Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23_Terjebak dalam masalah
Kekaisaran Eiden
Tahun suci 1560
Kota perbatasan Magrel
Setelah perjalanan panjang menyusuri jalan yang cukup memakan waktu, akhirnya kami sampai ke kota tersebut, banyak kereta kuda keluar dari kota itu, kami pun masuk setelah melewati pos penjaga.
Dari kejauhan tembok kota sudah terlihat berbeda. Bendera biru kerajaan yang dulu berkibar, kini telah diganti hitam pekat dengan lambang elang emas. Di alun-alun, patung kaisar baru berdiri menatap tajam. Udara kota terasa lebih berat dan militeristik daripada yang ada di ingatanku, wajahku datar tegang.
Kami akhirnya masuk setelah melewati gerbang pemeriksaan, walaupun kami sempat kesulitan untuk mengurus biaya administrasi, tapi untung saja Stella mampu mengatasinya, wajahnya manyun kesal.
Setelah berada di dalam kota, aku memperhatikan sekitar, mata kosong menyipit.
"banyak sekali petualang di kota ini ya?" Suara datar.
Dia tersenyum ke arahku, telinga berkedut.
"tentu saja, mereka semua pasti menginginkan hadiah yang disiapkan kekaisaran untuk memburu monster di lembah keputusasaan" Matanya berbinar.
Aku berhenti melangkah, mataku membelalak, wajah datar kaget.
"kekaisaran kau bilang!" Suara sedikit meninggi.
Dia menoleh ke arahku dan mengangguk pelan, wajah bingung.
"hmm.. tentu saja, eh tunggu.. kau benar-benar tidak tahu soal ini?" Alis terangkat.
Aku menundukan kepalaku, wajah datar tegang.
_kerajaan Eiden kini menjadi kekaisaran? Itu berarti mereka sekarang telah berhasil merebut hampir dari setengah benua ini!_ Alis bertaut.
Stella berjalan ke arahku dan menepuk bahuku, wajahnya cemas.
"hei! Sora! Kau baik-baik saja?" Matanya berkaca khawatir.
Aku mengangkat kepalaku, wajah datar dipaksakan.
"ahh.. tidak apa-apa, daripada itu kita harus segera mengobati pergelangan kakimu yang terkilir" aku berjalan melewatinya, suara datar.
"cepatlah, aku akan mengantarmu ke gereja!"
Langkah Stella terhenti. Senyumnya hilang, wajahnya pucat. Telinganya yang tegak perlahan turun, ekornya berhenti bergerak, tubuhnya kaku.
Dia tidak langsung marah, suaranya pelan dulu, gemetar menahan sesuatu yang sudah lama dipendam, mata meredup.
Dia hanya berdiam diri wajahnya menunduk, bahu bergetar.
"apa kau berencana untuk menjual ku?" Tangannya mengepal dengan erat, suara lirih bergetar.
Aku menoleh ke arahnya, wajah datar bingung.
"apa yang kau bicarakan?" Alis mengkerut.
Air matanya mulai menetes, dia menatap ke arahku, alis dan dahinya mengerut, mata berkaca-kaca marah.
"sudah ku duga kau sama saja dengan manusia yang lain!" Suaranya pecah.
Semua orang langsung berhenti beraktivitas dan mulai melihat ke arah kami, aku yang mulai berkeringat karena panik segera menarik lengannya, wajah datar panik.
"kau salah paham, ahh.. duh, lebih baik ikut denganku!"
Aku menyeretnya namun dia terus melawan dan berusaha melepaskan genggamanku darinya, wajahnya merah marah nangis.
"lepaskan aku! Lepaskan! Aku harusnya tidak berharap banyak padamu! Aku harusnya tidak memercayai mu! dan aku harusnya tidak berniat memanfaatkan mu! kalian semua adalah ras yang licik!" Suaranya histeris, air mata deras.
Aku menyeretnya ke sebuah gang dan menyudutkannya ke tembok, gang itu sempit dan bau sampah basah yang sudah berhari-hari tidak dibersihkan membuat napasku agak sesak, wajahku datar tegang.
