Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Siang itu, suasana kediaman keluarga Conti tampak lebih ramai daripada biasanya. Beberapa pelayan terlihat sibuk mempersiapkan ruang tamu, sementara yang lainnya berdiri di dekat pintu utama untuk menyambut kedatangan tamu penting.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan tangga teras kediaman tersebut. Disusul dua mobil lainnya yang membawa sejumlah bingkisan pernikahan.
Pintu mobil pertama terbuka. Seorang pria paruh baya dengan penampilan berwibawa turun lebih dahulu. Dialah Tuan Sagara Dominic, ayah Ricardo Dominic. Di sampingnya, seorang wanita anggun dengan tas bermerek di tangannya turut turun dari mobil. Nyonya Fantika Dominic, ibu Ricardo.
Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan biasa. Siang itu, pasangan tersebut datang untuk menjemput menantu perempuan mereka, Amerda Conti, agar pulang ke kediaman keluarga Dominic setelah pernikahan.
Seorang pelayan segera menghampiri mereka.
"Selamat siang, Tuan, Nyonya. Selamat datang di kediaman keluarga Conti."
Tuan Sagara mengangguk ramah. "Apakah Tuan dan Nyonya Conti ada di rumah?"
"Ada, Tuan. Mereka sudah menunggu kedatangan Anda."
"Kalau begitu, silakan bawa kami masuk."
Pelayan itu segera mempersilakan mereka memasuki rumah. Dua pelayan lainnya mengambil bingkisan yang dibawa rombongan keluarga Dominic, lalu mengikuti dari belakang. Begitu memasuki ruang tamu, mereka langsung disambut oleh Tuan Sadam Conti dan istrinya, Nyonya Maudi Conti.
"Tuan Sagara, Nyonya Fantika. Selamat datang di rumah kami," sambut Tuan Sadam sambil berdiri dari sofa.
Tuan Sagara tersenyum dan menjabat tangan tuan rumah.
"Maaf kami datang tanpa memberitahu kalian. Kami datang untuk menjemput Amerda pulang. Rasanya sudah waktunya menantu kami tinggal bersama keluarga Dominic."
Nyonya Maudi tersenyum lebar.
"Tidak perlu meminta maaf. Justru kami senang kalian datang. Silakan duduk."
Nyonya Fantika memeluk Nyonya Maudi dengan hangat sebelum duduk di sofa yang telah disediakan.
"Bagaimana kabarmu, Maudi? Sudah lama kita tidak duduk bersama seperti ini, setelah kericuhan saat pernikahan kemarin."
"Saya baik. Bagaimana dengan kalian?"
"Kami juga baik."
Nyonya Fantika kemudian melirik bingkisan yang dibawa para pelayan.
"Kami membawa beberapa hadiah untuk Amerda. Tidak seberapa, hanya sebagai tanda kasih sayang kami kepada menantu baru."
Nyonya Maudi segera menggeleng.
"Aduh, kalian ini. Tidak perlu sampai membawa banyak hadiah."
"Jangan begitu, Amerda sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Wajar jika kami ingin memberikan sesuatu kepadanya. Apa lagi, dia telah menyelamatkan pernikahan anak kami kemarin," ujar Fantika begitu senang.
"Di mana Ricardo? Kenapa dia tidak bersama kalian?" tanya Maudi saat melihat tak ada menantu laki-laki nya di sana.
"Ricardo, ada urusan penting yang tak bisa dia tinggalkan,"
Tuan Sadam tersenyum mendengar ucapan tersebut. Sebagai ayah, ia tentu merasa bangga karena putrinya diterima dengan baik oleh keluarga Dominic, terlebih keluarga itu dikenal memiliki kedudukan dan kekayaan yang tidak kalah dari keluarga Conti.
"Amerda sedang berada di kamarnya," ujar Nyonya Maudi. "Biar saya panggilkan."
"Jangan terburu-buru," sahut Nyonya Fantika. "Biarkan dia bersiap terlebih dahulu. Kami tidak ingin membuatnya merasa tertekan."
Namun, belum sempat Nyonya Maudi berdiri, Tuan Sagara sudah membuka percakapan lain.
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Amerda setelah pernikahan? Apakah dia sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya?"
Nyonya Maudi saling bertukar pandang dengan suaminya sebelum menjawab.
"Sejauh ini baik. Dia memang masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri."
Nyonya Fantika mengangguk.
"Itu wajar, kehidupan setelah menikah tentu berbeda. Apalagi Amerda sekarang harus berbagi rumah dengan Ricardo dan menjalankan tanggung jawab sebagai seorang istri." Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.
"Namun, saya yakin Amerda bisa menjadi istri yang baik bagi putra kami. Sama baiknya seperti Gia, sayangnya Gia malah menyia-nyiakan kesempatan ini, saya tidak menyangka putri kandung kalian malah membuat Kalian malu seperti ini," kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi tidak di telinga seorang ibu yang sangat mengenal putrinya. Tetapi, Maudi tak bisa membelanya saat ini.
Tuan Sadam mengangguk setuju.
"Tentu saja, Amerda sudah dewasa. Dia pasti bisa menjalankan perannya dengan baik. Gia dan Amerda, sama-sama putri kami."
Percakapan mereka berlangsung hangat, sesekali diselingi tawa kecil. Tidak ada yang tampak menyadari bahwa di balik suasana kekeluargaan tersebut, terdapat sebuah kebohongan besar yang masih tersimpan rapat. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari arah tangga.
Amerda muncul dengan mengenakan gaun berwarna krem. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara wajahnya dihiasi riasan tipis. Ia tampak anggun dan tenang, seolah tidak pernah menyimpan rahasia apa pun.
"Papa, Mama," sapanya sambil menghampiri kedua orang tuanya.
