Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Terlambat Pulang.
Hari itu berjalan jauh di luar perkiraan Nala. Proposal Creative Retreat yang semula ia bayangkan akan melewati beberapa lapisan rapat, revisi, dan tarik-ulur kepentingan justru mendapat persetujuan jauh lebih cepat dari yang masuk akal.
Belum genap setengah hari sejak ia dan Jeonggin mempresentasikan konsep lanjutan, notulen rapat sudah beredar. Sore harinya, email resmi dari manajemen turun dengan satu kata yang membuat suasana ruangan mendadak riuh.
Approved.
Nala menatap layar laptopnya cukup lama. Bukan karena ragu, melainkan karena ia benar-benar tidak menyangka prosesnya akan secepat itu.
“Cepat sekali,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Jeonggin yang berdiri di samping meja langsung menoleh. Senyum tipis muncul di wajahnya dengan mudah—terlalu mudah, jika Nala mau jujur.
“Idemu solid dan timing-nya tepat,” katanya pelan.
Ia tidak mengatakan kita, apalagi mencoba mengklaim apa pun. Semua kalimatnya sederhana, rapi, dan diletakkan tepat pada tempatnya. Entah mengapa, cara Jeonggin menyampaikan itu membuat Nala merasa… didukung, bukan didorong.
Namun, ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkannya.
Sejak persetujuan itu turun, hari mereka seperti ditarik ke dalam pusaran kesibukan yang padat dan nyaris tanpa jeda. Ruang rapat dipakai bergantian. Whiteboard dipenuhi coretan jadwal, pembagian tugas, dan catatan yang terus bertambah setiap kali seseorang datang membawa keputusan baru.
Nama-nama divisi, vendor, dan talent saling bersilangan di berbagai dokumen yang terbuka di atas meja. Creative Retreat yang kini secara resmi diputuskan sebagai internal creative camping akan dilaksanakan dua hari lagi.
Dua hari adalah waktu yang terasa terlalu dekat untuk sebuah kegiatan dengan persiapan sebanyak itu. Namun, justru karena itulah semua orang bergerak lebih cepat. Tidak ada lagi ruang untuk menunda keputusan atau menunggu seseorang menyelesaikan pekerjaannya besok.
Nala duduk di ujung meja panjang dengan map terbuka di hadapannya. Pena di tangannya nyaris tidak pernah berhenti bergerak sesekali ia mencoret satu catatan, menambahkan poin baru, kemudian kembali memeriksa lembar berikutnya.
Ponselnya tergeletak di samping laptop, beberapa kali menyala karena notifikasi yang masuk, tetapi hampir selalu ia biarkan begitu saja. Ada terlalu banyak hal yang harus diselesaikan dan tanpa Nala sadari, jarum jam terus bergerak semakin jauh dari waktu pulang yang seharusnya.
“Konsep kegiatan hari pertama harus seimbang. Tidak boleh terlalu berat, tetapi cukup untuk membuka dinamika,” ucap Nala tenang.
“Dan malamnya?” tanya salah satu staf.
“Api unggun,” jawab Jeonggin sebelum Nala sempat membuka mulut. Nada suaranya santai. “Diskusi bebas bukan evaluasi.” Ia melirik Nala sekilas. “Kau tadi bilang, ide terbaik sering muncul ketika orang tidak merasa sedang dinilai,” lanjutnya.
Nala mengangguk tanpa berpikir lebih jauh.
“Iya. Tepat,” jawabnya sambil tersenyum manis.
Jeonggin kembali menunduk pada catatannya Jeongin tidak pernah menatap atau tersenyum terlalu lama. Namun, setiap kali Nala mulai tenggelam dalam detail; anggaran, logistik, hingga susunan acara maka Jeonggin selalu berada di posisi yang tepat untuk menariknya kembali ke permukaan.
“Bagian ini biar aku yang follow up,” katanya ketika Nala mulai membuka berkas vendor ketiga.
“Atau kita break lima menit dulu?” ucapnya ketika waktu istirahat sudah lewat tanpa seorang pun menyadarinya.
Bagi Nala, itu bukan sesuatu yang aneh sama sekali, karena Jeonggin memang selalu begitu sejak dulu. Sosok rekan kerja yang bisa diandalkan, teman diskusi yang tahu kapan harus bicara dan kapan sebaiknya diam. Seseorang yang memahami ritme kerjanya tanpa perlu banyak penjelasan.
