Andrew Quintana menguasai dunia hitam tanpa belas kasihan. Bos kartel yang dijuluki "si iblis" ini punya segalanya—kekuasaan, kekayaan, dan sumpah untuk tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun. Sampai suatu malam, di tengah baku tembak berdarah, seorang gadis berambut merah terjatuh dari mobil musuhnya.
Alondra hanyalah gadis desa yang menjual hasil kebun di pasar—sampai ia diculik, dijual, dan nyaris kehilangan nyawa. Kini ia terbangun di sebuah mansion mewah milik pria paling berbahaya yang pernah ia temui, sebagai sandera. Tapi Alondra bukan perempuan yang mudah ditundukkan. Ia melawan, membalas hinaan, dan sama sekali tak gentar pada sang bos mafia—sesuatu yang belum pernah dialami Andrew seumur hidupnya.
Dari pertengkaran sengit menjadi kesepakatan berbahaya, dari kebencian menjadi gairah yang tak bisa mereka bendung. Namun mencintai seorang mafioso berarti masuk ke dunia penuh peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai di setiap sudut. Ketika kecemburuan, kebohongan, dan rahasia mengancam menghancurkan segalanya, seberapa jauh keduanya rela bertaruh demi cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yingiola Macosay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Meluruskan Segalanya
Waktu kulihat Alondra naik ke mobil, kuputuskan untuk menenangkan diri, sebab dengan bertengkar aku takkan mencapai apa-apa. Aku hanya memandangnya lewat kaca spion, tapi ia bahkan tak sudi menoleh ke arahku.
Begitu kami tiba di rumah, aku cepat-cepat turun agar si sinting itu tak sempat mengajakku bicara, tapi ia mengejarku. "Alondra, aku ingin kita bicara."
"Aku tak punya apa pun untuk dibicarakan dengan Anda. Selamat malam, Tuan Quintana."
Tapi karena aku tak sudi membiarkannya pergi begitu saja tanpa alasan, sebelum ia sempat pergi, kutarik lengannya, kupeluk, dan kudekap ia ke tubuhku. Ia begitu dekat denganku sampai kuputuskan menciumnya penuh gairah. Tapi tiba-tiba ia menghantam selangkanganku, membuatku melepaskannya. "Kau memang jago memukul di situ ya." Kalian tahu di mana.
"Anda akan kuberi tahu kalau Anda ingin tak pernah mengenal anak-anak Anda kelak. Dan lain kali kalau Anda berpikir untuk menciumku, cuci dulu mulut Anda dengan pemutih, asam, atau racun, siapa tahu Anda mati sekalian. Aku tak suka ciuman yang lidah wanita lain sudah menyusup di dalamnya. Menjijikkan."
Setelah itu aku naik ke kamarku. Sejak malam itu aku memutuskan takkan berpapasan lagi dengannya, jadi aku hanya keluar dari kamarku ketika ia sudah berangkat ke perusahaannya, agar aku bisa turun sarapan dengan tenang.
Sejak malam itu aku tak lagi bertemu Alondra, pertama karena kadang aku pulang larut, kami sedang menyelesaikan sejumlah urusan soal kiriman-kiriman berikutnya, dan kedua kurasa ia sedang menghindariku.
Sekeras apa pun aku bertanya pada Luis, apakah ia menyukai Alondra, ia hanya tertawa dan tak mengatakan apa-apa.
Hari demi hari berlalu, minggu, lalu bulan. Sudah lebih dari enam bulan berlalu. Cukup dengan memikirkan bahwa aku tinggal empat bulan lagi, lalu aku akan keluar dari rumah ini untuk kembali kepada keluargaku. Selama ini kulakukan segala hal yang mustahil untuk sebisa mungkin menjauh dari Andrew.
Meski aku menyukainya, aku tak bisa berhenti memikirkan malam waktu Amanda menciumnya di depan semua orang. Bagiku itu sungguh memalukan.
Rasanya sangat menyebalkan, tapi apa yang bisa kulakukan, Amanda sudah ada duluan sebelum aku datang. Mamaku selalu bilang bahwa tak baik ikut campur di antara sepasang kekasih, sebab meski mereka sedang bertengkar, cepat atau lambat mereka akan kembali bersama.
Ketika ia berangkat ke perusahaannya, aku keluar dari kamarku menuju dapur dan mulai memasak untuk para anak buah. Mereka menyukai masakan yang kubuat. Aku sudah berteman akrab dengan beberapa dari mereka.
