NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arisan RT, Lele Berdarah, dan Invasi Preman Salah Alamat

Dapur kediaman Hapsburg yang biasanya steril kini berbau amis yang menyengat. Xander, mantan Dominus Umbrae yang tangannya pernah meruntuhkan kartel-kartel terbesar Eropa, kini berdiri kaku di depan wastafel cuci piring. Ia mengenakan celemek motif bunga matahari milik istrinya di atas kemeja hitam mahalnya.

Di tangan kanannya, tergenggam sebuah belati taktis Strider SMF berlapis titanium seharga lima ribu dolar yang biasa digunakan untuk pertempuran jarak dekat. Namun hari ini, target Xander bukanlah pembunuh bayaran, melainkan dua kilogram ikan lele hidup yang terus menggelepar memercikkan air ke wajah bulenya.

"Tuan," bisik Dirga dari balik kulkas, sedang sibuk mengaduk es sirup rasa melon di dalam stoples raksasa. "Kalau Tuan mau, saya bisa menembak kepala lelenya dengan pistol peredam suara. Sekali dor, mati. Nggak akan muncrat ke mana-mana."

"Jangan bodoh, Dirga. Nyonya akan membunuh kita berdua kalau ada residu timah peluru di makan siang arisannya," desis Xander, matanya menyipit tajam, mencoba mengunci pergerakan ikan lele terbesar yang luar biasa licin. Dengan gerakan secepat kilat, Xander menebaskan belatinya. Trang! Ujung belati itu malah menancap di talenan kayu, sementara si lele melompat kegirangan dan jatuh ke lantai keramik.

"Freya!" panggil Xander panik. "Target lolos! Amankan perimeternya!"

Freya, sang assassin elit berwajah dingin yang sedang menyusun kue risoles di atas piring, langsung menjatuhkan nampannya. Ia berguling ke depan dengan gaya militer, mencabut garpu daging, dan bersiap menusuk lele itu di lantai.

"MAS XANDER! DIRGA! FREYA! SEDANG APA KALIAN?!"

Suara melengking Tania dari ambang pintu dapur membuat ketiganya membeku seketika. Freya tertahan dalam posisi merangkak dengan garpu terangkat, Xander masih memegang belatinya yang menancap di talenan, dan Dirga refleks mengangkat tangannya menyerah.

Tania berdiri di sana, tampil paripurna dengan kebaya kutu baru warna peach dan riasan wajah natural. Matanya memelototi kekacauan di dapurnya. "Ini lele kenapa pada jalan-jalan ke ruang tamu?! Dan Freya, kenapa kamu mau stabbing ikan pakai garpu?! Astaga, Ibu-Ibu RT sudah pada mau datang!"

Tania memungut lele itu dengan tangan kosong, memukul kepalanya pelan ke ujung meja hingga pingsan, lalu melemparkannya kembali ke wastafel dalam satu gerakan mulus. Xander menatap istrinya dengan kagum. Teknik stun tingkat dewa tanpa senjata tajam.

"Sana, kalian bertiga ganti baju! Biar aku yang selesaikan masaknya!" usir Tania sambil merebut belati titanium Xander dan menggunakannya untuk membersihkan insang lele dengan kecepatan brutal ala ibu-ibu pasar. "Dea! Tolong bukain pagar depan, Bu RT sama rombongannya udah di depan!"

Setengah jam kemudian, ruang tamu keluarga Hapsburg yang mewah berubah menjadi arena arisan yang riuh. Belasan ibu-ibu berdandan heboh duduk melingkar di atas karpet Persia seharga ratusan juta yang kini ditutupi taplak plastik agar tidak kena tumpahan kuah soto.

Xander, yang kini mengenakan kemeja rapi, berdiri menyandar di balik pilar dekat tangga bersama Dirga. Ia mencoba membaur, tersenyum kaku setiap kali ada ibu-ibu yang melirik kagum ke arah "suami bule Bu Tania yang ganteng banget".

"Tuan," bisik Dirga, memantau dari kejauhan layaknya sniper. "Ancaman di arah jam tiga. Bu Tejo dari RT sebelah sedang mengambil risoles ketiga kalinya, padahal jatahnya cuma dua."

"Biarkan saja, Dirga. Nyonya bilang kita harus mengutamakan diplomasi," balas Xander tenang.

Di tengah pembacaan doa pembuka oleh Bu RT, suasana damai itu mendadak hancur berantakan.

BRAK!

