Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23— Ibu Mertuaku
Sepulang dari ketegangan di aula leluhur dan urusan penempatan paviliun samping, Yueli dan Pei Chanqing melangkah berdampingan kembali ke halaman barat. Udara pagi yang segar sedikit banyak mencuci kepenatan dari insiden kebakaran dan intrik keluarga yang baru saja terjadi.
Namun, begitu mereka memasuki area kediaman halaman barat, suasana tenang itu langsung disambut oleh suara tawa renyah yang terdengar dari arah beranda utama.
Di sana, di sisi sang ibu mertua, duduk seorang gadis muda berwajah manis dengan pakaian brokat berwarna merah muda cerah. Xiao Lu—gadis yang merupakan kerabat jauh dari garis keturunan ibu mertua dan kerap diasuh di kediaman mereka—tampak sedang memijat lembut bahu sang ibu sambil tertawa kecil menceritakan sesuatu. Begitu melihat kedatangan Pei Chanqing dan Yueli, senyuman di wajah Xiao Lu seketika mengembang lebar.
"Pei Gege! Kak Yueli!" panggil Xiao Lu riang, langsung berdiri dan menghampiri mereka dengan langkah-langkah kecil yang lincah. Gadis itu tanpa sungkan langsung merangkul lengan Pei Chanqing tanpa rasa canggung ataupun malu karena keberadaan Yueli, matanya berbinar cerah menatap pasangan pengantin baru itu.
Ibu mertua tersenyum hangat. "Kalian baru selesai dari aula? Ibu tadinya khawatir insiden kebakaran semalam membuat kalian kurang istirahat."
Yueli menyambut sapaan sang ibu mertua dengan senyuman santun dan anggun, sementara matanya melirik sekilas ke arah Xiao Lu yang tampak begitu akrab, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehangatan halaman barat.
"Tidak ada masalah apa pun, Ibu," jawab Yueli dengan senyuman tenang, menjaga wibawanya sebagai menantu teladan.
Ibu mertua menghela napas pelan, menggelengkan kepalanya samar sambil menyesap teh di cangkirnya. "Syukurlah... Nyonya Tua Pei itu terkadang memang cukup mempersulit banyak hal dengan aturan-aturannya yang kaku."
Mendengar kalimat yang secara terbuka merendahkan kepala klan keluarga Pei, Yueli terdiam. Matanya menyipit selama sekian detik, menangkap celah bahaya sekaligus potensi dari ucapan sang mertua. Di balik kehangatan halaman barat, ternyata tersimpan ketidakharmonisan yang sudah berakar antara sang ibu mertua dan Nenek Pei.
"Apa maksud Ibu?" tanya Yueli dengan suara lembut, perlahan melangkah mendekat dan duduk di sebelah sang mertua untuk mengambil alih menuangkan teh, menunjukkan kepatuhan sekaligus ketertarikan yang terukur.
Di saat yang sama, Pei Chanqing yang melihat arah pembicaraan mulai memasuki ranah intrik internal keluarga memutuskan untuk tidak ikut campur. "Ibu, Yueli, aku harus pergi ke markas pasukan barat terlebih dahulu untuk memeriksa pengamanan insiden semalam," pamit Pei Chanqing singkat. Setelah mendapat anggukan dari sang ibu dan istrinya, sang Jenderal undur diri, membiarkan para wanita menyelami rahasia dan dinamika tersembunyi di dalam kediaman mereka sendiri.
"Apa yang sedang Ibu pikirkan?" tanya Yueli lembut, jemarinya bergerak cekatan menuangkan teh hangat ke cangkir sang mertua.
Ibu Pei Chanqing menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh ke halaman. "Tentu saja wanita tua itu akan menyuruh mereka berhutang." Decakan halus keluar dari bibirnya. "Dasar serakah."
Xiao Lu yang baru saja kembali dengan nampan berisi teh baru yang jauh lebih hangat meletakkannya di atas meja, lalu tersenyum manis mencoba meredakan ketegangan. "Bibi, jangan terlalu memaksakan diri memikirkan hal itu. Biarlah itu urusan keluarga Tuan Pei Yu."
