael berdiri di tepi lubang dengan tubuh kaku.
Bayangan perempuan bermahkota sudah menghilang dari dinding. Namun kalimat terakhirnya masih tertulis dalam garis-garis hitam di atas batu.
Sudah waktunya kau mengetahui siapa yang membunuh ibumu.
Aelora memegang ujung mantel Kael.
“Kita turun sekarang?”
“Tidak.”
Jawaban itu membuatnya mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Karena sebuah jalan rahasia menuju makam kerajaan baru saja terbuka melalui kamar anak.”
“Itu terdengar seperti alasan untuk segera memeriksanya.”
“Itu alasan untuk memanggil pasukan.”
Kael mengangkat tangan. Tiga burung kecil terbentuk dari bayangannya, terbang keluar melewati pintu tanpa perlu dibuka.
Aelora mengintip ke bawah lagi.
Jauh di dalam kegelapan, terdengar bunyi tetesan air.
Tik.
Tik.
Tik.
Di sela-selanya, ada suara lain yang lebih pelan.
Seperti seseorang menyeret rantai di atas batu.
Kael menarik Aelora menjauh dari lubang.
“Jangan mendekat.”
“Aku hanya melihat.”
“Hal-hal berbahaya sering dimulai dengan kalimat itu.”
“Aku tidak akan turun.”
Kael menatapnya.
Aelora menambahkan, “Sebelum kau.”
“Itu bukan janji yang lebih baik.”
Langkah kaki segera memenuhi lorong. Komandan pengawal datang bersama enam prajurit. Daren belum cukup sehat untuk meninggalkan ruang penyembuhan, sehingga seorang kapten bernama Sorak memimpin pemeriksaan.
Eirna menyusul dengan tas obat di tangan. Di belakangnya muncul Nira dan Ryn yang masih memakai pakaian tidur.
Rambut Nira berdiri ke segala arah. Salah satu kepangnya sudah lepas.
“Apa yang terjadi?” tanyanya. “Kenapa lantainya hilang?”
“Tidak hilang,” kata Ryn. “Terbuka.”
“Itu lebih buruk.”
Eirna langsung mendekati Aelora dan menempelkan telapak tangan ke dahinya.
“Kau belum tidur.”
“Sulit tidur ketika makam muncul di bawah tempat tidur.”
“Demammu naik lagi.”
“Sedikit.”
“Jangan memakai kata itu.”
Eirna mengeluarkan kristal pemeriksaan. Warnanya berubah dari ungu menjadi keemasan saat didekatkan ke dada Aelora.
“Cahaya dalam tubuhnya masih tidak stabil.”
“Aku tidak merasa terlalu sakit.”
“Kau juga mengatakan itu sebelum hampir pingsan di Aula Bulan.”
“Aku tidak pingsan.”
“Kau tidak ingat perjalanan kembali ke kamar.”
Aelora menutup mulut.
Ia memang tidak mengingat bagian itu.
Kael menunjuk tangga. “Tidak seorang pun turun sampai pemeriksa rune tiba.”
Salah satu penjaga mengangkat obor bayangan ke atas lubang. Api hitamnya langsung mengecil dan tertarik ke bawah, seperti diisap oleh sesuatu dalam makam.
Prajurit itu mundur.
“Ada segel kerajaan di kedalaman.”
“Milik siapa?” tanya Kael.
“Bukan segel pemerintahan Yang Mulia.”
Kael melihat tulisan di dinding.
Segel itu mungkin milik ibunya.
Atau orang yang membunuhnya.
Aelora merasakan tangan Kael mengencang di bahunya.
“Aku ikut saat kalian turun,” katanya.
“Tidak.”
“Bayangan ibumu menunjukkan lambang yang sama dengan milikku.”
“Dia memanggilku.”
“Dia melihatku juga.”
Kael menoleh kepada Eirna. “Bawa Aelora ke kamar cadangan.”
“Aku tidak mau dipindahkan lagi.”
“Kamar ini tidak aman.”