"DENGAR BAIK-BAIK!! aku hanya ingin mengantarmu ke gereja untuk disembuhkan dengan sihir penyembuh! Kau mengerti?" Mataku tajam datar.
Dia melepaskan genggamanku dan langsung mengeluarkan belatinya, wajahnya merah marah, napas memburu.
"jangan pikir aku akan tertipu oleh bulan manismu itu! Kau sudah tahu berapa banyak ras yang di korbankan setiap tahunnya! Mereka semua mati hanya karena ajaran suci para biarawan dan biarawati itu, mereka semua mati!" Nafasnya terengah-engah, mata melotot benci.
Aku menatapnya dengan tajam, aliku mengerut, wajah datar bingung.
"maaf saja, tapi aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau katakan!" Aku menatapnya dengan serius sambil berpikir, mata kosong.
_apa maksudnya ini? Kenapa gereja menjadi seperti itu? Ini sangat berbeda dengan apa yang aku ingat_
Saat dia hendak menyerangku tiba-tiba saja sebuah tombak terlempar ke arah kami, kami berdua langsung berdiam diri tiba-tiba saja seorang ksatria dengan logo sayap berwarna putih mulai menghampiri kami, wajahnya angkuh.
*Wung!*
"kau yang disana! Cepat tinggalkan gadis itu sekarang juga!" Matanya tajam.
Aku menatap ke arahnya alisku mengerut, wajah datar dingin.
"ada urusan apa orang utusan gereja sepertimu menyerang kami?"
Dia sedikit tersentak lalu menyilangkan tangannya, wajahnya sinis.
"jangan salah paham, aku hanya menyerang gadis manusia binatang itu!" Alis bertaut.
Aku menjulurkan tanganku ke samping untuk menutupi Stella, wajah datar tegas.
"maaf saja, tapi dia ini adalah rekan berhargaku, aku tidak bisa menyerahkannya padamu!"
Tiba-tiba dari arah belakang, muncul beberapa ksatria lainnya, mereka semua langsung mengepung kami dan mengarahkan pedang mereka kepada kami, wajah sangar.
"maaf saja bocah, tapi gadis itu memiliki sedikit urusan dengan kami"
Aku menatap mereka semua dengan tajam, wajah datar dingin, saat aku ingin bergerak, tiba-tiba saja Stella memegang bajuku dengan sangat erat sambil gemetar, wajahnya pucat takut.
Aku menatap wajahnya dan melihat dirinya yang sudah sangat ketakutan sambil memejamkan matanya, mata berkaca, bahu bergetar.
_gadis ini? Apa dia segitu takutnya dengan mereka?_
Para ksatria itu mulai mendekat ke arah kami, aku berbisik pelan ke arahnya, wajah datar serius.
"hei.. jika kau bisa merahasiakan ini, aku akan menolongmu"
Dia membuka matanya dan menatap ku, mata berkaca-kaca.
"aku janji, aku tidak akan memberitahu hal itu" air matanya masih menetes, tubuhnya masih tidak berhenti gemetar, wajahnya pucat.
Aku menatap ke arah ksatria yang kami temui di awal, wajah datar dingin.
"maaf saja tuan ksatria suci, tapi jawabanku tetap.. tidak"
Setelah mendengar itu mereka semua langsung berlari ke arahku sambil menghunuskan pedangnya ke arahku, mata merah.
*Tap! Tap!*
Tapi aku mengambil nafas dengan tenang, mata tajam.
_Legacy Creations Mana_ (Menciptakan benda atau senjata dari mana) aku langsung membuat pedang mana dan menatap tajam ke arah mereka.
"teknik pedang bulan: Full Moon (membuat hempasan angin yang kuat untuk membelah lawan)"
Tidak ada ayunan besar. Hanya tebasan pendek dari bawah ke atas. Angin di gang itu berhenti sepersekian detik, lalu meledak. Hempasan berbentuk bulan sabit putih melesat, membelah udara, debu, bahkan bayangan tembok. Ksatria di depanku tidak sempat mengangkat perisai. Garis putih itu lewat, dan sedetik kemudian tubuhnya baru sadar kalau sudah terbelah.
