NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Keesokan paginya, langit kampus Universitas Brawijaya cabang kota ini terlihat sangat cerah.

Namun suasana di ruang rapat Badan Eksekutif Mahasiswa terasa sangat panas dan tegang.

Aldo, ketua panitia ospek yang bertubuh jangkung dan berwajah arogan, duduk dengan kaki menyilang di ujung meja.

Di sekelilingnya duduk beberapa anggota panitia senior yang menatap tajam ke arah Dimas.

Dimas duduk di kursi seberang dengan wajah tertunduk pucat.

Di sebelahnya, Rahman duduk dengan tenang sambil melipat tangannya di dada, matanya menatap tajam satu per satu mahasiswa di ruangan itu.

"Jadi, kamu membawa bapakmu untuk meminta keringanan?"

"Maaf saja, kampus ini tidak kenal kompromi untuk urusan pencurian uang kas."

Aldo membuka percakapan dengan nada sangat meremehkan.

"Aku bukan bapaknya, aku pemilik kos tempat anak ini tinggal."

"Dan aku datang bukan untuk meminta keringanan, tapi untuk meluruskan fitnah kejam yang kau buat," balas Rahman dengan suara beratnya yang langsung mendominasi ruangan.

Efek Aura Tuan Tanah milik Rahman mulai menyebar.

Beberapa panitia senior langsung merasa tidak nyaman dan sedikit gelisah mendengar suara pria tua itu.

"Fitnah?"

"Bukti sudah sangat jelas."

"Hanya Dimas yang memegang kunci loker itu kemarin, dan dia yang terakhir kali masuk ke ruangan BEM sebelum uangnya hilang."

Aldo berusaha mempertahankan ketenangannya, meskipun ia merasa ada tekanan tak kasat mata dari pria tua di depannya.

Rahman tersenyum sinis.

"Hanya karena dia memegang kunci loker, bukan berarti dia pelakunya."

"Loker tua seperti itu bisa dibuka dengan obeng murahan oleh siapa saja yang tahu kalau ada uang di dalamnya."

Rahman mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap mata Aldo tepat di tengahnya.

"Lalu pertanyaannya, siapa yang tahu persis bahwa uang lima belas juta itu ada di dalam loker kemarin sore?"

"Ya semua panitia tahu!" bantah Aldo cepat.

"Benarkah?"

"Atau hanya orang yang menyuruh Dimas menyimpannya di sana yang paling tahu posisinya?"

Rahman mulai melancarkan serangan psikologisnya.

Wajah Aldo sedikit memucat, namun ia segera menutupi kepanikannya.

"Bapak jangan asal menuduh saya ya!"

"Saya ini ketua panitia, saya tidak mungkin mencuri uang saya sendiri!"

"Kecuali kalau kau sedang dikejar hutang karena investasimu yang hancur berantakan."

Rahman menjatuhkan bomnya dengan santai.

Seluruh anggota panitia di ruangan itu langsung saling pandang dengan kaget.

Rahman hanya menebak-nebak, tapi ternyata tebakannya tepat sasaran.

Aldo langsung menggebrak meja dengan keras.

Brak!

"Cukup!"

"Saya tidak mau dengar omong kosong ini lagi."

"Kalau dalam waktu satu jam uang itu tidak kembali, saya akan panggil polisi dan membiarkan polisi yang menyeret Dimas dari kampus ini!" ancam Aldo panik.

"Silakan panggil polisi."

"Tapi sebelum kau menelepon mereka, aku punya satu saksi kunci yang akan memberatkanmu."

Rahman mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan Aldo untuk berhenti bergerak.

Dimas menoleh pada bapak kosnya dengan bingung.

Saksi kunci apa? Bukankah tidak ada siapa-siapa di ruangan itu kemarin?

"Kau bilang loker itu tidak terekam CCTV kampus."

"Itu memang benar."

"Tapi kau lupa satu hal bodoh yang sering dilakukan anak muda zaman sekarang."

Rahman mengeluarkan ponsel tuanya dan meletakkannya di atas meja.

"Kemarin sore, anak kosku yang bernama Maya tidak sengaja merekam video vlog saat melewati jendela ruang BEM ini dari arah taman luar."

"Dia sedang merekam bunga-bunga, tapi tanpa sengaja menangkap adegan yang sangat menarik di latar belakangnya."

Rahman mulai mengarang cerita bohong dengan wajah yang sangat serius dan meyakinkan.

Ini adalah jurus pamungkasnya untuk menggertak para penipu.

Jantung Aldo langsung berdetak dua kali lebih cepat.

"V-video apa maksudmu?" suaranya mulai bergetar.

"Video seorang mahasiswa jangkung dengan kemeja biru yang sedang mencongkel loker dengan penggaris besi besi, lalu memasukkan amplop tebal ke dalam tas ranselnya."

"Dan tebak siapa yang memakai kemeja biru kemarin sore?"

Rahman menunjuk dada Aldo dengan jari telunjuknya.

Ruangan itu mendadak hening seperti kuburan.

Semua mata kini tertuju pada Aldo.

