Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: HADIAH DARI SELURUH TANAH JAWA
Tak terasa malam yang penuh syair dan air mata itu sudah berganti menjadi pagi yang cerah.
Mentari pagi menyinari atap-atap Istana Kerajaan Mataram Baru di Klaten dengan cahaya keemasan yang hangat. Kabut pagi Gunung Merapi masih terlihat tipis di kejauhan.
Bima Samudra pun bangun bersama kedua wanita kepercayaannya, Amelia dan Intania. Setelah semalam tertidur dengan lelap di kamar kehormatan istana, mereka memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri di telaga jernih yang ada di celah Gunung Kembar di belakang Istana Mataram Baru, tempat mereka menikmati sunrise kemarin.
Air telaga itu begitu segar dan jernih, membuat tubuh yang lelah seharian menjadi segar kembali.
Di sisi lain, di aula utama istana yang berbeda, para pemimpin dari berbagai kekuatan dan kerajaan besar di seluruh Tanah Jawa berkumpul secara rahasia. Ada Raja dari Solo, para tetua dari Yogyakarta, para ketua perguruan dari Surabaya, Malang, para kepala keluarga bangsawan dari Semarang dan Jakarta.
Mereka membicarakan satu nama yang sama, Bima Samudra.
" Bima Samudra sangat hebat, kekuatannya di luar nalar kita. Dan dia sudah menjadi penyelamat bagi kita semua, bagi seluruh Tanah Jawa dari ancaman Iblis Ekstratoritorial yang sudah meneror kita selama ratusan tahun," kata Raja Sima Ngusada membuka pertemuan dengan suara berwibawa.
"Lantas, hadiah apa yang pantas dan layak yang bisa kita berikan untuk seorang pahlawan sepertinya...?" tanya Raja Sima Ngusada.
Semua tetua saling pandang dan berpikir keras.
"Mau memberi senjata pusaka, dia sudah punya Pedang Pembalik Langit yang sangat mengerikan, pedang yang bisa membelah gunung, tidak mungkin senjata kita akan berguna untuknya," kata salah satu tetua dari Perguruan Naga Hitam Yogyakarta.
"Mau memberikan pil penambah kekuatan dan obat-obatan langka, dia sudah lebih kuat dari dewa, kultivasinya sudah di tingkat Nirvana. Pil apa yang bisa berguna untuknya...? Pil kita hanya akan menjadi permen untuknya," kata tetua lain dari Solo.
Suasana menjadi hening, semua bingung.
Lalu ada salah seorang Tuan Muda dari keluarga bangsawan Semarang yang mengusulkan dengan nada bercanda namun serius,
"Bagaimana jika kita memberikan putri-putri kita yang cantik untuk menjadi pendampingnya...? Bukankah pahlawan selalu pantas mendapatkan putri yang cantik...?"
Sontak semua orang di aula itu menatap ke arah Ketua Perguruan Anggrek Putih, Pak Wijaya Kusuma, karena bagaimanapun juga, kedua wanita yang selalu berada di sisi Bima, Amelia dan Intania, adalah putri-putri beliau.
Pak Wijaya Kusuma tersenyum bijak dan tenang, lalu berkata dengan suara yang penuh wibawa,
"Maaf, para hadirin sekalian. Menurut ku, Bima Samudra bukanlah orang yang suka bermain-main dengan perempuan dan mengejar kecantikan semata. Dia adalah seorang kesatria yang tulus. Tapi jika kalian memang ingin putri-putri kalian dekat dengannya, kalian bisa menyuruh putri kalian sendiri untuk berusaha menarik perhatian Bima dengan ketulusan dan kebaikan hati, bukan dengan paksaan. Biarkan Bima yang memilih sendiri dengan hatinya. Aku tidak akan memaksa Bima."
Semua tetua mengangguk kagum mendengar kebijaksanaan Pak Wijaya.
"Jika begitu, hadiah apa yang bisa kita berikan untuknya...? Dia tidak butuh senjata, tidak butuh pil, tidak mau dipaksa dijodohkan," tanya salah seorang raja dari Surabaya yang ada di sana dengan bingung.
