NovelToon NovelToon
Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Ketos / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)


Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?


Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CEMBURU, RAHASIA, DAN TAWA DI BALIK DUKA.

Lo nggak bakal percaya deh, hari ini sekolah rasanya kayak panci yang mau meledak sendiri. Gue baru aja turun dari tangga, tas disampirkan sembarang di bahu, rambut dikuncir asal-asalan, pas tiba-tiba—buk!—seseorang nyenggol bahu gue sampai hampir jatuh.

"Heh, jalan matanya dibuka dong!" bentak gue sambil menyeimbangkan badan.

Orang itu berhenti, menoleh perlahan, senyumnya manis banget tapi matanya dingin kayak es di kulkas. "Maaf ya, nggak sengaja." Namanya Callysta—anak pindahan baru, yang katanya pinter, kaya, dan entah kenapa sejak minggu lalu nempel terus di samping Arka kayak perangko. Di belakangnya berdiri dua temannya, tertawa kecil sambil menatap gue dari atas ke bawah.

Gue mengerutkan dahi. "Nggak sengaja atau sengaja sih? Jalannya lurus, kan?"

"Aluna, jangan terlalu sensitif dong," jawab Callysta lembut, suaranya sengaja dibiarkan terdengar sampai ke telinga orang-orang yang lewat. "Kan cuma kecolongan. Lagian Arka nggak mungkin marah cuma gara-gara hal sepele kayak gini, kan?"

Gue ngerasa darah gue naik ke ubun-ubun. "Lo ngomong apa sih? Hubungan kita urusan kita, bukan urusan lo."

"Eh, gue cuma kasih saran aja. Kalau lo bisa lebih... sopan, lebih rapi, mungkin Arka nggak bakal capek sama lo. Banyak kok yang lebih cocok sama dia daripada lo." Callysta tersenyum tipis, lalu melangkah pergi meninggalkan gue yang gemas sampai mengepal tangan.

Saat itu juga Arka muncul dari ujung lorong. Wajahnya kaku, dingin, tatapannya tajam kayak biasa. Tapi pas matanya bertemu dengan mata gue, dia berhenti sejenak, lalu berjalan mendekat.

"Lo kenapa?" tanyanya pendek.

"Gak apa-apa," jawab gue sambil membuang muka. Nggak mau kelihatan lemah di depannya.

Arka menatap gue lekat-lekat, seolah bisa baca apa yang ada di kepala gue. "Bohong. Matamu merah. Siapa yang ngomong sama lo?"

"Nggak ada siapa-siapa, Arka. Cuma salah paham dikit aja." Gue mencoba tersenyum, tapi rasanya kaku banget.

Arka menghela napas panjang, lalu meraih tangan gue—cepat, tapi lembut, seolah takut gue kabur. "Dengerin gue. Apapun yang mereka bilang, jangan dengerin. Lo denger? Buat gue, nggak ada yang lain. Cuma lo."

Jantung gue berdegup kencang banget. Sumpah, kadang cowok ini bikin gue kesal setengah mati, tapi di detik kayak gini, dia bisa bikin dunia rasanya tenang seketika. "Tapi... mereka terus-terusan ngomongin kita. Katanya lo pantas dapat yang lebih baik. Yang lebih kalem, lebih anggun, nggak kayak gue yang kasar, berisik, suka teriak-teriak..."

Arka tiba-tiba terkekeh pelan—suara yang jarang banget keluar dari mulutnya. Dia mengusap puncak kepala gue dengan jemarinya. "Justru itu yang gue suka. Lo nggak palsu. Lo berisik, barbar, kadang bikin emosi, tapi lo jujur. Sama lo, gue nggak perlu jadi orang lain. Lo satu-satunya yang bikin gue ngerasa hidup, bukan cuma sekadar lewat."

Wajah gue panas banget. "Ih, sok romantis banget lo!" Gue mencubit pelan lengan kekarnya, padahal di dalam hati rasanya kayak mau meledak bahagia.

"Tapi..." Suara Arka berubah serius. "Kalau ada yang berani nyakitin lo, bilang ke gue. Jangan dipendam sendiri. Gue bukan cuma suami lo di atas kertas, gue pelindung lo juga."

"Siapa yang butuh dilindungin sih? Gue sendiri bisa ngurus diri!" Gue mendongak, berusaha kelihatan garang, tapi Arka cuma tersenyum tipis sambil menggeleng-geleng.

"Ya, iya, pahlawan barbar gue," godanya pelan.

Belum sempat gue membalas, tiba-tiba suara nyaring terdengar dari arah kantin. "Eh, lihat deh, si 'Putri Liar' sama 'Ketos Es' lagi bercinta!"

Gue menoleh cepat. Itu Callysta, berdiri di tengah kerumunan, tertawa bersama teman-temannya sambil menunjuk ke arah kita. Beberapa murid ikut tertawa, ada yang bisik-bisik menatap ke arah kita.

Pipi gue panas. Gue mau maju, mau marah, mau bilang apa saja biar mereka berhenti—tapi Arka menahan lengan gue. Dia melangkah ke depan, menatap semua orang di sana dengan tatapan sedingin es, sampai tawa mereka perlahan padu.

"Siapa yang tadi ngomong?" suaranya rendah, tapi terdengar jelas di seluruh ruangan. "Kalau ada masalah, hadapin langsung. Jangan bisik-bisik kayak pengecut."

Suasana hening seketika. Callysta menunduk, tak berani menatap mata Arka.

Arka menoleh ke gue, tatapannya langsung melembut. "Ayo, pergi dari sini." Dia menggandeng tangan gue, melangkah keluar melewati kerumunan yang diam seribu bahasa.

Sesampainya di halaman belakang yang sepi, gue akhirnya tertawa kecil—bukan sedih, tapi lega. "Tahu nggak, tadi lo serem banget kayak raja yang lagi marahin rakyatnya!"

Arka tersenyum tipis, lalu menarik gue masuk ke pelukannya. "Biar mereka tahu, Aluna itu bukan sembarang orang. Dia milik gue, dan nggak boleh ada yang sakiti."

Gue menyandarkan kepala di bahunya, mencium bau wangi yang khas, tenang. "Lo tahu, kadang gue takut... takut suatu hari lo bosen sama gue. Gue kan nggak kayak cewek-cewek lain."

Arka mengusap punggung gue perlahan. "Justru karena lo beda, gue jatuh cinta. Lo ceria, berani, kadang bikin pusing, tapi lo bikin gue hidup. Jangan pernah berubah, ya?"

Gue mengangguk pelan, lalu mendongak menatapnya. "Janji?"

"Janji." Arka mengecup pelan kening gue, lalu tersenyum—senyum yang cuma gue yang bisa lihat. "Mau gue antar pulang?"

"Boleh, tapi... jalan kaki aja yuk? Mau ngobrol dikit."

Sepanjang jalan pulang, kita tertawa, bercanda, saling ejek kayak biasa—dia yang dingin dan kaku, gue yang berisik dan lincah, dua dunia yang nggak seharusnya bertemu, tapi justru saling melengkapi dengan cara yang paling indah. Rahasia-rahasia masih ada—geng motor Arka, masa lalu keluarga kita, tatapan-tatapan tajam yang mengintai dari kegelapan—tapi buat saat ini, yang penting cuma satu: kita berdua, bersama, dan nggak akan menyerah.

Karena gue Aluna, gadis barbar yang tak akan pernah mundur, dan Arka—ketos dingin yang hatinya cuma milik gue. Dan cerita kita masih panjang, penuh tawa, air mata, dan cinta yang nggak akan pudar.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!