Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Lagi Gadis Kecil
Pintu kayu cedar kamar baca Pavilion Timur tertutup rapat, menyisakan gaung langkah kaki Julian yang perlahan menjauh di sepanjang koridor luar. Keheningan mendadak merayap masuk, memenuhi setiap sudut ruangan yang kini hanya diterangi oleh pendar jingga redup dari sisa matahari sore. Udara di dalam ruangan masih menyisakan aroma tajam kayu cendana dan tembakau—jejak kehadiran sang Raja yang baru saja melangkah keluar.
Aurelia tetap berdiri tegap di samping meja kerja oak milik-Nya. Ia tidak langsung merosot atau menghela napas lega sebagaimana yang dilakukan orang awam setelah berhadapan langsung dengan penguasa tertinggi kerajaan. Jemari lentiknya bergerak halus, mengusap bekas sentuhan dingin jari-jemari Julian di dagunya.
Di balik pintu yang telah terkunci rapat, Julian tidak langsung berjalan menuju peraduannya. Sang Raja menghentikan langkahnya tepat di bawah pilar pualam koridor Pavilion Timur. Pengawal pribadi berseragam zirah perak yang sigap mengekor di belakangnya serta-merta berhenti, menundukkan kepala rapat-rapat tanpa berani memecah hening.
Julian mengangkat tangannya, menatap telapak tangannya sendiri yang beberapa saat lalu menyentuh kulit mulus Aurelia. Ada getaran aneh yang merayap di bawah kulitnya—sebuah rasa terkejut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya selama memegang kekuasaan.
Ia mengenang kembali sosok Lady Aurelia Montclair yang pertama kali melangkah masuk melewati gerbang istana beberapa bulan lalu. Saat itu, yang dilihatnya hanyalah seorang putri bangsawan manja yang dibesarkan dalam kemewahan berlebih. Gadis yang menangis meraung-raung di hadapan ayahnya hanya demi mendapatkan perhatian Raja, gadis yang mengenakan gaun-gaun merah muda berenda rumit dengan senyuman naif yang memuakkan, serta gadis yang selalu merajuk meminta dipuji hanya karena membawa sekuntum bunga mawar.
Namun, wanita yang baru saja berdiri bersandar di rak buku di dalam kamar baca tadi... bukanlah gadis kecil itu.
"Sama sekali bukan," gumam Julian dengan suara baritonnya yang sangat rendah, hampir tersapu oleh embusan angin sore.
Mata cokelat yang dulu selalu dipenuhi pemujaan buta kini berganti menjadi sepasang jurang yang dingin, tajam, dan penuh dengan kalkulasi mematikan. Tidak ada sedikit pun riak cemas saat Julian menumpukan tubuhnya untuk mengintimidasi, tidak ada getaran pada suaranya saat menyebutkan nama racun pembunuh Vipera, dan yang paling mengejutkan... ia bahkan tanpa ragu memanggil nama depan sang Raja secara langsung di tengah perundingan politik.
Aurelia tidak sedang memohon belas kasihan atau perlindungan dari seorang suami. Wanita itu sedang menawar kekuasaan sebagai seorang mitra yang setara.
Siapa sebenarnya yang mengajarinya? batin Julian sembari menyempitkan matanya yang kelam. Atau apakah seluruh sifat naif yang ditampilkannya selama ini hanyalah topeng sempurna untuk menyembunyikan taringnya?
Sang Raja menghembuskan napas berat. Pemikiran bahwa ada seorang selir di istana interiornya yang sanggup membaca peta militer perbatasan utara, membongkar jaringan transaksi Faksi Vance, hingga memanfaatkan struktur ekonomi Montclair untuk menekan kestabilan dewan, membuat naluri kewaspadaan Julian terpicu tajam. Aurelia telah menjelma menjadi sosok yang sangat berbahaya—sebuah belati bermata dua yang bisa menjadi perisai terhebatnya atau justru pedang yang mencabut nyawanya sendiri dari belakang.
Namun di saat yang sama, Julian tidak dapat memungkiri satu hal: perasaan monoton dan membosankan yang selama ini menyelimuti pikirannya saat berurusan dengan para wanita di Istana Interior seketika sirnah.
Selir-selir lain seperti Genevieve bergerak dengan keanggunan palsu yang mudah ditebak, sementara Celeste hanya berbuat kekanak-kanakan. Namun Aurelia? Gadis itu bergerak seperti seorang pecatur berpengalaman yang tahu kapan harus mengorbankan bidak dan kapan harus melancarkan skakmat pada raja musuh.
