NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAMU YANG TERSENYUM

Waktu seperti berhenti di ruang tamu itu.

Laras menggenggam ponsel dengan jari yang dingin. Dari seberang, suara Dimas masih menunggu, ramah seperti biasa. Tapi Laras kini mendengar apa yang dulu tak pernah ia dengar: nada yang terlalu licin, seperti lant yang baru dipel.

"Ras? Kamu dengar aku?"

"Dengar, Mas." Suaranya keluar tenang, dan ia hampir terkejut pada dirinya sendiri. "Aku lagi di rumah Vania, tetangga sebelah. Dia minta tolong pasang gorden. Sebentar ya, aku pulang."

"Oh." Ada jeda. "Cepat ya. Tamunya nggak bisa lama."

Sambungan terputus.

Laras menurunkan ponsel dan menatap dua perempuan di depannya. Mira sudah berdiri, Vania pucat seperti kertas.

"Pintu belakang," bisik Mira. "Kalian lewat halaman. Ras, kamu masuk dari dapur seolah baru pulang dari sebelah. Jangan lewat depan, mereka pasti sedang mengawasi."

"Bagaimana dengan kalian?"

"Kami tinggal di sini. Vania, kamu bisa bersikap biasa kalau ada yang masuk?"

Vania mengangguk dengan bibir gemetar. "Aku bisa."

Mira menyerahkan map cokelat itu pada Laras. "Bawa fotonya saja. Sisanya aku simpan. Dan Ras..." Ia meraih lengan sahabatnya, matanya basah. "Apa pun yang mereka bilang, jangan tanda tangan apa pun. Jangan satu huruf pun."

Laras mengangguk. Lalu ia menyelinap lewat dapur, melompati pagar pembatas yang rendah, dan mendarat pelan di halaman belakang rumahnya sendiri. Jantungnya berdentum. Ia merapikan rambut, mengatur napas, mengusap pipi dengan telapak tangan.

*Kau hanya istri polos*, katanya pada diri sendiri. *Terlalu polos. Ingat itu.*

Ia membuka pintu dapur.

---

Ruang tamunya sudah terisi.

Dimas duduk di sofa dengan punggung kaku, tangannya saling meremas. Di seberangnya duduk seorang pria paruh baya bertubuh tegap, berambut perak tersisir rapi, mengenakan jas abu-abu yang pasti dijahit khusus. Ia memegang cangkir teh dengan jemari panjang dan bersih, seolah tak pernah menyentuh pekerjaan kasar sepanjang hidupnya.

Pria dalam foto itu.

"Ah, ini dia istri Dimas," katanya sambil berdiri. Senyumnya hangat, matanya tidak. "Bu Laras. Saya Rudi Hartanto. Atasan suami Anda, sekaligus, kalau boleh dibilang, sahabat keluarga."

Laras menyalaminya dengan senyum yang ia usahakan terdengar canggung. "Waduh, Bapak, maaf ya rumahnya berantakan. Saya nggak tahu ada tamu. Mas Dimas nggak bilang."

"Kejutan, Ras," sela Dimas cepat. Suaranya terlalu keras. "Pak Rudi kebetulan lewat dan ingin menyapa."

"Kebetulan," ulang Rudi lembut, dan tatapannya sekilas bergeser ke Dimas. Hanya sekilas, tapi cukup membuat leher Dimas menegang. "Duduk, Bu. Jangan canggung di rumah sendiri."

Laras duduk di sebelah suaminya. Ia merasakan paha Dimas gemetar halus di sampingnya.

"Saya langsung saja, ya, Bu, karena waktu saya terbatas," kata Rudi sambil meletakkan cangkirnya. "Dimas ini karyawan saya yang paling berbakat. Saya ingin membalas jasanya. Perusahaan akan memberikan paket asuransi dan jaminan keluarga yang cukup besar, untuk Dimas, untuk Ibu, dan untuk putra kalian, Kenzo, kan?"

Nama anaknya diucapkan dengan sangat hati-hati, seperti seseorang yang meletakkan batu di papan catur.

Laras merasakan bulu kuduknya berdiri. "Kok Bapak tahu nama anak kami?"

"Dimas sering bercerita." Rudi tersenyum. "Anak laki-laki yang tampan, bukan? Sekolahnya dekat sini, kalau tidak salah. Sekolah dasar yang di ujung jalan itu."

Tangan Laras mengepal di balik lipatan daster. Ia memaksa wajahnya tetap bodoh, polos, sedikit bangga seperti ibu yang dipuji.

"Aduh, iya, Pak. Makasih banyak."

Rudi mengambil sebuah map dari tas kulit di sampingnya dan meletakkannya di meja. Di sampulnya tertera logo perusahaan yang asing. "Ini formulir persetujuan asuransinya. Cukup tanda tangan di tiga tempat. Prosesnya cepat."

Ia membuka map itu dan menyodorkan pena emas.

Laras menatap halaman pertama. Tulisannya padat, istilah hukum berlapis-lapis. Tapi matanya langsung menangkap satu kata di baris keempat: *penjamin*. Dan di bagian bawah, tertera namanya yang sudah diketik rapi, dengan kotak kosong untuk tanda tangan.

Jadi ini caranya. Dimas memalsukan tanda tangan di satu dokumen, dan Rudi datang untuk membuat tanda tangan yang *asli*. Supaya semua menjadi sah.

