NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Jeritan tanpa suara

​Ponsel di genggaman Aisyah merosot perlahan, jatuh membentur karpet tebal tanpa suara. Layar persegi itu meredup, menyisakan kegelapan yang sama persis dengan yang kini merayapi seluruh sudut ruangan kerja Ayden.

​Aisyah terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Di sekelilingnya, lembaran-lembaran kertas bukti pengkhianatan berserakan bagaikan dedaunan kering yang gugur dari pohon yang mati. Logo perisai emas Dinantara Utama Group memantulkan cahaya temaram dari lampu meja, seolah menatapnya dengan tatapan penuh duka.

​Dada Aisyah naik turun secara tidak teratur. Udara rasanya menyumbat tenggorokannya, mengkristal menjadi sebongkah batu besar yang menyiksa. Ia mencengkeram lehernya sendiri dengan jemari yang memucat.

​"Papa..." bisik Aisyah, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.

​Ia mencoba membuka mulutnya lebih lebar. Ia ingin menjerit. Ia ingin berteriak sekuat tenaga, memuntahkan seluruh rasa sesak yang menghantam dadanya hingga menghancurkan dinding-dinding kaca penthouse yang angkuh ini. Ia ingin meraungkan nama Ayden dengan sejuta kemarahan.

​Namun, tidak ada suara yang keluar.

​Jeritan itu tertahan keras di pangkal tenggorokannya, berubah menjadi tarikan napas patah-patah yang menyakitkan. Syok yang luar biasa hebat telah mengunci pita suaranya secara mutlak. Hanya ada embusan napas tercekat yang berulang kali memburu, bagaikan seseorang yang tenggelam di laut dalam tanpa sanggup timbul ke permukaan.

​"Kenapa... kenapa harus kamu, Ayden?" gumam Aisyah lisan, suaranya bergetar dalam bisikan lirih yang hampa.

​Tiba-tiba, suara ketukan pelan memecah kesunyian di balik pintu kayu yang terkunci.

​"Nyonya Aisyah?" suara Bi Sumi terdengar memanggil dari luar lorong, bernada cemas. "Nyonya di dalam? Bibi tadi mendengar ada suara barang jatuh..."

​Aisyah mematung. Matanya menatap pintunya yang terkunci rapat dari dalam. Ia memegang dadanya yang bergetar hebat.

​"Nyonya? Nyonya Aisyah tidak apa-apa?" panggil Bi Sumi lagi, diiringi ketukan tiga kali. "Suara Nyonya tadi terdengar sesak waktu di telepon. Bibi buatkan teh chamomile ya, Nyonya?"

​Aisyah menelan ludah dengan susah payah, memaksakan pita suaranya yang membeku untuk bekerja. "T-tidak... Bi," sahut Aisyah dengan bisikan yang sangat pelan dan serak.

​"Nyonya bicara apa? Bibi kurang dengar, Nyonya," tanya Bi Sumi dari balik pintu.

​"Aku... aku tidak apa-apa, Bi Sumi," jawab Aisyah, mencoba menstabilkan intonasinya meskipun air mata dingin mulai membasahi pipinya. "Tolong... jangan ganggu aku dulu. Aku hanya... ingin sendiri."

​"Tapi suara Nyonya seperti sedang menahan sakit..." Bi Sumi meragu di balik pintu. "Mau Bibi panggilkan Pak Broto untuk beli obat pusing?"

​"Tidak usah, Bi! Aku mohon... tinggalkan aku sendiri!" potong Aisyah dengan nada sedikit lebih tinggi, walau getaran histeris masih menyelinap tebal di sana.

​Hening sejenak di luar lorong sebelum Bi Sumi akhirnya menjawab, "B-baik, Nyonya. Bibi tunggu di dapur ya. Kalau Nyonya butuh apa-apa, panggil Bibi."

​Langkah kaki Bi Sumi perlahan menjauh. Kesunyian kembali menyergap ruangan beraroma kayu cendana itu, membungkus Aisyah dalam selimut duka yang pekat.

​Aisyah menunduk, menatap kertas audit di pangkuannya. Di lembaran itu, tertera tanggal demi tanggal transaksi rahasia yang menghancurkan hidup keluarganya. Dan di saat yang bersamaan, ingatan dalam kepalanya berputar liar tanpa kendali.

​Memori masa lalu mendadak berputar balik di benaknya bagaikan pita kaset yang rusak.

​"Aku akan selalu menjagamu, Aisyah. Kamu adalah takdir terbaik yang dikirimkan Tuhan untukku."

