Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak terbendung
" Non.. Non Senja.. Udah dong, Non.. Bisa sakit nanti kalau panas-panasan. " teriak mbok Jumi yang shock setengah mati saat melihat Senjana, nona mudanya justru terjun ke sawah untuk membantu suaminya menanam bawang.
" Nggak apa, mbok.. Sekali-sekali kena panas, mbok. Capek kena AC mulu di kota. " Senjana justru tertawa girang mendapati mbok Jumi yang mirip orang kemalingan. Teriak-teriak seperti habis kena jambret.
" Pak.. Pak.. Itu Non Senjanya disuruh naik to, pak. Panas iki lho. Jadi item nanti, kasian kalau item nanti susah cari jodoh lho, pak. " mbok Jumi tak ada hentinya mengomel.
" Santai, mbok.. Senja lagi pengen cari bojo bule. Katanya orang-orang, bule seneng sama yang kulitnya item-item, mbok. Eksotis katanya. " Pak Seno tertawa ngakak mendengar ucapan Senjana.
Mbok Jumi geleng kepala, tak tahan lagi, dia pun gegas turun masuk ke dalam area persawahan untuk mengajak Senjana naik. Kalau tidak terbiasa, kulit bisa gatal-gatal terkena tanah persawahan. Kasian nanti Senjana, kalau suaminya mah bodo amat. Kulitnya sudah ngapal, tidak akan gatal-gatal.
Setelah paksaan mbok Jumi, akhirnya Senjana naik juga. Kasian kalau mbok Jumi kena darah tinggi, kalau dia nekat tidak mau mengikuti mbok Jumi untuk duduk-duduk di saung sembari makan pagi, sembari melihat pak Seno dan beberapa orang yang dia sewa untuk membantu menanam bawang.
Rumah yang ada di desa ini, termasuk persawahan yang sedang digarap pak Seno, semua-muanya adalah milik Senjana. Warisan dari mamanya, yang meninggalkan semua harta milik keluarga Radiyaksa pada putri satu-satunya, Senjana.
Setahun sekali, tiap hari libur panjang Idul Fitri, Senjana akan pulang kampung untuk merayakan lebaran bersama keluarga mbok Jumi dan pak Seno. Meskipun Senjana sendiri nonis, dia tetap merayakan lebaran bersama keluarga ini.
Mbok Jumi dan pak Seno sudah seperti orang tua kedua untuknya. Apalagi mbok Jumi sendiri sudah ikut merawatnya sejak masih bayi. Lalu sepeninggal kedua orang tuanya, hanya dua orang ini yang selalu bersamanya. Padahal Senjana sudah pernah membebaskan mereka untuk mencari majikan baru, tapi keduanya menolak.
Akhirnya, Senjana meminta mereka untuk tinggal di rumah peninggalan mamanya ini dan mengelola kebun serta persawahan yang dulu dibeli mamanya untuk usaha sampingan sembari merawat Senjana yang saat itu tidak bisa ditinggal-tinggal.
" Kenapa mbok? Lihat Senja kok kaya lihat apa aja. Sampe nggak kedip itu matanya. " Senjana terkekeh mendapati mbok Jumi sejak tadi memandanginya terus.
" Non kurusan. " komentarnya.
" Maklumlah mbok, kerja ikut korporat. "
" Mana ada.. Mbok tahu kalau keluarganya bos Non Senja itu baik sama Non. "
Senjana tersenyum kecut, " Iya ya, mbok. Mereka baik banget sama Senja, padahal Senja ini orang luar. "
" Trus, saking baiknya mereka, sekarang Senja jadi merasa sangat amat bersalah. "
Alis mbok Jumi berkerut, " Bersalah? Emangnya Non bikin salah gitu? Terus karena salah, Non jadi disuruh libur? " Senjana tertawa akan kepolosan si mbok.
" Dia kembali, mbok.. " Senjana tatap wajah tua di sebelahnya itu. Sesuai dugaannya, si mbok akan langsung bereaksi berlebihan.
" Dia... Dia... Non.. Non nggak papa? Kepalanya sakit nggak? Atau dadanya sesak? " sembari mengatakan hal ini, kedua tangan mbok Jumi meraba semua anggota tubuh Senjana terutama kepala dan dada.
" Non.. Mendingan nggak usah balik ke sana, Non. Kalau Non Senja kenapa-napa, di sana kan sendiri. Atau mbok sama bapak ke sana aja, temenin Non. Ya.. gitu aja ya, Non.. " Mbok Jumi kelihatan panik sekali.