“Tidak ada kamar yang aman.”
Kalimat tersebut keluar lebih kecil daripada yang Aelora inginkan.
Semua orang tetap mendengarnya.
Aelora memandang lantai yang baru saja terbuka. Sebelumnya, cermin di ruang penyembuhan mencoba menculiknya. Ruang bawah tanah menyimpan Peniru. Menara Terkunci memanggil dengan suara Mirael. Bahkan Piko membawa pesan-pesan yang terkubur dalam tubuhnya.
Sejak tiba di istana, hampir setiap tempat yang disebut rumah berubah menjadi pintu bagi sesuatu yang menginginkannya.
Kael berlutut di depannya.
“Kamar cadangan memiliki segel baru.”
“Segel selalu rusak.”
“Aku akan menempatkan penjaga.”
“Penjaga juga bisa terluka.”
“Aelora.”
“Aku tidak mau semua orang terus terluka karena menjagaku.”
Kael memegang kedua bahunya.
“Dan aku tidak mau anak demam berdiri di tepi makam yang belum diperiksa.”
Nira maju satu langkah. “Aku bisa menemaninya.”
Ryn berdiri di samping Nira. “Aku juga.”
Kael memandangi mereka satu per satu.
“Kalian tetap berada di dalam kamar.”
Nira mengangguk.
“Tidak menyentuh benda yang bergerak sendiri.”
Anggukan Nira menjadi lebih lambat.
“Tidak membuka pintu bagi siapa pun.”
Ryn menjawab, “Kami mengerti.”
Kael menoleh ke sudut kamar. Milo tidur dalam keranjang kecil dengan satu kaki transparan keluar dari selimut.
“Kucing itu ikut.”
Milo membuka satu mata.
“Aku sedang sekarat dengan tenang.”
“Kau bisa melakukannya di kamar lain.”
“Tidak ada penghargaan bagi makhluk yang menyelamatkan keluarga kerajaan.”
Aelora mengangkat keranjang Milo. Kucing itu terlalu lemah untuk menolak, meskipun wajahnya menunjukkan penghinaan mendalam.
Sebelum keluar, Aelora memandang Kael.
“Jangan turun sendiri.”
“Aku tidak akan.”
“Jangan berbohong.”
Kael melihat tangga gelap di belakangnya.
“Aku tidak akan turun tanpa memberi tahu.”
“Itu kalimat yang berbeda.”
“Aelora.”
“Berjanjilah.”
Kael terdiam beberapa detik.
“Aku berjanji.”
Aelora akhirnya mengikuti Eirna keluar.
Namun saat pintu kamar tertutup, ia melihat bayangan Kael bergerak mendekati tangga lebih dulu daripada tubuhnya.
Kamar cadangan berada di menara barat.
Ukurannya lebih kecil daripada kamar Aelora, tetapi lebih hangat. Dindingnya dilapisi kayu hitam dan karpet merah tua menutupi lantai. Tidak ada cermin. Tidak ada jendela besar. Hanya satu lubang cahaya sempit di dekat langit-langit.
Sebuah lemari pakaian berdiri di sudut. Di dekatnya ada meja kecil dan peti mainan.
Aelora berhenti di ambang pintu.
“Kenapa ada mainan di sini?”
“Pelayan memindahkannya dari ruang anak lama,” jawab Eirna.
“Sudah diperiksa?”
“Dua kali.”
Milo mengangkat kepala dari keranjang.
“Kalimat yang selalu muncul sebelum musibah.”
Eirna meliriknya. “Kau seharusnya tidur.”
“Aku bisa tidur sambil mencurigai orang.”
Dua penjaga ditempatkan di luar pintu. Dua lainnya berjaga pada ujung lorong. Rune perlindungan menyala di ambang dan langit-langit.
Eirna memberikan semangkuk obat kepada Aelora.
Aelora mencium aromanya, lalu langsung menjauh.
“Tidak.”
“Minum.”
“Rasanya seperti rumput busuk.”
“Rumputnya tidak busuk.”
