NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Ketika Malaikat dan Setan Berbagi Lorong Kos

Lampu neon putih minimarket yang sedingin es menyinari wajah Alin yang mendadak pias, seputih kertas HVS. Tangannya yang memegang masker kain hitam gemetar halus seolah baru saja tersengat listrik tegangan tinggi. Di depannya, sepasang mata elang milik Rakha melebar sempurna, hampir melompat dari kelopak matanya yang biasanya selalu menatap angkuh dunia ini.

Degh!

"Lo!!"

Rakha menunjuk wajah Alin dengan jari telunjuk yang gemetar hebat. Otak genius Tuan Muda Bagaskara itu mendadak mengalami korslet total.

Bagaimana tidak? Sosok bidadari glowing tanpa pori yang kemarin siang menekan hidung babi di kaca mobilnya, ternyata memakai baju pelayan loak yang sama dengan cewek gila penyiram jus buah naga di warung kemarin sore. Dan sekarang, dia memegang bukti pamungkas: masker hitam pelayan itu.

"Kamu!!"

Alin spontan mundur selangkah, pundaknya merapat ke pintu kaca otomatis yang mendadak menutup kembali dengan bunyi ting-tong yang nyaring, seolah meratapi nasibnya yang tamat malam ini.

Mampus! Tamat sudah riwayat gue! Rahasia ubi rebus gue bisa terbongkar! jerit Alin dalam hati, panik setengah mati.

Berpikir cepat dalam kondisi terjepit, ia memutuskan untuk menyerang duluan sebelum Rakha menanyakan keajaiban wajahnya. "Kamu ngapain ada di sini?! Kalau mau nagih utang hoodie delapan juta itu, aku belum bisa bayar sekarang! Aku belum ada uangnya! Jangan paksa aku jual ginjal ya!" cerocos Alin dengan nada panik yang kentara.

Rakha mendengus geli, rasa syoknya perlahan berganti menjadi seringai licik yang sangat menyebalkan. Ia menaruh kantong belanjaannya—yang berisi tumpukan mi instan dan susu pereda lambung—di meja kasir dengan gerakan yang sengaja dibuat seanggun mungkin.

"Gue belanja di sini, dan suka-suka gue lah mau ada di mana pun. Lagian, takdir emang lagi berpihak sama gue," celetuk Rakha sambil melipat tangan di dada.

Mata elangnya meneliti wajah Alin yang malam ini terlihat luar biasa cantik, bertolak belakang dengan pakaiannya yang belel. "Dan ternyata... lo itu cewek gesrek tetangga kosan gue. Dunia sempit banget, ya?"

Alin melotot, harga dirinya yang setinggi langit mendadak tersengat. Ia memajukan tubuhnya, menantang tatapan Rakha. "Aku itu punya nama! Dan nama aku bukan cewek gesrek atau cewek gila! Jangan panggil aku kayak gitu lagi! Nama aku Alin, jadi kamu jangan sembarangan mengganti nama orang yang sudah diberikan susah payah oleh orang tuanya!"

"Pfftt... ya terserah gue lah mau manggil lo apa. Hak prerogatif gue sebagai korban kejahatan buah naga lo," ujar Rakha dengan senyum miring. "Inget, lo masih punya utang cicilan seumur hidup sama gue!"

Geram karena kalah telat dalam berdebat, Alin menghentakkan kakinya ke lantai minimarket hingga menimbulkan bunyi berdebum. Ia buru-buru berbalik menuju lorong bahan makanan, menjauh dari aura intimidasi cowok sialan itu. Dengan kasar, ia menyambar dua bungkus mi instan varian kuah pedas, membayangkan wajah Rakha sebagai mi yang sedang ia remas-remas.

Di area kasir, Rakha segera menyelesaikan pembayarannya dengan kartu debit black card-nya yang berkilau. Begitu selesai, dengan langkah lebar dan seringai penuh rencana busuk, ia membuntuti Alin dari belakang.

Alin yang merasa ada bayangan tinggi menguntitnya langsung berbalik tajam. "Kamu ngapain ngikutin aku?! Mau nguntit, ya?"

"Gue mau nagih ganti rugi, Alin," sahut Rakha enteng, sengaja menekankan nama gadis itu. Ia berdiri menjulang tepat di depan Alin, membuat gadis mungil itu harus mendongak drastis demi menatap matanya.

"Aku kan udah jelasin, kalau sekarang ini aku belum bisa bayar! Uang di dompetku tinggal beberapa lembar buat bertahan hidup sampai akhir bulan! Tapi aku pasti bayar secepatnya, janji!"

Alin berusaha membela diri, mendekap dua bungkus mi instan di dadanya seolah itu adalah perisai pelindung nyawa.

