NovelToon NovelToon
Kembali Menemukan Cinta

Kembali Menemukan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: bammoon

**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**

Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.

Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.

Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.

"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hikari Hilang!!

Ke tiga orang itu mengajak hikari ke belakang sekolah yang tidak banyak orang tau mereka hanya berbisik-bisik sedang kan hikari hanya melihat ke tiga orang dari belakang mereka hanya berbisik-bisik.

Hikari tidak terlalu banyak bertanya dia hanya mengikuti ketiga orang itu, karna dia hanya ingin mendengar tentang keiran jadi, dia tidak mempertanyakan banyak hal.

Setelah sampai di tempat tujuan, hikari heran kenapa mereka mengajak nya di sebuah gudang lama, hikari berpikir mungkin kalo membicarakan sesuatu tentang keiran akan ada yang marah atau apapun itu, itu pikir hikari.

"Ayo, masuk."

Salah satu dari ketiga gadis itu membuka pintu gudang tua yang berada di belakang sekolah. Hikari yang sejak tadi mengikuti mereka berhenti sejenak, memperhatikan bangunan yang terlihat sudah lama tidak digunakan.

Dia sedikit heran mengapa mereka harus membicarakan Keiran di tempat seperti ini. Namun, karena ketiganya mengatakan ada sesuatu yang ingin mereka ceritakan, Hikari akhirnya melangkah masuk.

Aroma debu langsung tercium begitu dia berada di dalam. Beberapa meja dan kursi tua terlihat bertumpuk di sudut ruangan, sementara kardus-kardus lama dibiarkan berserakan di lantai.

Hikari memperhatikan sekeliling dengan sedikit bingung.

Tempat itu benar-benar sepi. Bahkan suara keramaian siswa yang sedang menikmati waktu istirahat hampir tidak terdengar.

Ketiga gadis tersebut berjalan lebih jauh ke dalam ruangan. Mereka saling berbisik sebelum salah satunya berbalik dan memperhatikan Hikari.

"Jadi, kalian mau cerita apa tentang Keiran?" tanya Hikari.

Tidak ada jawaban.

Gadis berambut panjang yang sejak tadi memimpin mereka justru tersenyum sinis. Salah satu temannya kemudian menutup pintu gudang, membuat Hikari spontan menoleh ketika mendengar suara pintu tersebut.

Perasaan tidak nyaman mulai muncul.

"Lo tuh sebenarnya siapa, sih?"

Hikari kembali menoleh ke arah gadis yang baru saja berbicara.

"Maksud kamu?"

Gadis itu mendengus sambil melipat kedua tangannya.

"Baru beberapa hari sekolah di sini, tapi nama lo udah ada di mana-mana. Hikari ini, Hikari itu. Muak banget gue dengernya."

Hikari terdiam.

Dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar perkataan seperti itu.

Salah satu gadis lainnya ikut mendekat. Tatapannya memperhatikan Hikari dari atas sampai bawah, kemudian tertawa mengejek.

"Mentang-mentang cantik, langsung jadi pusat perhatian."

Hikari mengerutkan kening.

"Aku enggak pernah—"

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, sebuah dorongan tiba-tiba mengenai bahunya.

Tubuh Hikari terdorong ke belakang hingga hampir membentur meja tua.

Dia langsung menatap gadis tersebut dengan terkejut.

"Kenapa kamu dorong aku?"

Bukannya menjawab, gadis itu justru kembali mendekat.

"Masih berani nanya?"

Dorongan kedua membuat Hikari kehilangan keseimbangan. Dia berusaha mempertahankan tubuhnya, tetapi salah satu kakinya tersandung kaki kursi yang berada di belakangnya.

Hikari akhirnya terjatuh terduduk.

Ketiganya langsung tertawa.

Tidak ada satu pun yang berusaha membantunya berdiri.

Hikari menatap mereka dengan perasaan campur aduk. Dia bahkan belum mengenal nama ketiganya, tetapi mereka sudah memperlakukannya seperti seseorang yang sangat mereka benci.

"Aku enggak pernah ganggu kalian," ucap Hikari pelan.

Perkataan itu justru membuat gadis berambut panjang semakin kesal.

"Justru itu yang bikin gue muak. Lo enggak ngapa-ngapain, tapi semua orang ngomongin lo!"

Dia melangkah mendekat, sementara Hikari perlahan bangkit dari lantai.

"Di kelas gue, di kantin, bahkan di lorong, nama lo terus yang disebut. Anak baru cantiklah, blasteranlah, deket sama Keiranlah. Emang lo pikir sekolah ini cuma tentang lo?"

Hikari tidak menjawab.

Sekarang dia mulai memahami alasan mereka membawanya ke tempat tersebut.

Mereka membencinya karena dirinya menjadi bahan pembicaraan.

Sesuatu yang bahkan tidak pernah Hikari inginkan.

"Aku enggak pernah minta mereka ngomongin aku."

"DIEM!"

Bentakan keras itu membuat Hikari tersentak.

Gadis berambut panjang tersebut tiba-tiba mendorong Hikari hingga punggungnya membentur sebuah kursi.

Hikari meringis dan berusaha menjauh, tetapi kedua gadis lainnya sudah bergerak menghalangi jalan.

Saat itulah Hikari benar-benar menyadari bahwa dia sedang berada dalam bahaya.

Dia segera berbalik menuju pintu, tetapi salah satu dari mereka menarik rambutnya dan memaksanya kembali ke tengah ruangan.

"Lepasin! Aku mau balik ke kelas!"

Hikari mengangkat kedua tanganya untuk mengurangi rasa sakit di rambut nya.

Tidak ada yang mendengarkan.

Hikari berusaha melepaskan diri, tetapi ketiganya terus mendesaknya. Dalam kekacauan tersebut, dia dipaksa duduk di sebuah kursi tua.

Hikari semakin panik ketika menyadari mereka berniat menahannya di sana.

"Jangan! Tolong, aku enggak mau!"

Permohonannya tidak dihiraukan.

Ketiganya menahan Hikari di kursi tersebut dan mengikatnya agar tidak bisa langsung berdiri atau pergi. Hikari terus berusaha melepaskan diri, tetapi usahanya tidak berhasil.

Napasnya mulai memburu.

Matanya berkaca-kaca ketika menyadari bahwa mereka benar-benar tidak sedang bercanda.

"Kenapa kalian kayak gini sama aku?"

Suaranya bergetar.

Namun, ketiga gadis itu hanya memperhatikannya tanpa sedikit pun menunjukkan penyesalan.

Salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel dan mulai merekam.

Hikari spontan menundukkan wajah.

"Jangan direkam, tolong..."

Gadis tersebut justru tertawa.

"Katanya terkenal. Kok sekarang malu?"

Hikari berusaha memalingkan wajah dari kamera.

Rasa takut dan malu bercampur menjadi satu. Dia membayangkan bagaimana jika rekaman tersebut disebarkan kepada siswa lain. Bagaimana jika semua orang melihatnya dalam keadaan seperti ini?

Gadis berambut panjang itu kemudian mendekati kursi Hikari.

"Lo tahu enggak? Gue paling benci lihat orang yang sok polos kayak lo."

Hikari hanya menggeleng.

Air matanya mulai jatuh.

Dia tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat merebut perhatian siapa pun.

Tiba-tiba kursi yang didudukinya digeser dengan kasar.

Hikari tersentak.

Sebelum dia sempat memahami apa yang terjadi, salah satu gadis mendorong kursi tersebut hingga kehilangan keseimbangan.

Kursi itu terjatuh ke samping bersama Hikari.

Suara benturan memenuhi gudang.

Untuk beberapa saat, Hikari hanya terdiam karena terkejut. Dia merasa kesakitan dan ketakutan, sementara ketiga gadis itu justru tertawa melihat keadaannya.

"Astaga, lihat mukanya!"

Hikari berusaha menggerakkan tubuhnya, tetapi posisinya yang masih terikat membuatnya kesulitan.

"Tolong... lepasin aku."

Tidak ada jawaban.

Air matanya terus mengalir.

Dia tidak lagi memikirkan Keiran, rumor sekolah, atau alasan ketiga gadis tersebut membencinya.

Saat itu Hikari hanya ingin keluar dari tempat tersebut.

Dia ingin kembali ke kelas, duduk bersama Neta, dan menjalani sisa hari sekolah seperti biasanya.

Namun, ketiga gadis itu belum juga menunjukkan keinginan untuk melepaskannya.

Salah satu dari mereka mendekat sambil membawa botol minuman.

Tanpa mengatakan apa-apa, dia menuangkan air ke arah Hikari.

Hikari tersentak ketika air membasahi rambut dan sebagian seragamnya.

Tawa kembali terdengar.

