Zoya menikah bukan atas dasar cinta. Ia menerima perjodohan yang dilangsungkan orang tuanya.
Namun pria yang akan menjadi suaminya selingkuh tepat di hari pernikahannya yang telah sah secara agama dan hukum, ia melihat seorang wanita cantik dan seksi sedang bercumbu mesra dengan suaminya di gedung pernikahannya, tepat bawah pohon Sakura, Jepang
Meski belum ada ikatan cinta namun hatinya terasa perih merasa pernikahannya dikhianati.
Akankah Zoya dapat merebut hati suaminya, atau mereka harus bercerai saat itu juga ataukan mereka akan berbagi suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
"Kita kerumah sakit ya sayang," ucap Edgar pada Julia. Dia khawatir dengan kekasihnya dan mengabaikan perkataanku.
"Iya, ini perih sekali sayang," manja Julia, mereka berdua pergi dan tidak memperdulikan diriku.
Aku geram, mengeratkan rahangku kemudian melepas sepatu higheelsku. Dengan berani ku kejar Julia dan menarik rambutnya.
Julia kesakitan, Edgar membela wanitanya dengan memisahkan Aku dengan Julia. Aku semakin kepanasan. Ingin rasanya aku meninju wajah Julia. Tetapi Edgar menghalangiku.
Ku tipu saja, ku lihat keluar dan bilang, "Ayah," dengan mimik muka terkejut.
Edgar tertipu, dia melengoskan muka dan tubuhnya dengan melihat ke arah pintu yang tertutup. Segera aku mengejar Julia, menampar nya serta meninju mukanya.
Aku bukan wanita feminin. Ku pasang kuda-kuda dan menantangnya.
"Zoya! Hentikan! Kau menyakiti dirinya," ucap Edgar menghampiri Julia yang kesakitan. Aku tahu dia sengaja bersikap lemah didepan Edgar, kemudian Edgar mendekati diriku.
"Kau tidak memberiku waktu untuk bersaing dengannya, ini tidak adil,"
Plaaak
Edgar menampar diriku, kemudian dia menarik kerah bajuku memperingatkan diriku.
"Dengar hentikan kekonyolan mu, Aku akan membawa pacarku ke rumah sakit dan Aku akan menghabisi mu setelah ini," ucap Edgar dengan mata tajamnya.
Aku menangis, baru kali ini Edgar dengan tega menampar pipiku.
Edgar pun melepaskan cengkramannya dan merangkul Julia meninggalkan ruangannya. Saat di depan pintu Julia berkata, "Oh aku lupa, Aku meninggalkan tas ku di meja mu,"
"Tunggu disini ya, aku akan ambilkan," ucap Edgar dengan sangat manis.
Apa dia penyuka wanita yang manja?
Kudengar itu dan terpikirkan olehku, oke aku akan bersikap manja.
Setelah Edgar masuk kedalam dan mengambil tas milik Julia, aku dengan jahat mengunci pintu ruangannya. Dan melemparkan kunci itu ke sembarang tempat.
Edgar tahu aku menutup pintunya, setelah ia mengambil tas milik kekasihnya, ia menyuruhku untuk membuka kembali.
"Buka pintunya," ucap Edgar
"Tidak, urusan kita belum selesai. Kau tidak menjawabku," ucapku mendekati Edgar dan mencengkeram lengannya
"Edgar, tatap aku," Aku menyentuh rahangnya yang tegas seraya menangis dan sengaja aku menambah air mataku dengan memikirkan diriku yang bernasib sial.
"Apa kau tidak memikirkan perasaanku? Jika kau tidak ingin menganggapku sebagai istrimu, untuk apa kau menikahiku... hiks...,"
Kulihat Edgar menatapku, kali ini tatapannya tidak setajam tadi. Aku bisa merasakan dirinya yang sedikit iba.
Sebelum dia mengeluarkan perkataannya, ku coba mendominasi lebih dulu, menyentuh pundaknya, berjinjit dan mengecup bibirnya meski aku tidak mencintainya.
Terasa aneh, kecupan itu seperti pernah ku rasakan sebelumnya. Edgar berusaha melepaskan aku, dia tidak membalas kecupan ku.
"Pernikahan ini hanya sebuah simbol agar aku mewarisi semuanya. Kau tetaplah orang lain, yang tidak akan bisa menjadi bagian hatiku," ucap Edgar
Mengeluarkan sebuah kartu dan menempelkannya di dinding pintu. Double key, sistem pintu yang sangat keren.
Edgar pergi, meninggalkan diriku diruangan ini.
Satu hal yang kusadari saat pintu itu tertutup kembali.
"Bagaimana caranya aku keluar?" gumam ku kemudian menggoyangkan daun pintu
Terkunci
Akhirnya aku pun dengan kesal mencoba mencari kunci tersebut. Karena aku tidak tahu berapa ekstension jika ingin menelepon ke bagian sekretarisnya atau security.
Aku lelah.
Kunci belum ketemu, perasaan aku membuangnya dekat meja ku duduk tadi.
Lama sudah, pintu itu tidak terbuka. Aku berteriak, menggedor-gedor pintu tapi juga tidak ada yang datang.
Akhirnya ku putuskan untuk menunggu sampai ada seseorang yang datang sembari memainkan ponsel di sofa duduk.
.
.
Aku tertidur kemudian terbangun karena bunyi ponselku. Dengan masih memejamkan mata, ku terima telepon itu tanpa melihat siapa peneleponnya.