"Wah, banyak sekali tulisannya," kata Laras sambil tertawa kecil, tawa yang ia harap terdengar bodoh. "Saya nggak ngerti begini-begini, Pak. Biasanya Mas Dimas yang urus."

"Tinggal tanda tangan saja, Bu."

"Iya, tapi..." Ia menoleh pada Dimas dengan wajah polos. "Mas, ini aman, kan? Aku nggak mau salah tanda tangan. Kemarin tetangga cerita ada ibu yang ketipu, rumahnya disita gara-gara tanda tangan sembarangan."

Wajah Dimas memucat. Rudi tidak bergerak sedikit pun, tapi senyumnya menipis hampir tak terlihat.

"Ya ampun, Ras," tawa Dimas hambar. "Ini Pak Rudi, bos kita. Masa ditipu."

"Maaf ya, Pak. Saya cuma ibu rumah tangga, takut." Laras menunduk, menggenggam ujung dasternya. "Boleh saya baca dulu pelan-pelan? Besok pagi saya kembalikan. Sekarang saya lagi nggak bisa konsentrasi, Kenzo sebentar lagi pulang sekolah."

Keheningan menggantung. Jam dinding berdetak keras sekali.

Rudi menatapnya, lama, dengan mata tenang seperti permukaan danau dalam. Laras merasa seperti seekor serangga di bawah kaca pembesar. Ia memaksa diri terus menunduk, menunjukkan kegugupan seorang istri yang takut salah.

"Tentu," kata Rudi akhirnya. "Tentu saja boleh, Bu. Saya paham." Ia menutup map itu dan menggesernya ke arah Laras. "Baca baik-baik. Besok siang saya kirim orang untuk mengambilnya."

"Terima kasih, Pak."

Rudi berdiri, merapikan jasnya, lalu menunduk sedikit pada Laras. Suaranya merendah, lembut, nyaris ramah.

"Anak Ibu sangat manis. Saya harap ia selalu pulang dengan selamat dari sekolah."

Dimas menahan napas. Laras tidak bergerak.

"Aamiin, Pak," jawabnya pelan.

Rudi tersenyum sekali lagi dan berjalan ke pintu. Dimas bergegas mengantarnya, membungkuk berkali-kali dengan tubuh yang tampak mengecil. Dari jendela, Laras melihat sedan hitam itu menghilang di tikungan gang.

Begitu mobil lenyap, Dimas masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Wajahnya berubah. Topeng ramah yang tadi ia pakai runtuh, memperlihatkan seseorang yang ketakutan dan sedang bersiap marah.

"Kenapa kamu bilang begitu tadi?" desisnya.

"Bilang apa, Mas?"

"Soal baca dulu! Soal tetangga yang ketipu!" Dimas mencengkeram bahunya. "Kamu bikin Pak Rudi curiga!"

Laras mengangkat wajah, memasang tampang terkejut dan hampir menangis. "Mas, aku cuma takut. Kenapa Mas marah? Aku kan nggak ngerti..."

Genggaman Dimas melemah. Ia menatap wajah istrinya, wajah yang selama sepuluh tahun tak pernah menuntut apa pun, tak pernah membantah, tak pernah bertanya. Dan Laras melihat ketegangan di rahangnya perlahan luruh.

"Maaf," gumam Dimas. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan. "Maaf, Ras. Aku cuma stres. Masalah kantor lagi berat."

"Mas baik-baik saja?"

"Baik." Ia tertawa kosong. "Dengar, Ras, besok tanda tangani saja formulir itu. Percaya padaku. Ini demi kita semua. Demi Kenzo."

*Demi Kenzo.* Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang bisa Dimas bayangkan.

"Iya, Mas," bisik Laras. "Aku percaya sama Mas."

Dimas memeluknya. Pelukan yang kaku, gemetar, penuh rasa bersalah yang tak terucap. Laras berdiri dalam dekapan itu dengan mata terbuka, menatap dinding di atas bahu suaminya, tempat foto pernikahan mereka tergantung, dua orang muda tersenyum, belum tahu apa-apa.

Dalam hati, ia menghitung. Besok siang, orang Rudi akan datang. Ia punya waktu kurang dari dua puluh empat jam.

---

Sore itu, setelah Dimas berangkat lagi dengan alasan "ada urusan mendesak", ponsel Laras bergetar di atas meja dapur. Pesan dari nomor yang belum ia simpan.

*"Mbak Laras, ini Reza. Maaf mengganggu. Tadi saya pulang sebentar dan lihat mobil hitam asing di depan rumah Mbak. Saya khawatir. Semuanya baik-baik saja?"*

Laras menatap layar itu. Jarinya sempat bergerak hendak membalas, lalu berhenti.

Satu pesan baru masuk, menumpuk di bawah pesan Reza. Dari Vania:

*"Mbak, Mira sudah pergi. Tapi sebelum pergi, dia titip satu hal untuk Mbak. Jangan baca di rumah. Datang ke gudang belakang pasar lama jam delapan malam ini. Sendirian."*

Laras membaca pesan itu dua kali.

Gudang belakang pasar lama. Tempat terpencil, sepi, gelap setelah magrib.

Ia mengangkat pandangan ke jendela. Di balik kaca, matahari mulai jatuh, mewarnai langit dengan merah yang mirip luka.

*Jebakan atau pertolongan?*

Ia tidak tahu. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa menghadapi Rudi sendirian, dan orang-orang yang tadi pagi ia kira lawan kini satu-satunya yang berdiri di sisinya.

Ia meraih kunci dan melangkah ke pintu.

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!