DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Proyek Kelompok Musuh Bersama
Suasana kelas 12 IPS 2 mendadak bising saat Bu Ambar, guru Sosiologi, mengumumkan tugas proyek kelompok analisis fenomena sosial. Masing-masing kelompok diwajibkan berisi empat orang, dan penentuannya dibebaskan kepada para siswa.
Dalam hitungan detik, ruang kelas berubah menjadi ajang rebutan teman kelompok. Aira, yang biasanya menyendiri dan tidak memiliki banyak kawan dekat, hanya bisa duduk diam di bangkunya, menunggu sisa kelompok yang sudi menampungnya.
Di barisan belakang, Caren—yang masih menyimpan dendam kesumat pada Vino dan Aira—tersenyum sinis. Ia sengaja mengandeng dua teman gengnya dan melangkah menghampiri meja Aira.
"Bu Ambar!" seru Caren dengan suara sengaja dikencangkan agar terdengar ke seluruh ruangan. "Kelompok kita kekurangan satu orang nih. Gimana kalau Aira masuk kelompok kita aja? Kasihan tuh kayaknya gak ada yang mau ngajak."
Aira mendongak kaget, matanya membelalak panik. Bertemu Caren di koridor saja sudah menjadi teror tersendiri, apalagi jika harus berada di kelompok yang sama.
"Gak usah sok baik lu, Ren."
Suara berat dan dingin yang sangat familiar mendadak memotong suasana bising kelas. Vino, yang sejak tadi menyandarkan punggungnya di sudut belakang sambil bermain ponsel, berdiri tegak. Langkah kakinya yang tenang namun mengintimidasi langsung menghampiri meja Aira.
Caren menoleh kasar dengan wajah menyengit. "Lho, Vin? Ini kan urusan kelompok cewek. Kamu gak usah ikut campur—"
"Aira udah sekelompok sama gue," potong Vino mutlak, menyilangkan tangan di dada seraya menatap Caren tajam tanpa kedip. "Tugas ini butuh ketenangan, bukan drama gak guna dari geng lu."
Bu Ambar yang melihat ketegangan itu menepuk tangannya keras-keras. "Sudah-sudah! Vino, kamu memangnya sudah punya anggota kelompok?"
"Sudah, Bu," sahut Vino santai tanpa beban. "Saya, Aira, sama dua anak di depan ini." Vino menunjuk dua kawan sekelasnya asal-asalan, yang langsung mengangguk patuh ketakutan karena tidak berani membantah ucapan sang pangeran sekolah.
Caren menghentakkan kakinya kesal, memutar badan dan berlalu pergi dengan muka merah padam. Sementara Aira bernapas lega, walau dadanya kini berdebar keras melihat Vino yang mendadak menggeser kursi di depannya dan duduk menghadap Aira.
"Kenapa lu melamun?" tegur Vino galak, memajukan wajahnya sedikit. "Kerja kelompoknya di rumah gue. Nanti sore sepulang sekolah, lu gak usah keluyuran ke mana-mana. Paham?"
"Ta—tapi Vin, apa gak repot kalau kerjanya di rumah Pradipta?" bisik Aira ragu, teringat bisikan Darel kemarin tentang Vino yang memanfaatkan situasi demi gengsi.
Vino menyipitkan matanya, merasa ada dinding keraguan dalam tatapan Aira. "Siapa yang repot? Rumah-rumah gue. Lu tinggal duduk manis, ngetik materi, gak usah banyak protes!"
Sore harinya di meja belajar besar di ruang perpustakaan pribadi kediaman Pradipta, suasana kerja kelompok berlangsung canggung. Dua teman sekelas mereka sibuk mencatat, sementara Aira sibuk mengetik draf laporan di laptopnya.
Vino sendiri sejak tadi terkesan sok sibuk dan menyuruh-nyuruh.
"Aira, ambilkan pulpen merah gue di meja sebelah." "Aira, baca ulang paragraf dua, ketikan lu ada yang typo." "Aira, buka jendela, pengap banget ruangan ini."
Dua teman sekelas mereka hanya bisa saling pandang, mengutak-atik pulpen dengan canggung melihat bagaimana Vino mempekerjakan Aira bagaikan asisten pribadinya.
Namun, di tengah-tengah rentetan perintah ketus itu, sebuah ketukan pintu terdengar. Bibi masuk membawa nampan besar berisi empat piring martabak manis keju-cokelat yang masih hangat dan jus stroberi dingin.
"Ini Mas Vino, camilannya udah siap," kata Bibi ramah.
Salah satu teman sekelas Vino terbelalak gembira. "Wah, makasih banyak ya, Mas Vino! Perhatian banget nyediain martabak mahal gini!"
Vino berdeham keras, mengalihkan pandangan ke layar laptopnya. "Gak usah kepedean. Gue beliin martabak itu cuma karena Aira lelet kalau lagi kelaparan. Bikin kerjaan gue ketumpuk aja."
Aira yang sedang mengetik mendadak menghentikan jemarinya. Ia menatap piring martabak di samping laptopnya—porsi keju ekstra, persis seperti martabak kesukaannya yang pernah ia sebutkan secara tak sengaja pada Bibi minggu lalu.
Aira menoleh pelan ke arah Vino. Cowok itu pura-pura sibuk membaca buku, tetapi ujung telinganya tampak kemerahan.
Dia inget... dia sengaja beliin ini buat aku? batin Aira, rasa hangat yang sempat pudar oleh bisikan Darel perlahan-lahan kembali menyelimuti dadanya.
Di luar pintu perpustakaan yang sedikit terbuka, Darel berdiri membisu di dalam kegelapan lorong.
Mata Darel menatap lurus pada piring martabak dan tatapan lembut Aira yang tertuju pada Vino. Ketenangan yang biasanya terpatri di wajah Darel retak sepenuhnya. Manipulasi yang ia tanamkan kemarin rupanya belum cukup kuat untuk memadamkan keterikatan di antara dua orang itu.
Darel menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin seraya menggenggam erat gagang pintunya sendiri dari jauh.
Kalian pikir kerja kelompok ini bakal berjalan mulus? desis batin Darel pekat.