"Halo," ucapku dengan suara serak
"Kau dimana!" tanya suara seorang pria yang suka menyiksaku
Aku langsung terbangun. Ku buka mataku dan melihat sekelilingku yang terlihat gelap. Lalu aku melihat jam tangan G-Shock ku, yang jika gerakkan jam itu akan terang.
Pukul sembilan malam.
"Hemm.. aku...., aku di hatimu," jawabku mulai asal dan mencoba bersikap manja seperti yang dilakukan Julia.
"Bodoh! Apa kau masih di kantor? Haha kau terjebak di ruanganku?" terkanya dengan tawanya yang khas.
"Tidak ada siapapun disana. Aku akan telepon Satpam, tunggulah," ucap Edgar lalu mematikan teleponnya.
"Hmm kenapa dia baru ingat diriku yang terjebak disini, dasar si gila," gumamku.
Perutku terasa lapar, ku nyalakan lampu ruangan dan mencari apakah ada cemilan disana. Rupanya nihil.
Aku pun ke toilet membuang air kecil dan membersihkan wajahku yang sedikit berminyak. Beberapa menit berlalu, satpam tak kunjung datang
"Katanya mau telepon Satpam, sudah setengah jam ini arghh," keluhku. Salahku sendiri melempar kunci itu.
Tak berapa lama terdengar seseorang membuka pintu, dengan akses kartu. Karena aku tidak mendengar suara kunci diputar melainkan sebuah suara denting.
"Kau....," ucapku
Kenapa Edgar yang datang, katanya satpamnya yang ingin di suruh nya untuk membukakan pintu?
"Aku lupa, kunci utama hilang, dan kunci cadangan juga sudah kau hilangkan. Jadi hanya tersisa kunci ku ini. Tukang kunci sudah tutup, ayo pulanglah," ucap Edgar yang langsung menjelaskan tanpa perlu ku bertanya.
Aku segera mengambil tas dan menenteng higheelsku. Lalu keluar dengan cepat.
"Terimakasih," Ucapku dan berlalu pergi meninggalkan dirinya. Perasaanku tidak enak.
Edgar menahan lenganku, kemudian menutup pintunya.
"Kau mau kemana Zoya, urusan kita belum selesai. Aku harus memberimu pelajaran," ucap nya.
Feeling ku benar saja, dia pasti akan memberimu pelajaran
"Aku sudah banyak belajar.... sayang," ucapku bertingkah konyol dan menggelayut manja pada lengannya dengan mengumbar senyum palsuku
"Lepaskan," ucap Edgar dia tidak ingin ku sentuh lengannya.
Aku pun melepaskan tangannya dan berjalan cepat. Edgar mengimbangi jalanku. Dia berjalan dengan langkah besar, sementara aku berjalan cepat dengan langkah kecil-kecil, sehingga jika sejajar maka langkah kami sama.
Setelah itu aku masuk kedalam mobil, disusul Edgar kemudian mulai melajukan mobilnya. Ditengah perjalanan dia membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
Aku memegang erat-erat pegangan mobilnya yang ada di atas pintu.
"Edgar!! Hentikan, ini bukan jalan tol!" teriakku
Edgar hanya diam dan memandang lurus ke depan. Setelah itu dia berbelok ke jalan yang lebih sempit. Aku memperhatikan jalanan yang dilewatinya.
Aku tahu jalanan ini, di Jepang jalanan ini terkenal dengan tempat hemmm ya begitulah.. Kita bisa membeli wanita atau menjual wanita disini untuk dijadikan budak pemuas.
Aku menelan salivaku. Aku takut ancaman Edgar yang katanya ingin menjual ku.
Dia menghentikan mobilnya tepat di sebuah tempat bar malam, dengan hiasan lampu lampion dan lampi kerlap kerlip kecil. Juga hiasan bunga sakura, imitasi.
"Turun, jangan pernah mencoba untuk kabur," ucap Edgar yang turun dengan menyeret ku untuk turu dari arah pintunya. Dia takut jika aku kabur.
"Ahh sakit, Edgar," dia mencengkeram lenganku yang masih perih akibat ikatan tali semalam
Seusai aku turun dia terus membawaku berjalan masuk kedalam.
"Kita mau apa?" tanya ku sedikit takut
Edgar diam, dia terus membawaku ke sebuah ruangan dengan lampu kuning. Lampu remang-remang.
Di sana Edgar melepaskanku. Ada dua orang bertubuh besar yang berdiri hanya memakai celana panjang memperlihatkan tatto di tubuhnya, dan dua orang yang sedang duduk, memakai jas sembari menghisap cerutunya
Edgar terlihat bercengkrama dengan dua orang yang berbahasa Jepang itu. Aku tahu artinya, Edgar benar-benar gila, dia mau menjual ku.
"Kau ingin menjual ku?" tanyaku
"Hmm aku sudah bilangkan, aku akan menjual mu jika kau membangkang atau tidak menuruti ucapanku. Kau juga telah menyakiti kekasihku," ucap Edgar
Jantungku berdetak kencang, takut, sembari melihat sekeliling ku. Perutku semakin lapar, kepalaku pening. Ini tidak nyata kan? Benar kan?
"Edgar!! Ku mohon!! Dari pada kau menjual ku pada mereka, lebih baik aku menjual diriku padamu," ucapku yang tak masuk akal. Entahlah aku sudah pusing.
Edgar tak mendengar, dia pergi dan meninggalkan ku disana. Pandanganku gelap dan aku pun tak ingat apapun yang ku tahu, aku terjatuh setelah Edgar pergi meninggalkan ku diruangan itu.
banyak typo di novel ini. dan aku merasa novel ini ditamatkan dengan sangat terburu buru.
terima kasih banyak, kk author.