Iris Quinn hanyalah sekretaris culun yang mudah diinjak-injak. Di rumah ia dijadikan keset oleh keluarganya, di kantor ia jadi samsak perundungan. Bahkan sang CEO, Ethan Cole, memilihnya hanya karena yakin gadis itu tidak akan punya nyali untuk menggodanya.
Tapi mereka tidak tahu, Iris yang asli sudah mati.
Tubuh ringkih itu kini dikuasai oleh jiwa Valerie Crowe, jenderal perang wanita kejam yang tewas diterkam harimau di medan tempur. Bagi Valerie, menghadapi drama kantor dan keluarga picik bukanlah masalah besar. Ini hanyalah medan perang baru yang sangat mudah ditaklukkan.
Dengan kecerdasan otak Iris dan insting membunuh seorang jenderal, Valerie mulai mematahkan satu per satu harga diri orang yang pernah menindasnya. Saat Ethan Cole menyadari sekretaris penurutnya berubah menjadi wanita berdarah dingin yang bisa melumpuhkan lawan dengan tangan kosong, sang CEO justru mulai terobsesi.
Mereka pikir Iris bisa terus ditindas? Selamat datang di neraka. Permainan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salju Merah
Salju turun tanpa henti di Kerajaan Utara.
Di tengah danau beku, seorang perempuan berdiri sendirian. Baju zirah peraknya telah retak, jubah bulu putihnya telah robek dan berlumuran darah. Darah musuh, dan darahnya sendiri.
Disekitarnya ribuan mayat tergeletak. Para musuh dan prajuritnya saling tumpang tindih.
Namanya Valerie Crowe. Jenderal termuda dalam sejarah kerajaan. Usianya baru dua puluh tujuh tahun, namun tidak ada satu pun prajurit yang berani menatap matanya terlalu lama.
Di hadapannya, tiga harimau perang musuh dilepaskan. Binatang buas yang sengaja dibuat kelaparan selama tujuh hari.
Di belakangnya, hanya beberapa langkah saja, ada sebuah desa kecil. Di dalam gubuk-gubuk kayu itu, para perempuan memeluk anak-anak mereka sambil gemetar. Mereka tidak bisa lari. Danau di belakang mereka sudah membeku dan licin, mereka pasti akan mati kedinginan.
Valerie tahu ia bisa lari. Kael, harimau putih miliknya, sudah menggeram di sampingnya, memberi tanda untuk pergi. Dengan kecepatannya, ia bisa selamat. Namun, Valerie tidak bergerak.
Ia maju menancapkan tombak peraknya ke dalam es. Tersenyum menantang pada hewan buas tersebut.
"Kael," bisiknya dengan suara serak. "Hari ini kita tidak pulang sebagai jenderal dan harimau. Hari ini kita pulang sebagai penjaga." katanya sembari mengelus kepala temannya itu.
Harimau pertama melompat. Valerie berputar. Tombaknya menembus leher harimau itu. Darah panas menyembur ke wajahnya.
Harimau kedua menerkam dari samping. Cakarnya merobek bahu Valerie hingga tulangnya terlihat. Valerie tidak berteriak. Ia menarik pisau kecil dari pinggangnya dan menusukkannya tepat ke jantung binatang itu.
Ia terjatuh berlutut. Napasnya tersengal. Darahnya menetes ke salju putih dan seketika menjadi merah.
Harimau ketiga, yang terbesar, datang dengan pelan. Matanya menatap mangsa yang sudah lemah.
Valerie mencoba bangkit, namun kakinya tidak kuat. Ia merasakan lelah dan kesakitan yang luar biasa. Saat itulah Kael melompat.
Harimau putih itu, yang sejak kecil ia rawat dari induk harimau yang hampir mati, melompat di depan tuannya. Dua harimau besar itu saling bertarung dengan dahsyat. Salju beterbangan, es retak.
Kael berhasil menggigit leher musuhnya, namun musuhnya juga berhasil merobek perut Kael. Keduanya terjatuh bersamaan.
Valerie merangkak mendekati Kael. Ia memeluk kepala sahabatnya itu. Air mata yang selama sepuluh tahun tidak pernah jatuh karena perang, akhirnya jatuh juga. Bukan karena takut mati, tapi karena kehilangan.
Kael menjilat tangan Valerie untuk terakhir kalinya, lalu diam. Valerie menatap langit yang kelam. Salju jatuh ke wajahnya. Kehilangan Kael adalah kekalahan pertama dan terakhirnya.
Ia teringat kata-kata ayahnya, sang pandai besi, ketika pertama kali memberinya pedang kayu kecil.
"Valerie, dunia akan selalu menyuruhmu mengalah karena kau perempuan. Jangan pernah mengalah."
Ia tersenyum. "Aku tidak pernah takut," bisiknya kepada langit, kepada kematian yang sudah berdiri di depannya. "Maka kematian lah yang harus takut kepadaku."
Ia memejamkan mata di atas salju merah.
...
Jauh di tempat lain, di sebuah apartemen studio kecil di kota Queens. Iris Quinn tertidur di atas tumpukan laporan kerja yang belum selesai. Hari itu dia dimarahi Bos nya, ditertawakan Chloe, teman kantornya karena kepangnya, dan telepon dari ibunya hanya mengomel dan meminta uang. Tubuhnya yang kelelahan akhirnya menyerah dengan tenang.
