NovelToon NovelToon
Detektif Hans

Detektif Hans

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: Ashciel

Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Asap Tembakau dan Tagihan Sewa

Hujan gerimis yang mengguyur kawasan Limehouse, East End London, tidak pernah benar-benar terasa menyegarkan. Air yang jatuh dari langit kelabu itu bercampur dengan debu batu bara dari cerobong-cerobong pabrik dan jelaga kapal uap, melapisi kaca jendela berkerak di lantai dua sebuah bangunan kayu tua dengan garis-garis noda kehitaman. Di luar, bau lumpur Sungai Thames yang amis mengendap tebal di udara dingin, menyusup lewat celah-celah kusen kayu yang mulai melapuk.

Di dalam ruangan sempit yang merangkap sebagai kantor dan tempat tinggal itu, Hans Lorte menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu yang berderit nyaring. Jari-jarinya yang agak kasar mengapit sebatang rokok gulung murah. Asap abu-abu pekat keluar perlahan dari bibirnya, membumbung tinggi sebelum terurai di sekitar lampu minyak tanah yang meredup.

Di atas meja kerja yang dipenuhi tumpukan kertas kusam, sebuah koin tembaga diputar dengan satu sentuhan ringan.

Ting... ting... ting...

Koin itu berputar kencang, memantulkan cahaya redup, sebelum akhirnya roboh dan terbaring tepat di atas selembar kertas tebal yang sejak pagi ada di mejanya. Tulisan tangan bertinta hitam di atas kertas itu cukup mencolok meski dibaca hanya sekilas:

Surat Tagihan Sewa - Jatuh Tempo Hari Ini.

Hans tidak mengalihkan pandangannya dari koin tersebut. Tangan kirinya terangkat, meraba anting perak berbentuk bulan sabit yang menggantung di daun telinga kirinya. Gestur kecil itu selalu muncul tiap kali otaknya mulai bekerja terlalu keras mengkalkulasi angka-angka yang tidak pernah cocok. Detak jam saku murah di dalam rompinya terdengar berdetik agak terlalu nyaring, seolah-olah mengetuk batas kesabarannya.

Usianya 24 tahun, dua tahun sejak ia dipecat secara mendadak sebagai juru tulis Angkatan Laut Royal Navy tanpa alasan yang jelas. Tanpa rekomendasi kerja, tanpa keluarga terpandang di London, dan tanpa uang tabungan yang memadai, satu-satunya modal yang menyertainya menyusuri lorong-lorong kelam East End adalah sepasang mata yang terlalu teliti dan otak yang enggan berhenti membedah kejanggalan.

Langkah kaki yang tergesa-gesa mendadak terdengar dari anak tangga kayu di luar. Setiap pijakan menghasilkan derit tajam yang menandakan si pemegang beban memiliki berat badan di atas rata-rata dan sedang berada dalam kondisi panik luar biasa.

Tok. Tok. Tok.

Pintu beratap kaca buram yang memuat tulisan pudar Hans Lorte – Detektif Swasta diketuk secara kasar. Belum sempat Hans mengizinkan masuk, gagang pintunya sudah diputar paksa.

Seorang pria paruh baya menerobos masuk. Napasnya memburu, membawa serta aroma minyak rambut mahal bertabur wewangian lavender yang gagal menutupi bau busuk lumpur pelabuhan yang menempel pada mantelnya. Pria itu memakai mantel bulu tebal yang basah kuyup di bagian bahu, tetapi topinya agak miring dan kancing kedua mantelnya terpasang pada lubang yang salah.

"Apakah Anda Tuan Lorte?" tanya pria itu tanpa basa-basi, matanya yang kemerahan menyapu sekeliling ruangan kusam dengan nada meremehkan yang amat jelas.

Hans tidak langsung berdiri. Dari balik hembusan asap rokoknya yang membumbung, matanya bekerja dengan kecepatan tinggi merekam setiap detail kecil.

Pria ini berusia pertengahan 50 tahun, batin Hans dalam hati. Cincin emas berukir di jari manisnya menandakan dia pedagang berkecukupan. Namun, bagian bawah celana kainnya tersingkap lumpur hitam pekat khas Dermaga 3, jenis lumpur yang hanya ada di tepi surut Sungai Thames saat tengah malam hingga subuh. Kancing mantelnya salah pasang, berarti dia berpakaian dalam kegelapan atau terburu-buru tanpa cermin. Dan bekas serbuk gergaji di lipatan lengannya... dia baru saja membongkar atau merapikan peti kargo kayu.

"Tergantung siapa yang bertanya," jawab Hans tenang. Ia mengapit rokoknya dan mengetukkan abu ke dalam cangkir kaleng kosong di samping meja. "Dan tergantung apakah pertanyaan itu diiringi uang imbalan yang sanggup melunasi sewa ruangan ini."

Pria itu menarik napas panjang, lalu melangkah mendekat dan mencengkeram tepi meja Hans sampai buku-buku jarinya memutih.

"Nama saya Vance. Saya pemilik toko kain dan barang antik di persimpangan Limehouse Cut," ujar pria itu dengan suara tertahan. "Saya membutuhkan jasa Anda sekarang juga sebelum orang-orang bodoh dari kepolisian Scotland Yard turun tangan dan merusak segalanya."

"Toko barang antik," ulang Hans singkat. Ia memutar koin tembaganya sekali lagi di atas surat tagihan sewa. "Apa yang hilang dari toko Anda, Tuan Vance?"

"Sebuah jam saku emas berukir lambang keluarga bangsawan! Barang koleksi yang sangat mahal dan seharusnya dikirim ke pembeli besok pagi!" Vance mengusap dahinya yang berkeringat dengan saputangan berenda yang mulai kotor. "Jam itu ada di dalam brankas besi di ruang belakang toko saya kemarin malam. Dan tadi pagi, saat saya membuka toko, brankas itu sudah kosong!"