Dan karena itulah, Nala tidak pernah mempertanyakan satu hal pun padahal, bagi mata yang lain, ada pola yang terlalu rapi untuk sekadar disebut kebetulan.
Jeonggin jarang membiarkan Nala sendirian terlalu lama. Bukan dengan cara mengekang atau mengambil alih pekerjaannya, melainkan melalui alasan-alasan yang selalu terdengar masuk akal.
Setiap kali ada staf lain yang mendekat membawa pertanyaan, Jeonggin sering kali lebih dulu menengahi. Setiap kali pembahasan mulai melebar ke arah yang berpotensi melelahkan, ia akan mengarahkannya kembali ke inti sering kali sambil menyebut nama Nala, seolah memastikan perempuan itu tetap berada di pusat pembicaraan tanpa membuatnya merasa sedang ditempatkan di sana.
“Kalau itu, kita bahas nanti saja. Nala sudah dari pagi fokus di sini,” katanya suatu kali.
Menjelang malam, gedung mulai sepi. Lampu-lampu di beberapa lantai telah dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari area yang masih digunakan. Namun, ruang kerja tim kreatif tetap terang, dipenuhi suara ketikan, dering notifikasi, dan diskusi singkat yang sesekali terdengar dari sudut ruangan.
Nala melirik jam di dinding.
Pukul delapan lewat sedikit.
“Waktu kita mepet,” katanya sambil merapikan berkas di hadapannya. “Tapi sejauh ini… rapi.”
“Karena kamu yang mengaturnya dengan rapi. Aku yakin semua ini akan berdampak baik untuk perusahaan,” jawab Jeonggin tanpa ragu.
Nala tersenyum kecil karena meski dia lelah tetapi ada rasa puas melihat pekerjaan yang sejak pagi memenuhi kepalanya mulai menemukan bentuk yang jelas.
“Kita… terima kasih, Oppa. Kau yang terbaik,” ucap Nala sambil terkekeh kecil sebelum kembali menatap layar.
Jeonggin tidak membantah dia hanya mengangguk, memperhatikan tawa lepas Nala sesaat sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada layar di hadapannya.
Mereka duduk berdampingan dengan jarak yang tetap terjaga, bahu mereka tidak bersentuhan, tidak ada gestur yang melampaui batas, tidak ada percakapan yang dapat dengan mudah disalahartikan. Dari luar, semuanya tampak wajar.
Setidaknya bagi Nala karena baginya, hari itu hanyalah hari kerja yang panjang. Hari ketika ide yang ia yakini akhirnya diterima dan ia berhasil melewati serangkaian pekerjaan yang sempat terasa tidak ada habisnya bersama seorang rekan yang selalu dapat diandalkan.
Di mata Nala, Jeonggin adalah sahabat, rekan kerja, sekaligus sosok kakak yang tenang dan selalu hadir ketika dibutuhkan. Pria itu sering mengingatkannya pada Raka, kakak laki-lakinya yang sudah sangat lama tidak ia temui secara langsung, kecuali melalui panggilan video.
Tanpa banyak pikir, Nala kembali menunduk pada pekerjaannya.
Di luar gedung, malam telah turun sepenuhnya jalanan mulai dipenuhi cahaya lampu kendaraan, sementara aktivitas kota perlahan bergeser ke ritme malam.
Beberapa jam kembali berlalu setelah seharian penuh bekerja. Tanpa benar-benar menyadarinya, Nala baru menyelesaikan pekerjaannya pada pukul sepuluh lewat sepuluh menit waktu setempat. Seharian ia terlalu fokus mengurus berbagai hal bersama karyawan lain hingga waktu terasa berlalu begitu saja.
Nala membereskan barang-barangnya sebelum meninggalkan ruang kerja. Berkas-berkas dimasukkan ke dalam map, laptop ditutup, lalu ia memastikan tidak ada satu pun barang yang tertinggal.
Namun, ketika hendak menyalakan ponselnya, suara Jeonggin memanggil dari arah pintu membuatnya terkejut. Nala mengurungkan niatnya benda pipih itu kembali ia masukkan ke dalam tas, kemudian berjalan menghampiri Jeonggin yang sudah menunggunya di depan pintu.
