**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 makanan manusia
Pagi pun tiba, dan sinar matahari yang menembus tirai tipis jatuh tepat di wajah Veronica. Wanita itu menggeliat malas, lalu menarik selimut sampai ke dagu dengan raut kesal, sebab ia menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui. Ranjang manusia ini jauh lebih empuk daripada tumpukan emas dan lantai gua batu yang biasa ia tiduri, dan kelembutannya membuat tubuhnya enggan beranjak. "Menyebalkan," gumamnya sambil membenamkan pipi ke bantal. "Bagaimana bisa makhluk fana membuat sesuatu senyaman ini?" Ia bahkan sempat berpikir untuk berpura-pura tidak mendengar apa pun dan melanjutkan tidurnya sampai siang. Baru saja ia memejamkan mata lagi, terdengar ketukan halus di pintu. Veronica mendengus, lalu membuka sebelah mata dengan sorot terganggu.
Pintu terbuka perlahan dan seorang gadis muda melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk, langkahnya begitu hati-hati seakan lantai di bawahnya bisa pecah kapan saja. Rambut cokelatnya dikepang rapi, dan kedua tangannya menggenggam erat ujung celemek putih. "Selamat pagi, Nyonya. Nama saya Emma Luisa, dan mulai hari ini saya akan menjadi pelayan pribadi Anda." Veronica bangkit duduk sambil menatapnya tajam, dan tatapan itu sudah cukup membuat bahu Emma menegang. "Aku tidak butuh pelayan," ucapnya ketus. "Aku bisa mengurus semuanya sendiri, jadi kau boleh pergi. Aku tidak suka ada orang asing yang mondar-mandir di sekelilingku."
Emma menelan ludah, tetapi kali ini ia tidak mundur. Ia mengangkat wajah dan menatap lurus ke arah majikannya, meski jemarinya sedikit gemetar dan suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan. "Maaf, Nyonya, tapi sekarang Anda adalah nyonya rumah keluarga Vanguard, penguasa wilayah Brune. Sebagai duchess Vanguard, Anda harus mengurus urusan internal rumah ini, dan itu tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan para pelayan." Veronica menyipitkan mata, dan senyum sinis muncul di sudut bibirnya, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. Ia menyibakkan rambut merahnya ke belakang bahu dengan gerakan angkuh. "Duchess? Jangan bercanda. Aku hanya tawanan di rumah ini. Aku jaminan agar ayahku, Raja Naga Roten, tidak mengingkari perjanjian kerja sama itu. Jadi tugasku cuma tinggal di sini dan tidak membuat masalah yang merepotkan. Itu saja, tidak lebih. Jadi tidak perlu repot-repot memperlakukanku seperti nyonya rumah."
Emma terdiam dengan mulut sedikit terbuka, tidak tahu harus menjawab apa. Ia menunduk, memilin ujung celemeknya, dan berpikir keras mencari kata yang pantas, sementara Veronica menatapnya tanpa berkedip dengan mata ularnya yang tajam. Bagaimanapun juga, makhluk yang duduk di hadapannya sekarang adalah majikan barunya, seekor naga yang konon bisa membakar satu desa dalam sekali embusan napas. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia memberanikan diri bertanya, "Kalau begitu, apakah Nyonya ingin sarapan sekarang? Saya bisa meminta para pelayan menyiapkannya."
Kata sarapan membuat telinga Veronica berkedut. Ia menyandarkan punggung ke kepala ranjang, mengetuk-ngetukkan jari ke lutut, dan rasa penasaran yang sejak semalam ia tahan akhirnya muncul juga. Seperti apa sebenarnya makanan manusia, dan apakah semenarik cerita yang beredar di antara para naga? Selama ini ia hanya mendengar cerita dari para pengintai di sarang, dan semuanya terdengar membosankan. "Baiklah," katanya akhirnya, berusaha terdengar acuh tak acuh. "Aku akan sarapan." Emma tersenyum lega, bahunya akhirnya sedikit mengendur, dan ia membungkuk sopan. "Baik, Nyonya. Apa yang ingin Anda makan pagi ini?"
Pertanyaan itu membuat Veronica tertegun. Ia mengerjapkan mata dan menatap gadis itu seakan baru mendengar sesuatu yang aneh. Jadi ia boleh meminta makanan yang ia inginkan? Seorang tawanan boleh memilih? Ia berdeham pelan, menyembunyikan kebingungannya di balik wajah datar, lalu menegakkan punggung seakan sedang berunding dengan seorang utusan kerajaan. "Aku suka daging banteng monster yang dipanggang. Yang besar, seukuran bukit kecil, dan dipanggang utuh." Emma menatapnya dengan mata membulat, lalu buru-buru menggeleng sambil mengibaskan tangan. "Itu mustahil, Nyonya. Dapur kami tidak mungkin memasak makhluk sebesar itu, bahkan satu kakinya pun tidak akan muat di tungku."