Gadis yang merekam bahkan mendekatkan ponselnya untuk mendapatkan gambar yang lebih jelas.

Hikari langsung memalingkan wajah.

"Cukup... aku mohon."

Kali ini suaranya hampir tidak terdengar.

Namun, permintaan tersebut tidak membuat mereka berhenti mengejek.

Beberapa menit kemudian, suara bel masuk terdengar samar dari kejauhan.

Ketiga gadis itu saling berpandangan.

"Udah, yuk. Nanti telat."

Salah satu dari mereka memasukkan ponselnya ke dalam saku.

Namun, sebelum meninggalkan gudang, salah satu gadis tiba-tiba mengambil sehelai kain yang berada di antara barang-barang lama.

Dia kemudian berjalan mendekati Hikari yang masih terikat pada kursi yang terjatuh di lantai.

Hikari yang melihatnya langsung merasa takut.

"Kalian mau ngapain lagi?"

Namun, gadis itu tidak menjawab.

Dia berjongkok di dekat Hikari, kemudian menutup kedua mata Hikari menggunakan kain tersebut, membuat pandangannya seketika menjadi gelap.

Hikari langsung panik.

"Jangan! Tolong, jangan tutup mata aku!"

Dia berusaha menggerakkan kepalanya, tetapi gadis tersebut tidak menghiraukan permohonannya.

Ketiganya justru tertawa melihat Hikari yang semakin ketakutan.

Kini Hikari tidak bisa melihat apa pun. Dia hanya bisa mendengar suara langkah kaki dan tawa ketiga gadis tersebut di sekelilingnya.

Air matanya kembali mengalir, membasahi kain yang menutupi matanya.

Gadis berambut panjang itu memperhatikan Hikari untuk terakhir kalinya.

"Mulai sekarang jangan sok jadi pusat perhatian lagi."

Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan berjalan menuju pintu bersama kedua temannya.

Hikari langsung mengangkat wajah.

"Tunggu! Tolong lepasin aku!"

Namun, ketiganya terus berjalan.

Pintu gudang dibuka, kemudian ditutup kembali. Suara langkah kaki mereka perlahan menjauh.

Hikari ditinggalkan sendirian.

Saat ini hikari hanya bisa menangis berharap ada orang yang datang menemukan nya, kain yang menuntupi matanya sudah sangat basah karna tangisannya.

Hikari sudah berusaha berteriak meminta bantuan tapi tidak ada sama sekali yang mendengar nya, karna tempat ini memang jarang di lewati ini hanya gudang tua, jadi kemungkinan kecil akan ada orang yang lewat.

Sedang kan di kelas Neta masih heran kenapa hikari tidak kembali beberapa guru berbeda sering kali menanyakan hikari tapi mereka juga tidak tau keberadaanya.

Neta sesekali melihat ke dua temanya yang ada disamping mereka hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu apa-apa.

Sampai Bel pulang berbunyi hikari benar-benar tidak kembali ke kelas. Neta dan dua temannya langsung mencari nya ke toilet tapi ternyata Hikari tidak ada.

"Ko dia gak disini"

Mereka bertiga saling menatap.

"masa hikari pulang duluan sih" ucap seli, neta terdiam dan memikirkan temannya itu karena hikari tidak mungkin pulang sendirian kan dia pasti di jemput.

"Gak mungkin, kita ke ruang BK aja laporin" ujar neta, langsung berjalan cepat menuju ruang bk, tanpa sengaja dia bertemu dengan keiran dia langsung teringat, mungkin sebelum hilang dia sempat bertemu keiran jadi dia menghentikan langkah nya.

"Kei, tunggu"

Keiran menoleh kebelakang, dia hanya diam menunggu pertanyaan dari neta.

"Tadi, lo ketemu hikari gak pas istirahat?"

"engga" jawaban nya singkat "emangnya kemana dia" lanjutnya

"gue juga gak tau, dia dari tadi gak masuk kelas jadi gue mau laporin ke bk" jelas neta,

Keiran paham keadaannya "gue cari dia" ia langsung mencari hikari tanpa bertanya apa pun lagi pada Neta, sedang kan neta dia kembali pada tujuan nya untuk pergi ke ruang BK.

Saat ini keiran sedang mencari hikari sendirian lalu dia teringat sebuah gudang yang berada di belakang, entah kenapa tubuh dan pikiran nya menujukan kesana.

"Hikari?!!"

1
Paw_chan🐾
wah
Im Human
lanjut penasaran banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!