Menjalin hubungan dengan orang yang sangat dicintai selama beberapa tahun, tidak menjamin bahwa namamu yang akan dia sebut dalam janji suci dan bersanding bersamanya di pelaminan.
Seperti yang dirasakan oleh Laura Clarissa, gadis yang awalnya berharap segera dilamar oleh sang kekasih, malah yang terjadi adalah sebaliknya, kekasihnya itu memberi sebuah cincin, bukan sebagai lamaran akan tetapi hanya karena ingin dikenang, sebab kekasihnya itu akan menikahi orang lain.
Namun ditengah rasa sakit hati yang ia pikul seorang diri, ada sahabat yang diam-diam menyukainya, akan tetapi Laura sama sekali tak pernah menyadari perasaan sahabatnya itu
Di lain sisi, dia juga bertemu orang yang mengaku teman masa kecilnya, orang yang mengaku ingin mempersunting dirinya.
Kisah asmara seperti apa selanjutnya? dimanakah Laura akan memantapkan hatinya? tidak bisa move on dari mantan? menyadari perasaan sahabatnya? atau jatuh cinta kepada teman masa kecilnya?
Penasaran? ikuti kisahnya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatap Aku Ra!
Didalam kamar, Laura gelisah soal rasa penasarannya tentang pembicaraan Reyhan dan Maira diruang tamu.
Ia bahkan mondar-mandir disamping ranjang sambil menggigit-gigit ujung jarinya, "Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Aku tidak percaya kak Rey hanya membicarakan soal masa kecilnya! Atau Maira si adik bodoh itu mengatakan hal aneh tentangku? Jangan-jangan dia mengatakan pada kak Rey kalau suara dengkuranku itu keras? Atau dia mengatakan.... Ahkk... Jangan sampai tuhan, aku sudah cukup malu bertemu kak Rey sekarang!" Ucapnya berbicara sendiri.
Laura terlalu sibuk memikirkan itu semua hingga tanpa sadar ada banyak pesan yang masuk lewat Via whatsAppnya.
Dert... Dert... Dert...
Ponsel yang tergeletak diatas meja rias itu bergetar, panggilan masuk menyadarkan dirinya untuk segera meraih dan menerima panggilan tersebut.
"Halo Ra! Aku akan menjemputmu sebentar sekitar jam 7 yah, harus cepat siap-siapnya!" sahut orang yang menelfon.
"Apa! Menjemputku? Memangnya ada apa Van, Kita mau kemana?" jawab Laura lupa akan janjinya kepada Vanno.
"Ya ampun Laura! Kamu sekarang umur berapa, 60 tahun? Belum kan? Kenapa bisa jadi orang pelupa, kamu tadi sudah janji mau menjadi pasanganku!" tegas Vanno.
"Aahk iya sorry Van! Aku lupa, iya-iya aku bakal pergi yang penting kamu jemputnya jangan lama!" jawab Laura memukul jidatnya.
"Nah... Gitu dong kalau begitu sampai jumpa sebentar malam Ra!" Vanno mengakhiri panggilan singkat itu, Laura melenguh menjatuhkan diri diatas Kasur.
Kembali berhadapan dengan ponselnya, maksud hati ingin melihat story WA dari semua kontaknya, menggeser dan terus menggeser lalu berhenti tepat di story kontak Yohan.
Berupa foto bersama dia dan istrinya dengan nuansa pengantin baru, Yohan tampak berbaring bersama Keyla diatas tempat tidur, Begitu jelas terlihat bahwa tangan Yohan memeluk istrinya dari samping.
Begitu romantis dengan Caption 'My Wife' mampu menggoyahkan hati Laura yang awalnya biasa saja.
"Ternyata begini ya Han! Pernikahan yang baru berlangsung beberapa hari membuatmu melupakan kenangan kita yang tidak begitu singkat, tapi sepertinya hanya aku yang mengingatnya, kau sekarang terlihat sangat bahagia, bahkan mati-matian membela istrimu didepanku!!" lirihnya dengan deru air mata yang mengalir lagi.
Tak ingin berlama-lama menatap foto sepasang pengantin Itu, Laura begitu capek dan muak tentang semua yang bersangkutan dengan Yohan.
"Pria breng*ek....benar-benar brengs*k!!! Aku benar-benar sangat membencimu Yohan!" Dia mencari kontak Yohan sekali lagi air mata itu tak henti-hentinya mengalir ketika Laura masuk ke obrolan mereka lewat Whatsapp.
Pesan terakhir Yohan memanggilnya dengan sebutan Sayang sebelum semuanya berakhir pada malam itu, kenangan pilu yang melukai jiwa dan raganya.
Seakan kembali membuka lukanya, Goresan sakit kembali ia rasakan, sesak yang seakan menyiksa batinnya.
Dia bukannya ingin membaca kembali obrolan lamanya dengan Yohan namun ia berusaha mengabaikan, di tekannya tiga titik horisontal diatas sudut ponselnya, mengarah ke kata 'blokir' tak segan-segan begitu gesit dan geram Laura menekan penuh emosi kata itu saat aplikasi masih memberi arahan yakin atau tidak yakin.
Tak butuh waktu lama untuk berfikir, Laura langsung saja ke intinya, hingga foto Profil whatApp Yohan sudah tak muncul lagi.