Ibu mertua melirik Xiao Lu, lalu berdecak pelan sambil menggelengkan kepala. "Xiao Lu, kau sendiri sudah tinggal di sini lama. Pernahkah wanita tua itu memperlakukanmu adil seperti keluarga sendiri? Ia selalu menganggapmu benalu, bahkan pernah hampir membuatmu terseret masalah utang hanya karena menumpang di sini."
Mendengar penuturan itu, Yueli terdiam sesaat. Dadanya sedikit terasa sesak mencerna informasi baru ini. Di balik megahnya kediaman Pei, rupanya tersimpan perseteruan mendalam dan tabiat kikir dari sang Nenek Besar, sementara ibu mertuanya sendiri jelas-jelas menyimpan dendam dan bentrok terselubung dengan wanita tua tersebut.
Yueli menarik napas perlahan, berusaha menenangkan suasana. "Ibu, sudahlah. Selama kita tidak ikut campur dalam urusan mereka, itu akan jauh lebih baik untuk keamanan kediaman kita."
Ibu mertua meraih tangan Yueli, menepuknya pelan dengan ekspresi hangat yang menyembunyikan sisa-sisa kekesalan. "Maafkan kami, Yueli. Beginilah keadaan keluarga besar Pei. Nenek tua itu... semoga dia tidak mempersulit posisimu ke depannya."
Yueli menarik sudut bibirnya, menampilkan senyuman lembut yang menenangkan. "Tentu, Ibu. Jangan khawatirkan aku," jawabnya tenang, meski di dalam kepalanya, roda gigi strategi langsung berputar cepat untuk memetakan kelemahan setiap pihak di kediaman ini.
"Kalau begitu, aku harus kembali ke kamar sebentar," pamit Yueli dengan nada santun. Namun, sebelum ia benar-benar membalikkan badan, ia menambahkan, "Ibu, bolehkah aku memakai dapur hari ini?"
Ibu mertuanya langsung menggeleng ringan. "Yueli, kamu baru saja menjadi pengantin, tidak perlu repot-repot memasak. Biarkan Xiao Lu saja yang menyiapkan makanan seperti biasa."
Senyum lembut terbersit di bibir Yueli. "Ibu, aku tidak ingin membuat hidangan berat. Aku hanya ingin meracik ramuan herbal untuk kesehatanku sendiri, dan Xiao Lu mungkin tidak terbiasa dengan takaran bahan yang kubutuhkan."
Mendengar penjelasan itu, sang ibu mertua melunak dan mengangguk. "Baiklah, pakailah dapur sesukamu."
Gadis itu menganggukkan kepala dengan khidmat sebelum akhirnya berpamitan dan berjalan meninggalkan paviliun. Namun, baru beberapa langkah ia menjauh, sayup-sayup suara batuk lirih milik ibu mertuanya terdengar dari arah belakang, disusul oleh suara Xiao Lu yang menyuarakan kecemasan.
"Bibi, apakah kita perlu memanggil tabib?" tanya Xiao Lu dengan nada cemas.
"Tidak perlu, Xiao Lu. Ini hanya batuk biasa karena tertiup angin malam," jawab sang ibu mertua pelan.
"Tapi, Bibi batuk terlalu sering belakangan ini..." Xiao Lu terdengar semakin khawatir, jeda sejenak sebelum ia melanjutkan dengan suara yang lebih berbisik, "A... aku hanya khawatir tentang kiriman ramuan herbal dari kediaman Nyonya Tua Pei beberapa waktu lalu."
Suara ibu mertua terdengar tegas namun sarat keletihan. "Mereka tidak akan berani meracuniku secara terang-terangan di kediaman ini."
Percakapan itu kian melemah seiring bertambahnya jarak antara Yueli dan paviliun utama. Di tengah langkahnya, kening Yueli mengerut dalam. Racikan herbal dari kediaman Nyonya Tua Pei?
...----------------...
yueli harus waspada tanpa henti
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu