Di depan layar dia adalah milik semua orang, tapi di belakang layar, dia hanya milikku. Kamila.
Seharusnya 3 tahun lalu, Kamila tidak mengambil keputusan ini. Menemui seorang aktor terkenal, memohon agar dia memberinya pekerjaan. Salahnya dia memilih untuk menyetujui perjanjian pada malam itu. Hingga akhirnya dia terjebak dengan Razka Aditama Fernandez, seorang aktor terkenal yang semua orang tahu.
Hanya menjadi seorang simpanan, apa yang bisa dia harapkan? Cinta? Hubungan serius? Apa itu mungkin dalam kehidupannya ini?
"Hubungan ini hanya sebatas saling menguntungkan antara aku dan kamu"
Kalimat itu menjadi pembatas atas perasaannya, seharusnya memang seperti itu. Tapi nyatanya, Kamila telah melewati batas dirinya sendiri. Hidup bersama selama 3 tahun, membuatnya perlahan melihat sisi lain dari Razka.
Tapi, apa mungkin Razka mempunyai perasaan yang sama atau dia tetap menganggapnya sebagai seorang simpanan saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayaran 100 Juta
Kamila berbohong, tapi bukan yang pertama kalinya. Ketika ada kesempatan untuk pergi tanpa sepengetahuan Razka, maka dai akan pergi. Bukan untuk bekerja dengan aktor lain seperti yang di larang oleh Razka. Tapi, Kamila pergi ke rumah singgah untuk menemui adiknya.
Suasana rumah minimalis yang di isi sekitar 7 sampai 8 orang penderita kanker. Semuanya saling berbagi cerita, saling menguatkan, dan membuat mereka tidak merasa sendiri untuk selalu kuat. Dena berlari menghampiri Kakaknya, memeluknya erat. Sudah cukup lama Kamila tidak mengunjunginya, jadi membuatnya begitu rindu.
"Lama sekali Kak Mila tidak datang, aku kangen loh"
Kamila mengelus kepala adiknya dengan sayang. "Maaf ya, Kakak banyak pekerjaan"
Kamila membawa beberapa makanan untuk semua orang yang tinggal di rumah ini. Ada seorang Ibu muda yang tinggal di sini dan selalu memberikan perhatian lebih pada mereka yang usianya di bawah dia. Apalagi Dena yang seusia anak pertamanya.
Kamila duduk di kursi kayu berdampingan dengan Bu Lulu. Mendengarkan dia bercerita tentang Dena, Kamila selalu mendapatkan cerita menyenangkan dari Bu Lulu jika datang ke rumah singgah, mendengar bagaimana adiknya yang selalu ceria dan penuh semangat.
"Dena itu sangat ceria, bahkan semua anak-anak di sini selalu merasa bahagia saat bersamanya. Kamu beruntung punya adik sepertinya"
"Iya Bu, saya memang beruntung masih mempunyai Dena dalam hidup saya. Sekarang yang sedang saya perjuangkan adalah kehidupan Dena"
"Saya yakin Dena akan sembuh, dengan semangatnya menjalani pengobatan, pasti dia bisa terlepas dari penyakit mematikan ini"
Kamila tersenyum, dia menoleh pada Bu Lulu, memegang lembut tangannya yang dingin. "Ibu juga harus semangat untuk sembuh, ingat anak-anak Ibu masih membutuhkan Ibu"
Bu Lulu tersenyum, dia menoleh dan menatap Kamila dengan hangat. "Anak pertama Ibu seusia Dena, seharusnya sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi, Ibu selalu khawatir dengan adiknya yang masih kecil. Apa dia mampu menjaga dirinya sendiri?"
"Itulah, makanya Ibu harus sembuh dan kembali ke rumah untuk menjaga anak-anak Ibu"
"Kamila, terima kasih sudah sering datang kesini. Membawa banyak makanan untuk anak-anak di sini, semuanya selalu bahagia saat kamu datang. Merasa mereka masih di pedulikan"
"Iya Bu"
Ada anak kecil yang usianya bahkan masih 7 tahun, sudah sakit parah dan dia tidak punya keluarga. Hingga mendapatkan donasi dari rumah sakit untuk pengobatan. Dan sekarang dirinya masih begitu ceria di tengah penderitaan dan ujung hidupnya yang entah akan berakhir seperti apa nantinya.
Kamila menatap adiknya yang sedang berbagi makanan dengan anak-anak lain. Sekilas dia mengingat tentang kejadian tiga tahun lalu, yang menghancurkan semuanya. Di saat dia hampir menyerah, tapi masih bisa bertahan karena melihat Dena yang masih membutuhkannya.
