Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama si Mantan Figuran di Atas Salju
Udara malam di luar jendela asrama pelayan benar-benar menyapa dengan gigitan dingin yang kejam. Kristal-Kristal es berderak pelan, membungkus setiap inci kaca kastil kuno Valesia layaknya jaring laba-laba transparan. Di atas meja kayu kasar, sebuah jubah wol berat berwarna gelap milik Belva tergeletak begitu saja—menunggu untuk dikenakan oleh siapa saja yang cukup bodoh untuk menyerahkan nyawanya di altar malam.
Ceisya berdiri di dekat cermin perunggu buram, merapikan helai rambut cokelat ikalnya yang kini tergerai bebas tanpa ikatan kaku dua kepang sialan itu. Ia menyunggingkan senyum miring, memandangi pantulan dirinya di dalam cermin.
"Malam ini sepertinya bakal ada pertunjukan sirkus gratis di hutan salju," gumam Ceisya pelan, menyindir nasib dirinya sendiri di dalam batin dengan nada sarkas. "Lumayan, hiburan gratis sebelum aku meretas rencana busuk si Belva itu sampai ke akar-akarnya."
Tanpa ragu, tangan lentiknya menyambar jubah wol bertudung tebal milik Belva. Kain itu bau apek—kombinasi antara debu gudang istana dan aroma parfum murahan yang biasa dipakai sang sahabat untuk menarik perhatian para pengawal. Ceisya mendengus geli, lalu mengenakannya menutupi tubuhnya, sengaja menarik tudungnya hingga menutupi sebagian besar wajahnya agar dari kejauhan ia terlihat persis seperti siluet Belva yang ketakutan.
Ia membuka pintu kayu itu tanpa suara. Koridor istana yang panjang tampak temaram, hanya diterangi oleh nyala obor yang berkedip malas melawan angin malam. Dengan langkah ringan tanpa suara—keahlian yang ia pelajari selama bertahun-tahun sebagai petarung jalanan dan spesialis penyusup sistem digital—Ceisya meluncur menyusuri lorong sepi menuju pintu belakang yang mengarah langsung ke perbatasan Hutan Salju Valesia.
Setiap langkahnya terasa begitu hidup. Ini bukan lagi layar monitor berukuran 24 inci di apartemen mewahnya di bumi, melainkan dunia nyata tempat ia harus mempertaruhkan nyawa, strategi, dan kelicikan otaknya.
Kriet...
Pintu kayu berat bercat hitam legam terdorong terbuka. Embusan badai salju langsung menghantam wajahnya, membuat kulitnya terasa seperti disayat ribuan jarum es. Namun, Ceisya tidak bergeming. Ia melangkah keluar, membiarkan sepatu boots tua yang dipakainya menginjak salju putih tebal yang membentang luas bagai lautan kapas beracun.
Di kejauhan, di balik barisan pohon pinus raksasa yang menjulang tinggi menembus langit malam, bayangan-bayangan hitam bergerak cepat di atas salju.
Mereka sudah datang, batin Ceisya menyeringai tajam du balik tudung jubahnya.
Sesuai dengan skenario yang dirancang oleh Belva—atau lebih tepatnya, jebakan mematikan yang disiapkan oleh kelompok pembunuh bayaran Bianca Reinhardt—kehadiran seseorang dengan jubah bertudung itu langsung menarik perhatian para algojo berdarah dingin.
"Itu dia! Target sudah keluar dari area asrama!" suara serak bernada rendah berbisik tajam menembus deru angin.
Tiga sosok pria berbadan besar dengan jubah abu-abu gelap mendadak muncul dari balik semak belukar yang tertutup salju. Di tangan masing-masing, bilah pisau perak berkilau memantulkan cahaya bulan sabit merah yang tergantung di langit. Bau anyir darah dan insting binatang buas menguar kuat dari tubuh mereka.
Di dalam alur novel aslinya, pada detik ini si Ceisya cupu akan langsung berlutut, menangis histeris memohon ampun, lalu detik berikutnya lehernya akan tertebas tanpa sempat melihat wajah pembunuhnya.
Tapi, maaf saja. Ceisya yang sekarang adalah wanita yang paling alergi mati tanpa perlawanan.
"Wah, wah. Menyambut tamu malam-malam pakai pisau perak segala. Nggak sopan banget, mas-mas," cibir Ceisya pelan di balik tudungnya, sengaja merendahkan suara agar terdengar gemetar ketakutan, padahal jantungnya justru memompa adrenalin dengan sangat bergairah.
Salah satu pembunuh berbadan kekar itu maju mendekat, mengangkat belati peraknya tinggi-tinggi. "Mati kau, Belva! Tunangan Yang Mulia tidak akan membiarkan jalang sepertimu bernapas lebih lama di istana ini!"
Jalang? Eh, sorry ya, aku cuma figuran nyasar, batin Ceisya mendengus kesal.
