Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan panas
Matahari pagi mulai menyusup masuk melalui celah gorden kamar Hazel. Gadis itu sudah berdiri tegak di depan cermin berukuran penuh, merapikan seragam sekolah barunya. Ya, di usianya yang ke-19 tahun, ia harus kembali mengenakan seragam SMA kelas 3 akibat penyesuaian sistem kurikulum dan perpindahan sekolahnya dari Eropa.
Seragam itu melekat sempurna di tubuhnya yang proporsional. Kemeja putih yang disetrika amat rapi, rok lipat searah berpotongan di atas lutut, serta dasi yang terikat sempurna membuat penampilannya terlihat sangat segar, anggun, namun tetap menyimpan aura tegas yang dingin.
Hazel merapikan kerah kemejanya, lalu menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Pikiran mengenai perbincangannya dengan Sagara tadi malam mendadak kembali berputar di kepalanya. Mengenai klaim bahwa Cateline adalah 'penolong' yang menyelamatkan pria itu dari kecelakaan tragis hingga amnesia.
Hazel menyunggingkan senyum miring, lalu tertawa sinis yang terdengar begitu dingin.
"Dia? Penolong?" gumam Hazel pada pantulan dirinya di cermin. Matanya memicing tajam. "Itu hal paling mustahil yang pernah kudengar. Aku yakin seratus persen, cewek iblis itu justru dalang di balik kecelakaan itu. Cateline tidak punya hati sebaik itu untuk menolong orang asing... kecuali kalau dia punya niat terselubung di baliknya."
Dengan pikiran yang penuh rasa curiga, Hazel meraih tas sekolah mewahnya, melingkarkannya di bahu, dan melangkah keluar kamar.
Begitu menuruni tangga menuju ruang makan, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Sagara. Kakak iparnya itu tampak sibuk memindahkan piring-piring sarapan yang tertata rapi ke atas meja panjang. Di tangannya, Sagara memegang segelas susu hangat yang asapnya masih mengepul halus. Wajah pria itu terlihat agak tegang dan terburu-buru, memastikan segalanya sempurna sebelum 'sang ratu' turun dari kamarnya.
"Selamat pagi, Hazel," sapa Sagara pelan saat menyadari kehadiran Hazel.
"Pagi, Kak," balas Hazel singkat, matanya memperhatikan bagaimana telatennya Sagara menyiapkan piring khusus untuk Cateline.
Tak lama kemudian, suara dentakan sepatu hak tinggi menggema di atas lantai marmer. Cateline turun dengan anggun. Ia mengenakan pakaian kantor yang amat elegan, rambutnya terurai sempurna, dan senyum manis yang dipaksakan mengembang di bibirnya saat melihat Hazel sudah duduk di meja makan.
"Wah, lihat siapa yang sudah siap dengan seragam barunya," sapa Cateline dengan nada manis yang dibalut sindiran tajam. Senyumnya terkembang, namun matanya menatap Hazel dengan pendar meremehkan. "Ternyata adik kecilku yang nakal ini masih sanggup pakai seragam sekolah, ya? Kuharap di sekolah baru ini kau tidak bikin malu nama keluarga Adeline lagi seperti dulu."
Hazel tidak menunjukkan raut terkejut ataupun marah. Sebaliknya, gadis 19 tahun itu justru menegakkan punggungnya, menarik sudut bibirnya lebar-lebar, dan membalas senyuman Cateline dengan tatapan tak kalah menusuk.
"Tentu saja, Kakakku yang tersayang," balas Hazel santai, memutar-mutar sendok di tangannya. "Aku pasti akan menjaga nama baik keluarga. Lagipula, aku tidak mau mengecewakan Kakak yang sudah sangat berdedikasi mengurus rumah tangga dan... suami sehebat ini."
Kata 'suami' diucapkan Hazel dengan nada sedikit ditekan sembari melirik Sagara yang berdiri kaku di samping meja. Senyum di wajah Cateline mendadak membeku sejenak sebelum berganti menjadi kerutan tipis penuh kejengkelan.
Atmosfer di meja makan mendadak terasa begitu mencekam. Cateline menarik kursi dan duduk dengan angkuh. Saat Sagara menyodorkan segelas susu hangat di dekat tangannya, jemari Sagara sedikit bergetar karena gugup, membuat sedikit cairan susu terguncang dan menetes ke atas meja marmer yang bersih.
TAKK!
Cateline membanting sendoknya keras-keras ke atas piring. Hazel menyipitkan mata, memperhatikan interaksi itu.
"Kau punya mata tidak?!" bentak Cateline tiba-tiba dengan suara melengking, menghancurkan topeng keanggunannya seketika. Matanya menatap Sagara dengan rasa jijik yang meluap-luap. "Hal sepele seperti menyajikan susu saja kau tidak becus! Dasar tidak berguna!"
Sagara langsung menunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar. "M-maaf, Nona... aku tidak sengaja—"
"Diam!" potong Cateline cepat. Tanpa rasa kasihan, Cateline dengan sengaja menyenggol mangkuk berisi potongan roti dan sosis di depannya hingga jatuh berserakan di atas lantai, tepat di bawah meja makan.