Dua jiwa yang lelah selesai berjuang. Satu pergi, satu masuk.
Dingin. Itu hal pertama yang dirasakan Valerie.
Bukan dinginnya salju di danau beku. Bukan dinginnya baju zirah perak yang menempel di kulit. Ini adalah dingin yang berbeda. Dingin yang pengap, bau debu dan jamur.
Ia membuka mata. Langit kelam itu hilang. Yang ada di atasnya adalah langit-langit yang retak dengan cat yang mengelupas dan sebuah lampu yang berkedip-kedip.
Valerie mencoba bangkit. Tubuhnya menolak. Lemah. Terlalu lemah. Tangannya kurus, kukunya dicat merah dan sudah terkelupas. Bukan tangan yang biasa memegang tombak dan pedang.
Ia melihat sekeliling. Sebuah ruangan sempit. Hanya ada satu kasur tipis di lantai, lemari reyot yang hampir roboh, dan sebuah cermin pecah di sudut.
Di cermin itu, ia melihat seorang perempuan asing. Rambut pirang yang dikepang dua, wajah pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata, memakai kemeja kerja yang sudah lusuh.
Bukan Valerie Crowe. Ia memegang kepalanya. Ingatan-ingatan asing masuk seperti banjir.
Iris Quinn. Dua puluh empat tahun. Sekretaris baru di perusahaan Cole Enterprise. Sudah tiga bulan bekerja. Anak kedua yang selalu dipaksa mengalah untuk saudaranya. Uang gaji dikirim semua untuk keluarga nya. Diinjak-injak. Dihina rekan kerja.
Ingatan tentang kelelahan yang tidak habis-habis. Tentang malam ini, ia pulang jam sebelas malam, belum makan, lalu pingsan diatas tumpukan laporan kerja yang seharusnya bukan menjadi bagiannya lalu jantungnya berhenti berdetak.
Valerie Crowe mengerti. Ia telah mati bersama Kael di medan salju, dan kini ia hidup kembali di tubuh perempuan lemah ini.
Tiba-tiba ponsel tua di sebelah kasur bergetar keras. Tertera nama di layar, IBU. Valerie mengangkatnya berbekal ingatan Iris.
"IRIS! DIMANA UANGNYA! ADIKMU BUTUH UANG UNTUK BAYAR SEMESTER! KAU SUDAH TIGA HARI TIDAK KIRIM UANG! KAU ANAK TIDAK TAHU DIRI!"
Suara bentakan itu persis seperti suara para jenderal tua yang dulu pernah meremehkannya di balai kerajaan.
Iris yang lama pasti akan menangis dan meminta maaf. Ia akan berkata, maaf Bu, aku akan kirim sekarang, aku belum gajian.
Namun yang memegang ponsel itu sekarang adalah Dewi Perang. Valerie mendekatkan ponsel ke telinganya dan menjawab dengan suara yang sangat tenang, sangat dingin.
"Dengar."
Hening sejenak di seberang sana karena kaget dengan nada bicara itu.
"Mulai hari ini, tidak akan ada sepeser pun uang yang keluar dari tanganku untuk kalian. Jika anak kesayangan kalian butuh uang, suruh dia bekerja. Jangan suruh kakaknya yang hampir mati karena kelaparan."
"KAU!"
Valerie mematikan telepon. Ia melempar ponsel itu ke kasur. Ia berdiri. Kakinya gemetar. Ia berjalan menuju cermin pecah itu. Ia menatap pantulan dirinya. Ia mengangkat tangannya yang kurus itu dan mengepalkan nya.
Lemah. Tubuh ini sangat lemah. Tapi sorot mata di dalam cermin itu tidak lemah sama sekali. Itu adalah sorot mata yang pernah membuat ribuan prajurit musuh berlutut.
"Aku pernah menjadi senjata untuk sebuah kerajaan," bisiknya kepada bayangan di cermin. Suaranya serak, namun penuh kekuatan. "Kali ini, aku akan menjadi senjata untuk diriku sendiri."
"Iris Quinn sudah mati karena terlalu banyak mengalah. Mulai sekarang, yang hidup adalah aku."
"Valerie Crowe."
Di luar jendela apartemen sempit di Queens, suara klakson mobil bersahutan bersamaan dengan turunnya salju yang membuat hati membeku.
Ia berbaring di atas kasur tipisnya dan memejamkan mata. Bersiap menghadapi medan tempur yang sudah menunggu nya.
..
Halo semuanya, ini novel baru othor tema perpindahan jiwa. Dukung terus ya biar othor semangat. Othor doakan kalian sehat-sehat semuanya 🔥🥰
abs pnya apartmen baru,abs tu blnju baju yg bgus...trs k salon,kl prlu ptong rmbut biar buang sial.....
kl kluarganya mnta uang,jgn d ksih...lbh baik pke buat dri sndri aja...ok jendral....
Aku udh mmpir lg....crtanya seru,sm ky crtamu yg lain....😁😁😁...
ska bgt kl cwek tngguh ky gni,ga menye2 trs kl ada yg ngusik lngsng d bls....d tnggu up'ny y....smngttt....😘😘😘