Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Mobil berhenti di depan rumah orang tua Mia yang sederhana di tengah kota. Begitu pintu mobil terbuka, Maya membantu putrinya turun dengan hati-hati, sementara Wahyu menggendong Kayla yang sudah mengantuk.
“Pelan-pelan, Nak. Kamu masih lemas" bisik Maya ibu Mia.
Mia hanya mengangguk lemah. Langkahnya masih goyah ketika ia memasuki rumah yang sudah lama tidak ia kunjungi. Bau kayu dan kopi yang familiar langsung membuat matanya berkaca-kaca. Ini rumah yang dulu selalu menjadi tempatnya pulang ketika lelah. Sekarang, setelah berbulan-bulan menahan semuanya sendirian, ia akhirnya kembali.
Maya segera membaringkan Mia di kamar lamanya. Kamar itu masih sama seperti dulu, cat krem, lemari kayu tua, dan foto keluarga di dinding. Wahyu meletakkan Kayla di samping ibunya, lalu keluar untuk menyiapkan air hangat dan obat.
Setelah mendapatkan barang yang di butuhkan, Wahyu masuk kedalam kamar putrinya. Memberikan obat itu pada Mia. Lalu meminumnya.
Setelah Mia minum obat dan tubuhnya sedikit lebih tenang, Maya duduk di tepi ranjang sambil mengelus rambut putrinya.
“Sekarang ceritakan,” katanya lembut tapi tegas. “Dari awal. Mama ingin dengar semuanya.”
Mia terdiam sejenak. Ia menatap langit-langit kamar, lalu memandang Kayla yang sudah tertidur di sampingnya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya mengalir pelan.
“Ma, aku lelah,” suaranya serak. “Aku sangat lelah.”
Ia mulai bercerita. Dari kedatangan Lukman dan Sonya yang awalnya hanya sementara, sampai akhirnya mereka betah berbulan-bulan tanpa pernah mencari kerja. Bagaimana Rian selalu membela adiknya. Bagaimana kamar Kayla harus digeser. Bagaimana makanan selalu habis, piring selalu menumpuk, dan susu Kayla sering dipakai bersama. Bagaimana setiap kali ia mengeluh, Rian malah bilang ia boros.
Lalu ia menceritakan kedatangan Rukmini.
“Sejak ibu Rian datang, semuanya semakin parah,” kata Mia, suaranya bergetar. “Sonya jadi lebih berani menyuruh-nyuruh. Hari ini aku demam, Rian sudah beli sarapan, tapi mereka tetap membangunkanku. Menyuruhku masak. Bilang aku malas. Aku merasa seperti pembantu di rumahku sendiri, Ma.. Rumah itu rumahku, tapi mereka berasa memilikinya"
Ibunya mengusap air mata di pipi Mia. Wajahnya tegang, tapi ia tetap mendengarkan tanpa memotong.
“Aku sudah mengalah terlalu lama,” lanjut Mia. “Dulu aku resign karena Rian minder dengan gajiku. Rumah dan mobil yang aku beli dengan uangku sendiri sekarang seolah bukan milikku. Aku masak, mencuci, mengurus anak, mengurus mereka… tapi tetap saja salah. Hari ini aku benar-benar tidak kuat. Makanya aku telepon Mama.”
Wahyu yang sejak tadi berdiri di ambang pintu akhirnya masuk dan duduk di kursi dekat jendela. Wajahnya serius mendengar cerita putrinya.
“Kenapa tidak bilang dari dulu?” tanyanya pelan.
Mia menggeleng. “Aku takut. Takut dianggap tidak tahu diri. Takut Rian marah, takut dibilang tidak bisa menjaga keharmonisan keluarga. Tapi semakin aku diam, semakin mereka semena-mena.” jawab Mia.
Maya menarik napas dalam. “Kamu sudah benar datang ke sini. Jangan pulang dulu. Istirahat sampai badanmu benar-benar sembuh. Nanti Mama dan Papa yang bicara dengan Rian.”
Mia menoleh, matanya masih basah. “Kalau Rian marah bagaimana? Dia selalu takut dengan ibunya"
“Biarkan,” potong ayahnya tegas. “Kamu bukan pembantu mereka. Kamu istri Rian, ibu Kayla, dan anak kami. Kalau di rumah itu kamu tidak dihargai, maka rumah ini yang akan melindungimu.”
Mia menutup muka dengan kedua tangan. Isaknya akhirnya pecah. Berbulan-bulan menahan, tersenyum di depan Kayla, mengalah demi keluarga, semuanya keluar hari ini juga. Ibunya terus memeluknya, mengusap punggungnya pelan seperti ketika Mia masih kecil.
