Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
"Saya tidak tahu Nona, tapi ..." A-cai ragu.
"Ada apa A-cai?" tanya Selir Huo curiga.
"Sebenarnya ... saya mendengar kasak kusuk tadi," jawab A-cai takut-takut.
"Apa itu? Cepat katakan," desak Selir Huo Yan.
"Sebenarnya tadi saat acara perburuan, selir Lan sedang bersama selir Kui," ungkap A-cai mengejutkan.
"Bersama selir Kui?" Selir Huo menyipitkan keningnya.
"Benar." A-cai mengangguk pasti.
Selir Huo Yan diam sejenak. Ia baru ingat sesuatu. Memang saat acara perburuan tadi selir Xiao yu bertanya tentang selir Lan pada Selir Kui.
Apa saat itu selir Kui sedang merencanakan sesuatu pada selir Lan? Selir Huo Yan langsung mengalihkan pandangannya secara samar menuju meja Selir Kui.
Di sana, Selir Kui sedang menyunggingkan senyum anggun seraya menyesap arak hangat. Mengobrol santai seolah tidak terjadi apa-apa. Wanita itu sedang menikmati pesta.
Merasa ada yang mengamati, selir Kui menoleh. Mendapati selir pertama melihat ke arahnya, bibir selir Kui tersenyum sopan.
Selir Huo Yan ikut tersenyum menanggapi.
"Tapi dia terlihat santai. Seperti tidak sedang melakukan sesuatu pada selir Lan," ucap selir Huo pada A-cai.
"Mungkin tadi hanya bareng biasa, Nona? Bukan hal yang tidak baik." A-cai jadi kurang yakin.
"Bisa jadi, tapi aku sangsi."
"Apakah perlu hamba bertanya pada pelayan lain, Selir Huo?" bisik A-Cai.
"Jangan bodoh," potong Selir Huo dingin namun tenang. "Air keruh di istana ini tidak perlu kau aduk. Biarkan orang lain yang menyadarinya sendiri. Kita hanya perlu menonton sejauh mana permainan ini berjalan."
"Baik, Nona. Maafkan saya," ujar A-cai merasa keliru.
Meksi tampak tenang, di lubuk hati Selir Huo Yan dia juga was-was.
Tidak. Kalau memang ada apa-apa dengan selir Lan, aku tidak ada kaitannya dengan rencana Selir Kui. Dia bergerak sendirian, sangkal Selir Huo Yan. Namun dia ingat lagi bahwa ia sempat memarahi Xiao Yu yang cemas pada selir Lan.
Oh, tidak. Aku sempat menyuruh selir Xiao tidak meributkan soal itu, batin Selir Huo Yan panik. Ia menegakkan punggungnya lagi untuk menjaga sikap. Ia harus tetap tenang. Semoga tidak terjadi apa-apa. Mereka hanya lelah dan tidur di tenda.
*
*
*
Di depan tenda Xiao Yu.
Bao'er berdiri di batas perkemahan, menatap kegelapan Hutan Selatan yang kian pekat. Kabut dingin mulai merayap turun dari lereng gunung, namun sosok Xiao Yu tak kunjung muncul dari balik pepohonan rindang.
"Yu'er... kenapa kamu belum kembali juga?" gumam Bao'er. Tangannya yang dingin meremas erat kain gaunnya sendiri.
Hatinya tidak tenang. Ia tahu betul Xiao Yu nekat masuk ke dalam hutan lebat itu sendirian demi mencari Selir Lan. Namun kini sudah malam.
Suara jangkrik dan deru angin malam yang menusuk tulang membuat bulu kuduknya berdiri. Dalam kegelapan seperti ini, jangankan menemukan Selir Lan, Xiao Yu sendiri bisa tersesat atau terseret bahaya.
Mungkin Selir Lan sudah kembali lewat jalur lain dan Nona Yu mengiringinya dari belakang, batinnya, berusaha membuang pikiran buruk. Bao'er mencoba menghibur diri.
Demi memastikan dugaannya, Bao'er membalikkan badan dan berjalan tergesa-gesa menembus deretan tenda menuju perkemahan Selir Lan. Begitu mendekati tenda megah berhias sutra hijau itu, Bao'er melihat A-chui depan tenda.
