NovelToon NovelToon
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.

Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.

Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.

Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memulai Kembali

#23

Beberapa hari berlalu, semakin hari Dina merasa kondisi kesehatannya semakin membaik seiring waktu. Selain makanan bergizi, serta afirmasi positif setiap hari, Dina terus bersemangat hidup sehat agar Ghazi yang masih meminum ASIP darinya tetap sehat. 

Ngomong-ngomong soal ASI, Setiap kali stok ASI nya banyak, Dina mengirimkannya pada Ghazi melalui jasa titipan kilat khusus makanan beku. Jadi, ASIP tiba di tempatnya dengan aman, masih dalam kondisi beku. Tentu saja yang membayar jasa titipan kilatnya adalah Azam. 

Azam dan keluarganya juga memberikan feedback melimpah untuk Dina dan keluarganya. Kadang berupa sayuran organik hasil tanam perkebunan mereka, kadang juga berupa makanan beku hasil produksi di catering milik Bunda Hilda. Apa saja mereka berikan berupa barang, jasa, serta makanan, asal tidak berupa uang. Karena Dina akan menolaknya mentah-mentah. 

Pagi ini, setelah olahraga ringan dan sarapan, Dina mengikuti Pak Hermanto menuju sebuah tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya, tempat itu adalah perkebunan buah-buahan milik mereka. 

Kebun itu sudah lama terbengkalai sejak Pak Hermanto memutuskan berhenti dari bisnis yang dulu sukses digelutinya. Alasannya karena modal terakhir mereka sudah terpakai untuk menyokong Permana Group. Plus Pak Hermanto merasa sudah semakin tua, serta Dina akan ikut suaminya, jadi rasanya tak mungkin bila bisnis tersebut diwariskan pada Dina. 

Karena Dina pasti fokus mengurus keluarga barunya.

Pada awalnya itulah pertimbangan Pak Hermanto, tapi seiring berjalannya waktu, ternyata Farhan dan keluarganya justru menzalimi mereka, Farhan memilih menjalankan wasiat almarhum kakaknya, tanpa memikirkan perasaan istrinya. 

Kini, tak ada pilihan lain selain kembali menghidupkan lahan perkebunan mereka yang sekian lama terbengkalai. Dina sampai pangling melihat kondisi perkebunan tersebut, karena kini tempat tersebut ditumbuhi rumput liar hampir di semua titik. 

Beberapa pohon buah masih tumbuh, tapi tak lagi produktif menghasilkan buah-buahan, karena kondisinya yang sudah tak terawat, dan tanaman liar mulai merambat di sekitar dahan pohon. 

“Masih ingat tempat ini?” tanya Pak Hermanto saat mereka berjalan menghampiri perkebunan. 

“Ingat, Pa. Tapi—” kata Dina sedikit ragu. 

“Tempatnya tidak terawat?” sela Pak Hermanto. 

“Iya, Pa.” 

Pak Hermanto tersenyum tipis. “Karena Papa sudah lama tidak kemari,” sahut Pak Hermanto. 

“Jika Papa berniat pensiun, kenapa Papa tak sekalian menjual tempat ini?” selidik Dina. 

“Hampir. Dulu hampir mau Papa jual, tapi entah kenapa, Papa selalu lupa mengiklankannya, justru sengaja ditunda, karena masih merasa sayang jika dijual.” Pak Hermanto mengayunkan sabit di tangannya, guna menyingkirkan rumput liar yang menghalangi jalan mereka. 

“Lagipula, Papa tak sanggup menjual tempat yang punya banyak jasa menopang hidup keluarga kita, serta banyak keluarga para buruh yang bergantung dari tempat ini.” 

Dina mengangguk, ia memahami arah pembicaraan Pak Hermanto. Rupanya tanah perkebunan ini bukan sekedar tanah yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah, melainkan tempat yang menjadi saksi serta bagian dari perjalanan hidup keluarga mereka. 

“Kalau begitu...” Dina diam, karena merasa sedikit ragu, tapi ia kembali menatap lahan di sekitarnya. “Bagaimana kalau kita hidupkan lagi?”

Pak Hermanto menoleh kaget, “Apa, Nak?”

“Aku ingin mengelola kebun ini,” kata Dina dengan yakin. 

Pak Hermanto masih terdiam hingga beberapa saat kemudian, “Kamu serius?”

“Serius, Pa.” 

Ada keseriusan, serta tatapan penuh semangat di wajah Dina. 

“Kebun ini sudah lama tidak beroperasi dengan baik, banyak yang harus diperbaiki. Belum lagi modal, tenaga kerja, pemasaran, dan berbagai hal lainnya,” kata Pak Hermanto memberitahukan hal apa saja yang harus Diperhatikan Dina bila ingin memulai kembali. 

“Aku tahu, Pa.” 