Veronica mengerutkan kening sambil menopang dagu, tampak sedikit kecewa, tetapi ia tidak marah. Ia hanya menghela napas pendek, seperti seseorang yang baru sadar bahwa dunia manusia memiliki banyak batasan yang tidak masuk akal. Setelah berpikir sejenak, ia menyarankan dengan nada malas, "Kalau begitu sup dan daging sapi panggang saja." Emma mengangguk cepat, wajahnya berseri karena akhirnya ada permintaan yang bisa dipenuhi. "Baik, Nyonya, akan segera saya siapkan. Mohon tunggu sebentar, ya." Veronica mengangkat bahu seakan tak peduli, padahal dalam hati ia tidak sabar mencicipi makanan manusia yang selama ini ia remehkan, dan perutnya bahkan sempat berbunyi pelan tanpa permisi. Begitu pintu tertutup di belakang Emma, ia turun dari ranjang dan berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan.
Bayangan yang menatap balik adalah seorang wanita muda berambut merah dengan wajah halus dan mata yang hampir terlihat seperti mata manusia. Tidak ada tanduk, tidak ada ekor, tidak ada sayap, hanya sepasang bahu ramping dan rambut merah yang kusut karena tidur. Veronica menyentuh pipinya dengan ujung jari, lalu menghela napas panjang. Ia harus terus berada dalam wujud ini sampai perjanjian selesai, tanpa boleh lengah sedikit pun, menyembunyikan tanduk, ekor, dan sayapnya selama hidup di tengah manusia. Ia tidak nyaman dengan hal itu, rasanya seperti dipaksa mengenakan kulit orang lain, tetapi apa boleh buat. Itu perintah ayahnya, dan demi suaminya yang seorang manusia. Ia mengerutkan bibir ketika kata suami melintas di kepalanya, lalu mengalihkan pandangan ke jendela dengan perasaan tidak menentu.
Di halaman bawah, para kesatria berlatih dengan giat. Pedang beradu, perisai berdentang, dan teriakan komando bergema di udara pagi, diikuti derap sepatu besi di atas tanah berdebu. Rahang Veronica mengeras, dan kedua tangannya mengepal pelan di sisi tubuhnya. Ia selalu membenci para kesatria itu, sebab merekalah yang dulu sering menyerang sarangnya dengan tombak dan panah. Kini ia berdiri di balik jendela rumah mereka, tangan bersedekap di dada, mengenakan gaun tidur manusia, dan bertanya-tanya dalam hati apakah orang-orang itu akan tunduk padanya sebagai duchess Vanguard, atau justru menatapnya dengan kebencian yang sama.
Tak lama kemudian pintu kembali diketuk. Emma masuk bersama beberapa pelayan yang membawa nampan perak, dan mereka menata sarapan di meja dengan gerakan hati-hati, tak seorang pun berani menatap wajah sang naga. Veronica duduk dengan punggung tegak dan memandangi hidangan di depannya dengan alis terangkat penuh curiga. Sup hangat mengepulkan uap tipis, sementara beberapa iris daging sapi panggang tersaji di piring porselen. Sedikit sekali, pikirnya, dan ia nyaris tertawa melihat porsi yang menurut manusia sudah layak disebut sarapan. Porsi seperti ini bahkan tidak cukup untuk mengganjal ujung lidahnya. Aromanya memang harum dan menggoda, tetapi ia yakin rasanya biasa saja, sama seperti semua hal lain yang dibanggakan manusia.
Tanpa menyentuh garpu maupun pisau yang tersusun rapi di samping piring, Veronica mengambil sepotong daging dengan tangan kosong dan menggigitnya langsung. Emma yang berdiri di dekat meja tampak terkejut, kedua alisnya terangkat tinggi, bibirnya terbuka seakan ingin menegur, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Begitu daging itu menyentuh lidahnya, mata Veronica membulat. Ia mengunyah perlahan sambil memejamkan mata, lalu terdiam, dan sorot angkuh di wajahnya runtuh seketika. "Ini..." gumamnya pelan. "Rasanya aneh. Tapi enak sekali." Ia menggigit lagi, kali ini lebih cepat, sementara matanya berbinar tanpa ia sadari dan ujung bibirnya sedikit terangkat. Emma menahan senyum di balik tangannya, merasa lucu sekaligus lega melihat sang naga yang tampak begitu menakutkan semalam kini makan seperti anak kecil yang kelaparan.
Veronica sama sekali tidak tahu apa itu bumbu, bahan yang membuat rasa makanan menjadi sedap, dan ia tidak mengerti mengapa daging biasa terasa begitu berbeda dari yang selama ini ia bakar di gua. Ia hanya tahu bahwa rasa itu unik, hangat, dan membuatnya ingin terus makan, meski gengsinya menolak mengakui bahwa makanan manusia ternyata jauh dari kata biasa saja.