NovelToon NovelToon
Office Girl Milik Tuan Mahrup

Office Girl Milik Tuan Mahrup

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ragan Fian

Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!

Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!


Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?


Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OGMTM-19

..."Hazelia! iPad operasional dan berkas keuangan utama hilang dari ruangan saya!"

Suara alarm keamanan yang berkedip merah memantulkan bayangan mencekam di sepanjang lorong lantai dua belas. Hazel tersentak dari lamunannya, berlari menghampiri Mahrup yang berdiri tegap di ambang pintu ruang CEO.

"Loh masa hilang pak Tadi Hazel Taruh Di meja"

saat Hazel melangkah masuk mendampinginya untuk memeriksa meja kerja, keheningan mendadak menyergap saat sistem daya darurat berhasil memulihkan pencahayaan gedung.

iPad operasional itu nyatanya masih tergeletak di sudut meja,tertutup oleh tumpukan map jaringan yang sempat digeser Mahrup saat kepanikannya memuncak seusai menerima kabar rumah sakit.

Pria itu menghembuskan napas berat, mengusap wajahnya kasar, lalu menyandarkan tubuhnya pada tepi meja smart glass.

Namun, perhatian Mahrup tak lagi tertuju pada berkas di mejanya. Tatapan matanya yang tajam mengunci sosok Hazel yang berdiri menunduk di dekat pintu.

 Ada yang berbeda dari gadis itu. Ketengilan manis dan binar ceria yang biasanya memancar dari iris matanya mendadak padam, berganti dengan raut murung dan tatapan layu yang menyembunyikan luka dalam.

"Hazelia," panggil Mahrup dengan nada suara yang melunak, mengabaikan sirine keamanan yang baru saja dimatikan oleh tim IT dari jauh. "Kesini bentar."

Hazel melangkah pelan dengan kepala tetap tertunduk, jemarinya saling meremas di depan blus putihnya. "I-iya, Tuan CEO... Ada jadwal lain yang perlu Hazel siapkan?"

Mahrup mengamati bahu mungil gadis itu yang tampak begitu layu. Ia mengingat betul tuduhan soal rekam medis Clarissa tadi, serta bisik-bisik miring yang sempat ia dengar samar dari arah kantin saat ia kembali dari rumah sakit.

"Apa yang terjadi di bawah?" tanya Mahrup mendadak, suaranya mengalun berat namun menyandarkan kehangatan tersembunyi.

Hazel menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Rasa perih akibat tuduhan Luna dan ejekan karyawan di toilet tadi kembali mencubit dadanya.

"Nggak ada apa-apa, Tuan. Hazel cuma... cuma merasa belum pantas ada di sini. Hazel cuma bikin kekacauan dan bikin Tuan ragu."

"Siapa yang bilang kamu tidak pantas?" potong Mahrup tegas. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah satu tapak mendekati Hazel hingga jarak di antara mereka begitu dekat.

Hazel mendongak ragu, matanya yang sembap dan memerah menatap lurus pada iris mata tajam sang CEO. "Semua orang di kantor ini, Tuan... Mereka bilang Tuan pilih Hazel bukan karena kemampuan, tapi karena... karena Tuan kasihan, atau karena cara kotor yang Hazel lakukan."

Kata-kata jujur yang terlontar dari bibir Hazel berhembus bagai sembilu yang menyayat batin Mahrup. Hati pria yang terkenal dingin itu berdesir hebat dihantam penyesalan karena sempat meragukan Hazel soal amplop Clarissa tadi.

Perlahan, Mahrup mengangkat tangannya. Untuk pertama kalinya, tanpa ragu sedikit pun, jemari hangat sang CEO menyentuh lembut pipi Hazel, mengusap sisa jejak air mata yang masih mengering di kulit halus gadis itu.

"Dengar saya baik-baik, Hazelia," tutur Mahrup dengan nada suara yang begitu dalam, mantap, dan sarat emosi yang meremukkan rasa dingin di antaranya.

"Saya tidak pernah menaikkan jabatan seseorang atas dasar rasa kasihan, apalagi karena rumor murahan yang diciptakan orang-orang yang iri di luar sana."

Hazel terpaku. Sentuhan hangat jemari Mahrup di pipinya membuat dadanya bergemuruh hebat, menghentikan detak napasnya sejenak.

"Saya memilihmu karena saya melihat kejujuran yang tidak pernah saya temukan pada orang lain di gedung ini," lanjut Mahrup, tatapannya mengunci Hazel penuh penekanan tulus.

"Saya melihat kerja kerasmu, ketelitianmu, dan ketabahanmu. Kamu ada di meja ini karena kamu layak, Hazelia. Bukan karena hal lain."

Pengakuan tulus dari mulut pria yang selama ini menutup hatinya rapat-rapat itu seketika meruntuhkan seluruh rasa minder dan perih di hati Hazel. Air mata haru menetes perlahan, namun kali ini diiringi senyum tegar yang mulai terukir kembali di bibirnya.

"Tuan... beneran percaya sama Hazel?" bisik Hazel parau.

"Saya percaya padamu," jawab Mahrup mantap tanpa ragu.

Namun, momen hangat dan penuh letupan perasaan di antara mereka mendadak terputus kasar. Layar monitor utama di meja kerja Mahrup mendadak menyala sendiri, memancarkan sinyal peretasan.

Sebuah dokumen resmi berstempel RAHASIA NEGARA & MITRA BISNIS terpampang jelas di layar, dengan pesan otomatis yang terkirim ke seluruh email jajaran direksi Mahardika Group.

Tepat di bawah berkas yang bocor itu, tertera nama pengirim dan pemilik identitas digital yang menyebarkannya: HAZELIA VERLITA PUTRI.

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!