“Kamu juga belum pernah benar-benar mengelola perkebunan.”

“Aku bisa belajar.”

Jawaban Dina begitu sederhana, namun, justru itu yang membuat Pak Hermanto terdiam penuh kekaguman. Beberapa minggu terakhir ini, Dina berubah dari wanita yang kehilangan semangat hidup, pelan-pelan berubah menjadi ibu yang bersemangat. Karena jauh disana, ada yang menantikan ASIP darinya. 

Kini Pak Hermanto kembali menemukan semangat yang lain, dalam diri Dina. Semangat untuk bangkit dan memulai kembali usaha milik keluarga mereka yang sempat terhenti. 

“Tapi, kenapa ingin mengurus kebun ini?” tanya Pak Hermanto. “Tidakkah kamu ingin bekerja di kantor yang nyaman dan ber AC?” 

Dina menarik napas panjang. “Karena aku ingin menghasilkan karya, Pa. Diantaranya dengan cara menciptakan lapangan kerja untuk sesama.” 

Dina menatap wajah Pak Hermanto dengan tatapan berseri-seri. “Dan aku ingin mulai dari sini, dari tempat ini.”

Pak Hermanto tidak langsung menjawab, meski senang mendengar tekad Dina, namun, masih tersimpan sedikit keraguan di hatinya. 

Dina kembali berjalan lebih jauh  memasuki lahan, langkahnya perlahan, tetapi mantap penuh keyakinan. Wanita itu berhenti di depan salah satu pohon yang masih tampak sehat meskipun tidak dirawat. Tangannya menyentuh batang pohon tersebut. “Pohon ini masih hidup?” 

“Masih,” jawab Pak Hermanto.

“Padahal sudah lama tidak dirawat, kan?” sambung Dina. 

“Beberapa pohon memang cukup kuat untuk bertahan tanpa perawatan.”

Dina tersenyum kecil, “Jika pohon ini bisa bicara, ia pasti akan menyampaikan bahwa kebun ini juga masih punya kesempatan untuk dihidupkan kembali.” 

Pak Hermanto menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca, dulu ia khawatir Dina tak sanggup merawat perkebunan, tapi ternyata ia salah. Dina punya kemampuan dan semangat itu. Tugas Pak Hermanto kini hanya memberikan dukungan serta ilmu berharga yang dimilikinya selama ini. 

“Kalau kamu benar-benar ingin melakukannya, Papa akan mendukung,” ujar Pak Hermanto yakin. 

Dina menoleh. “Benarkah?” tanya memastikan. 

“Kenapa tidak?”

“Aku mungkin akan banyak bertanya, Pa.” 

“Silahkan, justru Papa akan lebih senang lagi memberikan jawabannya.” 

“Aku juga mungkin akan melakukan kesalahan.” Dina masih ingin menguji keyakinan Pak Hermanto. 

“Wajar, justru orang yang nggak pernah salah, adalah yang tidak wajar.” 

“Bahkan mungkin awalnya tidak menghasilkan apa-apa.”

Pak Hermanto tersenyum lagi. “Namanya juga memulai dari awal. Jadi kita harus lebih sabar menunggu sampai perkebunan ini siap memberikan hasil maksimal.” 

“Kalau begitu, aku akan mulai dari pertanyaan pertama. Apa yang akan kita lakukan sebagai langkah awal?” 

“Mendata semuanya, tanaman yang masih layak dipertahankan, dan rencana ingin menanam pohon apa di tempat ini, tapi sebelum itu semua dimulai, kita awali dengan membersihkan rumput liar, serta menggemburkan lahan,” jawab Pak Hermanto. 

Mereka pun berjalan menyusuri perkebunan, Pak Hermanto menandai satu-persatu pohon yang masih layak dipertahankan, dan Dina yang bertugas mencatatnya di ponsel, karena ia tak membawa alat tulis. Tak lupa Dina bertanya apa alasannya, sekalian belajar, karena ia tak punya basic sekolah pertanian, tidak seperti Pak Hermanto. 

Pak Hermanto juga mengajak Dina memperhatikan kondisi tanah, saluran air, gudang penyimpanan, hingga pagar pembatas yang mulai rusak.

Semakin lama Dina berada di sana, semakin banyak hal yang disadarinya, bahwa pekerjaan ini tidak akan mudah. Bahkan mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum kebun tersebut kembali menghasilkan sesuatu.

Anehnya, Dina tidak merasa takut, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikirannya dipenuhi sesuatu selain kesedihan. Yaitu mulai memikirkan masa depan, bukan masa lalu.

Saat mereka beristirahat di bawah pohon, Dina kembali bertanya, “Pa, bagaimana cara membersihkan tempat ini dari rumput liar?” 