“Sedang apa? Aku sudah menunggu dari tadi,” kata Jeonggin sembari tertawa pelan.
“Tidak… aku hanya memastikan filenya tersimpan dengan aman. Aku tidak ingin kejadian file hilang seperti kemarin terulang lagi. Ayo,” ucap Nala pelan.
Keduanya berjalan menuju lift. Begitu pintu tertutup, suasana kembali hening tidak banyak percakapan di antara mereka hingga lift berhenti di lantai parkir. Sesampainya di sana, mereka berpisah karena kendaraan masing-masing berada di arah yang berbeda.
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya, lampu-lampu kota Yeoksam-dong perlahan berganti dengan jalur yang lebih lengang ketika mobil Nala memasuki kawasan Nonhyeon-dong. Jam pada dasbor menunjukkan pukul 22.32 ketika kendaraan berhenti di akses privat menuju Lotte Signiel Residences.
Nala turun dengan langkah yang masih rapi, meski bahunya terasa berat oleh sisa hari yang panjang. Ia menarik napas sejenak sebelum berjalan masuk, membawa tas kerja yang terasa lebih berat daripada biasanya.
Penthouse itu menyambutnya dengan cahaya temaram bukan gelap—hanya redup, tertata, seperti rumah yang sengaja dibiarkan bernapas pelan di tengah malam.
Nala berhenti sejenak di ambang pintu. Entah mengapa, suasana yang biasanya terasa hangat malam itu justru terasa terlalu sunyi. Ia melepaskan sepatunya dengan hati-hati, lalu meletakkan tas kerja di sisi konsol matanya langsung menangkap pemandangan yang terlalu familiar untuk diabaikan.
Peralatan belajar Jun-seok masih tersusun di meja ruang tamu. Buku terbuka dengan beberapa catatan di sampingnya, pensil disusun sejajar, sementara tablet dan laptop telah tertutup rapi. Di dekat wastafel, beberapa piring bekas makan malam sudah bersih jelas dicuci secara manual tetapi belum sempat dimasukkan ke dalam mesin pencuci piring.
Nala terdiam beberapa saat pemandangan sederhana itu justru membuat rasa lelahnya semakin terasa. Ada kesan seseorang terburu-buru, tetapi tetap berusaha menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya sebelum tidur.
Ia menghela napas pelan karena Nala tahu, malam ini pasti akan ada sesuatu yang harus dihadapinya. Ia sadar betul bahwa dirinya sudah pulang jauh melewati waktu yang telah disepakati bersama Junho.
Tanpa mengganti pakaian, Nala melangkah menuju tangga. Lampu koridor lantai atas menyala otomatis ketika kakinya menapaki anak tangga.
Sesampainya di depan kamar Jun-seok, ia membuka pintunya perlahan, hanya cukup untuk menyelipkan tubuhnya ke dalam.
Anak itu sudah tidur pulas.
Selimutnya tersusun rapi hingga dada rambut hitamnya sedikit berantakan di dahi, sementara wajah kecilnya tampak tenang dalam tidur. Nala berdiri di ambang pintu selama beberapa detik, cukup lama untuk memastikan napas putranya teratur.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Selamat malam, Sayang. Maaf Mommy pulang terlambat,” bisiknya pelan, meski tahu Jun-seok tidak akan mendengarnya.
Nala menutup pintu perlahan tanpa menimbulkan suara, lalu berbalik menuju kamar utama. Namun, begitu sampai di depan pintu kamar, langkahnya terhenti begitu menyadari lampu kamar masih menyala.
Nala menatap cahaya yang keluar dari celah pintu selama beberapa detik. Ia tahu Junho belum tidur, tetapi tetap melangkah mendekat, tangannya mendorong pintu perlahan.
Pria itu duduk di sisi ranjang, punggungnya bersandar pada sandaran empuk, sementara laptop terbuka di pangkuannya. Ia sudah mengenakan pakaian tidur sebuah kaus polos berwarna gelap dan celana rumah. Namun dari alisnya yang sedikit berkerut serta jemarinya yang bergerak cepat di atas papan ketik, jelas bahwa pikirannya masih jauh dari kata beristirahat.
Junho menoleh ketika Nala masuk namun ia tidak langsung bicara, tatapannya tenang, tetapi jelas menunggu. Nala menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekat. Namun, langkahnya berhenti beberapa jarak dari ranjang.