*Wung! Slash!!*
Ksatria itu langsung membelalak, mata melotot kaget, dan tubuhnya terbelah menjadi dua, darah mulai bercucuran darinya, organ dalamnya mulai berjatuhan di jalan.
*Blugh!*
Para ksatria lainnya yang melihat itu langsung terjatuh dan mulai berteriak sambil melarikan diri dari tempat itu, wajah pucat ketakutan.
Aku langsung menatap ke arah sekitar, orang-orang mulai datang mengerumuni tempat itu, wajah panik.
"apa yang terjadi? Ada yang tewas! Seseorang panggil para ksatria!"
Aku langsung menggendong Stella yang terus mematung ketakutan, wajahnya kosong.
_Bloody mana (memasukan mana ke dalam darah dan otot, lalu memadatkannya)_ aku langsung melompat ke arah tembok dan naik ke atap rumah penduduk dan berlari di atasnya.
*Wush! Tap!*
Para ksatria suci dan ksatria kekaisaran mulai muncul dan mengepungku, mereka menggunakan sihir penguat dan mulai melompat ke atas juga untuk mengejarku, aku menoleh ke arah mereka, wajah datar tegang.
_cihh.. mereka semakin banyak_
Aku melompat dari satu atap ke atap lain, genteng-genteng pecah di bawah kakiku. Napasku sudah berantakan. Stella di punggungku masih gemetar, tangannya mencengkeram kerahku erat. Di bawah, suara lonceng gereja makin keras. Warga berteriak, anak-anak menangis, para ksatria meniup peluit. Seluruh kota seperti sarang lebah yang ditusuk.
*Prak! Prak!*
Aku berhenti sebentar di atas cerobong asap, bersembunyi di balik bayangan. Dadaku naik turun, wajah datar lelah.
_Sial... ini terlalu mencolok. Kalau terus begini mana-ku akan habis sebelum sempat keluar dari kota._
Aku menatap ke bawah, mata tajam. Jalan utama sudah diblokir ksatria dengan perisai besar. Mereka tidak lagi mengejar, tapi mengepung. Mereka tahu aku akan turun ke sana.
Saat aku berlari aku membuat sebuah topeng yang sama denganku dan memasangkan nya ke Stella yang tidak sadarkan diri, wajahnya pucat.
_padahal aku hanya ingin memanfaatkan informasi dari gadis ini, tidak ku sangka akan berakhir seperti ini!_ Wajah datar kesal.
Saat aku turun dari atap, aku langsung berhenti sambil menatap serius ke depan, wajah datar tegang.
"gawat, aku benar-benar terkepung" seluruh pasukan ksatria di kota itu sudah mengepungku, ditambah mereka membawa budak manusia binatang, elf dan dark elf, wajah mereka putus asa.
Stella yang sudah sadar pun langsung membelalak melihat sesamanya dijadikan budak dan dipakaikan rantai seperti itu, matanya berkaca marah.
"hentikan! Tolong dia!" Suaranya pecah.
Aku menatapnya dengan dahi mengkerut, wajah datar.
"jangan meminta hal konyol seperti it-" aku tersentak melihat wajahnya yang sangat serius seperti itu, mata berkaca-kaca tajam.
_padahal dia harusnya lebih mementingkan kondisinya sendiri, tapi kenapa dia sangat begitu peduli terhadap orang lain?_ Alis bertaut.
Dia langsung turun dan langsung mengeluarkan belatinya, wajahnya merah marah.
"jika kau tidak mau menolongnya, biar aku yang menolongnya!" Matanya berapi.
Para ksatria itu langsung menyerang kami berdua menggunakan sihir penguat, dia mulai menebas para ksatria itu sambil menerobos ke arah para budak itu.
*Clang! Clang!*
Namun salah satu ksatria itu tersenyum dan melepaskan rantai yang mengikat budak manusia binatang dan satunya lagi mulai mencambuk para elf dan dark elf itu, mereka langsung membuat penghalang untuk melindungi para ksatria yang menyerangku dan menembakan sihir kepada kami berdua.