Tanpa diketahui siapa pun, mereka mengajariku cara membela diri, andai suatu hari aku kembali berada dalam bahaya. Mereka juga mengajariku cara menembak, mulai dari revolver sampai senjata kaliber tinggi.
Kuakui, ini menegangkan. Belum pernah seumur hidupku aku memegang senjata di tangan. Kuharap aku tak pernah harus menembakkan senjata ke arah siapa pun, itu akan jadi keputusan yang sulit diambil.
Sore itu, selagi kami sedang makan siang, tak pernah kubayangkan ia akan pulang lebih awal dari biasanya.
Waktu aku tiba di mansionku, kudengar suara tawa dari arah dapur, jadi aku menuju ke sana.
Kulihat beberapa anak buahku sedang jam makan, dan bersama mereka ada Alondra. Ia asyik sekali mengobrol dengan mereka.
Waktu kulihat Andrew, tawaku pun lenyap seketika. Aku tak menyangka ia akan pulang sebegitu awal. Aku hanya berpura-pura tak melihatnya dan meneruskan makan.
"Kau, si Merah, ke ruang kerjaku." Para anak buah hanya memandangiku, dan aku hanya memasang mimik pada mereka. Tak ada pilihan lain bagiku selain mengikutinya.
Aku tak berniat bertengkar dengannya, sebentar lagi aku pergi, aku tak mau nanti dia menyesal.
Selagi aku mengikutinya, datanglah si menyebalkan Amanda, berteriak, "Andrew sayang!"
Ia menghambur ke arah Andrew, bergelayut di lehernya. Kulihat Andrew langsung melepas kedua lengan Amanda dari tubuhnya. Aku memilih keluar dari rumah dan pergi ke sisi lain rumah, tempat para anak buah berlatih.
Untuk sedikit melampiaskan kejengkelanku, kuisi beberapa senjata dan kutembaki piringan-piringan sasaran selama lebih dari setengah jam. Beberapa anak buah hanya memandangiku.
Setelah itu aku pergi dari sana tanpa berkata apa-apa dan menuju pohon tempat aku selalu memanjat. Kata Luis, aku ini seperti monyet, tapi aku sudah tak peduli apa-apa lagi. Dari sana aku bisa melihat siapa saja yang masuk dan keluar rumah.
Karena Amanda datang, kumanfaatkan kesempatan untuk bicara terus terang dengannya dan meluruskan segala urusan dengannya. "Amanda, aku ingin minta tolong satu hal padamu."
"Ya, katakan, sayang."
"Jangan datang lagi ke sini, sudah kubilang. Aku sudah tak mau ada urusan apa pun denganmu, aku tak mencintaimu."
Aku sudah tahu bahwa hal ini bisa terjadi kapan saja. Andrew terlalu tertarik pada gadis kecil itu, cukup kulihat caranya menatap gadis itu. "Dan semua ini gara-gara kau bilang kau menyukai wanita bodoh itu?"
"Aku tak izinkan kau bicara begitu tentang dia."
"Ayo ke ruang kerjaku." Kuajak Amanda menemaniku ke ruang kerjaku. Aku tahu satu cara agar ia benar-benar meninggalkanku dalam damai untuk selamanya. Kalau memang aku menginginkan sesuatu yang serius dengan Alondra. "Duduklah." Kusiapkan selembar cek dalam jumlah besar dan kuserahkan padanya. "Dengan ini kau bisa hidup nyaman untuk waktu yang lama, Amanda, sampai kau menemukan pria lain yang membayari semua kemewahanmu."
Kulihat jumlah yang tertera pada cek yang dibuat Andrew, cukup menguntungkan. Setelah itu aku keluar dari ruang kerjanya. Toh kalau tak kuterima, ia takkan memberiku apa-apa. Setidaknya aku tak pergi dengan tangan hampa, aku membawa sejumlah besar uang. Kalau nanti ia bosan dengan mainannya itu, ia akan datang mencariku lagi. Sudah beberapa kali begitu.
Aku merasa sangat lega melihat Amanda menerima uang yang kuberikan. Aku tadinya berencana memberinya lebih banyak seandainya ia tak menerima.
Selagi aku menuju rumahku, kuputuskan berbelok arah menuju mansion Andrew, untuk menengok Alondra. Sudah beberapa hari aku tak melihatnya. Aku tak peduli kalau Andrew jengkel. Tinggal beberapa bulan lagi dan ia akan pergi untuk selamanya, dan mungkin aku takkan pernah melihatnya lagi.