“Maaf, aku pulang terlambat,” ucapnya lebih dulu dengan suara rendah.
Jam di meja samping ranjang berdetak pelan, suara kecil itu justru terasa semakin jelas di tengah keheningan kamar, seolah mengingatkan Nala pada waktu yang telah dilewatinya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Setengah sebelas. Aku salah?” tanya Junho akhirnya, kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan hanya sebuah pertanyaan sederhana yang terdengar seperti penanda bahwa ia tahu persis pukul berapa Nala pulang.
Nala mengangguk kecil.
“Hari ini… tidak terduga,” jawabnya. Ia masih enggan mendekat, memilih tetap berdiri di tempatnya.
Junho menutup laptop, lalu meletakkannya di sisi ranjang dengan gerakan rapi. Setelah itu, ia menghela napas pelan dan mengangkat wajah, memberikan seluruh perhatiannya kepada Nala.
“Proposalnya?” tanyanya, seolah tidak menanggapi penjelasan Nala sebelumnya.
“Di-ACC… lebih cepat dari yang kami kira. Itu sebabnya aku terlambat. Apalagi camping-nya akan dilaksanakan dua hari lagi,” jawab Nala jujur.
Mendengar itu, alis Junho terangkat tipis.
“Itu kabar baik?” ucap Junho.
Kali ini juga bukan benar-benar sebuah pertanyaan lebih seperti penekanan halus bahwa ia sedang berusaha memisahkan kabar baik tentang pekerjaan dari alasan Nala pulang terlambat.
“Iya, tetapi karena itu juga, kami harus langsung menyusun teknisnya. Banyak yang harus dibereskan dalam waktu singkat, seperti yang tadi aku bilang,” jawab Nala.
Junho terdiam sejenak pandangannya turun ke lantai sebelum kembali terangkat, menatap wajah istrinya.
“Aku tidak keberatan kau sibuk. Aku hanya ingin tahu… kenapa hari ini kau bahkan tidak sempat membaca pesanku atau menjawab teleponku?” tanyanya pelan.
Nala menegang tipis bukan karena merasa diserang, tetapi karena kelelahan yang sejak tadi ia tahan akhirnya terasa lebih berat. Ia tidak takut kepada Junho hanya tidak memiliki cukup tenaga untuk menghadapi percakapan panjang, terlebih jika harus menjelaskan semuanya dari awal.
“Rapatnya panjang, lalu dilanjutkan dengan diskusi. Aku tidak sengaja,” jawabnya.
Junho mengangguk namun, jedanya terlalu lama untuk sekadar menerima jawaban itu.
“Rapatnya panjang…” ulang Junho pelan. Ia kemudian berjalan mendekati Nala yang masih berdiri di dekat pintu. Langkahnya tidak tergesa-gesa. Ketika sudah berada satu langkah di hadapannya, ia berhenti.
“Aku tadi pulang pukul delapan,” lanjutnya.
Nala mengangkat pandangan sebentar menatap Junho yang juga menatapnya beberapa saat sebelum kembali berkata,
“Kupikir kamu sudah di rumah…”
Kalimat itu sengaja dibiarkannya menggantung seolah sengaja agar Nala merasa bersalah, Nala menunduk karena benar ada rasa bersalah yang perlahan muncul di wajahnya.
“Maaf…”
Namun, sebelum sempat melanjutkan, Junho kembali berbicara.
“Jun-seok baik-baik saja. Dia makan, mandi, ikut les. Tidak rewel,” lanjut Junho, seolah tahu ke mana pikiran istrinya akan pergi.
Nala memejamkan mata sejenak sebelum membukanya kembali. Ia kemudian berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, menyisakan jarak di antara mereka.
“Aku tahu. Dan aku berterima kasih,” jawab Nala pelan.
Junho menatapnya lama. Ada banyak hal yang tidak ia ucapkan—tentang jam, tentang kebiasaan, tentang batas yang telah mereka sepakati bersama. Semua itu berkumpul di kepalanya, tetapi selama ini ia memilih menahannya.
Namun, malam ini kesabarannya mulai mencapai batas.
“Mana ponselmu?” tanyanya.
Pertanyaan itu membuat Nala menatap Junho dengan bingung dia tidak mengerti mengapa suaminya tiba-tiba meminta benda tersebut, tetapi tetap membuka tasnya. Setelah menemukannya, Nala menyerahkan ponsel itu kepada Junho.
