NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:315
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: SURAT DENGAN SEGEL YANG TERLALU RAPI

Kue krisan dari Nyonya Cen ia taruh di piring porselen kecil di dekat jendela, dan sampai sore hanya tersisa remah-remahnya. Ruyin memakannya sedikit-sedikit sambil membaca, seperti orang yang tidak ingin kehabisan sesuatu yang manis.

Hari setelah jamuan berlalu tanpa kejadian apa pun. Ia menyalin dua halaman kitab sajak dengan tinta lama yang masih tersisa di sudut batu, membantu seorang pelayan kecil menghitung sulaman yang akan dikirim ke penyulam, dan duduk di serambi memperhatikan tukang kebun mengikat krisan yang rebah. Kalimat Nyonya Cen sesekali melintas, "tahun itu, ibumu sudah tahu sesuatu tentang kepergian", tetapi ia membiarkannya lewat. Orang tua memang suka mengira-ngira. Ibunya mungkin hanya sedang bersedih karena ibunya sendiri baru wafat. Itu penjelasan yang cukup baik, dan Ruyin memutuskan memakainya selama belum ada yang lebih baik.

Menjelang petang, Bibi Qin datang mengantar air hangat dan menyebut bahwa pengurus rumah tampak sibuk di aula depan.

"Ada tamu?"

"Bukan tamu, Nona. Seorang utusan membawa surat. Ia tidak mau menyerahkannya kepada pelayan."

———

Ketika Ruyin dipanggil ke aula samping, surat itu sudah ada di tangan Nyonya Lin. Bukan sampul merah muda seperti undangan Cen, bukan pula merah tua seperti milik Marquis Lu. Sampulnya putih gading, berlapis kertas tipis di bagian luar, dan di tengahnya terdapat segel lilin warna hijau pucat yang tercetak sangat rata, tanpa gelembung, tanpa tetesan yang melebar. Terlalu rapi, seperti dibuat oleh tangan yang tidak pernah terburu-buru.

Yucheng berdiri di sisi ibunya. Ia tidak tersenyum.

"Dari siapa?" tanya Ruyin.

"Nyonya Wen dari Kediaman Pangeran Ning," jawab Yucheng. "Mengundang seluruh keluarga Shen ke jamuan sastra di paviliun musim gugur, sepuluh hari lagi."

Nama itu tidak berarti apa-apa bagi Ruyin. Tetapi ia melihat ibunya sudah membaca sampul itu dua kali, ibu jarinya berhenti pada segel hijau sebelum akhirnya membuka lipatannya. Dan Yucheng, yang biasanya paling dulu bertanya soal pengantar surat, justru menatap lantai.

"Siapa yang mengantar tadi?" tanya Nyonya Lin kepada pengurus rumah, tanpa mengangkat wajah.

"Seorang laki-laki berjubah biru tua, Nyonya. Ia tidak menyebut nama, hanya berkata surat ini harus sampai langsung ke tangan Nyonya."

"Dan ia menunggu balasan?"

"Tidak, Nyonya. Ia langsung pergi."

Nyonya Lin membaca isi surat itu sampai selesai. Ia membaca bagian bawahnya sekali lagi, lalu melipatnya perlahan dan menyimpannya di lengan bajunya, alih-alih langsung menyerahkannya kepada Ruyin seperti yang ia lakukan pada undangan Cen.

"Kita akan pergi," katanya akhirnya. Suaranya tenang. "Nyonya Wen dan aku pernah bertemu beberapa kali. Ia perempuan yang teliti."

"Keluarga Pangeran Ning dekat dengan istana?" tanya Ruyin.

"Pangeran Ning adalah paman Kaisar." Yucheng akhirnya menjawab, singkat. "Rumahnya kecil, tetapi namanya tidak pernah kecil. Orang yang diundang ke sana biasanya sudah ada yang mencatat."

"Dicatat siapa?"

"Dicatat siapa saja yang suka mencatat." Ia tersenyum, tipis, dan senyum itu tidak sampai ke matanya. "Jangan dipikirkan. Ini hanya jamuan sastra."

———

Bibi Qin berdiri di dekat pintu dengan nampan kosong, dan Ruyin menangkap sesuatu yang sedikit berbeda darinya. Pelayan tua itu tidak memandang Nyonya Lin atau Yucheng. Ia memandang sampul putih gading di tangan Ruyin ketika Nyonya Lin akhirnya menyerahkan lipatan luarnya, yang tadi dipisahkan dari isi surat. Matanya terpaku pada segel hijau, lalu bergeser ke cara tali sutra dililitkan di sekelilingnya: tiga kali, bukan dua, dengan ujung diselipkan ke bawah.

"Bibi?"

"Ya, Nona?"

"Kau pernah melihat segel seperti ini?"

"Segel hijau pucat biasa dipakai kediaman bangsawan yang menulis dengan teliti, Nona." Jawabannya lancar, tetapi nampan di tangannya miring sedikit, dan ia membenarkannya. "Saya hanya heran dengan talinya. Jarang orang melilitkan tiga kali."

Ruyin memandang tali itu. Tiga lilitan dan satu ujung yang diselipkan ke bawah. Itu bukan simpul yang pernah dibuat tangannya, tetapi ada kemiripan yang tidak ia sukai. Mungkin karena ia sedang terlalu peka pada hal-hal kecil.

"Kuharap Nyonya Wen tidak mengundangku hanya untuk menguji tulisanku," katanya ringan.

Nyonya Lin tertawa pendek. "Kalau begitu kau harus berlatih lagi. Ia pecinta kaligrafi."

Tidak ada yang tertawa bersamanya.

———

Malam itu Ruyin duduk lama di kamarnya tanpa menyalakan banyak lampu. Ia membuka laci dan memandang surat untuk tabib tua yang masih terlipat, belum diikat, di sebelah catatan dua versi tentang Nyonya Fang. Ia tidak menyentuh keduanya.

Ia mengingat jamuan Lu, jamuan Cen, dan gosip di teh lantai atas toko obat. Dua minggu lalu, orang-orang yang bertanya tentangnya adalah mereka yang mengenal masa kecilnya. Hari ini seorang nyonya dari rumah pangeran, yang namanya belum pernah ia dengar dan yang tidak punya alasan untuk mengenal anak perempuan dari Distrik Timur, mengirim surat bersegel rapi kepada ibunya, melalui seorang utusan yang tidak mau menyebut nama.

Tidak ada yang mengancam. Tidak ada yang berbahaya. Hanya sebuah jamuan sastra, seperti yang dikatakan kakaknya.

Namun Yucheng tidak biasa menyuruh orang untuk tidak memikirkan sesuatu. Biasanya ia menertawakannya lebih dulu.

Ruyin menutup laci. Dari jendela, ia memandang gerbang merah yang gelap di kejauhan dan menyadari, tanpa rasa takut, bahwa namanya telah berjalan lebih jauh dari dirinya sendiri: dari dapur keluarga Shen, ke serambi Nyonya Fang, ke taman Cen, dan sekarang ke sebuah rumah yang cukup dekat dengan istana untuk membuat ibunya membaca sampul surat dua kali.

Siapa pun yang sedang menyebut namanya di tempat-tempat itu, mereka tidak memanggilnya dengan suara keras. Mereka hanya mencatatnya, pelan-pelan, satu demi satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!