Akhirnya, Raja Sima Ngusada memberikan ide.
"Kita berikan saja dia harta yang paling berharga dari kerajaan kita masing-masing. Emas, permata, batu giok, kristal spiritual. Mungkin setelah dia pulang ke tempat asalnya di Gunung Lawu, harta itu akan berguna untuk membangun padepokannya atau untuk membantu rakyat," kata Raja Sima Ngusada.
Semua orang di aula itu terlihat mengangguk tanda setuju.
"Baiklah, nanti siang kita berkumpul lagi di halaman utama istana. Sekarang kita kembali ke tempat istirahat masing-masing untuk mengambil harta terbaik kita sebagai hadiah tulus untuk Bima Samudra," kata Raja Sima Ngusada.
"Baik, kami setuju," kata semua orang serentak, lalu semuanya bubar untuk kembali ke tenda dan kamar mereka untuk mengambil harta terbaik mereka.
Setiap kerajaan dan perguruan berlomba secara gila-gilaan untuk memberikan harta terbaik dan terbanyak untuk Bima, untuk menunjukkan rasa terima kasih mereka dan juga untuk menjilat dan memiliki hubungan baik dengan orang hebat seperti Bima Samudra. Semua orang ingin memiliki hubungan baik dengan pelindung baru Tanah Jawa itu.
Sementara di sisi lain, di puncak Gunung Kembar, Bima Samudra sibuk membakar ikan segar hasil tangkapannya untuk kedua wanitanya, Amelia dan Intania.
"Makanlah yang banyak agar kalian sehat dan kuat, dan tidak pingsan lagi saat melihat darah iblis," ujar Bima sambil kembali memberikan ikan bakar yang sudah matang dengan bumbu madu.
"Aku tidak mau makan banyak-banyak, nanti aku jadi gendut dan kamu tidak menyukai ku lagi," kata Intan dengan nada manja sambil terus makan dengan lahap tanpa henti.
"Adik, kamu sudah menghabiskan lima ekor ikan nila bakar yang besar dan sekarang masih terus makan tanpa henti, apakah itu tidak banyak namanya...?" kata Amelia dengan nada jail.
Sontak Amelia dan Bima tertawa terbahak-bahak mendengar itu.
Terlihat pipi Intan yang memerah karena malu ketahuan.
"Ini semua karena ikan bakar buatan Bima ini terlalu enak, membuat ku tidak bisa berhenti makan, bukan karena aku rakus," kata Intan mencari alasan dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
Bima tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa, Intan, Amelia, bagaimana pun bentuk kalian, aku akan tetap menyayangi kalian sebagai sahabat terbaik ku. Karena cinta dan persahabatan yang tulus itu datangnya dari hati yang bisa merasakan ketulusan, bukan dari mata yang hanya melihat penampilan luar saja. Kalian mau gendut atau kurus, kalian tetap Amelia dan Intan yang aku kenal di hutan Lawu," kata Bima dengan tulus.
"Kalian makanlah dengan puas, jika kurang aku akan memasak lagi untuk kalian dengan senang hati," kata Bima sambil membersihkan sudut mulut Intan yang belepotan sambal dengan lembut menggunakan sapu tangannya.
Mendengar ucapan Bima yang begitu manis dan tulus itu, kedua wanita itu sangat bahagia dan terharu, hati mereka berdebar kencang.
"Makanlah ikan ini yang banyak. Nanti kalau kalian sudah kenyang, giliran aku yang akan meminta hadiah pijatan dari kalian karena sudah memasak," canda Bima dengan senyum nakalnya yang khas.
Sontak pipi kedua wanita itu memerah mendengar gurauan Bima yang jail. Mereka sangat mengerti maksud candaannya yang manja itu.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, matahari sudah semakin tinggi.
Bima pun mengajak kedua wanita itu kembali ke Istana Kerajaan Mataram Baru.
"Bima, aku ingin dibawa terbang seperti kemarin. Aku ingin menikmati keindahan Tanah Jawa dari ketinggian. Pemandangannya pasti indah sekali," pinta Intan dengan mata berbinar.