Senjana tatap sosok yang selama beberapa tahun ini menjadi sandarannya hidupnya. Lalu Senjana peluk tubuh yang tak lagi muda itu dengan sayang.
" Senjana nggak apa, mbok. Senjana kuat kok. Hanya saja Senjana butuh waktu menepi sebentar. Senjana butuh waktu mempersiapkan diri untuk menghadapi Dia, seolah tidak ada yang pernah terjadi. " ujar Senjana, mencoba menenangkan mbok Jumi sekaligus menguatkan dirinya.
" Dia sekarang tunangan Miyara, mbok. Adiknya Pak Angkara. Nggak mungkin kan Senjana terus-terusan bersikap kaku di depan mereka. Makanya Senjana ke sini, Senjana butuh waktu untuk membuat hati Senjana kuat.. "
Tubuh mbok Jumi sudah bergetar pelan. Bisa terdengar isakan tangisnya meski sangat lirih. Senjana mengerti ketakutan mbok Jumi, karena wanita tua ini adalah saksi hidup betapa hancurnya seorang Senjana saat itu.
Senjana hanya berharap, bahwa setelah menghindar sejenak dari orang-orang itu, Senjana akan memiliki kekuatan untuk tetap tegar dan terlihat baik-baik saja, meski hatinya hancur berkeping-keping.
' Nggak papa.. Anggap aja ini harga yang harus aku bayar sebagai ganti kesalahan papa. Asalkan dia bahagia, aku bisa menanggung semuanya. ' batin Senjana berusaha untuk yakin.
********
Menghilangnya Senjana setelah pertemuan pertama mereka selama bertahun-tahun, berhasil menghancurkan semua tembok yang Santana bangun selama ini. Hatinya goyah, ketenangannya terusik, kepalanya berisik, bertanya-tanya tentang kepergian Senjana.
Dia yang selama bertahun-tahun ini menutup semua akses informasi tentang Senjana, langsung kelabakan ingin mencari semua informasi tentang satu-satunya yang mengisi hati dan pikirannya itu. Semuanya terasa janggal untuk Santana yang berpikir jika selama ini Senjana baik-baik saja.
Kenyataan Senjana yang langsung menghilang setelah bertemu dengannya, kenyataan Senjana yang menjadi sekretaris kakak tunangannya padahal dia sendiri memiliki perusahaan besar bertaraf internasional. Lalu yang paling gong yang bisa membuat Santana tak lagi bisa menahan dirinya untuk mencari tahu tentang Senjana adalah informasi yang diberikan oleh Welly semalam.
" Rumah besar itu sudah bukan lagi milik keluarga Senjana. Gue juga nggak dapat satu pun info tentang keluarga itu kecuali Anggoro Radiyaksa yang meninggal dalam kecelakaan tak lama setelah lo berangkat ke Italy. " ucap Welly semalam.
Santana merasa perlu mencari sesuatu sekaligus meluruskan sesuatu, dan yang harus dia temui untuk dua urusan itu adalah Angkara Antasena. Maka, disinilah dia sekarang, di dalam ruangan CEO LIQUOR GROUP.
" Ada kepentingan apa, San? Tentang kerjasama kita? " Angkara menyajikan secangkir kopi untuk Santana. Hal yang akhir-akhir ini dia lakukan sendiri, menyeduh kopi. Tanpa Senjana, semua rasa kopi jadi tidak enak.
" Kerjasama nggak ada masalah, mas. Hanya ingin membicarakan sesuatu yang penting. " jawab Santana nampak sekali tegang.
Angkara mengangguk, lalu mengambil duduk di sofa yang berseberangan dengan Santana. Sepertinya dia tahu apa yang akan dibicarakan pria yang begitu dicintai adiknya itu.
" Oke.. Saya kebetulan juga lagi longgar. Kamu bisa langsung aja mau ngomong soal apa. " Santana mengangguk.
Sebelum pembicaraan dimulai, Santana lebih dulu meminum kopi buatan Angkara untuk menetralkan debaran jantungnya yang sejak masuk ruangan ini tiba-tiba saja menjadi tidak karuan. Santana bukan takut, hanya saja mengatakan semua ini jelas akan menyakiti Angkara, tapi sebagai seseorang yang tahu dan sempat menentang lalu keduanya juga sama-sama seorang pria, Santana menaruh harapan besar jika saja Angkara mau memahami dirinya.
" Saya ingin membatalkan pertunangan dengan Yara, mas. "
DUARRRRRRRRRR