Nyonya Fantika langsung tersenyum lebar.
"Nah, ini dia menantu Mama."
Amerda membalas senyuman itu, lalu menyalami Tuan Sagara dan mencium tangan Nyonya Fantika dengan sopan.
"Selamat siang, Papa Sagara, Mama Fantika."
"Selamat siang, Sayang." Nyonya Fantika meraih tangan Amerda. "Bagaimana kabarmu? Sehat?"
"Sehat, Ma."
"Baguslah, Mama datang untuk menjemputmu pulang."
Senyum Amerda sempat mengendur.
"Mas Ricardo tidak ikut?"
"Tidak, Sayang. Dia ada urusan yang harus diselesaikan. Lagipula, kami ingin menjemputmu terlebih dahulu supaya kamu bisa beristirahat di rumah."
Amerda mengangguk kecil, berusaha menyembunyikan perubahan ekspresi di wajahnya.
Sejak pernikahan mereka, hubungan Amerda dan Ricardo memang belum berjalan seperti yang diharapkannya. Ricardo tak pernah menganggap Amerda sebagai istrinya. Meski demikian, Amerda tidak ingin keluarga Dominic mengetahui hubungan mereka yang seperti itu. Ia telah berjuang terlalu keras untuk mendapatkan posisi sebagai istri Ricardo. Ia tidak akan membiarkan siapa pun meragukan tempatnya di keluarga itu.
"Kalau begitu, Amerda ambil barang sebentar di kamar," katanya dengan senyum yang kembali terpasang.
Nyonya Fantika mengusap punggung tangannya.
"Tidak perlu terburu-buru. Kami bisa menunggu."
Amerda mengangguk, lalu berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Namun, baru beberapa langkah menaiki tangga, suara Nyonya Maudi terdengar memanggilnya.
"Amerda, tunggu sebentar."
Amerda berbalik, "Ya, Ma?"
Nyonya Maudi menatapnya dengan lembut.
"Kalau nanti sudah tinggal di rumah Dominic, jangan lupa sering-sering menghubungi Mama. Mama pasti akan merindukanmu."
Amerda tersenyum, "Tentu, Ma."
"Dan satu lagi..." Nyonya Maudi terdiam sesaat sebelum melanjutkan, "kalau kamu mendengar kabar tentang Gia, beri tahu Mama, ya."
Senyum Amerda seketika membeku. Tuan Sadam yang duduk di sofa turut mengangkat wajahnya.
"Maudi, kenapa membicarakan itu sekarang?" tegurnya pelan.
Namun, Nyonya Maudi tidak mengalihkan pandangannya dari Amerda.
"Mama hanya ingin tahu kabar adikmu. Sampai sekarang, Mama belum mendapatkan kabar darinya."
Amerda merasakan jantungnya berdegup semakin kencang. Bahkan, setelah ia berusaha mengalihkan perhatian semua orang, nama Gia masih saja muncul dalam percakapan keluarga mereka.
"Mama tidak perlu khawatir," jawab Amerda akhirnya. "Gia sudah dewasa. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri." Balas Amerda dengan menutupi wajah kesalnya dengan senyum palsunya.
Nyonya Maudi menghela napas.
"Mama harap begitu."
Amerda segera berbalik dan menaiki tangga, berusaha agar tidak ada seorang pun yang menyadari kegugupan di wajahnya. Setibanya di kamar, ia langsung menutup pintu dan menyandarkan punggungnya pada daun pintu tersebut.
Napasnya keluar perlahan, dia mengira setelah menikah dengan Ricardo, hidupnya akan menjadi lebih mudah. Ia akan mendapatkan kedudukan yang selama ini diinginkannya dan tidak perlu lagi merasa terancam oleh keberadaan Gia. Namun, kenyataan tidak berjalan sesuai harapannya.
Gia memang telah menghilang dari kediaman Conti, tetapi bayangan perempuan itu seolah terus mengikuti setiap langkahnya. Terlebih lagi, ia tahu bahwa Adam Maxnore masih memiliki Gia di rumahnya.
Amerda mengambil ponselnya dan menatap layar selama beberapa saat. Jarinya bergerak membuka ruang percakapan dengan pria yang tadi dihubunginya. Ia mengetik sebuah pesan singkat.
[Pastikan semuanya aman. Jangan biarkan siapa pun menemukan bukti yang mengarah kepadaku.]
Setelah mengirim pesan tersebut, Amerda mematikan layar ponselnya. Ia kemudian mengambil koper yang telah disiapkan pelayan sejak pagi.
Kini, ia akan tinggal di kediaman keluarga Dominic sebagai istri Ricardo. Ia harus menjaga penampilannya, mempertahankan kepercayaan keluarga barunya, dan memastikan tidak ada yang mengetahui rahasia di balik kecelakaan Veronika. Sebab, jika rahasia itu terbongkar, bukan hanya pernikahannya yang akan hancur. Nyawanya pun bisa berada dalam bahaya, dan Amerda belum siap kehilangan semua yang telah direbutnya dari Gia.
"Gia, setelah hari ini akan ku pastikan kau tidak akan kembali ke sini lagi," gumam Amerda dengan tangan yang terkepal kuat.
ap Dy punya rencana sendri???
Qta semua membelanya,, mendukung nya...,, eh malah dia yg nawarin diri utk bertahan d rumahnya Sadam. Kecuali kalo dirimu kuat,, d jahatin bisa balas,, d pukul bisa balas memukul,, bisa mu hanya menangis saja...,, Qta perempuan memang makhluk lemah....,, tapi jangan melemahkan dirimu kayak gitu juga Gia. Kau berharap ayahmu Sadam akan terharu....,, hingga akhirnya menyayangimu....,, seperti berharap salju turun d tengah hutan yang terbakar....,, mustahil.