Pelayan Selir Lan itu tampak berdiri dengan bingung. Wajahnya pucat pasi. Jemarinya meremas kain gaunnya kaku dengan mata berair. Dia hanya bisa berputar-putar tanpa arah di tempat.
Bao'er langsung menerobos mendekat. "A-chui!Apakah Selir Lan sudah kembali?"
A-chui menoleh kaget. Tubuhnya gemetar saat menggeleng pelan. "B-belum... Nona tadi ingin mengambil daun untuk membuat ramuan dengan Selir Kui."
"Apa kamu tidak bertanya pada selir Kui?"
"Aku sudah tanya pada pelayan selir Kui, tapi dia bilang bilang Selir Lan ingin jalan-jalan sebentar. Selir Kui kembali sendirian. Tapi ini sudah terlalu malam! Aku takut sekali ada apa-apa dengan nona Lan, Bao'er ...," Jawab A-chui gemetar.
"Celaka..." bisik Bao'er dengan mata membelalak. "Nona Yu masuk ke hutan lebat itu justru untuk mencari Selir Lan! Mereka berdua belum keluar!"
"Apa?!" A-chui menutup mulutnya kaget, matanya kian berkaca-kaca panik. "L-lalu... lalu bagaimana ini? Kita tidak bisa masuk ke hutan. Aku takut ..."
"Kenapa kau malah berdiri menangis di sini?!" potong Bao'er tegas menatap Sui Mei tanpa ragu sedikit pun. "Kalau kita cuma menunggu di sini, Nona Yu dan Selir Lan bisa mati membeku di tengah hutan."
"Lalu bagaimana?" tanya A-chui kebingungan.
"Ayo kita ke tenda pangeran. Kita lapor majikan kita hilang di hutan," ajak Bao'er.
"Aku takut pada selir Kui."
"Kenapa? Dia mengancammu?"
"Bukan. Saat selir Lan mau ke hutan mencari tanaman obat, Mei Lin memintaku ke tempat lain. Saat itu mereka masuk ke hutan. Aku yakin itu saat mereka merencanakan niat jahat pada selir Lan," terang A-chui. "Jadi mungkin selir Kui akan menyerangku."
"Kita hadapi bersama-sama. Kalau nona Xiao Yu tahu, dia akan melindungi kita."
"Benarkah?" tanya A-chui ragu. Bukan mau mencela tapi selama disini citra Xiao Yu memang tidak begitu bisa diandalkan.
"Ya. Kita lihat saja nanti." Bao'er tidak bisa bicara banyak soal Xiao Yu. Tapi dia yakin jika Xiao Yu bisa ditemukan, dia pasti punya cara.
"Ayo cepat. Kita tidak bisa membuang waktu sedetik pun," ujar Bao'er sambil menyambar kuat pergelangan tangan A-Chui yang gemetar.
Dengan langkah pasti mereka berjalan tergesa-gesa menuju tenda perjamuan utama. Siap menerobos penjagaan ketat para pengawal demi menyelamatkan majikannya.
*
*
*
Di tenda perjamuan.
Tabib Shen Mo berdiri di samping Pangeran Zhang Li dengan jemari yang menegang halus di balik lengan jubahnya. Sejak tadi, pandangannya terus-menerus beredar ke deretan meja di seluruh tenda jamuan. Kemana pun ia mencari, sosok wanita berparas lembut yang selalu hadir di benaknya itu tidak juga terlihat.
Kursi milik Selir Lan kosong.
Ke mana dia? batin Tabib Shen gelisah. Namun, sebagai seorang tabib istana tidak mungkin ia lancang bertanya langsung kepada Pangeran Zhang Li tentang keberadaan salah satu selir kerajaan.
Sembari memiringkan teko tanah liat berisi ramuan hangat ke cawan pangeran, Tabib Shen memberanikan diri melemparkan umpan halus.
"Sepertinya jamuan ini sepi, Yang Mulia," bisik Tabib Shen rendah, tampak seperti gurauan santai seorang pelayan tua.
Pangeran Zhang Li yang sedang memegang cawan araknya terkekeh tipis tanpa menoleh. "Apa yang kau katakan, Shen Mo? Ada banyak orang di sini."