Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Reyhan sampai di warung lebih awal dari Mbak Sari, dan itu pertama kalinya dalam enam tahun.
Rolling door ia angkat sendiri, gembok ia buka sendiri, dan lampu ruang kerja ia nyalakan dengan jari yang sedikit kaku karena dingin dan kurang tidur. Bandung pagi itu berkabut tipis. Dari celah pintu depan terlihat tukang bubur di seberang jalan baru menurunkan dagangannya, seperti hari-hari lain, seperti tidak ada yang akan berubah.
Amplop putih itu masih di meja, tertelungkup, tepat seperti yang ia tinggalkan semalam. Ia tidak berani membaliknya.
Ia duduk. Menunggu.
Dan selama menunggu, ia membayangkan puluhan cara mengatakannya. Dengan nada tegas. Dengan nada menyesal. Dengan sebuah penjelasan. Semuanya ia buang satu per satu, karena ia tahu persis tidak ada satu pun dari kalimat itu yang akan terdengar benar di telinga seseorang yang tidak melakukan kesalahan apa pun.
Setengah jam kemudian, terdengar langkah di pintu belakang. Langkah yang ia kenal. Ringan, teratur, dan sedikit lebih cepat dari seharusnya, seperti seseorang yang selalu datang lima belas menit lebih awal supaya tidak perlu berlari.
Dadanya mengencang. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reyhan berharap waktu bisa berhenti beberapa menit lagi.
---
Anindya berhenti di ambang ruang kerja dengan tas masih di bahu.
"Mas panggil saya?"
"Masuk. Duduk."
Ia duduk di kursi yang agak terlalu tinggi itu, dengan kaki menapak lantai dan tangan di pangkuan. Ruang kerja itu beraroma kertas dan kopi, seperti pada hari pertama wawancara. Bedanya, kali ini ada sesuatu di antara mereka yang tidak ada waktu itu, dan keduanya tahu apa itu tanpa perlu menyebut.
Reyhan membalik amplop putih itu dan mendorongnya perlahan ke seberang meja.
"Mulai hari ini," katanya, dan suaranya terdengar datar, terlalu datar, "kamu tidak perlu bekerja di sini lagi."
Hening.
Di luar, seekor burung berkicau pendek lalu diam.
Anindya tidak bergerak. Ia menatap amplop itu, lalu membukanya dengan kuku jarinya yang bersih dan pendek. Di dalamnya ada selembar surat dan sebuah amplop cokelat yang lebih tebal. Ia membaca surat itu dari atas ke bawah, pelan, seolah isinya panjang. Padahal tidak.
Dadanya tidak runtuh. Yang terjadi justru sebaliknya: sesuatu di dalam dirinya mengeras, pelan dan dingin, seperti air yang membeku. Dua kali dalam tiga bulan. Dua kali ia berdiri di depan seseorang yang memutuskan nasibnya tanpa menatap matanya. Ia sudah hafal bagian ini: bagaimana tidak boleh menangis, bagaimana harus mengucapkan terima kasih, bagaimana melipat harga diri menjadi bentuk yang cukup kecil untuk dibawa pulang.
"Gaji kamu sampai akhir bulan sudah di dalam," lanjut Reyhan. "Ditambah dua bulan sebagai pesangon."
"Kolom alasannya kosong, Mas."
Reyhan terdiam.
"Di surat ini." Anindya mengangkat kertas itu sedikit. "Ada kolom alasan, tapi nggak diisi."
"Itu..." Reyhan berdeham. "Kondisi warung sedang tidak memungkinkan."
"Karena penjualan turun?"
Reyhan tidak menjawab, dan dalam diam itu Anindya mendapat jawabannya.
"Karena omongan orang di luar."
"Anin..."
"Boleh saya tanya satu hal, Mas?" Suaranya tenang. Nyaris terlalu tenang. "Apa saya salah?"
"Tidak."
"Ada pekerjaan yang saya lakukan dengan buruk?"
"Tidak."
"Ada yang saya lakukan yang melanggar peraturan?"
"Tidak."
"Terus kenapa saya yang pergi?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Reyhan membuka mulut, menutupnya, dan akhirnya hanya berkata, dengan suara yang ia benci karena betapa kecilnya, "Ini keputusan saya."
"Keputusan Mas."