Junho menerimanya tanpa berkata apa-apa.
“Kamu tidak usah pegang ponsel mulai sekarang,” ucapnya datar.
Nala langsung melotot kaget, karena bagaimana mungkin? Tanpa ponsel, hampir seluruh mobilitasnya akan terganggu. Pekerjaan, komunikasi dengan karyawan, urusan perusahaan, bahkan hal-hal sederhana dalam kesehariannya bergantung pada benda itu.
“Oppa… mana mungkin… Aku butuh ponsel itu. Bagaimana aku bisa berkomunikasi kalau tidak ada ponsel?” tanyanya, masih berusaha memahami maksud Junho.
Junho mengangguk pelan.
“Ternyata kamu masih tahu fungsi benda ini…” Nada suaranya tetap tenang. “Tapi kenapa?” lanjutnya.
Tatapan Junho berubah kali ini tidak lagi sekadar kecewa seperti beberapa menit sebelumnya, ada sesuatu yang lebih dalam di sana sesuatu yang selama ini ia tahan sejak menunggu di rumah.
“Kenapa tidak kamu pakai?” tanyanya membuat Nala terdiam. “Kenapa mengabaikan panggilanku?” suara Junho mulai terdengar lebih berat. “Mengabaikan pesanku?”
Ia menggenggam ponsel itu lebih erat sebelum akhirnya melemparkannya ke atas ranjang. Benda itu jatuh dengan suara pelan, tetapi cukup membuat Nala tersentak.
“Aku tidak pernah melakukan itu selama ini,” lanjut Junho. “Aku bahkan selalu menyempatkan diri untuk menjawabmu meskipun harus memintamu menunggu. Sesibuk apa pun aku, aku selalu memberi tahu kalau memang tidak bisa bicara.”
Rahangnya mengeras.
“Tapi kau?” Junho menatap tepat ke arah Nala. “Kau bahkan tidak membuka pesanku.”
“Oppa!” Nala refleks berteriak.
“Apa?” tanya nya datar seolah menantang.
Namun, justru itulah yang membuat dada Nala terasa sesak, ia menelan ludah dengan susah payah. Untuk pertama kalinya sejak memasuki kamar itu, Nala tidak menemukan kelembutan yang biasanya selalu ada di balik tatapan Junho.
Junho menarik napas panjang bukan untuk menenangkan diri, melainkan seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu di dalam dadanya.
Dadanya naik turun perlahan tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Apa?” ulangnya.
Nala berdiri kaku di tempatnya i tahu ekspresi itu. Bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan kekecewaan yang sudah mencapai titik jenuh. Junho bukan pria yang mudah meninggikan suara. Justru ketika suaranya terdengar datar dan terkontrol seperti itu, Nala tahu ia benar-benar tersinggung.
“Apa yang membuatmu terkejut? Ponselnya dilempar, atau kenyataan bahwa aku marah?” tanya Junho lagi sembari melangkah setengah langkah lebih dekat.
Nala membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Ia kembali menutupnya, lalu menarik napas pelan.
“Oppa… aku tidak bermaksud mengabaikanmu,” katanya akhirnya. “Aku hanya—”
“Hanya sibuk?” Junho memotong ucapannya suara nya mulai meninggi “Itu selalu alasannya, Nala. Selalu.”
Nala terdiam melihat Junho yang mengusap rambutnya ke belakang dengan gerakan kasar, kemudian berbalik dan berjalan dua langkah menjauh. Bahunya tampak menegang, dia berdiri membelakangi Nala selama beberapa detik, seolah sedang berusaha menata kembali pikirannya sebelum mengatakan sesuatu yang mungkin akan ia sesali.
Namun, ketika akhirnya berbicara lagi, suaranya justru terdengar lebih tajam.
“Kita tidak pernah sepakat soal kesempurnaan. Aku tidak pernah menuntutmu untuk selalu ada, selalu cepat, atau selalu siap.” Junho berhenti sejenak.
Jemarinya mengepal perlahan di sisi tubuh.
“Tapi kita sepakat soal satu hal.” Junho berbalik tatapannya langsung mengarah kepada Nala. “Jangan menghilang.”
Kata-kata itu jatuh berat di udara kamar membuat Nala kembali menahan napas.