Pintu pagar besi depan ditendang terbuka dengan kasar. Tiga buah motor bebek berknalpot bising memaksa masuk, melindas pot-pot bunga aglonema kesayangan Tania. Enam orang pria berwajah garang, berjaket kulit sintetis, dan bertato naga luntur melangkah turun. Pemimpin mereka, seorang pria gempal berkalung rantai anjing, meludah sembarangan di teras rumah.

"Heh! Siapa yang punya rumah ini?!" teriak pria gempal itu, suaranya menggelegar ke seluruh ruang tamu. Ibu-ibu arisan seketika menjerit panik dan saling berpelukan.

Tania, yang sedang memegang mangkuk es buah, perlahan menurunkan mangkuknya. Alisnya menukik tajam.

"Gue Bang Kobar! Penguasa wilayah sini!" serunya pongah sambil menunjuk-nunjuk tongkat bisbol ke arah pintu. "Gue denger ada bule kaya baru pindah ke sini! Mana bulenya?! Keluar lu! Bayar uang keamanan bulanan dua puluh juta sekarang juga, atau rumah ini gue obrak-abrik!"

Udara di ruangan itu mendadak turun drastis. Xander tidak lagi menyandar di pilar. Mata birunya yang hangat telah berubah menjadi es yang mematikan. Ia melirik Dirga.

"Kode Hitam," bisik Xander tanpa intonasi. "Tembak lutut mereka. Jangan biarkan ada yang keluar hidup-hidup."

Dirga mengangguk, tangannya sudah merogoh ke balik jas untuk mencabut pistol Glock-19, sementara dari arah atas tangga, Freya diam-diam sudah membidik kepala Bang Kobar menggunakan crossbow senyap.

Namun, sebelum Xander sempat melangkah maju, sebuah lengan berkebaya peach merentang di depannya. Tania berdiri membelakangi Xander, menghadap lurus ke arah para preman itu. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang meledak-ledak.

"Tania, mundurlah," ucap Xander lembut, namun penuh ancaman. "Biar aku yang mengurus sampah-sampah ini. Aku butuh waktu sepuluh detik."

"Diam, Mas Xander," desis Tania. Ia menoleh sedikit, matanya menyala terang bak iblis yang terbangun dari neraka lapis ketujuh. "Mereka... melindas... aglonema Janda Bolong-ku."

Xander menelan ludah. Ia perlahan mundur satu langkah, memberi kode pada Dirga dan Freya untuk membatalkan serangan. Sang Dominus Umbrae tahu kapan harus bertarung, dan kapan harus menyingkir dari jalur amukan badai.

Tania melangkah ke teras, berdiri berkacak pinggang menatap enam preman bertubuh besar itu tanpa gentar sedikit pun.

"Heh, abang-abangan terminal!" bentak Tania, suaranya melengking tajam mengalahkan knalpot racing. "Kalian tahu nggak ini hari apa?! Ini hari Selasa! Hari Arisan! Kalian berani-beraninya masuk pakai sepatu kotor berlumpur injak-injak lantai teras yang baru aja dipel pakai pembersih lantai aroma lavender, hah?!"

Bang Kobar tampak bingung sejenak, tak menyangka akan dimarahi soal kebersihan oleh seorang ibu-ibu berkebaya. "Banyak bacot lu, emak-emak! Panggil laki lu yang bule itu! Gue nggak ada urusan sama pembantu!"

Mendengar kata 'pembantu', rahang Xander mengeras. Ia bersiap membunuh pria itu dengan tangan kosong, namun lagi-lagi ia terhenti saat melihat Tania meraih sesuatu dari ember cucian di dekat keran air.

Itu adalah tongkat pel bergagang aluminium yang bagian bawahnya masih basah dan kotor.

"Oh, jadi kamu jagoannya sini?" Tania tersenyum miring.

Dalam sekejap mata, kuda-kuda Tania merendah. Dengan kelincahan yang membuat Freya pun takjub, Tania melesat ke depan. Ia tidak memukul, melainkan menusukkan ujung gagang pel basah itu tepat ke ulu hati Bang Kobar.

BUGH!

Pria gempal itu tersedak, matanya melotot saat napasnya terputus. Sebelum ia bisa bereaksi, Tania memutar tongkat pelnya, menyapukan kain pel basah yang bau amis itu tepat ke wajah Bang Kobar dengan gaya tebasan Silat Cimande.

"Rasain nih pel-pelan bekas ngepel darah lele!" teriak Tania ganas.

Bang Kobar terjerembab ke belakang, batuk-batuk dengan wajah berlumuran air kotor yang bau amis parah. Lima anak buahnya tersentak kaget dan langsung mencabut parang serta celurit dari balik jaket mereka.

"Hajar emak-emak gila itu!" teriak salah satu preman.

Melihat senjata tajam ditarik, Xander tak bisa tinggal diam. Ia baru akan melompat, namun Dea yang sedari tadi duduk santai makan risoles, tiba-tiba menekan sebuah tombol di smartwatch-nya.

Sistem keamanan pintar rumah Hapsburg yang terhubung dengan sisa-sisa teknologi Olympus langsung aktif. Sprinkler air rahasia yang tersembunyi di atap teras meletus, namun alih-alih mengeluarkan air, alat itu menyemprotkan kabut tebal merica pepper spray yang sudah dimodifikasi dosisnya menjadi seratus kali lipat lebih pedas dari cabai rawit setan.

PSSSSSHHH!

Kelima preman itu langsung menjerit histeris, menjatuhkan senjata mereka, dan mengucek-ngucek mata yang terasa seperti dibakar bensin.

Di tengah kabut pedas itu, Tania yang kebetulan sedang memakai kacamata antiradiasi milik Dea, masuk membabi buta. Ia menggunakan tongkat pel layaknya tombak legiun Romawi.

PLAK! BUG! KRAK!

"Ini buat nginjek pot aglonema!" Bugh! "Ini buat teriak-teriak pas lagi doa arisan!" Plak! "Dan ini buat sepatu kalian yang kotor!" Krak!

Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, enam preman penguasa wilayah itu kini terkapar bertumpuk di lantai teras, menangis tersedu-sedu layaknya anak TK yang mainannya direbut. Tongkat bisbol dan parang mereka berserakan tak berguna di dekat pot yang hancur.

Ibu-ibu arisan di dalam rumah menonton adegan tersebut dari balik jendela kaca besar sambil makan es buah, layaknya sedang menonton film laga di bioskop kelas VIP.

"Wah, Bu Tania jagoan banget ya, jago bela diri," komentar Bu Tejo sambil mengunyah kerupuk. "Pasti suaminya yang bule itu pelatih karate."

Di luar, Tania membuang tongkat pelnya yang sudah bengkok ke tanah. Ia berkacak pinggang, menatap Bang Kobar yang sedang menangis memegangi lututnya.

"Sekarang dengerin baik-baik," ancam Tania, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan preman itu. "Gue kasih kalian dua pilihan. Pilihan pertama, suami gue yang bule itu turun tangan. Asal kalian tahu aja, dia kalau lagi kumat hobi ngoleksi ginjal orang buat pakan lele."

Tania menunjuk ke arah Xander yang berdiri di teras dengan tatapan kosong dan mematikan, kemejanya tersingkap sedikit memperlihatkan pistol Glock di pinggangnya. Bang Kobar langsung kencing di celana ketakutan.

"A-ampun, Bu... Ampuuun..." ratap Bang Kobar, menyatukan kedua tangannya memohon. "P-pilihan kedua apa, Bu?"

"Pilihan kedua," Tania tersenyum manis. Ia menendang ember berisi sabun lantai dan sebuah sikat karpet ke arah Bang Kobar. "Kalian sikat seluruh keramik teras ini sampai kinclong. Susun lagi tanah aglonema gue yang berantakan. Terus kalian cuci semua piring kotor bekas arisan di dapur belakang. Mengerti?!"

"M-mengerti, Bu! Siap cuci piring!" seru keenam preman itu serempak bak paduan suara, berebut sikat dan ember dengan sisa-sisa tenaga dan mata yang merah bengkak.

Tania merapikan tatanan rambutnya, mengelap tangannya dengan tisu basah, lalu berbalik kembali masuk ke dalam rumah seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum ramahnya kembali terpasang.

"Maaf ya Ibu-ibu, ada sedikit gangguan," ucap Tania ceria, mengambil kembali mangkuk es buahnya. "Ayo dilanjut, tadi sampai mana ya? Oh iya, pengocokan nama arisannya belum, kan?"

Di teras luar, Xander berdiri mematung memperhatikan para preman berwajah sangar yang kini jongkok berjajar, menyikat lantai sambil terisak pelan. Dirga menghampiri bosnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tuan," kata Dirga pelan. "Saya pernah melihat Nyonya menghancurkan automaton tempur. Tapi melihatnya menundukkan preman kampung pakai gagang pel bengkok... itu jauh lebih menakutkan."

Xander menghela napas panjang, senyuman bangga terukir di wajahnya. "Kau salah, Dirga. Senjata paling mematikan di dunia ini bukan peluru EMP atau satelit laser dari orbit."

Xander menatap istrinya yang kini sedang tertawa bersama ibu-ibu arisan. "Senjata pemusnah massal yang sesungguhnya adalah emak-emak Indonesia yang arisannya diganggu."

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!