Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PpM 14
Yang membuatnya gelisah bukan hanya itu, melainkan pertanyaan yang tak kunjung terjawab: apa tujuannya?.
Belum sempat Mia menata pikirannya, Johan kembali mengangkat ponsel dan menelepon seseorang.
“Halo, Ma.”
“Hm, kenapa, Jo?”
“Mama apa-apaan ngasih nomor aku ke Mey?” suara Johan terdengar tertahan, namun jelas tegas.
“Loh, kenapa memangnya? Kalian kan teman. Nggak ada salahnya saling berkabar,” balas ibunya santai.
Johan menghembuskan napas kasar.
“Ma, aku ini sudah berkeluarga. Ini bisa bikin salah paham.”
“Halah, papamu dulu juga masih berhubungan sama mantan-mantannya Mama biasa saja. Ngapain cemburu,” jawab ibunya, lagi-lagi tak merasa bersalah.
“Capek aku ngomong sama Mama,” ucap Johan akhirnya, lalu mengakhiri panggilan.
Meski dada terasa sesak, Mia memilih bersikap bijak. Ia tak ingin memperkeruh suasana yang baru saja mereda.
“Sabar… nggak salah juga sih kata Mama,” ucapnya pelan, lebih seperti menenangkan diri sendiri.
Johan hanya diam. Ia tak menanggapi, bahkan tidak menoleh. Sikapnya itu justru membuat Mia semakin yakin ada sesuatu yang mengganjal, meski ia berusaha menepis perasaan tersebut.
Hari-hari berjalan seperti biasa, rutinitas yang sama, jam yang tetap berputar. Namun perlahan, Mia mulai menangkap hal-hal kecil yang tak lagi biasa.
Johan kerap menerima telepon secara sembunyi-sembunyi, menjauh setiap kali layar ponselnya menyala. Ia juga terlihat lebih peduli pada penampilan sesuatu yang dulu tak pernah berlebihan.
Pagi itu, Johan tampak sibuk mencari sesuatu di atas meja rias. Laci dibuka, botol-botol digeser. Mia yang baru keluar dari kamar mandi menatapnya heran.
“Kamu cari apa?” tegurnya.
Johan sedikit terkejut, lalu tersenyum cepat.
“Aku pinjam parfummu ya parfumku habis.”
“Yakin mau pakai parfummu?,” sahut Mia.
“Gak apa-apa, yang penting parfum,” jawab Johan santai, masih tersenyum sambil menyemprotkan cairan wangi ke pergelangan tangannya.
Mia menelan ludah. Ini bukan kebiasaan suaminya. Johan memang termasuk care dengan penampilan, tapi tidak pernah sampai meminjam parfum miliknya dan bukan parfum sembarangan pula. Ada rasa janggal yang mengendap, pelan tapi pasti, di dasar hati Mia.
Perubahan sikap Johan tidak lagi samar. Pulang yang makin larut, ponsel yang hampir selalu dalam genggaman, dan perhatian berlebih pada hal-hal kecil yang dulu tak pernah ia pikirkan. Mia menyadarinya pelan-pelan, seperti menyadari hujan yang turun tanpa suara tidak deras, tapi cukup untuk membasahi. Ia memilih diam, meyakinkan diri bahwa mungkin ia hanya terlalu sensitif.
Hingga suatu sore, saat ponsel Johan tertinggal di meja, layar itu menyala. Satu pesan masuk, singkat tapi cukup membuat napas Mia tertahan.
“Ok. Di tempat kemarin kan?”
Tidak ada nada menggoda, tidak pula ajakan terang-terangan. Justru itu yang membuatnya terasa ganjil. Mia membaca ulang pesan itu beberapa kali. Kalimat itu jelas bukan pembuka. Itu jawaban. Artinya, ada percakapan sebelumnya.
Mia menelan ludah jemarinya bergetar tipis saat menyadari satu hal yang tak bisa ia abaikan lagi: seseorang sengaja menghapus jejak yaitu Johan. Ingatannya melayang pada sikap suaminya akhir-akhir ini, pada parfum yang dipinjam, pada telepon yang dijauhkan.
Apa ini ada hubungannya dengan perubahan sikapnya? batin Mia.
Untuk pertama kalinya, kecurigaan itu tidak lagi bisa ia usir begitu saja.
Mia mengunci layar ponsel itu dan meletakkannya kembali ke tempat semula, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Dadanya terasa penuh, tapi ia memaksa langkahnya tetap ringan saat beranjak ke dapur.