*Prak! Wung!*
Aku menebas mereka satu persatu, namun mereka terus berdatangan tanpa henti, wajah datar lelah.
Di tengah kepungan itu, aku lengah sepersekian detik karena harus melindungi Stella yang ada di sampingku. Sebuah pedang ksatria dari samping berhasil lolos dan menebas bahuku lumayan dalam.
*SRATTT!*
Darah muncrat. Daging bahuku terbuka lebar, hampir terlihat tulangnya. Rasa perih yang tajam menjalar, bukan dingin seperti biasanya, tapi panas menyengat, wajahku meringis.
Stella menjerit, mata membelalak panik.
"SORA!" Suaranya pecah nangis.
Aku menggertakkan gigi dan mundur selangkah. Darahku menetes deras ke tanah. Para ksatria yang melihat itu tertawa, mengira aku sudah selesai, wajah mereka puas.
Tapi Dalam dua detik, luka yang menganga itu menutup kembali dengan rapat. baju ku robek dan basah karena darah.
*Srrk...*
Aku mengangkat kepalaku dan menatap ke arah mereka semua, mata dingin tajam.
Ksatria yang menebasku tadi membelalak ketakutan, wajahnya pucat.
"M-monster... dia monster! Lukanya... lukanya sembuh sendiri!" Suaranya gemetar.
Saat aku dalam pertarungan itu salah satu dari mereka langsung menertawakanku untuk menutupi rasa takutnya, wajahnya pucat tapi sombong.
"hahaha.. menyerahlah bocah, kau pikir hanya menggunakan kemampuanmu itu serta dengan teknik pedang busukmu itu dapat mengalahkan kami"
Salah satu ksatria yang paling depan menyeringai, matanya merah karena serakah.
"Kau tahu berapa harga satu manusia binatang di ibukota, bocah? Cukup untuk menghidupi keluargaku seminggu! Jadi jangan halangi rezeki kami!" Senyum serakah.
Tawa itu menusuk telingaku. Dunia mendadak senyap. Jantungku yang biasanya tenang, tiba-tiba berdetak sangat kencang, mata membelalak.
*Deg! Deg!*
Darahku yang dingin berubah panas. Urat-urat hitam di tubuhku tidak langsung mengeras, tapi berdenyut dulu seperti dialiri listrik. Rasa muak, kesal, dan benci yang asing naik ke kepalaku sekaligus, wajahku memerah marah.
Aku langsung tersentak, alis bertaut.
_perasaan apa ini, rasa muak, kesal, dan tidak tenang ini? Marah... Aku mendapatkan salah satu emosiku yang hilang?_ Mataku bergetar.
Mendengar itu aku langsung menggertakan gigiku, mataku membelalak merah, urat di dahi muncul.
"Teknik pedang bulan: Creesent Rush (menerobos musuh sambil menebasnya dengan cepat)" Suara berat marah.
Aku langsung membuat rantai di dekat Stella dan langsung mengangkat tubuhnya ke udara, Stella yang terkejut akan hal itu langsung melihat ke arahku dari atas, mata membelalak.
*Clank!*
Urat-urat hitam di tubuhku mulai mengeras, aku langsung menerobos mereka semua dan langsung menebas dengan sangat cepat tanpa berhenti, wajahku merah marah.
Langkah pertamaku menghancurkan tanah. Retak.
*Kraak!*
Aku tidak lagi melihat ksatria satu persatu. Aku melihat garis. Garis leher, garis pergelangan, garis celah zirah.
*SLASH! SLASH! SLASH! SLASH! SLASH!*
Setiap ksatria yang ku lewati diam membeku, lalu tubuh mereka terbelah beberapa detik kemudian. Darah mereka belum sempat jatuh, aku sudah berada di ujung jalan. Aku berhenti, pedang mana-ku berasap, lenganku bergetar. Di belakangku, satu peleton ksatria tumbang bersamaan seperti padi dipanen. Senjata mereka jatuh berdentingan.
