Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
Laras turun dari taksi dan segera melangkah masuk ke dalam kafe yang cukup ramai. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, mencari sosok yang ia rindukan.
Tidak lama kemudian, matanya menangkap seorang wanita yang duduk di dekat jendela tengah melambaikan tangan kearahnya dengan senyum lebar.
Senyum Laras langsung mengembang. Ia segera menghampiri wanita itu tanpa memperdulikan orang-orang sekitar.
"Salsa!"
"Laras!"
Keduanya berpelukan erat. Ada kerinduan yang selama ini terpendam dan akhirnya bisa terlampiaskan setelah sekian lama terpisah jarak.
"Salsa, akhirnya kamu pulang juga. Aku merindukanmu," ucap Laras sambil mempererat pelukannya.
"Aku juga merindukanmu, Laras."
Salsa membalas pelukan itu sebelum akhirnya melepaskan diri. Tapi, bukannya kembali duduk, tatapannya justru bergerak dari wajah hingga tubuh Laras.
Menyadari perubahan ekspresi Salsa, Laras langsung mengangkat alisnya.
"Ada apa?"
Salsa memiringkan kepala. "Dua tahun tidak bertemu, kenapa sekarang kamu kurusan?"
Laras tersenyum tipis. "Jangan membahas hal itu." Ia menarik kursi, lalu duduk di depan Salsa. "Lebih baik kamu ceritakan pengalamanmu selama di luar negeri."
Salsa menghembuskan napas panjang, kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Tidak ada yang menarik, Ras. Aku ke sana untuk belajar, bukan berlibur." Ia menggeleng pelan, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Apalagi ada Aryan. Mana mungkin aku bisa bersenang-senang sesuka hati kalau kakakku itu terus mengawasi ku?"
Laras terkekeh kecil mendengar keluhannya. "Tapi, kakakmu melakukan semua itu demi kebaikanmu juga, kan? Selama kuliah di sini, kamu tidak pernah benar-benar serius. Jadi, dia mengirim mu ke luar negeri supaya kamu bisa lebih fokus belajar."
Laras tersenyum lebar. "Dan, lihat sekarang! Baru dua tahun, kamu sudah kembali. Berarti kamu memang sudah menyelesaikan semuanya, bukan?"
"Ya, itu memang benar." Salsa mengangguk, lalu menyunggingkan senyum kecil. "Setidaknya, sekarang aku bisa kembali ke kehidupanku sendiri tanpa harus terus-menerus mendengar ceramah Aryan."
Keduanya tertawa kecil.
Untuk sesaat, Laras merasa beban yang selama ini menghimpit pikirannya perlahan menghilang. Berada di dekat Salsa, memberinya kenyamanan yang sulit ia dapatkan di rumah.
Tapi, setelah tawa mereka mereda, Salsa tiba-tiba mengubah arah pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Robby? Kalian masih baik-baik saja? Berapa keponakanku sekarang?"
Pertanyaan itu membuat senyum Laras perlahan memudar.
Ia terdiam beberapa saat. Pertanyaan sederhana itu terasa seperti membuka kembali luka yang selama ini berusaha ia sembunyikan.
Salsa menyadari perubahan ekspresi sahabatnya. "Ras?Ada apa?"
Laras menarik napas panjang, mencoba menyusun kata-kata yang tepat. Tapi, bibirnya terasa kelu. Ia bahkan tidak tahu harus memulai ceritanya dari bagian mana.
"Itu ..."
Salsa mengernyitkan dahi. "Kenapa? Apa ada masalah dengan Robby?"
Laras menghembuskan napas berat sebelum akhirnya mengangkat wajahnya.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana, Sa. Awalnya, hubungan kami baik-baik saja." Ia berhenti sejenak, berusaha menahan gejolak perasaannya. "Tapi, setelah kami mengadopsi seorang anak, sikap mertuaku mulai berubah."
Salsa sontak menegakkan tubuhnya. "Tunggu dulu! Mengadopsi anak?" ulangnya, memastikan jika ia tidak salah mendengar.
Laras mengangguk pelan. "Iya. Dokter bilang, kemungkinan kami untuk memiliki anak sangat kecil. Karena itu, kami memutuskan untuk mengadopsi seorang anak."
Ia tersenyum hambar. "Awalnya, aku pikir kehadiran Bara akan membuat keluarga kami lebih bahagia."
Laras menunduk, memainkan jemarinya yang saling bertautan. "Tapi, kenyataannya tidak seperti yang aku bayangkan."
Salsa menatapnya dengan kening berkerut. "Kenapa?"
"Mertuaku berubah. Apa pun yang aku lakukan selalu salah di mata mereka." Suara Laras mulai bergetar. "Aku tidak tahu pasti alasannya. Tapi, mungkin mereka kecewa karena aku tidak bisa memberikan cucu kandung untuk mereka."
Wajah Salsa seketika berubah muram. Ia tidak menyangka sahabatnya harus menghadapi persoalan serumit itu dalam rumah tangganya.
Ia hanya bisa mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Laras erat-erat.
"Ras, kamu sudah berusaha menjalankan peranmu sebagai istri dan ibu dengan baik. Tidak ada seorang pun yang berhak merendahkan mu hanya karena keadaan yang tidak bisa kamu kendalikan."
Laras tersenyum getir. Ia menghargai perhatian sahabatnya, tetapi kata-kata itu tidak serta-merta menghapus rasa sakit yang selama ini ia pendam.