Sagara tersentak kaget, sementara Hazel mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan emosi yang mendadak membakar dadanya melihat perlakuan kasar itu.
Cateline menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada, lalu menatap Sagara dari atas dengan pandangan penuh perintah. "Bersihkan. Kumpulkan semua makanan itu dari bawah meja sekarang pakai tanganmu. Jangan ada satu remah pun yang tersisa."
Dengan wajah pasrah dan tanpa perlawanan sedikit pun, Sagara langsung berlutut di lantai dingin, merangkak pelan di bawah meja untuk memunguti potongan-potongan makanan yang berserakan.
Cateline kemudian mengalihkan pandangannya pada Hazel. Sebuah senyuman culas dan penuh kemenangan terbit di bibirnya. Ia memamerkan kepercayaannya dengan begitu percaya diri, seolah sedang menunjukkan kekuasaannya yang mutlak di dalam rumah itu.
"Kau lihat, Hazel?" bisik Cateline dengan nada penuh kebanggaan yang dingin, menunjuk ke arah Sagara yang sedang berlutut di bawah. "Di rumah ini, aku bisa melakukan apa pun yang kumau. Siapa pun yang ada di sini... hanyalah mainan yang harus tunduk padaku. Termasuk dia, dan termasuk kau."
Hazel menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan sangat santai, memperhatikan Cateline yang masih menatapnya dengan tatapan penuh keangkuhan. Tidak ada rasa takut sedikit pun di wajah Hazel. Sebaliknya, gadis 19 tahun itu justru terkekeh pelan, sebuah tawa meremehkan yang amat renyah namun sanggup menyulut emosi siapa saja yang mendengarnya.
"Jadi... maksudmu kau sangat bangga hanya karena berhasil memanfaatkan pria yang amnesia?" tawa Hazel pecah pelan, menatap kakaknya dengan pendar mata yang amat sinis.
Ia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja makan, menatap Cateline tepat di manik matanya.
"Ayolah, Kakakku yang tersayang... apa kemampuanmu cuma sampai di situ?" bisik Hazel dengan suara tajam yang menusuk. "Seorang Cateline Adeline yang katanya sempurna, ternyata tidak cukup berbakat untuk memikat pria kaya dan berpengaruh di luar sana? Sampai-sampai kau harus menjebak dan menyiksa pria amnesia yang tidak tahu apa-apa demi memuaskan rasa ingin usilmu? Menyedihkan sekali."
Raut wajah Cateline berubah drastis. Senyum kebanggaannya lenyap seketika, berganti dengan raut merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Matanya melotot tajam, dan bibirnya baru saja terbuka untuk menyemprotkan makian bernada tinggi
Namun sebelum sepatah kata pun sempat keluar dari mulut Cateline, Hazel dengan santai berdiri dari kursinya. Ia merapikan seragam sekolahnya yang licin, lalu menarik tas mewahnya dari atas meja.
"Aduh, aku bisa terlambat ke sekolah baru kalau terus-menerus bicara santai dan buang-buang waktu denganmu, Kak," pangkas Hazel cepat, mengabaikan ekspresi Cateline yang sudah seperti ingin menelannya hidup-hidup. "Aku pergi dulu."
Hazel memutar tubuhnya, melangkah meninggalkan meja makan yang tegang itu. Namun, baru beberapa langkah melangkah, ia menghentikan jalannya. Matanya bergulir ke bawah, menatap Sagara yang masih berlutut kaku di dekat lantai, memegangi potongan makanan dengan kepala menunduk dalam-dalam.
Raut wajah Hazel yang tadinya dingin dan tajam pada Cateline, mendadak melunak seketika saat menatap pria itu.
"Sarapanmu sangat enak, Kak Sagara," ucap Hazel dengan suara yang cukup nyaring dan tulus, memecah keheningan ruang makan. "Terima kasih banyak, ya."
Kalimat sederhana itu menggema pelan di dalam ruangan.
Tubuh Sagara yang tadinya tegang dan gemetar membeku seketika. Pria itu tidak berani mendongak, jemarinya yang memegang remah roti berhenti bergerak. Selama dua tahun berada di dalam mansion ini, ia hanya terbiasa mendengar bentakan, caci maki, dan perintah dingin dari Cateline. Tidak pernah ada satu orang pun—bahkan para pengawal atau sopir di luar—yang pernah menyapa apalagi mengucapkan kata 'terima kasih' padanya atas makanan yang ia masak.
Sagara tetap diam tak berkutik, menyembunyikan wajahnya di balik poni rambutnya yang acak-acakan. Namun di balik kebisuannya, di balik wajah menunduk itu, perlahan-lahan sudut bibir Sagara terangkat tipis. Sebuah senyuman kecil yang sangat halus dan hangat terukir di sana, memberikan sedikit getaran aneh di dalam dadanya yang sudah lama dingin.
Sementara itu, Hazel tidak menunggu balasan apa pun dari Sagara. Tanpa memedulikan tatapan membunuh dari Cateline yang membakar punggungnya, gadis itu melangkah lebar menembus pintu utama rumah, siap menghadapi hari pertamanya di sekolah baru.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...