*Trang... trang...*
Semua ksatria itu langsung tertebas tubuhnya dan mulai berjatuhan satu persatu, ksatria yang lain pun mulai panik dan mulai berlarian ke segala arah sambil membuang senjata mereka, wajah pucat ketakutan.
Aku Langsung berhenti, lututku hampir lipat dan napasku terengah-engah berat, Pandanganku menghitam di pinggirnya, keringat dingin mengucur deras. Urat hitam di lenganku bukan cuma mengeras, tapi merayap naik ke leherku. Aku memegangi dadaku yang berdegup kencang dan mulai mengikat para budak itu dengan rantai ku dan menurunkan Stella dengan cepat, wajah datar lelah tapi lega.
"hampir saja! Jika aku tidak menurunkan Stella, mungkin saja aku tidak bisa menangkap mereka semua"
Stella yang sudah turun pun langsung berlari ke arah para budak itu, dia melihat ke arah mereka dan mengelus pipi salah satu dari mereka dan mulai meneteskan air matanya, wajahnya sedih tulus.
"maaf! Maaf! Harusnya kalian tidak perlu menderita seperti ini" Suaranya bergetar, mata berkaca.
Para budak yang liar itu langsung terdiam melihat ketulusan hati Stella, mata mereka berkaca. Stella yang menyadari dilihat olehku langsung mengusap air matanya, wajahnya manyun malu.
"APA YANG KAU LIHAT HAH!! KAU INGIN MENGEJEK KU!!" Matanya melotot merah.
aku langsung membuat rantai dan langsung membuat blokade pada jalan di sekitar kami, wajah datar.
"tidak juga... Hanya saja, kau ternyata punya sisi yang baik ya" Suara datar lembut.
Mendengar itu Stella langsung tersenyum tipis, pipinya merah.
"apa yang kau maksud, aku ini memang selalu baik pada siapapun" Wajahnya bangga malu.
Untuk sesaat, suara lonceng dan teriakan warga menghilang. Hanya ada kami dan para budak di lingkaran rantai itu. Stella mengusap air mata budak kecil di depannya. Tangannya yang kasar karena memegang belati, sekarang sangat lembut. Aku melihatnya. Gadis yang tadi ingin menusukku, sekarang rela mati untuk orang lain yang bahkan tidak dia kenal, mata kosong tapi hangat.
_...dia benar-benar bodoh, tapi.. aku juga sama bodohnya dengannya._ Senyum tipis datar.
Para warga yang cemas pun mulai berdatangan ke arah kami, wajah panik.
"gawat! Aku tidak punya banyak stamina lagi untuk bertarung" napasku masih belum teratur, setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca, wajah datar pucat.
Aku menatap budak-budak itu dan langsung berjalan ke arahnya, Stella yang melihat itu langsung mulai penasaran, alis terangkat.
Aku mengangkat pedangku dengan tinggi dan mulai menebas ke arah mereka, Stella yang melihat itu langsung mengarahkan pukulan ke arahku, mata membelalak panik.
*TINGG*
Rantai yang melilit tubuh mereka langsung hancur dan mulai hilang, pecah berkeping.
_sudah kuduga, bahwa pedang ini bisa menetralkan sihir kecil_
Aku menatap ke arah mereka dan mulai memegangi pundak salah satu budak manusia binatang itu, wajah datar.
"heii.. aku sudah menolongmu, jadi kau harus menolong kami, bisa kau antarkan kami ke tempat yang sepi"
Dia menatapku dan menoleh ke arah teman-teman budaknya yang lain dan mengangguk, wajahnya takut tapi tulus.
"le-lewat sini.." dia berlari ke salah satu jalan, langkah pincang.
Aku langsung menoleh ke arah belakang dan mulai menghancurkan jalan itu dengan tumpukan rantaiku, kemudian aku menarik Stella yang menatap ke arah mayat-mayat ksatria itu, matanya kosong trauma.
*Graak!!*
"cepatlah! Kita harus lari!" Suara datar tegas.
Kemudian kami berlari dari kejaran para warga dan bersembunyi di sebuah tempat yang ditunjukkan oleh para budak-budak itu.
*Tap... tap...*