Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Hilang Ingatan Tak Merubah Niat Kinanti
Setelah malam itu, Yudha benar-benar berubah total apakah karena dia amnesia atau memang sifatnya sebenarnya Yudha adalah lemah lembut.
Suami yang terkenal red flag saat ini menjadi suami yang green flag. Akan tetapi perubahan 180 derajat itu membuat Kinanti bersyukur dan berharap semua ini nyata bukan hanya sementara waktu saja.
Beberapa hari kemudian…
Hari ini setelah Yudha melakukan cek up terhadap kesehatannya, Yudha akan kembali ke rumah berkumpul kembali dengan kedua anak kembarnya Naufal Azhar dan Naura Azalia.
“Wajahnya teduh, menenangkan dan entah kenapa aku semakin nyaman di dekatnya,” batinnya Yudha.
Kinanti sibuk membereskan beberapa barang keperluan suaminya ke dalam sebuah tas, karena hari ini mereka akan kembali ke rumah setelah hampir dua mingguan di rumah sakit.
Sementara itu, Yudha tak bosan-bosannya menatap dan memandangi Kinanti yang sedang sibuk.
“Kinanti Khairunnisa, betapa beruntungnya diriku bisa menikahimu. Nggak hanya cantik tapi juga penyayang, sholehah,” lirihnya.
Tatapan itu justru membuat Kinanti salah tingkah. Sesekali, wajah perempuan berusia dua puluh lima tahun itu bersemu merah karena merasa terus diperhatikan.
“Mas, apa ada yang sakit atau merasa nggak nyaman?” tanya Kinanti ketika melihat Yudha yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.
Yudha memperbaiki posisi duduknya sebelum menjawab pertanyaan sang istri. Tatapannya masih tertuju kepada Kinanti dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
“Kamu kenapa, ya? Semakin dipandang, kok, semakin cantik?” tanyanya dengan nada menggoda, seperti seorang anak remaja yang baru saja jatuh cinta.
Kinanti yang kembali mendengar pujian bernada romantis itu sontak menundukkan wajahnya. Kedua pipinya semakin bersemu kemerahan. Saat ini pipinya memerah bukan karena bekas tamparan tapi karena pujian dari sang suami tercinta.
“Apa matahari sudah terbit dari sebelah barat yah?? tapi lumayanlah nggak bentak lagi setidaknya ada hikmah di balik kecelakaannya,” Kinanti mendumel dalam hati.
Baju yang sedang dipegangnya tanpa sengaja terlepas dan jatuh ke lantai saking kagetnya dengan perkataan suaminya.
Kinanti benar-benar tidak menyangka jika suaminya akan melontarkan gombalan seperti itu, gombalan yang terbilang sangat langka bahkan mustahil.
“Ah, Mas bisa saja. Mana mungkin aku secantik itu? Kalau pun aku secantik itu, mana mungkin Mas nggak mencintaiku?” balas Kinanti tanpa sadar.
Begitu kalimat itu terucap, Kinanti langsung terdiam karena keceplosan, kata-katanya terucap tanpa filter. Ia baru menyadari bahwa dirinya telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diucapkan.
Yudha pun terdiam sejenak. Dahinya sedikit berkerut, seolah sedang mencoba memahami maksud perkataan istrinya.
“Kenapa kamu bilang kalau aku nggak mencintaimu?” tanyanya kebingungan.
Kinanti mematung cosplay jadi patung Roro Jonggrang yang dikutuk oleh Bandung Bondowoso.
“Boro-boro mas berkata manis, melihat aku saja kayak melihat kotoran,” umpat Kinanti dalam hati.
“Bukannya kamu itu istriku? Jadi, wajar saja kalau aku mencintai wanita tercantik yang pernah aku temui dari sekian banyak wanita di dunia ini.” pujinya lagi.
Nada suara Yudha terdengar begitu tulus hingga membuat dada Kinanti terasa sesak.
Kinanti buru-buru menepuk-nepuk pelan bibirnya sendiri karena keceplosan. Ia benar-benar menyesali perkataannya.
“Maaf, Mas. Bukan begitu maksudku. Iya, mana mungkin Mas Yudha nggak sayang dan cinta kepadaku? Kalau Mas Yudha nggak cinta, nggak mungkin kan kita menikah dan punya dua orang anak,” kilahnya.
Kinanti, berusaha menutupi kegugupan sekaligus menyembunyikan kenyataan yang selama ini belum pernah ia ceritakan kepada suaminya semenjak Yudha pasca operasi dan hilang ingatan.
Yudha bukannya marah ataupun kesal. Ia justru tersenyum lebar hingga aura ketampanannya semakin terpancar.
Kinanti hanya bisa membalas senyum itu dengan senyum tipis.
Namun, jauh di dalam hatinya, ada rasa bersalah yang kembali muncul akan tetapi dia tidak memahami rasa bersalah yang menjalar di ulu hatinya.
“Iya, aku sangat sadar kalau Mas Yudha sejak awal nggak akan pernah mau menikahiku andaikan Mbak Kinasih nggak kabur bersama kekasihnya sehari sebelum kalian melangsungkan akad. Pada akhirnya, aku yang menggantikan posisi Mbak Kinasih sebagai istri Mas Yudha,” batinnya.
Kenangan itu kembali berputar di dalam kepalanya. Kinanti tahu, pernikahannya dengan Yudha tidak pernah dimulai dari kisah cinta seperti pasangan suami istri lainnya.
Namun, ia tidak ingin mengungkit masa lalu, apalagi sekarang Yudha sedang kehilangan sebagian ingatannya.
“Nggak usah dibahas panjang kali lebar sama dengan luas, yang paling penting wajahku untuk beberapa hari kedepan cuti dari tanda tangannya,” batinnya.
Yudha kemudian menepuk-nepuk kasur kosong di sampingnya.
“Sini, duduk,” pintanya.
Kinanti menatapnya sebentar sembari menunjuk ke dadanya langsung.
“Aku!?” beonya.
Yudha mengangguk perlahan, “Aku ingin menatap wajahmu lebih dekat lagi,” lanjut Yudha dengan senyum menggoda.
Jantung Kinanti kembali berdebar tak karuan. Ia berjalan pelan menuju ranjang, lalu dengan patuh duduk tepat di samping kiri Yudha.
Meski begitu, Kinanti masih menyisakan jarak beberapa sentimeter di antara mereka.
Ia masih merasa was-was. Ada ketakutan yang belum sepenuhnya hilang dari dalam dirinya. Setiap kali Yudha mengangkat tangan secara tiba-tiba, tubuhnya selalu refleks menegang karena teringat perlakuan Yudha di masa lalu yang terlalu membuat orang-orang prihatin kepadanya.
Tanpa disadari kedua pasangan suami istri itu, beberapa orang ternyata sedang memperhatikan kedekatan mereka dari kejauhan tanpa ada yang berniat untuk berbicara ataupun mengusik kedekatan keduanya.
“Oh Tuhan… apa aku nggak salah lihat? apa benar itu masih pak direktur?” tanyanya Omar sahabat dekatnya Yudha sekaligus asisten kepercayaannya.
Bi Mina sampai menitikkan air mata bahagia dan juga lega melihat majikannya tidak lagi bersikap semena-mena terhadap istrinya.
“Ya Allah, semoga saja ini bukan mimpi, semoga mereka bisa jadi keluarga sakinah mawadah dan warohmah, amin ya rabbal alamin,” ucapnya bi Mina.
Mang Dede memegangi keningnya bi Mina,” kamu nggak panas, saya juga nggak panas berarti apa yang barusan saya lihat bukan ilusi?”
Bi Mina mendelik mendengar ucapan mang Dede,” kamu sedang mimpi,” ketusnya Bi Mina.
Yudha kemudian mengulurkan tangannya ke arah wajah Kinanti. Ia berniat merapikan hijab istrinya yang terlihat sedikit miring.
Namun, begitu melihat tangan Yudha bergerak mendekati wajahnya, Kinanti spontan mundur beberapa langkah. Tangannya bahkan terangkat untuk melindungi wajah.
“Jangan, Mas! Sakit!” pekik Kinanti dengan suara bergetar.
Tangan Yudha yang semula hendak menyentuh hijabnya pun menggantung di udara.
Yudha terdiam. Senyum di wajahnya perlahan menghilang dan berganti dengan tatapan bingung.
“Kenapa kamu teriak?” tanyanya lembut karena keheranan melihat Kinanti yang reaksinya aneh di matanya.
“Memangnya siapa yang mau mukul kamu?” tanyanya lagi Yudha.
Tubuh Kinanti membeku hingga kesulitan untuk mencerna ucapan Yudha.
“Aku cuma mau memperbaiki hijab kamu yang sedikit miring,” jelas Yudha sambil menurunkan tangannya perlahan.
Ada gurat kecewa yang terlihat sesaat dari wajah gantengnya Yudha.
Kinanti menatap suaminya dengan napas yang masih belum teratur. Ia menengadah dan menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Yudha, seakan ingin memastikan apakah ucapan suaminya itu benar-benar tulus atau hanya sekadar omong kosong.
Yudha kemudian tersenyum kecil. Ia mengangkat telunjuknya dan menyoel pelan ujung hidung mancungnya Kinanti.
“Apa selama ini Mas biasanya mukulin kamu?” tanyanya.
Kinanti langsung terdiam dan dia bingung dengan balasan kata-kata yang harus diucapkannya.
“Soalnya kamu kelihatan seperti orang yang ketakutan setiap kali berada dekat denganku,” lanjut Yudha. “Aku pernah melakukan sesuatu yang membuatmu takut seperti ini?”
Pertanyaan itu membuat hati Kinanti mencelos. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Ia takut jika Yudha memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya, kondisi suaminya justru akan semakin buruk.
Kinanti kembali teringat pesan dokter mengenai amnesia yang dialami Yudha setelah kecelakaan.
“Jangan memaksa Yudha untuk mengingat masa lalunya. Hal itu bisa berakibat fatal.”
Pesan dokter itu terus terngiang-ngiang di kepalanya sekaligus perlakuan kasar dahulu Yudha berputar seperti kaset kusut di benaknya.
Kinanti menarik napas panjang, lalu berusaha memasang senyum seolah tidak terjadi apa-apa.
“Nggak, Mas. Mas Yudha nggak pernah mukul aku kok. Nggak mungkinlah suamiku memukulku kan mas Yudha sangat mencintaiku,” bohongnya.
“Kenapa aku merasa Kinan bohong kepadaku,” monolognya.
Yudha menyipitkan matanya yang sudah sipit dari sononya. Tatapannya seolah berusaha membaca sesuatu dari wajah Kinanti.
“Benarkah?” tanyanya.
Kinanti mengangguk cepat. “Iya, Mas. Mungkin aku tadi cuma kaget karena Mas tiba-tiba mengangkat tangan. Maaf, ya.”
Yudha masih menatapnya beberapa saat. Entah mengapa, ada sesuatu dalam jawaban Kinanti yang terasa janggal baginya.
Namun, ia memilih untuk tidak mendesak agar Kinanti berkata jujur.
“Kalau begitu, jangan takut sama aku,” ucap Yudha pelan. “Aku nggak akan menyakitimu.”
Mendengar kalimat itu, mata Kinanti terasa panas. Dia buru-buru menundukkan wajah agar Yudha tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Semoga ucapan Mas benar,” batinnya lirih. “Semoga setelah ini Mas benar-benar menjadi Yudha yang berbeda.”
Sementara itu, Yudha masih memandangi istrinya dengan perasaan yang sulit ia mengerti. Ada sesuatu yang terasa asing sekaligus akrab ketika berada di dekat Kinanti.
Seolah-olah, jauh di dalam hatinya, ada bagian dari dirinya yang sedang berusaha mengingat kembali sebuah cerita yang telah lama terkubur.
“Apa aku sejahat itu kepadanya?” Yudha keheranan.