"Iya."
Anindya menatapnya lama. Di bawah lampu ruang kerja yang temaram, wajah Reyhan tampak pucat dan lelah, dengan lingkar hitam yang tidak berhasil ia sembunyikan. Anindya melihat itu. Ia melihat semuanya. Dan justru karena itulah, ia tahu tidak ada gunanya mengemis penjelasan dari orang yang sudah memutuskan untuk tidak memberikannya.
"Mas pernah janji," katanya pelan.
"Janji apa?"
"Mau cerita soal mimpi yang telat itu."
Sesuatu bergerak di wajah Reyhan, cepat dan nyaris tak terlihat.
"Itu tidak penting lagi."
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam sumur. Begitu terucap, Reyhan menyesalinya. Ia ingin menariknya kembali, ingin berkata bahwa itu satu-satunya yang penting, bahwa ia sudah menyusun kalimatnya selama berhari-hari dan tidak pernah menemukan awal yang tepat. Tapi gengsi lebih cepat dari keberanian. Selalu begitu.
Anindya mengangguk perlahan. Matanya basah, tapi air itu tidak jatuh. Ia membuka amplop cokelat, mengeluarkan beberapa lembar yang ia hitung dengan jari-jarinya yang gemetar, lalu mengembalikan sisanya ke dalam amplop dan menyorongkannya kembali ke seberang meja.
"Saya cuma ambil gaji saya, Mas. Pesangonnya Mas simpan."
"Itu hak kamu."
"Itu belas kasihan." Suaranya pelan, tapi tegas. "Dan saya nggak butuh belas kasihan dari orang yang bahkan nggak bisa bilang kenapa saya dipecat."
Hening.
Anindya berdiri. Lututnya sedikit goyah, tapi punggungnya tegak. Di pintu, ia berhenti tanpa menoleh.
"Mas pernah bilang, mimpi jangan disimpan terlalu lama. Nanti basi."
"Iya."
"Saya akan ingat itu." Ada getar halus di ujung suaranya. "Terima kasih sudah ngajarin saya, Mas. Itu pelajaran terbaik yang saya dapat di sini."
Pintu terbuka. Pintu tertutup.
Dan Reyhan duduk sendirian dengan sebuah amplop cokelat yang dikembalikan dan dada yang terasa kosong sampai ke dasar. Ia menatap pintu yang tertutup itu cukup lama, dan baru ketika ia mencoba menarik napas, ia sadar bahwa kedua tangannya gemetar di atas meja. Ia tidak menangis. Reyhan tidak pernah menangis. Tapi ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya, sebesar kepalan tangan, dan ia tidak tahu bagaimana cara menelannya.
---
Mbak Sari datang jam tujuh lewat sepuluh dan menemukan Anindya berdiri di depan loker dengan tas di tangan.
"Nin?"
"Mbak." Anindya tersenyum kecil. "Saya pamit ya."
Mbak Sari berhenti di ambang pintu. Wajahnya sempat tidak terbaca, lalu berubah, bukan menjadi keterkejutan, tapi sesuatu yang lebih berat, seperti seseorang yang baru saja menerima tagihan yang ia sendiri tahu angkanya sejak awal. Ia melangkah maju dan memeluk Anindya erat-erat tanpa kata, dengan cara yang membuat Anindya sempat bingung kenapa pelukan itu terasa seperti permintaan maaf.
"Mbak..."
"Jualan ya," bisik Mbak Sari di telinganya, dengan suara serak yang tidak pernah Anindya dengar sebelumnya. "Nasi uduk kamu itu. Jangan berhenti."
"Iya, Mbak."
Mbak Sari melepaskan pelukannya dan menyeka matanya dengan punggung tangan secepat mungkin, tanpa menatap Anindya. Ia berbalik dan kembali ke meja potong, dan pisaunya mulai bergerak, tapi untuk pertama kalinya, irisan bawang di bawahnya tidak sama tebal.
Teh Lilis datang dengan mata yang sudah merah sejak di pintu. Ia memeluk Anindya dan menangis keras di bahunya sampai kerudung Anindya basah.
"Maafin Teteh, Nin. Maafin Teteh. Teteh nggak bermaksud, Teteh nggak tahu bakal jadi begini..."
"Teh, udah."