Sangat puas, begitu yang Laura tengah rasakan, ia bisa sedikit bernafas lega karena tak lagi melihat Yohan di dunia Maya karena menurutnya bukan hanya dunia maya yang menyakitkan namun di dunia nyata jauh lebih menyayat hati, apalagi saat dia berpapasan dengan Yohan dan Keyla seperti halnya tadi.
Di lemparnya ponsel itu tepat disamping tubuhnya, mengusap air mata beranjak dari kasur menuju cermin.
"Tidak Ra! Bukankah kamu sudah berjanji tidak ingin menangis lagi? Kenapa sekarang kamu malah goyah?" dia menghapus sisa air matanya dengan kasar, terus mengumpat Yohan didalam hatinya.
Tok... Tok... Tok...
"Kak! Buka pintunya aku mau masuk, Kak Reyhan sudah pulang!" ucap Maira mengetuk pintu memanggil dirinya.
"Hah! Benarkah? Ini bagus... Akhirnya orang itu pulang juga!" Laura kegirangan mendengarnya, ia dengan gembira berlari kearah pintu untukmembiarkan adiknya masuk.
Krek...
Pintu terbuka, Laura yang awalnya memasang wajah ceria tiba-tiba berubah muram, pasalnya bukan karena Maira tapi tepat di belakang adiknya masih ada Reyhan yang memberi senyuman lebar sambil melambaikan tangan.
"Kak Rey... bukannya kata Maira, kakak sudah pulang?" ketusnya menyipitkan mata.
"Hm... Siapa yang pulang! Sepertinya kamu salah dengar, aku masih merasa nyaman disini kenapa aku harus pulang!" balas Reyhan.
"Tapi ini sudah sore kak! Bukannya aku mau mengusir hanya saja aku takutnya ada orang yang salah paham!" Laura seakan mengecilkan suaranya tak enak hati berkata seperti itu.
"Sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga Ra! jadi siapa yang mau salah paham denganku! Tapi aku paham mungkin kamu masih tidak nyaman karena aku yang selalu terburu-buru mengatakan itu! Tenang saja, selama kamu memberiku ruang aku tidak akan pergi sebelum mendapatkanmu!" ungkap Reyhan begitu bijak di mata Maira
"Wow... Pemikiran yang luar biasa kak! Good Job aku Maira selalu mendukung Kak Rey mengejar kak Laura!" Kata Maira begitu semangat.
"Hem... Iya adik ipar.... Tunggu saja aku akan membuat kakakmu secepatnya move on dari mantannya itu! Pegang kata-kata kakak!" Reyhan mengedipkan sebelah matanya pada Maira seolah ada sesuatu diantara mereka.
"Ra! Kenapa matamu memerah? Apa kamu barusan menangis? Siapa yang membuatmu seperti itu? Apa itu mantanmu atau siapa? Aku akan memberinya pelajaran!" Reyhan menatap Laura dan mendapati bekas air mata yang masih berada disekitar matanya, mata yang biasanya terlihat indah namun kini memerah karena tangisan tadi.
"Iya kak! Kakak habis nangis yah?" Seka Maira menaruh curiga pada kakaknya.
"Ahk tidak... Ini tadi kemasukan debu jadi agak memerah, sebentar lagi pasti sembuh sendiri!" jawabnya berbohong.
"Tidak mungkin, kakak pasti bohong!" Maira lagi-lagi tidak percaya.
"Maira diamlah! Masuk kamar sana!" benatk Laura seketika Membuat adiknya terdiam dan berlari masuk kedalam kamarnya.
Kini Laura menatap Reyhan, "Kak Rey bisa pulang sekarang!" Usirnya dengan nada kesal, "Memangnya aku salah apa lagi Ra! kenapa kamu selalu ingin mengusirku!" timpalnya kasihan.
"Jujur! Aku tidak nyaman dengan kehadiran kak Rey yang terlalu tiba-tiba, jadi aku mohon kakak mengerti itu!" Laura memalingkan wajah dihadapannya tampak begitu jelas jika ia merasa canggung.
Reyhan mendekati Laura semakin dekat hingga keduanya hanya berjarak beberapa senti, "Tatap aku Ra!" pinta lirih Reyhan.
Laura menggeleng kuat beberapa kali, "Aku bilang tatap Aku! Izinkan aku menatapmu sebelum pulang Ra! Itu saja!" Pintanya lagi.
"Aku tidak mau!" Tolaknya masih berpaling muka.
Reyhan seketika memegangi dagu Laura tanpa perlawanan ia menghadapkan wajah Laura agar berhadapan dengannya.
Karena tinggi badan yang dimiliki oleh Reyhan , sementara Laura sendiri hanya sebahu darinya, Reyhan berusaha menjajarkan tubuhnya dengan Laura.
Dia mendekatkan wajahnya lagi, Namun laura malah memejamkan mata, "Buka matamu Ra! Dan tatap aku!" untuk ketiga kalinya Reyhan Meminta.
Pada akhirnya Laura lagi-lagi menolak, Reyhan tak punya pilihan lain selain menyerah, dia melepaskan tangannya dari dagu Laura, dan hanya mengacak rambut orang yang kini ada dihadapannya dengan gemas.
"Ahk sudahlah aku tidak mau memaksamu! Kalau begitu aku akan pulang!" Pamit Reyhan berjalan menjauh.
sukses
semangat
mksh
sukses
semangat
mksh
keren