Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pagi hari di kediaman Dirgantara biasanya disambut dengan keheningan yang mencekam. Para pelayan berjalan berjinjit, takut membuat suara yang bisa memicu amarah sang CEO. Namun, pagi ini, suasana itu sedikit terusik oleh suara langkah kaki yang terdengar... tidak teratur.
Karin turun dari tangga utama dengan mengenakan gaun tidur berwarna kuning cerah yang ia pilih dari lemari. Gaun itu dihiasi gambar bebek karet yang mencolok, sebuah pilihan fashion yang sangat tidak cocok dengan estetika rumah bergaya minimalis modern milik Arlan.
Di dalam hati, Karin sedang melakukan briefing pagi. Oke, Karin. Ingat aturan nomor satu.. Jadilah seperti Golden Retriever. Ceria, sedikit ceroboh, tidak berbahaya, dan selalu senang melihat majikannya pulang. Jangan tunjukkan kecerdasan sedikit pun. Jika ditanya dua ditambah dua, jawab saja lima dengan wajah paling meyakinkan.
Arlan sudah duduk di meja makan, mengenakan kemeja putih yang disetrika sempurna. Ia sedang membaca laporan keuangan di tabletnya, secangkir kopi hitam tanpa gula tersaji di depannya. Aura dinginnya masih memancar kuat, tapi saat mendengar langkah kaki Karin, matanya sempat melirik sekilas.
"Pagi, Pak Arlan!" sapa Karin riang, menarik kursi di sebelah suaminya dan duduk dengan sedikit terlalu keras hingga menghasilkan suara berdecit.
Arlan menurunkan tabletnya sedikit, menatap istrinya. "Pagi. Kau tidak menangis pagi ini?"
Pertanyaan itu terlontar datar, tapi bagi Karin, itu adalah ujian. Tokoh asli Karin biasanya akan langsung merengut dan berkata, Kamu kok nggak kangen sama aku semalaman?.
Karin memutar otaknya. "Nangis? Nggak dong. Tadi malam aku mimpi indah. Aku mimpi makan awan rasanya seperti kapas gula. Tapi sayang, pas bangun, bantal gulingku rasanya kurang manis."
Arlan terdiam selama tiga detik penuh. Ia menatap Karin, lalu menatap bantal sofa di ruang tengah yang terlihat dari sudut mana pun, lalu kembali menatap Karin. Tidak ada ekspresi jijik di wajah pria itu, hanya sebuah kebingungan yang mendalam.
"Makanlah," ucap Arlan akhirnya, kembali menatap tabletnya.
Bu Marta, kepala rumah tangga yang sudah bekerja di keluarga Dirgantara selama dua puluh tahun, menyajikan sarapan dengan wajah yang tampak lega. Biasanya, pagi hari adalah medan perang air mata. Hari ini, Bu Marta bahkan sempat tersenyum kecil pada Karin.
Karin mulai makan dengan lahap. Ia benar-benar menikmati makanan mewah itu, tapi ia harus tetap mempertahankan karakternya. Ia menatap telur dadar di piringnya dengan tatapan penuh selidik, lalu menoleh ke arah Arlan.
"Pak Arlan," panggil Karin pelan.
"Hm?" Arlan tidak menoleh, matanya masih fokus pada layar.
"Kalau telur ini aku kasih jaket, dia bakal kepanasan nggak ya? Soalnya dia kan sudah dibungkus kulit, terus dibungkus lagi jadi dadar. Kasihan kalau nanti dia berkeringat di dalam perut Bapak."
Sendok Arlan berhenti di tengah jalan. Pria itu perlahan menoleh, menatap telur dadar di piringnya, lalu menatap istrinya. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan mereka, sudut bibir Arlan berkedut. Sangat tipis, hampir tidak terlihat, tapi itu pasti sebuah senyuman. Atau mungkin hanya kejang otot wajah karena bingung.
"Makan telurnya, Karin. Jangan banyak bicara," ucap Arlan, meski nada suaranya terdengar jauh lebih ringan dari biasanya.
Yes! Langkah kedua berhasil! CEO dingin hampir tersenyum! batin Karin bersorak.
Setelah sarapan, Arlan bersiap berangkat ke kantor. Ia mengambil tas kerjanya dari meja konsol di ruang tengah. Karin, yang sedang pura-pura bermain dengan remote TV, langsung berlari kecil menghampirinya.
"Mau pergi ya, Pak Arlan? Tunggu! Aku mau bantu bawa tasnya!"
Sebelum Arlan bisa menolak, Karin sudah meraih gagang tas kulit mahal itu. Namun, alih-alih menyerahkannya, Karin malah membuka ritsleting tas itu dan mulai mengaduk-aduk isinya.
Arlan langsung menyambar tas itu, wajahnya kembali dingin. "Karin. Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh isi tasku."