“Itu tidak membantu.”
Aelora meminum obat sambil menutup hidung. Rasa pahit langsung memenuhi mulutnya.
Nira menyodorkan sebuah permen hitam.
“Rasa buah malam.”
Aelora menggigitnya.
Permen itu menempel pada giginya seperti batu lengket.
“Kenapa keras sekali?”
“Supaya rasanya bertahan lama.”
“Aku tidak mau rasanya bertahan.”
Ryn mengambil sisa permen dari tangan Aelora.
“Jangan memberi makanan aneh kepada orang sakit.”
“Itu bukan makanan aneh.”
“Permenmu menggigitku minggu lalu.”
“Itu rasa yang berbeda.”
Eirna merapikan selimut di atas ranjang.
“Saya akan kembali setelah memastikan persiapan pasukan.”
“Kita tetap menuju Katedral Fajar?” tanya Aelora.
“Belum diputuskan.”
“Obatku mungkin berada di sana.”
“Altar darah juga berada di sana.”
“Aku bisa membantu mencari jalan lain.”
Eirna menatapnya.
“Yang perlu kaulakukan adalah tidur.”
“Semua orang mengatakan itu sebelum pergi melakukan sesuatu tanpa aku.”
“Karena kau demam.”
“Dan karena aku kecil.”
“Kedua alasan itu bisa benar bersamaan.”
Eirna berdiri dan memandang Nira serta Ryn.
“Jangan biarkan dia keluar.”
Nira meletakkan tangan di dada. “Aku bertanggung jawab.”
Ryn langsung berkata, “Aku yang bertanggung jawab.”
Eirna memilih memercayai Ryn.
Pintu tertutup.
Aelora duduk bersandar pada kepala ranjang. Cahaya masih berdenyut di bawah kulit pergelangan tangannya, tetapi obat membuat kelopak matanya semakin berat.
Ryn berdiri dekat pintu. Nira berjalan menuju peti mainan dan membuka tutupnya.
“Kita disuruh tidak menyentuh benda yang bergerak sendiri,” kata Ryn.
“Tidak ada yang bergerak.”
Seekor ular kayu tiba-tiba keluar dari peti dan melilit lengan Nira.
Ryn menatapnya.
Nira melepaskan ular itu dan memasukkannya kembali.
“Yang itu bergerak sedikit.”
Aelora memperhatikan isi peti.
Ada balok rune, pedang kayu, boneka naga dengan sayap dari kain, dan beberapa boneka tua. Di bagian paling atas terbaring sebuah boneka berbentuk anak perempuan.
Gaunnya putih.
Rambutnya terbuat dari benang emas.
Boneka tersebut terlihat terlalu bersih.
Mainan lain memiliki debu, goresan, atau bekas gigitan anak kecil. Boneka bergaun putih itu tampak baru, seolah seseorang baru saja menaruhnya di sana.
Aelora menunjuk.
“Dari mana boneka itu?”
Nira mengangkatnya.
Bibir merah boneka dijahit membentuk senyum.
“Lucu.”
“Tidak,” kata Milo.
Tubuh kucing kecil itu menegang di dalam keranjang.
“Letakkan.”
Nira menoleh. “Kenapa?”
“Aku tidak mencium bayangannya.”
Ryn mendekat. “Semua benda memiliki bayangan.”
“Yang ini tidak.”
Nira menurunkan boneka ke lantai.
Di bawah cahaya rune, tubuhnya memang tidak menghasilkan bayangan.
Gelang Aelora menjadi panas.
“Jangan sentuh lagi.”
Terlambat.
Kepala boneka berputar.
Leher kainnya bergerak satu lingkaran penuh sampai wajahnya kembali menghadap Nira, meskipun tubuh tetap menghadap ranjang.
Nira menjatuhkannya.
Boneka itu tidak menyentuh lantai.
Ia melayang.
Benang emas di kepalanya memanjang menjadi jarum-jarum tipis. Ujungnya melesat dan menancap pada rune perlindungan di dinding.