Air keran mengalir, piring-piring ditata, rutinitas kecil itu ia gunakan untuk menenangkan pikirannya yang mulai kacau.
Saat Johan muncul di ambang pintu, Mia menoleh sambil tersenyum tipis. Senyum yang terlalu rapi untuk perasaan yang sedang berantakan. Johan membalasnya sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Tidak ada yang berubah secara kasat mata dan justru itu yang membuat Mia semakin gelisah. Ada jarak yang tak terlihat, tapi terasa.
Sejak sore itu, Mia memutuskan satu hal ia tidak akan bertanya sebelum benar-benar siap dengan jawabannya. Namun diam-diam, ia mulai mengamati. Setiap gerak, setiap kebiasaan baru Johan, kini tak lagi sekadar lewat. Ada kewaspadaan yang tumbuh, pelan tapi pasti, di dalam dirinya.
Jm menunjukan pukul tujuh saat Mia selesai menyiapkan makan malam
" Jo ayo makan dulu mumpung masih hangat. " seru Mia dari arah ruang makan.
Johan yang tengah menonton televisi di ruang tengah menyahut pendek
" Ya sebentar. "
Makan malam itu berlangsung lebih hening dari biasanya. Sendok dan garpu sesekali beradu dengan piring, menciptakan bunyi kecil yang justru terasa nyaring di telinga Mia. Johan memecah keheningan dengan suara santainya, seolah membicarakan hal biasa.
“Mia, aku ditugaskan ke Bandung dua hari,dalam rangka jalin kerja sama."ujarnya.
Gerakan tangan Mia terhenti sesaat. Nalurinya langsung menolak penjelasan itu. Ia tahu betul posisi Johan di kantor—ahli IT, bukan business development. Bukan pula orang yang biasa dikirim untuk urusan lobi atau negosiasi tingkat atas. Ada yang janggal, terlalu janggal untuk dilewatkan begitu saja.
Namun Mia memilih menelan semua pertanyaan yang sudah berbaris di ujung lidahnya.
Ia mengangkat wajah, menatap Johan sekilas dengan ekspresi netral.
“Oh ya? Kapan berangkat?.”
“Lusa,” jawab Johan singkat.
Mia hanya mengangguk pelan, lalu kembali menyendok makanannya. Di luar, ia tampak tenang. Tapi di dalam, pikirannya mulai menyusun kepingan demi kepingan yang tak lagi terasa kebetulan.
Keesokan paginya, mereka sarapan bersama sehari sebelum keberangkatan Johan. Meja makan terasa lebih sunyi dari biasanya. Mia makan pelan, sesekali melirik tanpa sengaja ke arah suaminya, seolah mencatat hal-hal kecil yang dulu tak pernah ia perhatikan.
Johan sendiri tampak terburu-buru, menyuap sekadarnya, lalu meneguk kopi tanpa benar-benar menikmati.
Keheningan itu akhirnya pecah. Johan meletakkan sendoknya dan menatap Mia.
“Kamu kenapa? Kamu ragu dengan kepergianku ke Bandung?” Kalimat itu meluncur tiba-tiba, terlalu cepat untuk sebuah tuduhan. Mia sontak menghentikan suapannya. Ia menatap Johan dengan dahi berkerut, benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan itu.
“Aku nggak ngomong apa-apa loh, Jo,” sahutnya pelan.
“Iya, kamu nggak ngomong apa-apa,” balas Johan, nada suaranya meninggi .
“Tapi sikapmu sudah menjelaskan.” Ia buru-buru mengelap mulutnya, berdiri, lalu meraih tas kerjanya. Mia memandang punggung suaminya yang menjauh dari meja makan dengan perasaan ganjil. Bukan kata-katanya yang membuatnya bingung, melainkan cara Johan membela diri seolah ada sesuatu yang ingin ia tutupi, bahkan sebelum ditanya.
Mia tetap duduk di tempatnya. Selera untuk menghabiskan sarapan mendadak menguap begitu saja. Sendok di tangannya terhenti di udara, lalu ia letakkan perlahan. Kepalanya terasa penuh, tapi bukan oleh pertengkaran melainkan oleh kebingungan yang tak kunjung menemukan bentuk. Ia menatap piringnya tanpa benar-benar melihat.
Ia mencoba mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Sepanjang sarapan tadi, ia yakin tidak mengucapkan apa pun yang bisa memancing reaksi seperti itu. Tidak ada pertanyaan, tidak ada sindiran. Ia bahkan lebih banyak diam. Tapi Johan justru terlihat gelisah, defensif, seolah menafsirkan keheningan sebagai tuduhan.