Lyra tak pernah menyangka akan masuk ke dalam sebuah drama pernikahan bersama seorang laki-laki bernama Wira. Impian Lyra hancur ketika statusnya berubah menjadi seorang istri. Karena suatu kejadian, Wira dan Lyra terpaksa menikah.
Lyra merasa aneh saat lelaki itu tidak pernah mengungkapkan cinta padanya, namun berkata tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
...Author POV...
Suasana cukup syahdu pagi itu, antara haru dan mendebarkan bagi seorang gadis yang barusan di sebut nama lengkapnya oleh sang suami yang secara tidak langsung mengutarakan perasaannya, tapi Lyra tidak mau percaya begitu saja. Wira yang dulunya playboy kelas kakap pasti sudah handal dalam urusan merayu wanita. Pelukan Wira semakin erat bahkan, dia meletakkan dagunya tepat di pucuk kepala istrinya. Sejak pagi tadi, cuaca mendung. Hujan pun sudah turun seakan mengerti dan mendukung suasana hati mereka.
“Aku nggak percaya, kamu jago gombal. Kamu nyadar nggak sih Mas kamu nyebut nama Sarah tiga kali pagi ini? gimana aku bisa percaya, kalau disini... ada aku?” Lyra melepas pelukan, menunjuk tepat di dada Wira dengan jari telunjuknya.
“Udah nebak, pasti kamu nggak percaya. Sayangnya aku nggak mungkin bedah dada aku sendiri buat ngebuktiin itu. Lyra... kamu berhasil ngubah aku jadi lebih baik, itu aja yang mau aku tekankan. Makasih untuk satu minggu yang menganggumkan.”
Wira mengusap pipi Lyra dengan ibu jarinya. Menangkup kedua pipinya, menundukkan kepala untuk lebih mendekat pada gadis mungilnya itu. Memagut dan mencumbuu bibirnya dengan cukup mesra. Lidah Wira berhasil menyapu setiap sudut bibir Lyra. Dia selalu bersabar untuk menunggu Lyra membalasnya, sejauh ini Wira belum pernah mendapat pergerakan sedikitpun saat mencium bibir istrinya itu. Selalu saja dia yang bermain sendiri.
Hingga akhirnya kesabarannya berbuah manis saat Lyra memberanikan diri mengalungkan kedua lengannya di leher Wira. Gadis itu berjinjit sedikit untuk mengimbangi, membuka bibirnya lebih lebar lagi hingga lidah lelaki itu masuk tanpa permisi untuk menjelajah lebih dalam. Lyra tidak begitu paham, ia hanya mengikuti nalurinya saja. Membalas setiap pergerakan Wira disana. Jika suaminya menghisaap, begitu juga dengan Lyra.
Dan dari sekian banyak perempuan yang pernah bercumbu dengannya, baru kali ini Wira merasakan jantungnya berdegup tak kauran, apalagi sadar saat Lyra mulai membalas.
Tangannya mulai turun, merengkuh pinggang Lyra, memeluknya kemudian menaikkan tubuh istrinya hingga terduduk di atas meja. Tangan bekerja, bibir dan lidah juga masih beraksi, semakin panas.
Lyra benar-benar mengubah dunia Wira. Jika saat masih lajang, pagi-pagi sekali ia sudah berada di rumah sakit selain karena tuntutan kerja juga dia terlalu bosan sendiri di apartemen, setidaknya sampai di sana dia ada teman ngobrol cantik, yaitu Sarah. Tapi kini, ingin sekali berlama-lama di rumah, menghabiskan waktu berdua dengan Lyra meski sering terjadi perdebatan diantara mereka. Tapi selalu berujung manis.
“Udah ya Mas, masih pagi.” Napas Lyra terangah, saat Wira melepaskan pagutannya, entah bagaimana dia bisa terbaring di atas meja makan, dengan kedua kakinya masih terjulur ke bawah.
“Ya ampun Mas, kamu harus kerja.” Lyra mengingatkan, Wira berhenti bukan untuk mengakhiri melainkan untuk berpindah lapak, mencumbuu leher Lyra hingga istrinya itu kegelian.
“Sebelum kerja beneran, enaknya kerjai istri yang makin pintar kissingnya, I love it, Lyra. Ayo kita belajar lagi, biar makin pintar.”
“Tapi Mas nggak disini—“
Lyra terbungkam, suaminya yang tidak sabaran memang susah di kendalikan. Tidak tau waktu bahkan, tidak peduli itu dimana.