Seluruh kamar berkedip.
Ryn menarik Nira ke belakang.
“Panggil penjaga!”
Nira berlari ke pintu dan memutar gagangnya.
Tidak bergerak.
Rune di ambang berubah putih.
“Kami terkunci!” teriak Nira sambil memukul pintu.
Suara penjaga terdengar dari luar. “Apa yang terjadi?”
“Buka pintunya!”
Benturan keras mengguncang dinding. Para penjaga mencoba masuk, tetapi cahaya putih menolak senjata dan bayangan mereka.
Milo memaksa tubuhnya bangkit. Hanya satu sayap kecil terbentuk di punggungnya.
“Boneka itu memakan segel kamar.”
Boneka melayang lebih tinggi.
Jahitan merah pada bibirnya terlepas satu per satu.
Di baliknya bukan kapas.
Barisan gigi manusia kecil memenuhi mulut boneka.
“Aeloria,” katanya.
Aelora mencengkeram selimut.
Suara itu sama dengan suara dari cermin.
Suara yang memakai wajah, nama, dan kerinduan orang lain untuk membuka jalan.
Ryn mengangkat tangan. Bola Umbra terbentuk di telapak tangannya.
Ia melemparkannya.
Sihir hitam menghantam boneka. Sebelah gaun putih terbakar, tetapi benda itu tidak jatuh.
Kepalanya menoleh kepada Ryn.
Benang emas melesat.
“Tunduk!” teriak Aelora.
Ryn menarik kepala Nira. Jarum-jarum itu melewati mereka dan menancap pada dinding. Batu meleleh seperti lilin panas.
“Ini bukan boneka biasa,” kata Ryn.
“Pengamatan luar biasa,” gumam Milo.
Boneka membuka kedua tangannya.
Asap putih keluar dari jahitan perutnya, berkumpul menjadi sosok manusia tinggi yang mengenakan topeng pendeta.
Sosok itu jatuh ke lantai tanpa suara.
Di tangan kanannya ada pisau panjang dari kristal cahaya.
Lambang matahari Gereja Fajar terukir pada gagangnya.
“Anak langit,” katanya.
Ryn berdiri di depan ranjang.
Nira mengambil pedang kayu dari peti.
Ryn meliriknya. “Itu kayu.”
“Aku tahu.”
“Dia punya pisau suci.”
“Setidaknya aku tidak bertangan kosong.”
Pembunuh itu bergerak.
Terlalu cepat untuk diikuti mata.
Dalam satu kedipan, ia sudah berada di depan Ryn. Pisau kristal menyapu ke arah dada anak itu.
Ryn membentuk perisai Umbra.
Bilah suci menembusnya.
Tubuh Ryn terlempar ke dinding.
“Ryn!”
Nira menyerang dari samping. Pedang kayunya menghantam lutut pembunuh. Tidak melukai, tetapi cukup membuat lelaki itu menoleh.
Nira langsung menggigit tangannya.
Pembunuh itu mengumpat dan melemparkannya ke lantai.
Aelora turun dari ranjang.
Kakinya lemah. Kamar bergoyang akibat demam dan obat.
Milo melompat ke bahunya.
“Jangan memakai terlalu banyak cahaya.”
“Kalau tidak?”
“Kau akan pingsan.”
“Itu masih lebih baik daripada mereka mati.”
Pembunuh berjalan mendekat.
“Jangan takut,” katanya. “Kami datang untuk membawamu pulang.”
“Ini rumahku.”
“Rumah anak malaikat berada di Surga.”
Aelora menatap topeng pendeta itu.
“Ibuku menyuruhku tidak percaya kepada Surga.”
Tubuh pembunuh berhenti.
Hanya sesaat.
Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia mengenal Mirael.
“Perempuan itu telah menodai darahmu.”
“Jangan bicara buruk tentang Ibu.”
“Dia menciptakan kesalahan yang tidak seharusnya dilahirkan.”
Amarah memenuhi dada Aelora.