“Itu soal mudah. Papa akan menghubungi orang-orang yang dulu bekerja di tempat ini, sebagian mungkin masih bersedia bila Papa mengajak mereka bergabung.” 

“Wah, ide bagus, tuh, Pa.” 

•••

Keesokan harinya, Pak Hermanto benar-benar menepati perkataannya.

Pria itu mulai menghubungi beberapa orang yang dahulu bekerja di perkebunan tersebut, tidak semuanya masih tinggal di sekitar sana, sebagian sudah pindah, sebagian lainnya memilih pekerjaan berbeda setelah perkebunan itu berhenti beroperasi.

Tapi ternyata masih ada beberapa orang yang langsung menyambut baik ketika mendengar kabar bahwa perkebunan milik Pak Hermanto akan kembali dibuka.

Menjelang siang, beberapa orang langsung datang ke gudang kosong yang ada di perkebunan. Dina yang hari ini ikut ke perkebunan lagi, langsung menoleh saat mendengar ada suara beberapa motor berhenti di depan gudang. “Pa, itu siapa?” tanyanya. 

“Mereka mungkin orang-orang lama yang Papa hubungi barusan.” Pak Hermanto bangkit dari tempat duduknya.

“Secepat ini mereka datang, Pa?” Dina pun mengikutinya.

“Mereka para pekerja yang sangat loyal, dan menemukan pegawai yang loyal itu sangat sulit, kamu harus bisa menjadi pemimpin yang bisa dipercaya dan diandalkan oleh mereka.” 

Dina kembali mengingat dengan baik perkataan Pak Hermanto. 

Di depan gudang sudah berdiri beberapa orang dengan usia yang beragam. Ada yang masih cukup muda, mereka adalah anak atau menantu para pekerja senior. Dan ada pula yang rambutnya sudah dipenuhi uban, nah, mereka ini adalah orang yang sejak muda ikut bekerja di perkebunan ini. 

Begitu melihat Pak Hermanto, salah seorang pria langsung tersenyum lebar.

“Pak Hermanto, waduh gimana kabarnya?”.

“Alhamdulillah, Pak Darto. Masih diberi kesehatan oleh Allah.” Keduanya berjabat tangan hangat. 

“Benar-benar jadi dibuka lagi, Pak?” tanya Pak Darto.

Pak Hermanto mengangguk. “Insya Allah, Pak.”

Pak Darto terlihat begitu gembira. “Wah, saya kira kebun ini sudah tidak akan dibuka lagi.”

“Insya Allah akan dibuka lagi, Pak. Tapi kali ini Dina ikut bergabung, dia ingin belajar mengelola kebun.” 

“Wah, Dina yang dulu kecil suka Bapak gendong?” 

“Iya, Pak. Dina yang itu.” 

Mereka semua tertawa hangat, sambil membahas rencana awal untuk membersihkan kebun esok hari. 

1
Shee_👚
liat perkebunan sekalian liat pujaan hati ya zam, sambil berenang minum air🤭
Shee_👚
intinya azzam gak mau di panggil nama doang, harus ada embel - embelnya. gitu kan ya zam🤣
Ma Em
Ayo Zam jgn malu dan ragu2 segera bilang bahwa Azam suka sama Dina jgn ditunggu lama lama nanti Dina nya di serobot orang .
Shee_👚
cie cie azzam mulai nyaman sama panggilan mas😂
vania larasati
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
astaga, bacanya sampai ikut ikutan gelo, senyum senyum sendiri 🤣🤣🤣🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hahaha.... iya🤣🤭
total 2 replies
Nar Sih
blm puas chat dgn dina ,eh..bpk nya wa ,lebih baik dtg lansung azam ke kebun dina biar tau dan jls
🌷Vnyjkb🌷
cieee cieee,, basabasi pakkk??? calon mantu tuuu🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
🤣🤣🤣🤣abg tua pasangan masdud dan mbakjan
Bunda Idza
😂😂😂😂😂😂😂😂😂 begitulah Dud Jan yang punya something
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
dyah EkaPratiwi
benar kata bunda zam
Sh
Mas Azam atau Mas Antam😂😂😂
Sh: aku ga usah banyak banyak, 9 kg qja😂😂
total 4 replies
Shee_👚
ternyata dina gak sadar🤣🤣
Shee_👚
itu baru dipanggil mas, coba kalau di panggil sayanggggg apa gak kelojotan itu jantung🤭
Shee_👚
bagus sha terus ingetin apa yang azzam lakukan😂
Shee_👚
nah itu baru nunggi balasan, ampe gelisah begitu, apa lagi nunggu balas perasaan🤣
Shee_👚
terserah mau ngomong apa, tanya aja di peres belum asi, apa mau bantu peresin🤣
Nar Sih
plong kan azam hti mu udah dibls tuh wa nya jdi senyum,,kan ,dobel up lgi kak moon🙏🥰
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!