"Teteh salah banget, Nin..."
Anindya tidak mengerti, dan ia tidak punya tenaga untuk bertanya. Ia hanya menepuk punggung Teh Lilis pelan dan berkata, "Nggak apa-apa, Teh. Sehat-sehat ya."
Jaka muncul membawa sebungkus keripik singkong dan menyodorkannya tanpa penjelasan. Bayu tidak berbicara. Ia menaruh segelas teh manis hangat di tangan Anindya, menatapnya satu detik terlalu lama dengan mata yang sulit dibaca, lalu kembali ke dispenser kopinya dengan punggung tegang.
Terakhir, Anindya berjalan ke bak cuci. Ia berdiri di depan keran bengkok yang sama, yang pada pagi ketiga ia bekerja menggantungkan sebuah kantong plastik putih dengan simpul kecil. Ia mengeluarkan sarung tangan kuning dari dalam tas, mengusap karetnya sekali dengan ibu jari, lalu menyampirkannya di leher keran dengan hati-hati, seperti mengembalikan sesuatu yang tidak lagi ia berhak simpan.
Karena sesuatu yang diberikan dengan diam-diam, ia tahu, tidak bisa dibawa pergi dengan terang-terangan.
Lalu ia berjalan keluar tanpa menoleh.
---
Dari jendela kecil ruang kerjanya, Reyhan melihat semuanya.
Ia melihat Anindya melangkah keluar dari pintu belakang dengan tas diselempangkan, punggung tegak, kepala sedikit menunduk. Tidak menggosok telapak tangannya seperti hari pertama. Tidak menoleh ke belakang. Hanya berjalan, satu langkah demi satu, sampai bahunya menghilang di belokan gang.
Di dalam dadanya, sesuatu yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya retak.
"Mas."
Mbak Sari berdiri di ambang pintu tanpa mengetuk. Wajahnya keras, tapi matanya tidak menatap Reyhan. Matanya menatap lantai, atau mungkin sesuatu yang lebih jauh dari lantai.
"Mas salah," katanya pelan.
"Mbak..."
"Mas mecat orang yang nggak salah apa-apa." Suaranya bergetar sedikit, dan Reyhan tidak yakin itu karena marah. "Mas nggak bisa bilang kenapa, karena Mas sendiri tahu alasannya nggak cukup."
"Mbak Sari." Reyhan menatapnya. "Apa yang Mbak tahu?"
Mbak Sari berhenti. Hanya sedetik. Seperti orang yang hampir menginjak sesuatu yang tidak kelihatan di lantai gelap.
"Saya cuma tahu Mas salah."
Ia berbalik dan pergi, dan Reyhan menatap punggungnya tanpa tahu bahwa untuk pertama kalinya, ia baru saja melewatkan sesuatu yang penting.
Jam sembilan lewat, Dimas datang. Ia melangkah masuk dapur dengan helm di tangan dan wajah orang yang sudah menyiapkan kata-kata, lalu berhenti di tengah ruangan.
Bak cuci kosong. Tidak ada Anindya. Tidak ada apron yang tergantung. Hanya sebuah keran bengkok, dan di lehernya tergantung sepasang sarung tangan kuning yang tampak sangat kecil di bawah lampu dapur.
"Dia udah pergi," kata Teh Lilis pelan, tanpa ditanya.
Dimas menatap sarung tangan itu lama. Rafi dan Yoga masuk di belakangnya dan ikut membeku. Lalu Dimas berbalik dan matanya bertemu mata Reyhan yang berdiri di ambang pintu.
"Mas." Suaranya serak. "Kok jadi begini?"
"Seperti yang kamu minta."
"Bukan begini yang aku mau."
Reyhan tidak menjawab. Ia menatap Dimas, lalu sarung tangan kuning di keran, lalu lantai.
Dimas membuka mulut, menutupnya, lalu duduk di bangku plastik di sudut dapur dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Dapur itu hening seperti kuburan.
Reyhan berbalik dan berjalan kembali ke ruang kerjanya. Di kusen pintu, tangannya bergerak sendiri dan mengetuk kayu dua kali. Lalu tiga kali. Lalu empat.
Tidak ada yang mendengar.
Dan untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa itu artinya ia sedang hancur.
Bersambung ke Bab 17...