Cahaya muncul di bawah kulitnya.
Pembunuh mengangkat pisau.
“Kesalahan itu berakhir malam ini.”
Ia menerjang.
Ryn berusaha bangkit. Nira melemparkan pedang kayunya. Milo membentuk perisai kecil di depan Aelora.
Semuanya terlalu lambat.
Pisau kristal turun menuju jantung Aelora.
Ia mengangkat tangan.
Telapak kecilnya menangkap bilah tersebut.
Cahaya putih meledak.
Kristal suci tidak menembus kulitnya.
Bilahnya justru mulai retak.
Pembunuh mencoba menarik pisau, tetapi tangan Aelora tidak melepaskan.
“Kau ingin membawaku ke Surga?” tanyanya.
Suaranya terdengar berbeda.
Lebih dalam.
Ribuan bisikan kuno bercampur di dalamnya.
“Kalau begitu sampaikan kepada mereka.”
Retakan menyebar dari pisau menuju tangan pembunuh. Cahaya emas membakar lengan bajunya.
Topeng pendeta pecah.
Di baliknya tidak ada wajah.
Hanya kumpulan rune hitam yang bergerak seperti cacing.
Makhluk itu bukan manusia.
Mungkin pernah, dahulu sekali. Namun tubuhnya sudah diubah menjadi kutukan hidup yang hanya membawa perintah.
“Aku bukan milik kalian.”
Cahaya keluar dari seluruh tubuh Aelora.
Boneka bergaun putih menjerit. Benang-benang emas yang menancap di dinding putus. Kutukan dalam tubuh pembunuh mencoba kembali ke boneka, tetapi cahaya Aelora menahannya di udara.
Milo menggigit bahunya.
“Cukup!”
Aelora tidak bisa berhenti.
Ia merasakan semua perintah yang ditanamkan dalam kutukan itu.
Bunuh anaknya.
Bawa darahnya.
Hapus kesalahan yang tidak seharusnya lahir.
Suara-suara tersebut terasa seperti rantai lama yang kembali dipasang pada tangan dan lehernya.
“Pergi,” kata Aelora.
Cahaya berubah menjadi api putih.
Pembunuh itu menjerit tanpa mulut. Tubuhnya retak, lalu hancur menjadi abu.
Boneka jatuh ke lantai.
Asap hitam mencoba merangkak keluar dari mulutnya, tetapi Aelora mengarahkan telapak tangan.
Satu sinar menembus kutukan.
Asap itu menjerit.
Kemudian lenyap.
Tidak berpindah ke benda lain.
Tidak melarikan diri.
Benar-benar mati.
Rune kamar kembali hitam.
Pintu terbuka dengan ledakan.
Kael masuk bersama para penjaga.
Tatapannya menyapu Ryn yang terluka di dekat dinding, Nira yang masih berusaha bangkit, abu pembunuh di atas karpet, kemudian berhenti pada Aelora.
Anak itu berdiri di tengah kamar dengan cahaya membungkus seluruh tubuhnya.
“Aelora!”
“Ayah,” bisiknya.
Dunia mulai berputar.
Kael berlari.
Aelora sempat mengambil satu langkah sebelum lututnya kehilangan kekuatan. Kael menangkap tubuhnya tepat sebelum ia jatuh.
Cahaya di kulitnya padam.
Namun kain di punggung sebelah kanan robek.
Kael menahan napas.
Dari tulang belikat Aelora, sesuatu tumbuh perlahan.
Sebuah sayap.
Kecil dan rapuh, dengan bulu-bulu putih yang memancarkan cahaya lembut.
Hanya satu.
Aelora mencoba membuka mata.
“Aku berhasil…”
Kelopak matanya menutup.
Tubuhnya tidak bergerak lagi.
Di atas lantai, boneka yang seharusnya sudah menjadi abu membuka satu mata emas.
Mata itu memandang sayap pertama Aelora.
Lalu berbisik sebelum hancur sepenuhnya,
“Sayap pertama telah bangun.”