​Suara Ayden menggema begitu jernih di telinga Aisyah. Itu adalah ucapan Ayden pada malam pertama pernikahan mereka di vila tepi pantai. Saat itu, jemari hangat Ayden menggenggam tangannya dengan begitu lembut.

​"Bohong..." cicit Aisyah, menggelengkan kepalanya perlahan. "Semua itu bohong..."

***

​Bayangan lain berkelebat cepat. Pagi hari di meja makan penthouse ini. Ayden yang tersenyum manis seraya menyerahkan secangkir kopi hangat padanya.

​"Minumlah selagi hangat, Sayang. Aku tidak ingin istriku sakit," kata Ayden waktu itu, lalu mengecup keningnya dengan penuh kehangatan.

​Aisyah memejamkan mata rapat-rapat. Kenangan manis yang dulu menjadi tempat perlindungannya kini berubah wujud menjadi duri-duri besi yang menyayat kewarasannya. Setiap senyuman, setiap elusan lembut di rambutnya, setiap kata 'sayang' yang diucapkan Ayden dengan nada merdu... kini menusuk dadanya bagaikan ratusan belati beracun.

​"Kamu menyeduhkan kopi untukku... sementara kamu yang merancang kebangkrutan Papaku?" bisik Aisyah pada kehampaan ruangan. "Kamu memelukku setiap malam... sementara kamu yang menandatangani surat pembunuhan perusahaan keluargaku?"

​Aisyah tertawa kecil—sebuah tawa getir tanpa nada yang terdengar mengerikan di ruangan yang sunyi itu.

​"Setiap sentuhanmu..." Aisyah meraba lengan bajunya sendiri dengan jemari gemetar. "Ciumanmu di keningku... janji di depan saksi nikah... semuanya hanya panggung sandiwaramu, kan, Ayden? Kamu bertindak seperti penyelamat, padahal kamu adalah algojonya!"

​Logika Aisyah menyambungkan setiap kepingan puzzle yang selama ini membingungkannya. Kenapa Ayden begitu protektif hingga terasa mengurung. Kenapa Ayden selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali Aisyah menyebut nama almarhum ayahnya. Kenapa ada foto keluarganya yang dirobek di bawah karpet meja kerja ini.

​Pria yang ia puja sebagai suami teladan... telah menjadikan pernikahan ini sebagai babak pamungkas dari eksekusi balas dendamnya.

​"Kamu ingin aku mencintaimu setinggi langit..." bisik Aisyah, menyapu air mata di pipinya yang mendadak terasa dingin. "...agar saat kamu menjatuhkanku, aku hancur tak tersisa."

​Rasa sakit yang menghantam batin Aisyah berada di tingkat yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Itu bukan lagi sekadar rasa sedih atau kecewa. Itu adalah rasa sakit yang begitu pekat, begitu pekat hingga melampaui batas kemampuan tubuhnya untuk merespons.

​Perlahan, isakan Aisyah terhenti. Air matanya berhenti mengalir begitu saja.

​Mata Aisyah yang semula memerah dan dipenuhi tangisan, kini meredup perlahan. Binar kehidupan yang biasa menghiasi manik matanya menguap habis, meninggalkan pantulan yang dingin, datar, dan kosong.

​Ia menatap tangannya sendiri yang masih memegang berkas kejahatan Ayden. Tidak ada lagi getaran ketakutan di jemarinya. Tidak ada lagi gejolak histeria di dadanya.

​Yang tersisa hanya sebuah rongga besar yang hampa di dalam jiwanya. Sebuah ruang kosong yang dingin, membeku bagaikan salju abadi yang tak tersentuh cahaya matahari.

​Aisyah membiarkan dirinya tenggelam dalam kehampaan itu. Sesuatu di dalam dirinya telah mati secara mutlak pada siang hari itu. Rasa cintanya pada Ayden telah menguap, berganti menjadi sebuah mati rasa yang teramat pekat.

​Aisyah mengumpulkan kertas-kertas berserakan di lantai satu per satu dengan gerakan yang begitu tenang—ketenangan yang janggal dan menakutkan. Ia menumpuk berkas-berkas itu dengan rapi, lalu meletakkannya kembali di atas meja kerja Ayden.

​Ia menatap pintu brankas yang masih terbuka.

​"Tutup kembali topengmu, Ayden," kata Aisyah pelan, suaranya kini terdengar begitu datar dan tanpa emosi. "Aku akan menunggumu pulang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!