“Aku meneleponmu…” lanjut Junho, suaranya kembali rendah, tetapi setiap katanya terdengar jelas. “Bukan sekali. Aku mengirim pesan. Aku hanya ingin tahu kamu di mana, kamu baik-baik saja, kamu masih ingat bahwa ada rumah yang menunggumu pulang.”
Kalimat terakhir membuat ekspresi Nala perlahan berubah ia menundukkan kepala. Bahunya merosot sedikit, seolah seluruh beban yang sejak pagi ia tahan akhirnya menemukan tempat untuk jatuh.
“Aku pulang pukul delapan Jun-seok masih les... Dia menunggumu Nala, dia tidak bertanya banyak karena dia anak yang terlalu cepat belajar menahan diri.” Rahang Junho mengeras.
“Dan aku duduk di meja makan bersamanya, menjawab pertanyaan-pertanyaannya, sambil berpikir…” Junho berhenti sejenak. Tatapannya tidak beralih dari wajah Nala. “Istriku di mana?”
Ia berhenti tepat di depan Nala.
“Kau tahu aku paling tidak suka apa?” tanyanya.
Nala mengangkat wajah matanya mulai memerah bukan karena merasa disalahkan, melainkan karena ia sendiri tahu tidak memiliki pembelaan yang cukup untuk membantah perkataan Junho. Namun, ia tetap menjawab dengan suara lirih.
“Janji yang diucapkan dengan sadar, lalu dilanggar dengan alasan sibuk.”
Keheningan menyelimuti mereka jam di meja samping ranjang terus berdetak. Suara kecil itu terdengar semakin jelas di antara keduanya, seolah setiap detiknya ikut menghitung jarak yang tercipta malam ini.
“Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sadar waktu berjalan sejauh itu. Proposalnya… semuanya bergerak terlalu cepat. Aku tidak bermaksud melanggar kesepakatan kita,” lanjut Nala akhirnya. Suaranya nyaris bergetar.
Junho tertawa pendek namun tidak ada sedikit pun humor di dalamnya.
“Kau tahu kenapa kita membuat kesepakatan itu sejak awal?” tanyanya, Nala menggeleng kecil. “Karena aku pernah hidup di dunia di mana aku selalu dikelilingi banyak orang, tetapi tidak pernah benar-benar tahu siapa yang menungguku pulang.”
Tatapan Junho menancap dalam ke mata Nala.
“Aku tidak mau mengulang itu. Bukan denganmu apalagi dengan anak kita.” Ia menarik napas perlahan, tetapi ekspresinya tetap mengeras. “Tapi kau melakukannya.”
Dada Nala terasa semakin sesak Junho melangkah mendekat satu langkah, lalu berhenti. Jarak di antara mereka kini begitu dekat, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak lebih jauh. Seolah batas yang baru saja dibicarakan itu benar-benar sedang berdiri di antara keduanya.
“Aku salah,” kata Nala jujur. “Aku terlalu larut karena terlalu fokus aku bahkan lupa…” Suaranya terhenti sejenak Nala menelan ludah sebelum melanjutkan. “…bahwa aku tidak sendirian.”
Junho menatapnya lama. Amarahnya belum sepenuhnya padam, tetapi sesuatu di wajah Nala ketundukan yang tulus dan kelelahan yang tidak lagi ia sembunyikan, membuat napasnya perlahan melambat.
“Kau bukan hanya Creative Director,” katanya akhirnya, lebih pelan. “Kau istriku. Kau ibunya Jun-seok. Kau ingat? Atau aku harus mengingatkanmu tentang statusmu?” lanjutnya.
Nala mengangguk kecil air matanya akhirnya jatuh tanpa suara, membasahi pipinya yang sejak tadi menegang menahan emosi.
“Aku tahu…” jawabnya lirih. “Dan malam ini… aku gagal menyeimbangkan semuanya. Maaf, Oppa. Seharusnya aku lebih sadar diri untuk mengatur dan menyeimbangkan waktuku.”
Wajah Nala semakin menunduk kali ini tidak ada alasan yang keluar dari bibirnya kali ini. Hanya penyesalan yang tampak jelas dari sorot matanya.
Junho memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, nada suaranya tidak lagi meledak, tetapi ketegasan itu masih terasa jelas.