Rakha maju selangkah, membuat jarak di antara mereka menipis. "Gue nggak minta uang lo sekarang. Gue cuma minta tubuh lo dan—"

Belum sempat Rakha menyelesaikan kalimatnya yang bermaksud meminta bantuan tenaga, mata Alin membulat sempurna seukuran jengkol.

"Dasar cowok mesummm!!! Toloooong!!!" teriak Alin lantang, suaranya menggema hebat di antara rak-rak berisi sabun dan ciki.

Grep!

Dengan sigap dan panik, Rakha langsung membekap mulut Alin dengan telapak tangannya yang lebar dan wangi parfum mahal. Ia melirik waspada ke arah kasir yang untungnya sedang sibuk bermain ponsel dan tidak peduli dengan drama remaja di lorong tiga.

"Ssstt! Lo bisa diem nggak?! Gue belum selesai ngomong, jangan main potong aja! Dengerin yang bener makanya! Otak lo isinya drakor melulu ya, makanya langsung mikir yang aneh-aneh? Gue bukan cowok mesum, tipe gue bukan remah-remah rempeyek kayak lo!" bisik Rakha tajam tepat di dekat telinga Alin.

Rakha melepaskan tangannya perlahan setelah memastikan Alin tidak akan berteriak lagi. "Gue cuma mau minta tubuh sama tenaga lo buat ngerjain semua tugas dari gue, sampai utang lo benar-benar lunas. Kerja bakti, paham?"

Alin mengusap mulutnya dengan kasar, wajahnya memerah padam antara malu dan kesal. "Tugas yang kayak gimana maksud kamu?! Jangan ambigu ya!"

"Lo harus bersihin kamar kos gue setiap hari. Cuci baju, sapu, pel, beresin kasur. Pokoknya sampai kamar gue mengilap kayak hotel bintang lima," tuntut Rakha tanpa tahu diri.

"Heh! Aku bukan babu kamu yang bisa seenaknya disuruh-suruh! Memangnya kamu siapanya aku?! Kenal aja baru lima menit!" tolak Alin mentah-mentah sambil bersedekap dada, membuang muka dengan angkuh.

"Oh, mau formalitas? Ya udah kalau gitu, kita kenalan dulu aja biar akrab. Nama gue Rakha, calon majikan lo. Nama lo Alin, kan?" tanya Rakha dengan wajah lempeng tanpa dosa.

"Dasar sintingg!!" maki Alin.

Tanpa menunggu komando lagi, Alin berlari sekencang mungkin menuju kasir, melemparkan uang pas untuk mi instannya, menyambarnya, lalu menghambur keluar dari pintu minimarket sebelum Rakha sempat bereaksi.

Namun, Rakha tidak tinggal diam. Merasa harga dirinya ditantang oleh seorang gadis penyiram buah naga, ia ikut berlari mengejar Alin. Malam yang sepi itu mendadak berubah menjadi arena sirkus. Mereka saling kejar-kejaran di atas trotoar temaram layaknya tokoh kartun Tom and Jerry.

Alin berlari zigzag, sementara Rakha dengan kaki jenjangnya terus memangkas jarak.

Napas Alin mulai tersengal-sengal, dadanya terasa mau meledak, dan langkah kakinya melambat drastis. Di saat kritis itulah, Rakha berhasil menjangkau ujung lengan jaket Alin.

Hap!

"Dapat! Hah... hah... hah... mau lari ke mana lagi lo, hah?"

Rakha langsung membungkuk sambil memegang kedua lututnya. Napasnya memburu hebat, paru-parunya berdemo karena ia jarang melakukan olahraga kardio se-ekstrem ini tengah malam.

"Udah... jangan lari-larian lagi. Gue beneran capek. Gue janji nggak bakal ngapa-ngapain lo, asal lo nurutin ucapan gue yang tadi."

Alin berusaha menarik tangannya yang dicengkeram erat oleh Rakha, namun tenaga cowok itu seperti monster. "Aku nggak mau! Pokoknya aku bakalan bayar ganti rugi yang delapan juta itu, tapi nggak sekarang! Aku bakal cicil seratus ribu per bulan!"

Rakha kembali berdiri tegak, menatap Alin dengan tatapan dingin yang mengintimidasi, mengabaikan fakta bahwa ia sendiri masih ngos-ngosan.

"Gue nggak nerima kredit! Lo pikir gue bank keliling? Gue maunya langsung tunai, nggak pake acara dicicil sampai gue punya cucu! Pilihannya cuma ada dua sekarang. Lo bersihin kamar kos gue besok pagi, atau gue telpon polisi detik ini juga dengan tuduhan perusakan barang mewah!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!