hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 24
Malam itu juga, Emma langsung menaiki jet pribadi milik Damian bersama Vandes. Ia bahkan tidak sempat memikirkan hal lain selain keadaan suaminya yang kini sedang terbaring tak sadarkan diri.
Sepanjang perjalanan menuju jet, Emma terus menggenggam ponselnya erat-erat. Berkali-kali ia membuka percakapannya dengan Damian, membaca kembali pesan-pesan yang belum mendapatkan balasan.
Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat ucapan Vandes bahwa Damian sudah tiga hari tidak sadarkan diri.
“Vandes, apa Damian benar-benar akan baik-baik saja?” tanyanya lirih. Matanya yang sembap kembali berkaca-kaca.
Vandes yang duduk tidak jauh darinya terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kami sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk Tuan, Nyonya.”
Emma menunduk, meremas ujung bajunya dengan gelisah.
“Aku takut, Vandes,” bisiknya jujur. “Aku takut sesuatu terjadi padanya.”
Vandes tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa menundukkan kepala, menyembunyikan rasa bersalah karena mengetahui betapa parah keadaan Damian sebenarnya.
Tak lama kemudian, jet pribadi itu mulai lepas landas, membelah langit malam yang gelap.
Emma menyandarkan kepalanya di kursi, tetapi ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi bayangan Damian, mulai dari wajah dinginnya, tatapan tajamnya, hingga caranya memperlakukannya selama mereka tinggal bersama.
Tanpa sadar, air mata kembali membasahi pipinya.
“Damian, tunggu aku, ya,” gumamnya sambil menatap jendela. “Aku akan segera datang.”
Ia mengusap air matanya, kemudian memeluk boneka yang dibawanya sejak tadi.
“Setelah aku sampai nanti, kau harus bangun. Aku masih ingin memarahimu karena tidak membalas pesan-pesanku.”
Emma tertawa kecil di sela tangisnya, tetapi tawanya terdengar begitu rapuh.
“Dan ... aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”
Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang kembali mendesak keluar Sesuatu yang baru saja mulai ia pahami tentang hatinya sendiri Sesuatu yang belum sempat ia katakan kepada Damian Malam itu, di dalam jet pribadi yang melaju menembus kegelapan, Emma hanya memiliki satu doa Semoga ia belum terlambat untuk menemui pria yang perlahan-lahan mulai menguasai hatinya.
...----------------...
“ARKKKHHH!”
Teriakan Damian menggema di seluruh ruangan rumah sakit. Tubuhnya menegang di atas ranjang, sementara kedua tangannya mencengkeram seprai dengan kuat. Rasa sakit yang luar biasa kembali menyerang tubuhnya.
Gigi taringnya memanjang, dan urat-urat hitam mulai bermunculan di bawah permukaan kulitnya. Urat-urat itu perlahan menjalar dari sekitar luka menuju bagian tubuh lainnya, seolah-olah racun sedang menyebar di dalam tubuhnya.
“Damian!” pekik Raina panik.
Ia segera menghampiri putranya, tetapi Leonardo buru-buru menahan lengannya agar Raina tidak mendekat terlalu jauh.
“Leonardo, bagaimana keadaan anakku?!” tanya Raina dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca melihat Damian menggeliat kesakitan.
Leonardo menatap putranya dengan rahang mengeras. Ia bisa melihat sendiri bahwa keadaan Damian semakin memburuk. Luka akibat peluru yang mengandung air suci itu bukan hanya menghambat proses pemulihan tubuhnya, tetapi juga terus menyebar dan mengancam nyawanya.
“Efek air sucinya semakin menjalar,” jawab Leonardo dengan nada serius. Ia kemudian menoleh kepada para pelayan yang menunggu di dekat pintu. “Kita pindahkan Damian ke vilanya sekarang juga!”
“Baik, Tuan!” jawab salah seorang pelayan dengan sigap.
“Siapkan kendaraan dan pastikan perjalanan kita aman. Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi!” perintah Leonardo tegas.
Raina kembali menggenggam tangan Damian, berusaha menenangkan putranya yang masih menahan rasa sakit.
“Bertahanlah, Nak. Mami di sini,” bisiknya dengan suara bergetar. “Tolong bertahan sedikit lagi, Damian.”
Namun, Damian hanya mampu mengerang kesakitan. Matanya terbuka sesaat, memperlihatkan warna merah menyala sebelum kembali terpejam.
Melihat kondisi itu, Raina semakin panik.
“Leonardo, kita harus segera menyelamatkannya!” desaknya.
Leonardo mengangguk, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Setelah Vandes selesai menjemput Emma, segera beri tahu dia bahwa kita membawa Damian ke vila,” ucap Leonardo tegas melalui telepon. “Pastikan Emma langsung dibawa ke sana. Jangan biarkan dia pergi ke rumah sakit.”
Leonardo mengakhiri panggilannya, kemudian menatap Damian yang masih terbaring lemah.Dalam hatinya, ia tahu bahwa waktu mereka semakin sedikit.Dan satu-satunya orang yang mungkin bisa menyelamatkan Damian kini sedang dalam perjalanan menuju mereka.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