Jika bukan karena pasien yang sudah menantikan jadwal operasi dari seminggu yang lalu, fix Wira akan memutuskan untuk dirumah saja hari ini. Memeluk dan berlama-lama bermanja di atas ranjang bersama Lyra yang berulang kali mengingatkannya, bahkan saat Wira sedang menyatukan tubuh mereka, bisa-bisanya Lyra tidak berhenti mengomel.
“Mas nggak usah pake lama ya pagi ini, ingat... Kamu ada jadwal... ehm jam sepuluh kan. Belum mandinya, belum siap-siap lagi.” Napas Lyra terputus-putus, saat mengatakan itu karena tengah ada pertempuran dahsyat antara miliknya dan milik Wira di bawah sana.
Lyra pikir, mereka benar-benar akan melakukan pergulatan di atas meja makan, ternyata tidak. Wira tidak segila itu, suaminya hanya melakukan pemanasan saja disana. Dan mereka pindah ke kamar saat Wira berhasil melucuti pakaian Lyra satu persatu. Maka permainan mereka pagi ini tetap berakhir di atas ranjang.
Mengikuti insting sebagai seorang istri, saat suaminya mandi, Lyra menjalankan tugas pertamanya pagi ini, menyiapkan pakaian yang akan di kenakan suaminya. Kemeja berwarna soft blue serta celana chino berwarna coklat susu, rasanya cocok di padukan.
Mas Wira yang mulai ganteng di mataku, kayaknya cocok deh pake apa aja. Pake bokser doang juga gantengnya nggak luntur kayaknya.
Lyra cekikian sendiri, pikirannya mulai tidak waras, tanpa dia sadari, Wira sudah berdiri di belakangnya.
“Enak ya ternyata punya istri, lagi buru-buru gini ada yang nyiapin, tinggal pake.”
“Ya ampun Mas Wira ngagetin aja, udah sana cepetan. Udah jam sembilan loh.”
Untung saja jarak antara apartemen dan rumah sakit hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Wira sengaja memilihi hunian mewah strategis ini karena dekat dengan tempat kerjanya.
“Iya, dasar tukang ngomel.”
Sebelum berangkat lelaki itu menyempatkan memeluk Lyra sekali lagi, dan meninggalkan kecupan hangat tepat di kening Lyra. Tak lupa juga ia mengatakan bahwa uang tunai sebanyak dua juta di atas meja serta kartu sakti beserta pinnya, adalah untuk Lyra gunakan sepuasnya.
“Aku pergi, jangan lupa kabari aku waktu kamu mau berangkat ke kampus.” melambaikan tangan dan di balas dengan anggukan serta seulas senyum oleh Lyra.
...🌸🌸🌸...
“Sarah, bisa nggak mulai sekarang, kita jaga jarak.” Wira mengingatkan, saat Sarah memainkan jari-jarinya di kepala Wira memijat pelan lelaki itu seperti kemarin-kemarin, saat dilihatnya atasannya itu mulai lelah. Apalagi usai menjalani dua operasi sekaligus.
“Loh biasanya kamu suka aku pijitin gini, Mas? emang kenapa?” protes Sarah, namun tak juga menjauh dari Wira.
“I’m a husband right now, aku seorang suami. Aku laki-laki yang sudah beristri, kamu lupa?” Wira berpindah duduk, dari kursinya kini menuju sofa untuk menghindari Sarah yang tak juga menjauh.
Meraih ponsel dari saku kemejanya, melihat pesan terakhir yang di kirimkan istrinya.
aku udah nyampe kampus Mas, kamu jangan lupa sholat zuhur.
“Ya emang sih, tapi... istri kamu kan nggak ada disini, lagian aku cuma ngejalanin tugasku kok,” sahut Sarah sewot merasa tak terima.
“Mulai sekarang, tinggalkan tugas yang itu. Kamu hanya mengurus urusan pekerjaan aja, tinggalkan urusan dan segala keperluan pribadiku, termasuk membawakan aku bekal. Dan perlu kamu tau, Lyra memang nggak ada disini, tapi dia ada disini.” Menunjuk tepat di dadanya, karena ungkapan Wira barusan, Sarah terperangah. Tak pernah lelaki ini seperti itu sebelumnya, bahkan saat masih berpacaran dengan Hanna lelaki itu bahkan tak pernah se dramatis ini.
Lantas ia meninggalkan ruangan itu, berjalan menuju mushola yang tersedia di rumah sakit.
Bersambung
😝