“Aku bisa menerima kesibukanmu,” katanya tegas. “Aku bisa menunggu. Tapi aku tidak bisa menerima jika diabaikan… tidak, Nala. Aku bukan pria yang akan diam ketika kau melewati batasanmu sebagai istriku.”
Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang, kemudian menyerahkannya kembali kepada Nala. Kali ini, gerakannya jauh lebih pelan.
“Lain kali, satu pesan saja sudah cukup. Satu kalimat. Jangan biarkan aku menebak-nebak,” lanjutnya.
Nala menerima ponsel itu dengan kedua tangan, jemarinya menggenggam benda tersebut erat, seolah ponsel itu baru saja dikembalikan kepadanya setelah sempat menjadi bagian dari pertengkaran mereka.
“Aku janji…” jawab Nala lirih. “Aku tidak akan mengulanginya.”
Junho tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk tipis, lalu melangkah kembali ke sisi ranjang dan duduk. Kelelahan yang sejak tadi disembunyikannya akhirnya terlihat jelas dari bahunya yang sedikit merosot dan wajahnya yang tampak lebih berat.
“Kemarilah,” katanya singkat.
Nala ragu sepersekian detik sebelum akhirnya mendekat. Ia duduk di samping Junho dengan jarak yang masih terjaga. Namun, pria itu kemudian meraih tangannya perlahan, menariknya mendekat, lalu membiarkan kepala Nala bersandar di bahunya.
Tidak ada pelukan yang erat hanya dua orang dewasa yang sama-sama lelah, mencoba kembali berdiri di titik yang sama setelah melewati satu hari yang terlalu panjang.
Nala diam dalam dekapan sederhana itu namun, air matanya justru kembali jatuh. Berkali-kali ia mengusapnya dengan cepat, berusaha sekuat tenaga menahan tangis yang sejak tadi tertahan di tenggorokan.
Ia tidak pernah ingin menangis di hadapan siapa pun termasuk di hadapan suaminya sendiri. Hembusan napas Junho terasa hangat di atas kepalanya. Kehangatan itu seharusnya menenangkan, tetapi tidak serta-merta mampu menghapus sesuatu yang masih terasa perih di dalam hatinya.
Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya Junho kembali berbicara.
“Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya ingin kau sadar, ketika kau tidak menjawab, aku tidak tahu harus berpikir apa,” katanya.
Keheningan kembali menebal di antara mereka.
“Aku tidak marah karena jam,” lanjut Junho. “Aku marah karena kau membuatku merasa tidak diikutsertakan dalam hidupmu hari ini.”
Kalimat itu membuat pertahanan Nala runtuh lagi ia kembali menangis tanpa suara. Air matanya jatuh perlahan, satu demi satu, begitu rapi seperti semua hal yang selama ini selalu ia simpan sendiri.
“Aku tidak bermaksud seperti itu,” katanya akhirnya, nyaris berbisik. “Aku hanya… terlalu fokus dan aku tahu itu salah. Semuanya kesalahanku.”
Tangan Nala mencengkeram ujung roknya erat-erat jemarinya bergetar kecil, seolah masih berusaha menahan sisa emosi yang tidak sanggup lagi ia sembunyikan. Junho memandangnya lama tangan nya masih memeluk tubuh istrinya. Amarah di matanya mereda, digantikan sesuatu yang lebih melelahkan—kecewa yang bercampur khawatir.
“Pergilah mandi. Ini sudah malam… kau pasti lelah,” katanya akhirnya dengan suara yang lebih rendah.
Junho terdiam sejenak tatapannya masih menyimpan sisa kekecewaan, tetapi amarah yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan mulai surut.
“Kita bicara lagi besok. Malam ini… aku terlalu marah untuk berpura-pura baik-baik saja.”
Nala tidak langsung menjawab, tetapi kemudian ia perlahan melepaskan diri dari sisi Junho, lalu berdiri. Dadanya masih terasa sesak, tetapi kali ini ia tidak mencoba membantah ataupun mencari alasan. Kepalanya menunduk sebagai bentuk penerimaan atas semua yang telah dikatakan suaminya malam itu.
“Iya,” jawabnya pelan.
Nala kemudian melangkah menuju kamar mandi langkahnya terdengar ringan, hampir tanpa suara, tetapi hatinya justru terasa semakin berat. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu sebelum akhirnya menarik napas panjang, mencoba menenangkan dada yang masih dipenuhi sisa tangis.