Saat bilah pisau perak itu meluncur deras mengarah langsung ke lehernya dengan kecepatan penuh, tubuh Ceisya bergerak secara otomatis. Insting tempurnya menyala terang.
Satu... dua...
Dengan gerakan refleks secepat kilat, Ceisya melangkah ke samping, membiarkan angin dari ayunan pisau itu lewat begitu saja di sebelah telinganya. Sebelum si pembunuh sempat menyadari apa yang terjadi, tangan Ceisya yang terbalut kain wol melesat mencengkeram pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke belakang dengan tekanan maksimal.
KRAK!
Bunyi tulang patah bergemeretak nyaring di tengah sunyinya hutan salju. Pria bertubuh besar itu menjerit kesakitan, sementara pisaunya terlepas dari genggaman dan melayang di udara. Dengan sigap, Ceisya menangkap gagang pisau itu dengan tangan kirinya, lalu melayangkan tendangan putar telak ke arah ulu hati penyerang kedua yang baru saja hendak menerjangnya.
Bugh!
Pria kedua terpental mundur sejauh dua meter, langsung ambruk tak berdaya di atas salju putih yang seketika berubah warna menjadi kemerahan.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, dua dari tiga pembunuh elit bayaran Bianca sudah tersungkur mencium tanah salju.
Pria ketiga—pemimpin kelompok pembunuh tersebut—terbelalak kaget bukan main. Matanya melotot tak percaya menatap gadis berpostur kecil yang mengenakan jubah pelayan di hadapannya. Selama ini laporan intelijen mengatakan bahwa target mereka adalah gadis lemah tak berdaya. Tapi sosok di hadapannya saat ini bergerak seperti iblis dalam balutan kain murahan.
"K-kau... siapa sebenarnya?!" teriak si pemimpin pembunuh dengan suara bergetar panik, mengangkat pedang panjangnya dengan tangan gemetar.
Ceisya perlahan-lahan menurunkan tudung jubahnya. Rambut cokelat ikalnya tergerai bebas ditiup angin salju yang menderu. Di bawah temaram cahaya bulan darah, sepasang mata cokelatnya menatap pria itu dengan tatapan paling mematikan dan penuh ejekan.
"Aku?" jawab Ceisya dengan senyuman manis yang justru membuat darah si pembunuh membeku seketika. "Cuma mantan figuran yang lagi malas diganggu. Bilang sama bos kalian, kalau mau bunuh orang, bayar pembunuh yang lebih profesional dong. Yang ini kualitasnya murahan banget."
Sebelum pria itu sempat berteriak atau melarikan diri, Ceisya sudah melesat maju bagaikan bayangan angin malam. Tangannya bergerak dengan presisi tinggi, melumpuhkan titik saraf leher sang pemimpin pembunuh dalam satu hantaman cepat. Pria itu langsung terkulai lemas, menyusul rekan-rekannya ke alam mimpi di atas hamparan salju.
Ceisya mengibaskan tangannya yang sedikit kotor, lalu menghembuskan napas lelah ke udara dingin yang mengepulkan uap putih.
"Fiuh, pemanasan yang lumayan untuk malam yang dingin," gumamnya santai, merapikan kembali jubahnya.
Namun, di saat Ceisya hendak berbalik arah kembali ke asrama, udara di sekitarnya mendadak berubah total. Tekanan atmosfer turun drastis dalam satu detik. Suhu dingin yang tadinya menusuk tulang kini berubah menjadi tekanan berat yang mencekik leher, membuat paru-paru seolah kehabisan oksigen.
Bahkan daun-daun cemara di sekitar mereka berhenti berderik. Seluruh hutan salju mendadak diliputi kesunyian yang mencekam.
Dari balik kegelapan malam, di ujung jalan setapak tertutup salju, sepasang mata berwarna merah menyala tajam menembus kegelapan. Bau musk yang pekat, dominan, dan sangat mematikan menyebar bersamaan dengan langkah kaki berat yang mendekat perlahan—langkah dari seekor predator puncak yang tidak pernah mentoleransi siapa pun di wilayah kekuasaannya.
Fenrir Volkov.
Sang Raja Serigala berdiri tegak di sana, mengenakan mantel bulu hitam panjang dengan ekspresi wajah sedingin es abadi. Tatapan matanya yang tajam bagai belati langsung terkunci pada sosok Ceisya yang berdiri di antara tiga mayat pembunuh.
Fenrir melangkah mendekat dengan aura dominasi mutlak yang membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Cengkeraman tangan besar pria itu tiba-tiba mencengkeram rahang Ceisya dengan kuat, memaksanya mendongak, sementara bisikan berat dan berbahaya terdengar tepat di telinganya:
"Menarik sekali... Seekor anak domba yang ternyata bersembunyi dengan cakar serigala. Siapa yang mengirimmu untuk memata-matai wilayahku, hah?"
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