Keringat sebesar biji jagung mulai mengucur di dahi ketua panitia itu.

Ia memang mencongkel loker itu kemarin sore dari jendela yang terbuka, dan ia yakin tidak ada siapa-siapa di luar.

Tapi mendengar cerita rinci tentang penggaris besi dan ransel, pertahanannya langsung runtuh.

Ia tidak tahu bahwa Rahman hanya menebak berdasarkan pengalamannya sebagai rentenir yang sering menghadapi orang mencongkel brankas.

"B-bapak bohong!"

"Mana videonya, coba putar sekarang!" tantang Aldo dengan sisa-sisa keberaniannya.

Rahman menyeringai seperti serigala yang berhasil menyudutkan mangsanya.

"Aku akan memutarnya."

"Tapi aku akan memutarnya langsung di depan dekan fakultas dan polisi."

"Saat video ini diputar, karirmu, nama baik keluargamu, dan masa depanmu akan hancur seketika."

"Kau akan dipenjara dan dipecat secara tidak hormat dari kampus ini."

Tekanan dari Aura Tuan Tanah Rahman mencapai puncaknya, membuat udara di ruangan itu terasa sangat sesak bagi Aldo.

Aldo tidak kuat lagi menahan tekanan psikologis yang luar biasa berat itu.

Lututnya lemas dan ia kembali duduk dengan kasar di kursinya.

"Tunggu..."

"Jangan... jangan panggil polisi," suara Aldo terdengar sangat pelan dan putus asa.

Semua panitia senior langsung menatap Aldo dengan pandangan jijik.

Mereka sadar bahwa ketua mereka sendirilah yang telah mencuri uang kas tersebut dan mencoba mengkambinghitamkan mahasiswa baru.

Rahman mendengus puas.

"Kau mengaku?"

Aldo menundukkan kepalanya dalam-dalam dan mengangguk pelan.

"Iya, saya yang mengambil uangnya."

"Uang itu masih ada utuh di dalam bagasi motor saya."

"Saya butuh uang itu untuk menutupi margin call investasi kripto saya sore ini."

"Maafkan saya, Dimas, saya benar-benar terdesak," Aldo menangis di depan semua teman-temannya.

Dimas membelalakkan matanya tidak percaya.

Ia tidak menyangka bapak kosnya yang tidak berpendidikan tinggi ini bisa mengungkap kasus pencurian hanya bermodalkan gertakan dan cerita bohong tentang video vlog.

"Kembalikan uangnya sekarang juga dan bersihkan nama Dimas di depan semua panitia!"

"Atau aku tetap akan melaporkanmu ke dekan!" perintah Rahman tegas.

Setengah jam kemudian, amplop berisi uang lima belas juta itu sudah kembali dengan utuh.

Aldo meminta maaf secara terbuka kepada Dimas dan langsung mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua panitia.

Nama Dimas kembali bersih, dan ia justru mendapat simpati besar dari teman-temannya yang lain.

Ting!

[Misi Utama Selesai.]

[Pengguna berhasil melindungi masa depan akademis penyewa menggunakan manipulasi psikologis tingkat tinggi.]

[Afeksi penyewa Dimas mencapai tingkat tertinggi. Ia menganggap pengguna sebagai sosok ayah yang sangat cerdas dan protektif.]

[Hadiah: Tambahan umur 10 hari telah didistribusikan.]

[Hadiah: Bebas Tagihan Listrik 6 bulan otomatis diaktifkan melalui sistem perbankan gaib.]

Rahman tersenyum lebar membaca notifikasi hadiahnya saat berjalan beriringan dengan Dimas menuju gerbang kampus.

Enam bulan bebas biaya listrik adalah kemenangan besar bagi dompetnya.

Dimas terus menunduk di samping Rahman, merasa sangat berutang budi.

"Pak Rahman, saya tidak tahu harus bicara apa lagi."

"Terima kasih banyak, bapak sudah menyelamatkan hidup saya hari ini," ucap Dimas dengan tulus.

"Sudah, jangan cengeng."

"Kamu ini mahasiswa, harusnya otakmu lebih pintar dari preman kampung."

"Lain kali kalau dituduh, lawan pakai bukti dan keberanian, jangan cuma menangis di depan kamar!" nasihat Rahman dengan nada khasnya yang galak.

Dimas tersenyum lebar dan mengangguk mantap.

"Iya, Pak, saya mengerti."

"Oh iya, ngomong-ngomong soal video dari Maya, boleh saya lihat videonya, Pak?" tanya Dimas penasaran.

Rahman mendengus menahan tawa.

"Video apa?"

"Maya mana punya kamera buat ngevlog, beli kuota internet saja dia suka ngutang padaku."

"Itu cuma trik gertakan palsu buat menakut-nakuti seniormu yang bodoh itu."

Dimas melongo keheranan, lalu tawanya meledak.

Ia benar-benar takjub dengan kecerdikan bapak kosnya yang tak terduga ini.

Di mata Dimas, pria tua berbaju batik pudar ini bukanlah sekadar tuan tanah yang pelit, melainkan pahlawan paling keren yang pernah ia kenal.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!