Hans tegak di kursi kayunya. Tangan kanannya menjangkau topi pet kusam yang tergeletak di samping tongkat jalan berkepala besi miliknya.

"Apakah ada tanda-tanda pembobolan paksa pada pintu atau jendela toko Anda?" tanya Hans.

"Tidak ada! Dan itulah yang membuat saya gila!" seru Vance histeris, suaranya meninggi hingga memantul di dinding ruangan. "Tapi saya tahu siapa pelakunya. Pasti bocah liar bernama Pip itu! Anak jalanan kotor yang sering berkeliaran di dekat lorong belakang toko saya. Tadi malam saya melihatnya mengintai di dekat sana. Dia pasti mencuri kunci saya saat saya lengah atau mengintip angka kombinasi brankas itu!"

Hans menatap Tuan Vance selama beberapa detik dalam diam. Ia menarik napas dalam-dalam dari rokok gulungnya, membiarkan asap pekat memenuhi paru-parunya sebelum menghembuskannya pelan ke arah Vance.

"Anak jalanan di East End memang ahli mencopet dompet di tengah kerumunan pasar, Tuan Vance," ujar Hans dengan nada datar tanpa emosi. "Namun, mereka jarang memiliki ketenangan mental dan keahlian teknik untuk membuka brankas besi Chubb tanpa merusak selotnya atau meninggalkan bekas congkelan."

Vance menggeram kesal, mendengkus berat. Ia merogoh saku dalam mantelnya dengan kasar dan melempar 4 keping koin perak shilling ke atas meja Hans. Suara denting logam yang nyaring di atas kayu meja seketika membuat atmosfer ruangan yang suram terasa sedikit lebih hidup.

"4 shilling sekarang, dan 8 lagi jika Anda berhasil menemukan jam saku itu sebelum matahari terbenam sore ini!" ancam Vance, menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan mata Hans. "Temukan bocah bernama Pip itu, rebut kembali jam emas saya, dan pastikan dia membusuk di penjara Newgate!"

Hans memungut koin-koin perak itu satu per satu dengan ketelitian yang tenang. Ia memasukkannya ke dalam saku mantel kusamnya, lalu berdiri tegak. Tinggi badannya yang jangkung dan perawakannya yang tegap membuat ruang kerja sempit itu mendadak terasa makin sesak.

"Satu hal lagi sebelum kita berangkat ke toko Anda, Tuan Vance," kata Hans seraya memasang topi pet kusamnya di kepala, membiarkan anting bulan sabit di telinga kirinya berkilat tertimpa cahaya lampu minyak.

"Apa lagi?" dengkus Vance tidak sabar. "Kita buang-buang waktu di sini!"

Hans melangkah mengitari meja kerjanya, berhenti tepat dua langkah di samping Vance. Matanya beralih dari wajah pedagang itu turun menuju ujung sepatu boot kulit mahal milik Vance yang terlapisi lumpur hitam tebal.

"Anda mengatakan baru saja menemukan brankas itu kosong saat membuka toko tadi pagi," Hans memiringkan kepalanya, mengetuk-ngetukkan ujung tongkat jalannya yang berkepala besi ke lantai kayu. Tuk... tuk...

"Tentu saja! Saya langsung berlari ke sini setelahnya!" jawab Vance cepat.

"Kalau begitu, ada satu hal yang tidak cocok," Hans memicingkan matanya tajam, menatap celah di balik lipatan lengan baju Vance. "Jika Anda mendapati brankas itu kosong tadi pagi di toko Anda yang berada di Limehouse Cut, mengapa celana dan sepatu Anda terlapisi lumpur hitam dari Dermaga 3, lokasi yang hanya bisa diakses saat air Sungai Thames surut pada pukul 02.00 pagi?"

Hans melangkah melewatinya menuju pintu keluar, membuka gagang pintu kayu tersebut seraya menghembuskan sisa asap rokok terakhirnya ke koridor.

"Dan yang lebih menarik lagi," lanjut Hans tanpa menoleh, suaranya tenang namun mematikan. "Di bawah kuku jari jempol kanan Anda, masih ada sisa gemuk pelumas hitam yang biasanya digunakan untuk merawat selot engsel bagian dalam brankas besi. Brankas itu tidak pernah dibobol oleh anak jalanan, Tuan Vance... seseorang sengaja membukanya dari dalam dengan kunci asli tengah malam tadi."

Vance mematung. Warna darah seolah terkuras habis dari wajah pedagang itu, menyisakan kulit pucat pasi yang mendadak dibasahi keringat dingin. Tangan kirinya yang gemetar hebat secara refleks bergerak menyembunyikan jempol kanannya ke dalam saku mantel.

Bukan sekadar takut kebohongannya terbongkar, Hans menangkap guratan ketakutan murni yang jauh lebih dalam bersembunyi di balik mata Vance yang membelalak.

Hans melangkah satu tapak lebih dekat. Bayangan tubuhnya yang jangkung menutupi sosok Tuan Vance yang mulai gemetar. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam pupil mata pedagang barang antik itu.

"Pertanyaan sebenarnya bukan apakah jam emas itu dicuri anak jalanan, Tuan Vance," bisik Hans, suaranya pelan namun menusuk seperti mata pisau. "Pertanyaan sebenarnya adalah... siapa sosok berbahaya yang sudah memaksa Anda membuka brankas itu sendiri di tengah kegelapan malam?"

1
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
Ashciel: terimakasih udah mampir :)
total 1 replies
Putry Chan
Hans seorang detektif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!