*
Uang 100 juta itu sudah ada di rekening miliknya. Pagi hari Kamila pulang ke rumah setelah semalam menyerahkan kesuciannya pada seorang aktor pria terkenal yang membayarnya 100 juta itu. Kesucian yang dia pertahankan, kalah dengan uang 100 juta dalam semalam. Namun, Kamila tidak ada pilihan lain lagi.
Ketika kembali, Ibu duduk di depan televisi dengan mata sembab dan wajah pucat. Suasana rumah masih berantakan karena semalam, Ibu tidak mungkin membereskan semua kekacauan ini sementara pikirannya lebih berantakan sekarang.
"Bu, Kamila dapat uangnya. Kita pergi untuk membebaskan Ayah ya" ucap Kamila sembari berlutut di depan Ibunya, memegang tangan Ibu dengan erat.
"Benarkah? Kamu dapat uang darimana, Kak?"
Kamila tersenyum, dia tidak mau menunjukan rasa sedih itu. Meski hatinya benar-benar hancur saat harus mengingat jika dia telah menjual dirinya sendiri demi uang 100 juta itu.
"Kamila pinjam ke bank, sekarang Kamila sudah dapat pekerjaan, pasti bisa bayar angsurannya kok"
"Tapi Mil, jika pinjam ke bank apa itu tidak akan semakin mempersulit keluarga kita?"
"Tidak Bu, aku yakin bisa membayar angsurannya"
Meski masih ragu dengan ucapan anaknya, tapi Ibu sudah tidak bisa banyak berpikir lagi. Dia pergi bersama Kamila untuk menemui suaminya yang di bawa oleh orang-orang berbaju hitam semalam.
"Bu, kenapa kita kesini? Bukannya harus ke Kantor polisi?"
Ibu menggeleng pelan, dia menatap anaknya sejenak. "Semalam orang-orang itu memberikan Ibu alamat rumah ini. Katanya mereka akan menahan Ayah di sini, jika kita bisa membayar kerugian Perusahaan tempat Ayah kamu bekerja, maka Ayah tidak akan di penjara. Tapi jika kita tidak bisa, maka Ayah akan di penjara"
Kamila mengangguk mengerti, uang 100 juta itu karena Ayah telah menggunakan uang Perusahaan untuk pengobatan Dena yang sebenarnya belum menemukan titik terang. Apa Dena akan bisa sembuh, atau mungkin hanya berakhir sia-sia. Namun, Ayah hanya bisa berharap pengorbanannya tidak sia-sia, karena meski Dena berakhir dalam hidupnya, setidaknya dia sudah berusaha.
Rumah yang mewah, namun suasana sangat sunyi. Tidak ada kehangatan yang di rasakan. Dua orang pengawal dan satu orang pria berdiri di ruang tengah, menunggu mereka datang.
"Kalian sudah datang ternyata, apa sudah membawa uang untuk kerugian Perusahaan?"
Kamila mengangguk, meski dengan tangan yang gemetar. Bahkan sangat takut melihat dua orang pengawal dengan pakaian serba hitam itu. Dan tatapan seorang pria yang mungkin seusia dengan Ayahnya itu, membuat Kamila sangat takut.
"Sekarang ikut kami"
Kamila di bawa ke ruangan, dan setelah menyerahkan uang 100 juta itu, maka Ayahnya bisa kembali pulang. Mereka kembali ke rumah, meski dengan ketegangan yang sebenarnya.
"Kamila, dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu semalam?" tanya Ayah.
Kamila diam, kedua tangannya saling meremas kuat di atas pangkuan. Kedua orang tuanya sudah pasti akan sangat curiga dengan uang yang Kamila bawa. Namun, Kamila harus bisa membuat mereka tidak banyak bertanya lagi.
"Kamila pinjam ke bank, kebetulan ada temen kuliah Kamila yang bekerja di sana, seorang senior. Jadi semuanya di permudah, dan sekarang aku juga sudah dapat kerja. Jadi Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir, aku akan membayar angsurannya. Dan untuk biaya pengobatan Dena, aku juga akan berusaha"
Ayah dan Ibu saling menatap, mata Ayah berkaca-kaca melihat anak perempuannya. "Maafkan Ayah Nak, karena tidak bisa menjadi orang tua yang baik. Ayah malah membebani kamu dengan semua masalah Ayah ini"
Kamila tersenyum penuh ketulusan. "Ayah, Ibu, aku tidak papa. Aku adalah anak pertama dan aku yang harus membantu kalian. Apalagi sekarang aku sudah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan"
Sejak hari itu, Kamila hanya menjadi seorang simpanan bagi Razka. Uang 100 juta itu bukan permulaan, tapi Razka selalu membayarnya setiap kali, lebih banyak dan terus bertambah. Hingga Kamila bisa membantu biaya pengobatan Dena.
Bersambung