"Iya, betul, kami bosan dengan teknik aneh mu itu yang tiba-tiba pindah tempat seperti hantu. Tidak ada sensasinya," jelas Amelia sambil tertawa.
"Baiklah, kita kembali ke Istana Mataram Baru dengan cara terbang yang sesungguhnya. Siap...?" tanya Bima dengan semangat.
"Iya, ayo...!" kata Intan dengan semangat.
"Pegang tangan ku dengan erat, jangan lepas," kata Bima.
Kedua wanita itu berpikir Bima akan mengeluarkan sayap Phoenix Nirvana nya yang megah itu lagi.
Ternyata, kali ini Bima tidak mengeluarkan sayap. Ia memadatkan energi Nirvana tak terlihat di bawah kaki mereka bertiga, membentuk sebuah pijakan angin yang kokoh dan tidak terlihat, seperti berjalan di atas awan.
Setelah merasa aman dan kedua wanita itu sudah berpegangan erat, Bima langsung membawa kedua wanita itu terbang tinggi ke udara, melayang di atas pepohonan dan sawah.
"Aneh, kaki ku terasa berpijak di tanah yang kokoh, namun di bawah kita tidak ada apa-apa, hanya awan dan angin. Seperti berjalan di atas langit," kata Amelia dengan kagum dan sedikit takut sambil memeluk lengan Bima erat-erat.
Perlahan-lahan mereka bertiga mendekati halaman Istana Mataram Baru dari langit.
Orang-orang yang berada di halaman istana yang melihat pemandangan itu menjadi heboh dan bersorak kagum.
"Wah, lihat...! Mereka terbang tanpa pedang, tanpa kapal, seperti seorang dewa sejati dari kahyangan...!"
Di tambah lagi dengan dua wanita cantik yang menemaninya, dengan pakaian mereka yang berkibar-kibar indah diterpa angin pagi, Bima semakin terlihat istimewa dan agung seperti seorang dewa muda yang turun dari Gunung Lawu. Semua mata terpesona melihatnya, terutama para Tuan Putri yang melihat dengan penuh kekaguman.
Para pemimpin dari berbagai kekuatan yang melihat itu semakin berambisi dan mantap untuk menjalin hubungan baik dengan Bima.
"Mungkinkah Bima Samudra sudah menembus tingkat Alam Dewa Sejati sehingga dia bisa terbang seperti itu tanpa bantuan apapun...? Hanya orang yang sudah menembus kultivasi Alam Dewa yang bisa memutuskan hukum larangan terbang di dunia ini," bisik salah satu tetua dengan suara gemetar.
Sebelum semua orang selesai dari keterkejutan mereka, Bima bersama dua wanitanya sudah mendarat dengan mantap dan anggun di tengah-tengah halaman istana, tanpa menimbulkan debu sedikit pun.
"Salam, Paman Wijaya, salam untuk kalian semua," ucap Bima yang memecah keheningan dengan sopan sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Salam, Tuan Muda Bima...!" kata mereka semua serentak dengan penuh hormat, membalas salam Bima.
"Ada apa kalian semua berkumpul di sini pagi-pagi sekali...?" tanya Bima dengan penasaran, melihat ratusan orang berkumpul dengan membawa kotak-kotak besar.
Lalu Ketua Perguruan Anggrek Putih, Pak Wijaya Kusuma, maju ke depan dan menjelaskan dengan suara yang lantang.
"Mereka semua, dari berbagai kerajaan dan perguruan di seluruh Jawa, ingin memberikan sedikit hadiah tulus kepada mu, Bima, sebagai ungkapan rasa terima kasih yang tak terhingga karena telah memusnahkan Iblis Ekstratoritorial dan menyelamatkan benua kita ini dari kehancuran."
Satu persatu, orang-orang itu maju ke depan, memberikan berbagai macam harta karun yang sangat berharga. Ada emas batangan dari tambang Kalimantan, ada intan permata dari Martapura, ada batu giok hijau yang indah dari China yang dibawa oleh pedagang, ada kristal-kristal spiritual yang berkilau yang bisa meningkatkan kultivasi.