Di luar kamar, ayah Mia berdiri di teras sambil menatap langit yang terik. Ia mengeluarkan ponsel, menatap nomor Rian yang tersimpan, lalu menghela napas panjang. Ia ingin menghubungi Rian, tapi mengurungkannya.
Di dalam kamar, Mia akhirnya tertidur dengan kepala di pangkuan Maya. Kayla tersenyum kecil dalam tidurnya, seolah ikut merasakan bahwa hari ini ibunya sedikit lebih tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini Rian pulang lebih lambat dari biasanya.
Ceklek....
Ia membuka pintu rumah dengan langkah lelah, mengira akan disambut aroma masakan atau setidaknya suara Kayla yang biasanya berlari menyambutnya. Tapi yang menyambutnya justru keheningan yang aneh, ditambah wajah Rukmini yang sudah menunggu di ruang tamu dengan tangan bersedekap.
“Sudah pulang?” tanya ibunya datar.
Rian meletakkan tas kerjanya. “Iya, Bu. Mia mana? Kayla juga?”
Rukmini mendengus keras, seolah sudah menunggu pertanyaan itu sejak siang. Ia duduk di sofa dengan sikap seperti orang yang sangat dirugikan.
“Mia pergi,” katanya tanpa basa-basi. “Dijemput orang tuanya siang tadi. Bilangnya mau istirahat di rumah mereka. Dia demam sedikit saja sudah tidak mau gerak. Malas sekali.”
Rian mematung. “Pergi? Kenapa tidak telepon aku?”
“Memang harus ditelepon dulu baru boleh pergi? Bahkan dia saja tidak izin dengan ibu" Rukmini semakin bersemangat. “ibu sudah bilang, anak itu manja. Demam sedikit langsung rebahan. Padahal dulu waktu ibu masih muda, meski sakit tetap harus masak, tetap harus urus kamu dan adik kamu. Tapi Mia? Dia lebih memilih kabur ke rumah orang tuanya. Tidak bertanggung jawab.”
Sonya yang duduk di sudut sambil menggendong bayi ikut mengangguk-angguk. “Iya, Kak. Tadi Kak Mia malah mengatai kami rakus, gara-gara menghabiskan makanan yang kakak beli"
Rukmini melanjutkan dengan nada lebih tajam. “Kamu harus tegas, Rian. Istrimu itu kurang ajar. Sudah ditolong tinggal di rumah ini, sudah dibiayai, sudah dibantu, malah pergi begitu saja. Dia pikir dia siapa? Kalau dibiarkan, nanti dia semakin seenaknya. Ibu yakin dia sedang mengadu pada orang tuanya, bilang kami jahat. Padahal kami tidak menyuruhnya apa-apa"
Rian berdiri diam di tengah ruang tamu. Kepalanya penuh. Ia mengingat pagi tadi, ketika Mia masih terbaring lemah dan ia sempat mencium keningnya yang panas.
“Bu, Mia memang sedang sakit,” kata Rian pelan, mencoba membela.
Rukmini langsung memotong. “Sakit? Atau pura-pura sakit? ibu lihat sendiri dia masih bisa jalan, masih bisa buka pintu. Kalau benar-benar parah, mana mungkin dia sanggup pergi. Dia hanya tidak mau mengurus kamu, Rian. Sudah biasa dimanja. Dulu kamu bilang dia resign karena kamu minta, sekarang akibatnya kamu yang harus menanggung semuanya. Istrimu tidak tahu diri.”
Lukman muncul dari kamar belakang, masih dengan wajah kesal sejak pagi. “Iya, Kak. Dari dulu aku bilang Kak Mia itu sombong. Merasa hebat karena dulu kerja. Sekarang pas kami di sini, dia tidak suka"
Rian menatap adiknya, lalu menatap ibunya. Ada rasa tidak nyaman yang menguat di dadanya. Ia tahu Mia memang sering mengeluh, tapi ia juga tahu istrinya hampir tidak pernah menolak memasak atau mengurus rumah. Hari ini ia sendiri yang melihat Mia demam.
“Aku telepon dulu,” kata Rian singkat. Ia mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Mia.
Telepon tidak diangkat.
Rukmini menyeringai tipis. “Sudah. Tidak usah ditunggu. Dia pasti sedang mengadu. Besok kamu datang ke rumah mertuamu, tegur dia. Bilang kalau istri itu harusnya di rumah suami, bukan kabur ke orang tua. Kalau perlu, ancam saja. Jangan sampai dia merasa berkuasa.”
Rian tidak menjawab. Ia hanya duduk di sofa, menatap lantai. Di kepalanya bercampur antara rasa khawatir pada Mia, rasa bersalah, dan tekanan dari ibunya yang terus menjelek-jelekkan istrinya tanpa henti.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.