"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Munculnya Rendy (Ketua Osis) 14.
Gerimis malam itu tidak punya sopan santun. Ia turun tanpa peringatan, mengubah aspal kering di depan mal menjadi cermin hitam yang memantulkan lampu-lampu jalanan kota Bandung.
Nawang duduk di bangku besi halte bus yang dingin. Telapak tangannya menutup, menyembunyikan kalung perak berliontin T&N di dalam saku seragamnya.
Dia menolak memesan taksi daring. Ada bagian dari dirinya yang malam ini ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi tidak praktis, menjadi tidak pengertian pada situasi, dan membiarkan dirinya sedikit sengsara oleh cuaca.
Sebuah bayangan tinggi mendadak memotong sorot lampu mobil yang lewat di depan halte.
Nawang mendongak. Di hadapannya berdiri seorang cowok dengan seragam sekolah yang sama dengannya, hanya saja dilapisi jaket parka hitam yang basah di bagian bahu. Rambutnya agak berantakan terkena tempias air.
Rendy. Ketua OSIS yang terkenal dingin, metodis, dan jarang bicara di luar agenda rapat sekolah.
"Bus terakhir jalur ini sudah lewat sepuluh menit lalu," kata Rendy. Suaranya datar, tanpa intonasi kasihan yang biasanya bikin Nawang risih— hal risih itu tertuju pada Timy yang terus mengkasihani Naya.
Nawang mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kembali fokusnya yang sempat berserakan. "Oh. Ya udah, nanti juga ada angkot lewat."
Rendy tidak pergi. Cowok itu malah ikut duduk di ujung bangku halte yang lain, menyisakan jarak sekitar dua meter di antara mereka. Dia meletakkan tas laptopnya di pangkuan, lalu menatap lurus ke depan, memperhatikan rintik hujan yang makin rapat.
"Kapten cheerleader yang biasanya paling berisik di kantin, sekarang malah mojok di halte malam-malam. Timy ke mana?" tanya Rendy. Pertanyaan itu lugas, khas Rendy yang tidak suka basa-basi politik.
Nawang tersenyum tipis, jenis senyuman yang tidak sampai ke mata. "Lagi jadi pahlawan penyelamat dunia. Tugas negara."
Rendy menoleh sedikit. Sebagai ketua OSIS, dia tentu tahu dinamika anak-anak menonjol di sekolahnya. Dia tahu Timy, sang kapten basket, dan dia tahu desas-desus tentang Naya yang selalu membayangi hubungan mereka. Namun, Rendy bukan tipe orang yang suka mengonsumsi gosip liar.
"Penyelamat dunia biasanya lupa kalau mereka sendiri nggak punya kekuatan super," komentar Rendy pelan. Dia merogoh kantong parkanya, mengeluarkan sebotol teh kemasan yang masih segel, lalu menggesernya di atas bangku besi ke arah Nawang. "Minum. Muka lu kayak orang mau pingsan."
Nawang melihat botol itu, lalu beralih menatap Rendy. "Gua nggak minta."
"Gua juga nggak nawarin buat ditolak," balas Rendy dingin, namun tidak kasar. "Itu logika dasar. Badan lu gemetaran, udara makin dingin. Kalau lu pingsan di sini, gua terpaksa harus terlibat lebih jauh, dan gua benci buang-buang waktu."
Nawang mendengus pelan. Keanehan interaksi ini justru membuat dadanya yang semula sesak menjadi sedikit lebih ringan. Rendy tidak menanyakan "lu kenapa?", tidak juga menawarkan pelukan atau kalimat penenang seperti Timy. Cowok ini memperlakukannya seperti sebuah variabel dalam ruang matematika yang harus diselesaikan agar tidak mengganggu fungsi lainnya.
Nawang membuka segel botol itu dan meminumnya sedikit. Rasa manisnya membantu mengusir rasa hambar di lidahnya. "Makasih."
Ponsel di saku Nawang bergetar lagi. Kali ini layar menampilkan nama Timy yang mencoba menelepon. Nawang hanya melihatnya sekilas, lalu membalikkan layar ponsel itu ke bawah di atas paha.
Rendy melirik sekilas ke arah ponsel yang bergetar. "Nggak diangkat?"
"Gua lagi belajar buat nggak peduli," jawab Nawang jujur. Untuk pertama kalinya malam ini, dia menyuarakan isi kepalanya pada orang lain—dan ironisnya, orang itu adalah Rendy, cowok yang hampir tidak pernah mengobrol dengannya di koridor sekolah.
"Bagus," sahut Rendy singkat.
Nawang menoleh, agak terkejut. "Bagus?"
"Peduli itu mahal. Kalau dialokasikan ke tempat yang salah, lu bakal bangkrut emosi," ucap Rendy sambil memperbaiki posisi tasnya. "Di OSIS, kalau ada divisi yang kinerjanya terus-terusan minus dan cuma bisa nuntut anggaran tanpa kasih hasil, pilihannya cuma dua— dievaluasi total, atau dibubarkan."
Nawang terpaku. Analogi organisasi itu terdengar sangat kaku, tapi entah kenapa, masuk akal di otaknya yang sedang lelah.
Hubungannya dengan Timy selama ini adalah divisi yang bangkrut itu. Nawang adalah investor tunggal yang terus memberikan perasaan, pengertian, dan toleransi, sementara Timy menguras semuanya untuk diberikan pada masa lalunya bersama Naya.
"Gua rasa... gua udah mutusin buat ngebubarin divisinya," gumam Nawang, suaranya agak serak.
Rendy bangkit dari duduknya. Sebuah mobil jip hitam tua berhenti tepat di depan halte, lampu hazard-nya berkedip ritmis. "Itu abang gua. Gua duluan."
Rendy berjalan dua langkah, lalu berhenti. Dia tidak menoleh ke belakang saat berbicara, "Kalau lu masih mau duduk di sini sampai besok pagi buat meratapi nasib, silakan. Tapi kalau lu punya akal yang sehat, masuk ke mobil. Gua anter sampai depan komplek lu."
Nawang menatap punggung Rendy, lalu beralih ke mobil jip yang mesinnya menderu halus di tengah hujan. Tidak ada motif tersembunyi dari ajakan Rendy, cowok itu hanya menawarkan tumpangan karena mereka satu sekolah dan dia kebetulan ada di sana.
Nawang berdiri, mengencangkan pegangan tasnya, dan melangkah keluar dari zona nyaman halte yang basah. Dia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri malam ini, dimulai dengan menerima tumpangan dari cowok asing yang baru saja memberinya pelajaran tentang manajemen emosi.
Di dalam mobil yang hangat, Nawang menatap keluar jendela yang berembun. Di dalam sakunya, jemarinya meraba permukaan liontin perak yang kini terasa asing. Dia tahu besok pagi di sekolah, segalanya akan menjadi rumit saat Timy menuntut penjelasan. Tapi untuk malam ini, saat mobil mulai melaju membelah hujan, Nawang merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari dadanya: kendali atas hidupnya sendiri.
......................
...****************...
Tbc,