Semua harta itu gemerlap memenuhi lapangan istana yang luas, cahayanya menyilaukan mata.
Orang awam berpikir Bima pasti akan sangat senang dan gembira dengan harta sebanyak itu, harta yang cukup untuk membeli sepuluh kerajaan.
Tapi Bima hanya tersenyum tipis dan diam, tidak terlihat tamak sama sekali. Ia hanya menatap tumpukan harta itu dengan tatapan biasa saja.
Seseorang dari Kerajaan Solo memberikan puluhan Cincin Penyimpanan agar Bima mudah membawa semua harta itu pulang ke Gunung Lawu.
Bima berpikir sejenak, lalu ia mengambil cincin-cincin penyimpanan itu dengan sopan.
Sambil berkata dengan suara yang tenang,
"Sebenarnya, aku lebih menyukai cincin penyimpanan seperti ini, karena di dunia tempat asal ku di Gunung Lawu, barang ajaib seperti ini sudah sangat sulit dicari dan sangat langka. Ini akan sangat berguna untuk menyimpan ramuan obat. Tapi untuk harta seperti emas dan permata ini, sejujurnya aku sudah memiliki jauh lebih dari seribu kali lipat dari ini di dalam Cincin Semesta ku."
Mendengar semua itu, semua orang di lapangan istana jadi gempar dan tidak percaya. Jika benar demikian, berarti Bima Samudra lebih kaya dari semua kerajaan di Tanah Jawa digabungkan. Kekayaannya tak terhingga.
"Tapi, karena ini adalah hadiah tulus dari kalian semua, sebagai tanda persahabatan, aku sangat berharap Tuan Muda Bima bisa menerima hadiah kecil ini dari kami, jangan ditolak," kata Raja Sima Ngusada dengan nada memohon.
Bima menatap wajah-wajah tulus di depannya, lalu mengangguk.
"Baiklah, untuk menghormati ketulusan hati kalian semua, aku akan menerima hadiah ini dengan senang hati. Terima kasih banyak," kata Bima.
Semua orang di lapangan istana pun langsung bersorak bahagia dan lega mendengarnya, tepuk tangan meriah terdengar di mana-mana.
Dengan sekali kibasan tangan yang lembut, Bima membuat semua harta yang menggunung itu menghilang dalam sekejap, masuk ke dalam Cincin Semesta Tanpa Batas miliknya yang luasnya seperti samudra.
Semua orang kembali terpukau melihat betapa luasnya ruang penyimpanan milik Bima. Cincin seperti itu bahkan tidak dimiliki oleh Raja Mataram Baru sekalipun.
Setelah semua harta diterima, Bima berdiri di tengah lapangan dan menyampaikan sebuah pengumuman penting kepada semua orang dengan suara yang lantang dan berwibawa.
"Para Paman, para Bibi, para Tetua, dan teman-teman semua, aku ingin menyampaikan kepada semua orang bahwa dalam waktu dekat ini, setelah urusan di sini selesai, aku akan pergi kembali ke tempat asal ku, ke Padepokan Gunung Lawu, untuk menemui guru ku."
Mendengar itu, semua orang di lapangan menjadi sedih dan hening. Tak terkecuali Amelia dan Intania yang ada di sisi Bima, yang langsung menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Semua orang merasa berat, mereka akan kehilangan sosok pelindung yang maha kuat bagi mereka, sosok yang baru saja menyelamatkan hidup mereka semua.
"Tuan Muda Bima, bagaimana dengan kami jika kau pergi...? Siapa yang akan melindungi kami jika nanti Iblis Ekstratoritorial datang lagi...?" tanya salah seorang ketua perguruan dari Malang dengan raut wajah yang sangat sedih dan cemas.
Bima tampak berpikir sejenak, menatap langit.
Semua orang pun terdiam hening, menunggu jawaban dari Bima dengan penuh harap.
"Ehemmmm..."
Terdengar suara Bima berdeham pelan. Semuanya pun bersiap mendengarkan dengan baik-baik.
