NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon Istriku

***

"Ngapain berdiri melamun di situ? Masuk!"

Langkah Mirza terhenti tepat di depan lobby sebuah pusat perbelanjaan barang-barang mewah di tengah kota. Pria itu mendongak, matanya memandangi arsitektur megah gedung pencakar langit bernuansa emas dan kaca itu dengan takjub. Ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di tempat selejit dan semewah ini.

"Maaf, Bu ... saya cuma kaget saja. Tempat ini mewah banget," gumam Mirza jujur.

"Mewah atau enggak, itu bukan urusan saya," potong Alana dingin sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.

"Jangan bikin malu dan cepat masuk. Kita harus selesaikan urusan belanja pakaian kamu hari ini sebelum jam makan malam bareng Mama."

Shiren yang berjalan di samping Alana langsung menyenggol lengan sahabatnya itu sambil tertawa geli.

"Aduh, Al ... jangan marah-marah terus sama calon suami. Nanti kamu durhaka, lho. Dosa tahu!"

Mendengar godaan Shiren, Mirza yang tadinya tegang mendadak memberanikan diri untuk ikut menjahili calon istri bohongannya itu.

"Mbak Shiren benar, Bu," sahut Mirza dengan wajah polos yang dibuat-buat.

"Katanya doa suami yang terzalimi itu didengar langsung sama Allah tanpa perantara."

Alana seketika menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan memasang wajah tegang, menatap Mirza dengan pandangan maut yang sanggup membekukan ruangan.

"Sebelum saya durhaka sama kamu," ucap Alana dengan nada datar namun penuh penekanan.

"Sebaiknya kamu pulang sekarang juga dan besok enggak usah datang lagi ke kantor."

Ancaman pemecatan itu sukses membuat Mirza bungkam seketika. Tanpa mengulur waktu, pria itu langsung merapatkan bibir dan melangkah cepat menerobos pintu kaca menuju dalam, mendahului Alana dan Shiren.

"Ih, gemas banget!" Shiren tertawa makin keras melihat pemandangan di depannya.

"Baru juga hitungan jam jadi calon suami, bentukannya udah kayak drama suami takut istri!"

***

"Selamat sore, Miss Alana. Ada yang bisa kami bantu hari ini?" seorang pria berpenampilan sangat modis menyambut kedatangan Alana di depan pintu salon eksklusif tersebut dengan gestur menunduk hormat.

"Sulap dia jadi manusia yang pantas berdiri di samping saya," ujar Alana singkat tanpa basa-basi, menunjuk Mirza yang berdiri sedikit canggung di belakangnya.

Barber itu mengamati Mirza dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum profesional.

"Pilihan bahan yang sangat berpotensi, Miss. Silakan ikut saya, Mas."

Mirza hanya pasrah dan langsung mengekor di belakang barber tersebut menuju kursi perawatan khusus. Alana kemudian beralih menatap sekretarisnya.

"Shiren, kamu naik ke lantai atas. Cari beberapa stel jas formal yang cocok buat ukuran tubuh Mirza. Pilih yang kualitasnya paling bagus."

"Siap, Bu CEO! Serahkan padaku," balas Shiren antusias, lalu segera melangkah menuju area butik desainer di lantai dua.

Alana lalu menyandarkan tubuhnya di sofa tunggu yang nyaman. Baru saja dia hendak memejamkan mata sejenak, ponsel di dalam tasnya bergetar nyaring. Nama Mama tertera di layar.

Alana menghela napas panjang sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

"Halo, Ma."

"Alana! Mama cuma mau mengingatkan," suara Dwi langsung terdengar tegas dan tanpa kompromi dari seberang telepon.

"Makan malam nanti jam tujuh malam di restoran hotel bintang lima. Jangan coba-coba terlambat, apalagi sampai berniat tidak datang! Mama tidak mau ditampar rasa malu di depan keluarga calon suamimu!"

Alana mengulas senyum tipis yang dingin.

"Alana pasti datang kok, Ma."

"Bagus kalau kamu sadar—"

"Tapi Alana datang dengan calon suami Alana sendiri," potong Alana mantap, memotong ucapan mamanya dengan percaya diri.

Suasana di seberang telepon mendadak hening seketika. Keheningan yang mencekat itu hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya suara Dwi meledak penuh kemarahan.

"Alana! Kamu jangan main-main ya!" pekik Dwi dengan nada tinggi, murka setengah mati.