"Terkadang, aku justru merasa seperti orang asing di rumahku sendiri, Sa." Ia menelan ludahnya, mencoba menguasai suaranya. "Aku justru melihat mertuaku dan pengasuh Bara adalah keluarga yang sesungguhnya."
Laras tertawa getir. "Lucu, ya? Aku ini istri Mas Robby, ibu Bara, tetapi terkadang aku merasa keberadaan ku justru tidak diinginkan di sana."
"Laras ..." Salsa mengusap punggung tangan sahabatnya, mencoba menenangkan.
Laras segera mengusap sudut matanya. "Sudahlah. Jangan membahas hal itu lagi." Ia memaksakan senyum. "Hari ini kamu baru pulang. Seharusnya kita bersenang-senang untuk merayakan kepulanganmu, bukan malah membicarakan masalahku."
Salsa terdiam sejenak. Ia sebenarnya masih ingin bertanya lebih jauh, tetapi ia memilih menghormati keputusan Laras.
"Baiklah. Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi berbelanja?" usulnya, mencoba mengembalikan suasana. "Aku ingin membeli beberapa barang. Sekalian, aku ingin membelikan hadiah untuk keponakanku. Aku juga ingin mengunjunginya. Boleh, kan?"
"Tentu saja boleh. Bara pasti senang bertemu denganmu."
"Bagus! Kalau begitu, kita habiskan hari ini bersama-sama."
Siang itu, Laras menemani Salsa berkeliling pusat perbelanjaan. Mereka mengunjungi beberapa toko pakaian, memilih aksesori, hingga mampir ke toko perlengkapan anak.
Salsa sesekali melontarkan candaan yang membuat Laras tertawa. Mereka juga mengobrol tentang banyak hal, mulai dari pengalaman Salsa selama kuliah di luar negeri hingga kenangan-kenangan konyol yang pernah mereka alami bersama.
Untuk beberapa saat, Laras berhasil melupakan segala tekanan yang menyesakkan dadanya. Tapi, semua itu tidak berlangsung lama.
Setelah selesai berbelanja, Salsa ikut pulang bersama Laras. Ia ingin bertemu langsung dengan Bara dan memberikan hadiah yang sudah ia beli.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah keluarga Adiguna. Salsa memarkirkan mobilnya di luar pagar, lalu mengikuti Laras menuju pintu utama sambil membawa beberapa kantong belanjaan.
Akan tetapi, baru saja Laras membuka pintu, langkah mereka berdua mendadak terhenti saat mendengar suara percakapan dari ruang keluarga.
"Sudah jam segini, tetapi istrimu belum juga pulang!" seru Diah dengan nada kesal.
Laras mengerutkan kening. Ia menoleh sekilas ke arah Salsa, yang juga tampak bingung mendengar ucapan tersebut.
"Biarkan saja, Bu. Bukannya kita bisa lebih bebas kalau tidak ada dia?"
Tubuh Laras seketika menegang mendengarnya.
"Memang benar," sahut Diah. "Tapi, apa gunanya kalau rumah ini saja bukan milik kita? Kamu harus segera menjalankan rencana kita, Rob. Setelah berhasil, ceraikan wanita mandul itu!"
Mata Laras membelalak. Tubuhnya terasa kaku, seakan-akan seluruh tenaganya mendadak menghilang. Ia tidak pernah menyangka ibu mertuanya tega menyebutnya seperti itu, terlebih saat berbicara dengan suaminya sendiri.
Tapi, luka itu belum seberapa dibandingkan dengan apa yang ia dengar selanjutnya.
"Sabar dulu, Bu. Selama wanita tua itu masih hidup, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk sekarang, kita hanya bisa membodohi Laras."
Dunia Laras seolah berhenti berputar. Ia mengangkat telapak tangan untuk menutup mulutnya, berusaha keras menahan suara isak yang nyaris lolos dari tenggorokannya.
Di sampingnya, Salsa juga membeku. Wajahnya berubah merah menahan amarah, sementara kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kamu harus bergerak cepat, Mas, agar kita bisa segera bersama. Aku, kamu, dan Bara."
Laras kembali melebarkan matanya. Suara itu ... Suara Maya, pengasuh yang selama ini ia percaya untuk menjaga Bara.
Laras menggeleng pelan, seolah berusaha menyangkal apa yang baru saja ia dengar.
"Kamu tidak ingin anak kita tumbuh besar tanpa seorang ayah, bukan?"
Laras nyaris kehilangan keseimbangan. Tatapannya kosong, sementara jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan.
"Sabar, Sayang. Aku akan mencari cara agar kita bisa menguasai semua harta keluarga Adiguna. Setelah semuanya menjadi milik kita, tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi kebahagiaan kita."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Laras.
Kini, semuanya terasa begitu jelas. Sikap Robby yang selama ini terkadang sulit dipahami, perlakuan Diah yang selalu merendahkannya, serta kedekatan Maya dengan keluarga itu.
Ternyata, mereka mempunyai hubungan dan, semua ini sudah di rencanakan.
"Kurang ajar!" desis Salsa dengan suara tertahan. "Mereka benar-benar keterlaluan!"
Ia hendak melangkah masuk dan melabrak orang-orang yang berada di ruang keluarga. Tapi, Laras buru-buru menahan lengannya.
"Jangan," bisik Laras lirih.
Salsa menoleh tajam. "Kenapa?"
Laras menggeleng. Air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi.
"Sa, kumohon. Jangan sekarang." Laras menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang meski dadanya terasa begitu sesak.
"Kita pergi dari sini," ucapnya pelan
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti