NovelToon NovelToon
Memilih Terbawa Arus

Memilih Terbawa Arus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Mengubah Takdir
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.

Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.

Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Pagi ini, beberapa bus sudah di penuhi anak anak dan beberapa guru beserta keluarganya.

Arus sendiri duduk di sebelah Alya, sepanjang jalan Alya terus menatap ke luar jendela menatap keindahan tempat yang mereka lewati.

Kebetulan mereka berlibur di salah satu puncak gunung, di perjalanan Alya tak hentinya kagum melihat kebun teh yang sangat rapi dan indah itu.

Arus mengambil jaket di tasnya.

"pakek ini, udara di gunung lebih dingin."

Alya menoleh, ia mengangguk sembari membenarkan jaket.

"kak.... aku juga kedinginan..." ujar salah satu murid Alya.

Kebetulan satu bus di isi oleh para murid beserta gurunya, jadi di bus ini yang tua hanya sopir, Alya dan arus.

Arus tersenyum, ia mengangkat anak itu ke pangkuannya.

"sini, kakak udah gak ada jaket lagi. Jadi peluk aja.."

Alya menyaksikan semua ini, bahkan ia sampai tersenyum.

ia tak menyangka sifat arus sangat lembut kepada anak kecil, bahkan dia merasa itu lebih lembut ketimbang sifat arus kepadanya.

"kak, apa kakak suka anak anak...?" tanya Alya.

arus mengelus rambut anak itu....

"bisa di bilang begitu...."

"kenapa....? Padahal kak arus terkenal cuek, bahkan banyak orang ngeliat kak arus keras. Kak arus juga jarang ngomong sama warga, tapi kok ke anak anak sama Alya beda...?" bingung Alya.

arus menurunkan anak itu dari pangkuannya, ia mengambil jaket lain.

"pakek ini buat selimut, kalok muat bagi sama temen temen biar gak dingin" ucap arus sambil mengelus anak itu.

Setelah anak itu kembali ke tempat duduknya, arus menoleh ke Alya yang masih menunggu jawaban.

"itu memang sifatku... Aku tak membenci mereka, aku hanya malas berbicara terlalu panjang dan membuang waktu ke hal yang menurutku tak penting"

"tapi kan hidup bertetangga itu penting..." jawab Alya.

"memang, tapi setiap orang berbeda. Selagi aku benar benar tak mengganggu mereka menurutku itu tak apa"

"gak bisa kak, kakak pasti tau gimana orang orang di desa ngeliat kakak kan..."

Alya kali ini tak setuju dengan apa yang di katakan arus, apalagi selama beberapa hari pernikahan ini. Alya tau kalau arus benar benar berbeda dengan rumor yang menyebar, menurutnya mereka memandang buruk karena mereka tak mengenal Arus dengan benar.

"ia aku tau.. Tapi aku kurang nyaman dengan itu, aku tak bisa berpura pura ingin terlihat sempurna di mata manusia yang tak akan pernah puas dengan harapan, lalu jika mereka sudah tak membiarkan ku mereka pasti akan mencari kesalahan orang lain dan membicarakan itu agar obrolan mereka tetap terasa seru. Jadi lebih baik aku yang jadi tumbal dan di bicarakan buruk"

mendengar ini Alya terdiam, bahkan walau dia memang kurang setuju jika suaminya di hina. Tapi yang di katakan arus memang ada benarnya, dari dulu hampir ada saja pembicaraan tentang menjelekkan orang, bahkan Alya sendiri sering dengar beberapa ibu ibu di warung menjelekkan temannya yang sedang tak ada di sana.

"kalok sama aku, kak arus sekarang sering ngomong sama aku. Padahal dulu kayak gak mau"

"karena kamu istriku, tentu itu membuat beda. Aku paling bertemu dengan mereka sesekali, sedangkan denganmu hampir setiap hari. Bahkan tentang hidup, aku memiliki prinsip tentang menikah sekali seumur hidup. Jika itu terwujud, bahkan aku akan lebih lama hidup bersama denganmu dari pada kedua orang tuaku"

"oooo...." itu jawaban Alya lalu mengalihkan pandangannya ke luar bus.

saat itu matanya tak sengaja melihat anak anak tangah bermain di lapangan.