"Siapa laki-laki yang berani kamu bawa itu?! Mama sudah katakan, Mama tidak akan pernah sudi menerima laki-laki sembarangan jadi menantu di keluarga ini!"

"Laki-laki pilihan Alana sendiri, Ma," jawab Alana santai, menyilangkan kakinya dengan tenang meski telinganya panas mendengar teriakan ibunya.

"Dia laki-laki yang bertanggung jawab dan sudah siap menikahi Alana."

"Siapa dia, Alana?! Jawab Mama!" Dwi setengah berteriak di telepon, suara napasnya terdengar memburu menahan emosi.

"Jangan bilang kamu nekat bawa laki-laki kelas rendahan yang cuma mau memanfaatkan kekayaan keluarga kita!"

"Nanti malam Mama bisa lihat sendiri," balas Alana tanpa gentar sedikit pun.

"Tolong kasih tahu calon menantu idaman Mama itu buat batalkan niatnya. Karena Alana cuma bakal datang bersama calon suami Alana."

"Alana, dengar kata Mama—!"

Tut.

Alana langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu ibunya menyelesaikan kalimatnya. Dia mengembuskan napas panjang, melempar ponselnya ke samping sofa, lalu memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening. Perang besar baru saja dimulai.

"Miss Alana, penataannya sudah selesai," suara barber memecah keheningan.

Alana membuka mata dan menoleh ke arah cermin besar di sudut salon. Langkah kakinya seketika terhenti saat menatap sosok pria yang berdiri di sana.

Mirza tidak lagi terlihat seperti OB yang kecapekan dan penuh rasa takut. Rambutnya yang tadinya agak berantakan kini ditata dengan potongan undercut yang rapi dan elegan. Wajahnya yang bersih memancarkan rahang tegas, membuat garis tampannya terpancar sempurna tanpa halangan seragam lusuh lagi. Bahkan cara berdirinya yang tegap secara alami memberi kesan tegas dan berwibawa.

"Gimana, Miss?" tanya sang barber bangga.

Alana terpaku sejenak, menatap Mirza dari cermin. Dalam hati, dia terpaksa mengakui ucapan Shiren tadi siang di kantin, laki-laki di depannya ini memang tampan total.

Mirza yang sadar sedang diperhatikan intensif oleh Alana mendadak salah tingkah. Dia merapikan kerah kaus sanggulnya dan berdeham pelan.

"Bu ... ini enggak kemewahan, kan?"

Alana dengan cepat menguasai dirinya kembali, merubah ekspresi terpana itu menjadi raut dingin yang biasa.

"Lumayan," sahut Alana datar, berdiri dari sofa.

"Mulai kelihatan seperti manusia."

Shiren kembali tepat waktu sambil membawa beberapa kantong belanjaan besar dari butik ternama di lantai dua. Namun, begitu melangkahkan kaki masuk ke salon dan melihat tampilan baru Mirza, Shiren mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak lebar, hampir saja melepaskan kantong-kantong di tangannya.

"Demi apa?!" pekik Shiren histeris tanpa mampu menahan diri. Dia memutari Mirza, memperhatikan setiap detail dari rambut hingga rahang pria itu.

"Al, ini beneran Mirza? OB kantor kita?! Sumpah, kalau kamu ketemu dia di jalanan tanpa tahu latar belakangnya, orang-orang pasti mikir dia ini CEO dari Korea!"

Mirza semakin serba salah dibuatnya. Wajahnya merona tipis karena malu terus-menerus dipuji secara terang-terangan.

"Mbak Shiren bisa saja ...."

"Aku enggak bohong, Za!" Shiren menyerahkan salah satu setelan jas berwarna navy blue yang sangat elegan kepada Mirza.

"Cepat coba pakai jas ini! Aku yakin ini bakal pas banget di badan kamu."

Mirza menerima setelan itu lalu melangkah ke dalam ruang ganti. Sementara itu, Shiren mendekati Alana yang berpura-pura sibuk mengecek dokumen di ponselnya.

"Gimana, Al?" goda Shiren sembari menyikut pelan lengan Alana.

"Jujur sama aku, jantungmu sempat maraton kan pas lihat dia tadi?"

Alana melirik Shiren dengan tatapan datar.

"Jangan mulai, Shiren. Kita cuma punya waktu satu jam lagi sebelum makan malam."