"Tapi, Pak Arlan, tas ini isinya kurang lengkap!" protes Karin dengan wajah sangat serius. Ia merogoh saku gaun bebek karetnya dan mengeluarkan sebuah biskuit berbentuk dinosaurus yang sedikit penyok, serta sebuah kancing baju berwarna emas yang ia pungut dari lantai kemarin.
"Ini untuk bekal Bapak!" Karin menyodorkan barang-barang itu. "Biskuit dinosaurus ini biar Bapak nggak lapar kalau rapatnya lama. Terus kancing ini biar jas Bapak nggak terbuka kalau ada angin kencang. Kan bahaya kalau jasnya terbuka, nanti perut Bapak masuk angin!"
Arlan menatap biskuit penyok dan kancing berkarat di tangan istrinya. Otak logisnya berteriak bahwa ini adalah tindakan tidak masuk akal. Tas kerjanya berisi dokumen rahasia senilai miliaran rupiah, dan istrinya baru saja mencoba menyelundupkan sampah dan camilan anak-anak ke dalamnya.
Namun, alih-alih membentak, Arlan hanya menghela napas panjang. Ia mengambil biskuit dinosaurus itu dari tangan Karin.
"Kancingnya tidak usah. Tapi biskuit ini... bolehlah. Untuk makanan anjing di kantor," ucap Arlan datar, memasukkan biskuit itu ke dalam saku jasnya.
Mata Karin berbinar. "Wah! Anjingnya pasti suka, Pak! Namanya siapa?"
"Namanya Rex. Dan dia tidak makan biskuit penyok," balas Arlan, berbalik badan dan melangkah menuju pintu depan.
Tepat saat Arlan akan membuka pintu, ponselnya bergetar. Nama Vanessa tertera di layar.
Jantung Karin berdegup kencang. Pelakor utama! Bulan putih sang CEO!
Dalam novel, setiap kali Vanessa menelepon, tokoh asli Karin akan langsung merebut ponsel itu, berteriak histeris, dan membuat Arlan semakin muak.
Arlan melirik layar ponselnya, lalu melirik Karin, seolah menguji reaksi istrinya. Ia menggeser layar untuk menjawab panggilan itu. "Halo, Vanessa."
"Arlan, maaf mengganggu pagi-pagi. Aku cuma mau pastikan kau sudah sarapan. Tadi aku mau kirimkan bekal, tapi takut kau sibuk," suara Vanessa terdengar manis, lembut, dan penuh kepedulian yang dibuat-buat dari speaker ponsel.
Karin tahu ini saatnya. Ia tidak boleh cemburu. Ia harus menjadi idiot yang paling tidak mengancam di dunia.
Karin melangkah mendekat, menunduk sedikit untuk melihat layar ponsel Arlan, lalu tersenyum lebar ke arah ponsel itu.
"Halo, Mbak Vanessa!" sapa Karin riang. "Kak Arlan lagi ngomong sama Mbak. Eh, Mbak Vanessa, Kak Arlan tadi sarapannya habis lho. Tapi Mbak, kalau mau ngirim bekal, jangan lupa kasih catatan harganya ya. Soalnya kemarin Mbak Vanessa pesan ojek online tapi nggak bayar, kan kasihan abangnya. Oh ya, Kak Arlan, Mbak Vanessa jadi bayar nggak sih?"
Hening.
Suara napas Vanessa di seberang sana terdengar tercekat. "A-Apa? Karin, apa yang kau bicarakan? Aku tidak pernah..."
"Ya udah, Mbak. Nanti kalau udah transfer, kabarin ya. Dadah!" Karin memotong pembicaraan, lalu menepuk-nepuk lengan Arlan. "Udah, Pak Arlan. Mbak Vanessa mau tutup telepon, dia pasti malu karena belum bayar ojek. Awas telat ke kantor!"
Arlan menatap istrinya dengan mata yang sedikit membelalak. Ia menatap layar ponselnya yang kini sudah terputus sepihak oleh Karin, lalu menatap wajah polos istrinya yang sedang tersenyum bangga.
Tanpa sepatah kata pun, Arlan memasukkan ponselnya ke dalam saku, membuka pintu, dan melangkah keluar. Namun, sebelum mobilnya melaju, Karin melihat melalui jendela bahwa Arlan duduk di dalam mobil selama dua menit penuh, menatap ke arah rumah dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa ia baca.
Di dalam rumah, Karin melompat kecil. Boom! Pelakor berhasil dibuat bingung dan CEO dingin berhasil dibuat speechless! Pertahankan, Karin! Kau jenius dalam kebodohan!
Namun, Karin tidak menyadari bahwa di dalam mobil, Arlan sedang menatap biskuit dinosaurus penyok di tangannya, dan untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya, Siapa sebenarnya wanita yang menikah dengannya ini?
lanjut kn thor💪