"Komandan," panggil Julian datar tanpa memutar tubuhnya.
Komandan Pengawal Zirah Perak melangkah maju satu tapak, membungkuk dalam-dalam. "Hamba mendengarkan, Yang Mulia."
"Tambahkan jumlah prajurit elite di sekeliling Pavilion Timur mulai malam ini," perintah Julian dengan nada dingin yang tegas. "Bukan hanya di gerbang depan, tapi juga di sepanjang dinding luar dan atap."
Komandan itu terkejut sejenak. "Apakah Anda mengkhawatirkan serangan susulan dari faksi lain terhadap Lady Aurelia, Yang Mulia?"
Julian memiringkan kepalanya sedikit, mengukir senyum tipis yang tak tersentuh di bibirnya. "Aku ingin memastikan tidak ada satu pun lalat atau penyusup yang menyentuh wanita itu sebelum Perayaan Musim Panas... dan aku juga ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambilnya di dalam istana ini tetap berada di bawah pengawasanku."
"Baik, Yang Mulia! Pelaksanaan akan segera dilakukan!"
Julian kembali melangkah menyusuri koridor panjang menuju Istana Utama. Setiap dentang sepatu boot beratnya bergema mantap, mencerminkan keputusan bulat yang baru saja diambilnya. Perundingan di kamar baca tadi telah mengubah peta permainannya. Sang Raja tidak lagi memandang Pavilion Timur sebagai kediaman selir yang terabaikan, melainkan sebagai pusat gravitasi baru dari seluruh intrik berdarah yang sedang berlangsung.
Sementara itu, di dalam ruang baca Pavilion Timur, Marta melangkah masuk dengan sangat berhati-hati setelah memastikan bahwa rombongan Raja telah sepenuhnya meninggalkan area pavilion. Pelayan muda itu membawa nampan berisi lilin-lilin baru untuk menggantikan lilin yang mulai meleleh habis.
"Nona Muda..." panggil Marta pelan, menatap Aurelia yang masih berdiri hening di dekat meja kerja. "Apakah... apakah Raja menerima persyaratan Anda? Hamba sangat takut saat mendengar benturan keras di dalam tadi."
Aurelia berputar perlahan, menatap Marta dengan raut wajah yang begitu tenang. Gaun sutra birunya melambai halus saat ia berjalan mendekati meja rias.
"Pria angkuh seperti Julian tidak akan menerima syarat dari seseorang yang dianggapnya lemah, Marta," jawab Aurelia dengan suara lembut yang penuh percaya diri. "Namun saat dia menyadari bahwa wanita di hadapannya memiliki kekuatan untuk meruntuhkan kerajaannya... dia tidak punya pilihan lain selain bernegosiasi."
Aurelia meraih cermin gading kecil di atas meja rias, menatap pantulan dirinya sendiri. Tidak ada lagi sisa-sisa bayangan gadis malang yang menangis di lantai dingin dalam ingatan kematian masa lalunya. Yang tersisa hanyalah calon penguasa baru yang siap mengklaim apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Raja telah memakan umpanku," bisik Aurelia sembari meletakkan cermin itu kembali. "Dia telah menyadari bahwa aku bukan lagi gadis kecil manja yang bisa ia abaikan."
"Lalu... apa yang harus kita persiapkan sekarang, Nona Muda?" tanya Marta penuh kesiapan.
Aurelia mengulurkan tangannya, mengambil belati perak bertatahkan rubi yang tergeletak di atas meja, lalu menyimpannya dengan rapi di dalam sarung kulit di balik lipatan gaunnya.
"Persiapkan gaun terbaik untuk Perayaan Musim Panas," sahut Aurelia dengan senyuman dingin yang memikat. "Sebab di malam perayaan nanti, kita tidak hanya akan menonton pertunjukan... kita akan menyaksikan bagaimana sebuah faksi besar hancur dan bagaimana sebuah tahta baru diserahkan ke tanganku."
Malam semakin larut di Kerajaan, membawa angin dingin yang melintasi dinding-dinding batu Istana Interior. Namun di Pavilion Timur, api ambisi yang membara di dalam dada Aurelia baru saja dimulai—sebuah awal dari kejatuhan musuh-musuhnya dan kebangkitan sang Ratu sejati.
~ To Be Continue