Pintu ruang ganti terbuka. Mirza melangkah keluar dengan setelan jas navy blue yang terpasang sempurna di tubuhnya yang tegap. Bahan kain premium itu membungkus bahunya yang lebar dengan sangat pas, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi bernuansa gelap.

Penampilannya benar-benar berubah total, berwibawa, karismatik, dan memancarkan aura seorang pria kelas atas.

Shiren menutupi mulutnya yang menganga, sementara Alana terpaku untuk kedua kalinya.

Ada sedikit ketegangan yang merambat di dada Alana saat tatapan matanya bertemu langsung dengan mata tajam Mirza. Pria di hadapannya saat ini sama sekali tidak terlihat seperti seorang OB yang menumpahkan kopi tadi pagi.

Mirza membetulkan posisi jam tangan mewah yang baru saja dipasangkan oleh staf salon, lalu menatap Alana dengan raut penuh ketegasan.

"Bagaimana, Bu Alana?" tanya Mirza dengan suara berat yang mantap.

"Saya sudah siap untuk bertemu dengan calon ibu mertua saya."

Alana berdeham pelan, berusaha sekuat tenaga menetralkan kembali riak kekaguman yang sempat terbit di matanya. Dia merapikan tas tangannya, lalu menatap Mirza dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik.

"Jangan panggil saya Bu lagi," potong Alana tegas, suaranya kembali dingin dan penuh kendali.

"Mulai detik ini, panggil saya Alana. Di depan Mama nanti, jangan sampai lidah kamu tergelincir panggil saya Bu CEO atau Bu Alana. Ingat, kamu itu calon suami saya, bukan bawahan saya lagi."

Mirza mengangguk pelan, menyesuaikan diri dengan peran barunya.

"Baik ... Alana."

Nama itu meluncur dari bibir Mirza dengan nada suara yang dalam dan mantap, membuat dada Alana tanpa sengaja berdesir aneh sekilas. Namun, Alana dengan cepat menepis perasaan itu dan melirik jam di pergelangan tangannya.

"Sudah jam enam lewat lima belas," ucap Alana. "Shiren, kamu bisa pulang sekarang. Biar Mirza yang setir mobil saya menuju restoran."

"Siap, Bos!" Shiren mengedipkan sebelah matanya jahil ke arah Mirza.

"Semoga sukses perang malam ini, Ya, calon pengantin! Jangan lupa jaga emosi Tante Dwi biar enggak kena serangan jantung!"

Setelah Shiren pergi, Alana melempar kunci mobil mewahnya ke arah Mirza. Dengan sigap, Mirza menangkap kunci itu di udara. Mereka berdua melangkah keluar dari pusat perbelanjaan menuju area parkir VIP.

Perjalanan menuju hotel bintang lima tempat makan malam berlangsung dalam keheningan yang cukup tegang. Mirza fokus memegang kemudi, sementara Alana sibuk menatap jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalanan.

"Kamu deg-degan?" tanya Alana memecah keheningan, tanpa menoleh ke arah Mirza.

Mirza terkekeh pelan, sebuah tawa tipis yang terdengar sangat tenang.

"Kalau boleh jujur, banget. Saya cuma OB yang biasa pegang sapu dan nampan kopi, malam ini tiba-tiba harus berhadapan sama penentu takdir perusahaan Mahendra Group. Tapi demi ibu saya, saya akan lakukan apa pun."

Alana menoleh, menatap garis profil wajah Mirza yang diterangi pendar lampu jalanan. Ada kesungguhan dan keberanian yang tulus di sana. Rasa percaya diri Alana yang sempat goyah kini kembali menguat.

"Bagus," sahut Alana pelan.

"Pegang teguh alasan itu. Karena malam ini, Mama saya bakal melancarkan serangan dari segala sisi untuk meruntuhkan kamu."

Mobil berhenti mulus di depan lobby utama hotel bintang lima tersebut. Petugas valet dengan sigap membukakan pintu. Mirza turun lebih dulu, merapikan jasnya, lalu melangkah memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Alana.

Saat Alana turun, Mirza mengulurkan siku lengannya dengan gestur sopan namun penuh wibawa.

"Ayo ... calon istriku."

Alana menyunggingkan senyum tipis, senyuman seorang ratu yang siap memasuki medan pertempuran. Dia melingkarkan tangannya di lengan Mirza, dan bersama-sama, mereka melangkah mantap memasuki restoran mewah tempat Dwi sudah menunggu.

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!