Awalnya dia tersenyum, namun tiba tiba bayangan mimpinya teringat.

Di mana dia baru di beri momongan setelah menikah 9 tahun, bahkan di mimpi itu Bagas sudah menikah lagi dengan alasan kalau dia tak memiliki keturunan.

Sekali memiliki keturunan, dia malah di jebak hingga kehilangan sang buah hati yang selama ini di tunggu.

Tak hanya kehilangan anak, di mimpi itu bahkan suami dan keluarga meninggalkannya karena di anggap Alya sengaja membunuh janin yang ia kandung.

"apa kak arus akan sama, apa lagi kak arus suka anak anak" hal ini terlintas begitu saja di pikirannya.

Karena ini, Alya langsung terduduk lemas dengan wajah yang kacau.

"ada apa" tanya arus.

Alya menoleh dengan lemas...

"kak.... "

"hem...."

namun Alya malah menunduk lagi....

"ngomong aja.. Mumpung cuma berdua."

Alya kini menatap wajah arus lekat lekat.

"kalok aku semisal sampai bertahun tahun gak hamil gimana...?"

"kenapa ngomong kayak gitu...?"

"enggak kak, aku tiba tiba kepikiran tentang ini aja..."

"tentu aku gak masalah, lagi pula anak itu merupakan ujian, walau bukan artian selalu buruk. Tapi anak memang merupakan kenikmatan sekaligus amanah yang besar, memilikinya perlu pertimbangan yang matang. Apakah kita sudah bisa mencukup kebutuhannya, apa kita bisa mendidik dengan benar. Dan itu tak mudah, dari pada memaksa memiliki anak tanpa persiapan, aku lebih baik tak memilikinya juga tak masalah. Lagi pula jika sudah rezekinya, itu akan tetap datang"

"tapi kakak kan suka anak anak, apa lagi untuk mama Juita sama papa dewangga pasti mereka pingin punya cucu.."

"justru karena aku suka, aku tak ingin anakku terlantar. Dan untuk kedua orang tuaku kamu tak perlu khawatir, mereka tak akan memaksa tentang ini, apa lagi mereka yang paling tahu bagaimana aku kecil. justru kalau kamu terus hawatir itu malah bisa merusak kesehatanmu."

perkataan arus ini sedikit membuatnya lega, walau begitu Alya tetap memikirkan hal ini sampai ia tertidur.

Beberapa saat kemudian akhirnya bus berhenti, anak anak turun untuk melihat pemandangan.

Sedangkan arus menusuk nusuk lengan Alya dengan jari telunjuknya.

Alya yang tengah tidur mulai terusik dengan hal ini, ia sedikit menggeliat lalu perlahan membuka matanya..

"sudah Sampek...?"

arus mengangguk, ia mengambil tas milik mereka lalu membantu Alya berdiri.

Mata Alya yang masih berat seketika segar saat melihat pemandangan dari sini.

Bahkan sesekali Alya menghembuskan napas ke tangan karena uap dari mulut terlihat berasap saking dinginnya.

"udah, nanti bisa lihat lagi. Sekarang udah masuk jam solat."

"Alya mengangguk..."

ia di tuntun arus masuk ke salah satu penginapan.

"ternyata arus bisa perhatian kalok sama istrinya ya buk" ungkap salah satu wali murid yang juga ikut.

Juita langsung tersenyum mendengar pujian untuk anaknya ini.

"ia buk, arus memang gitu" jawab Juita.

matanya terus menatap sang anak yang menggandeng menantunya itu.

Ia merasa keputusannya untuk membantu Alya saat itu memang sudah pilihan yang tepat, walau sifatnya masih terkesan dingin kepada orang lain.

Tapi dia sudah merasa senang melihat putranya terkadang mau tersenyum saat bersama Alya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!