"Aku akan kembali ke sini jika kalian menghadapi masalah besar yang tidak bisa kalian atasi sendiri. Aku berjanji. Tapi, dengan satu syarat, kalian semua harus mengikuti sebuah aturan besar yang akan ku buat untuk kedamaian Tanah Jawa ini. Bagaimana, apakah kalian setuju...?" tanya Bima dengan tatapan tajam.
"Pengaturan yang bagaimana yang Tuan Muda maksud...?" tanya Raja Sima Ngusada dengan penasaran.
"Pengaturan ini pastinya untuk kebaikan kalian semua, untuk kedamaian jangka panjang, bukan untuk kepentingan ku pribadi," kata Bima.
"Baiklah, Tuan Muda, kami akan mendengarkan dan patuh. Katakanlah," kata semua raja serentak.
"Aku akan menyatukan seluruh benua Jawa ini di bawah satu payung perdamaian.
Kalian boleh tetap mendirikan kerajaan kalian masing-masing, sekte kalian masing-masing, ataupun keluarga besar kalian masing-masing seperti dulu. Namun secara keseluruhan, kalian tetap satu, satu Tanah Jawa. Tidak boleh ada lagi permusuhan, peperangan, ataupun perselisihan dan saling menjatuhkan antara kalian demi memperebutkan wilayah atau harta. Kalian harus bersama-sama membangun kekuatan dengan damai dan saling membantu. Agar jika ada musuh dari luar seperti Iblis Ekstratoritorial yang menyerang kalian lagi, kalian semua bisa menghalau mereka bersama-sama, bergandengan tangan," jelas Bima dengan suara yang sangat berwibawa seperti seorang kaisar sejati.
Semua orang saling menatap satu sama lain.
Mereka berpikir, ini adalah ide yang sangat bagus untuk kedamaian mereka semua, jadi tidak ada ruginya untuk menuruti Bima. Lagi pula, saat ada bahaya besar yang mengancam, Bima bisa datang menyelamatkan mereka kapan saja.
Satu persatu orang itu, mulai dari Raja Mataram Baru, Raja Solo, Ketua Perguruan Naga Hitam, menyetujui rencana besar Bima.
"Baiklah, Tuan Muda Bima, kami semua setuju. Lagi pula ini untuk kebaikan kami semua dan untuk anak cucu kami nanti," kata mereka serentak.
"Baiklah, jika kalian semua setuju, aku akan segera mengatur semuanya serta menetapkan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh semua kerajaan dan perguruan di Tanah Jawa. Bagi siapa saja yang membangkang dan melanggar peraturan perdamaian ini, mereka akan aku hancurkan tanpa ampun," jelas Bima dengan tegas dan berwibawa, membuat semua orang merinding mendengarnya.
"Catat baik-baik peraturan pertama ku,
Pertama, semua kekuatan di Tanah Jawa akan bersatu dalam satu Aliansi Damai Nusantara.
Nama aliansi ini adalah Aliansi Mataram Agung, dan pusat kekuatannya berada di Perguruan Anggrek Putih di Desa Ngargoyoso, Karanganyar, sebagai penjaga netral.
Kedua, setiap orang, dari raja sampai rakyat jelata, tidak boleh menindas yang lemah. Kita adalah manusia yang berakal dan berbudaya, tidak sepantasnya masih menggunakan hukum rimba seperti binatang buas.
Ketiga, aku akan menanamkan Teknik Jiwa Khusus, Teknik Panggilan Dewa, kepada kedua putri dari Perguruan Anggrek Putih, yaitu Amelia dan Intania. Jika ada masalah besar yang mengancam Tanah Jawa, mereka cukup mengaktifkan teknik jiwa itu dengan membakar dupa dan menyebut nama ku, dan aku akan segera datang ke benua ini secepat kilat untuk membantu kalian."
Mendengar peraturan itu, semua orang merasa sangat senang dan lega. Mereka tidak hanya mendapatkan perdamaian, tapi juga jaminan perlindungan dari dewa pelindung mereka.
Sorak sorai kemenangan dan kedamaian pun menggema di seluruh halaman Istana Mataram Baru.
Bima Samudra kini bukan hanya seorang pendekar, tapi telah menjadi seorang pemersatu Tanah Jawa.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?