NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Hannah

Di Balik Cadar Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.

Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.

Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Pemotretan

Faz baru saja siuman. Rozin, sahabatnya, masih setia menemani di sisi ranjang rumah sakit. Begitu melihat Faz membuka mata, Rozin segera mendekat dengan raut wajah cemas.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

Sebenarnya, Rozin ingin sekali marah ketika mengetahui bahwa Faz ternyata menyimpan penyakit yang begitu serius seorang diri. Namun, niat itu diurungkannya. Faz pasti memiliki alasan tersendiri hingga memilih merahasiakan semuanya.

“Aku di mana?” tanya Faz dengan suara lemah.

“Di rumah sakit. Memangnya di mana lagi?”

Faz mengerjapkan mata, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya kehilangan kesadaran.

“Bagaimana yang lain?”

“Mereka sudah kembali ke vila.”

“Oh.”

Faz terdiam sejenak, lalu mencoba mengangkat tubuhnya.

“Aku juga harus kembali.”

Rozin menghela napas panjang. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, tetapi satu hal terasa jauh lebih penting saat ini.

“Sebenarnya ada apa, Faz?”

Faz hanya menatapnya tanpa memberikan jawaban.

Rozin mengusap wajahnya, berusaha menahan emosi. “Sudahlah. Kita pulang saja, ya? Setelah itu, kamu jalani pengobatanmu dengan baik.”

Faz terdiam. Dari ucapan Rozin, ia tahu bahwa sahabatnya itu sudah mengetahui penyakit yang selama ini disembunyikannya.

“Apakah yang lain tahu?”

“Tahu apa?”

“Tentang penyakitku.”

“Belum. Hanya aku yang tahu. Kebetulan aku yang menemanimu dan menemui dokter tadi. Aku belum memberi tahu yang lain.”

Faz mengembuskan napas lega. Setidaknya, rahasianya belum sampai kepada orang-orang yang ingin ia lindungi dari kekhawatiran.

Rozin memperhatikan wajah pucat sahabatnya itu. Rasa kesal yang sejak tadi ditahannya kembali muncul.

“Kenapa kamu tidak fokus berobat saja, Faz? Kamu malah sibuk memikirkan pemotretan.” Ia menggeleng pelan. “Menurutku, lebih baik kamu beristirahat dulu. Jangan memaksakan diri. Fokuslah pada pengobatanmu.”

Faz menunduk sesaat sebelum kembali menatap Rozin.

“Tidak, Rozin. Mungkin ini pemotretan terakhirku. Aku ingin semuanya berakhir dengan baik. Setidaknya, aku ingin meninggalkan hasil yang bisa kubanggakan.”

Kalimat itu membuat Rozin terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca, lalu setetes air mata jatuh tanpa bisa ditahannya.

Ah, anak ini memang keras kepala.

“Jangan bicara seolah-olah semuanya sudah berakhir,” ucap Rozin lirih. “Insyaallah, selama kamu masih mau berikhtiar, kita usahakan yang terbaik. Kamu masih punya kesempatan untuk sembuh, Faz. Jadi, jangan menyerah sebelum berjuang.”

Rozin berusaha menyampaikan nasihat itu dengan tegas, meskipun suaranya sedikit bergetar.

“Sekarang, pengobatan dulu, nggeh?” lanjutnya, mencoba mencairkan suasana.

Faz tersenyum tipis.

“Ndak, Zin. Tolong bawa aku kembali ke vila. Aku harus menyelesaikan pemotretan ini.”

“Faz!”

“Aku janji tidak akan memaksakan diri. Aku hanya ingin menyelesaikannya.”

Rozin memejamkan mata sejenak. Ia tahu, jika Faz sudah mengambil keputusan, akan sulit sekali mengubah pikirannya.

Akhirnya, setelah infus Faz selesai dan dokter mengizinkannya pulang, Rozin mengalah. Dengan berat hati, ia mengantar Faz kembali ke Vila Riri, meskipun kekhawatiran masih memenuhi benaknya.

---¤---

Sementara itu, di vila tempat Hannah menginap, Riri dan Farah sedang duduk bersama membicarakan rencana pemotretan berikutnya.

“Bagaimana kalau pemotretannya kita lakukan di sekitar sini saja?” usul Farah.

Hannah terdiam.

“Usul yang bagus Far. Gimana Han? Di sini tidak ada orang yang bakal mengenalmu.”

Farah mengerutkan kening. “Memangnya kenapa Kak?”

Hannah terdiam sesaat. Tatapannya beralih ke arah jendela, memperhatikan hamparan laut yang terlihat dari kejauhan.

“Aku hanya ingin berada di tempat yang tenang Far.”

Riri dan Farah saling pandang. Keduanya memahami bahwa Hannah sedang membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri. Namun, mereka juga tahu bahwa ada sesuatu yang membuat perempuan itu ingin menjauh dari kehidupan yang selama ini dikenalnya.

“Baiklah,” jawab Riri akhirnya. “Kita nanti cari tempat yang cocok. Yang penting kamu juga merasa nyaman di sana.”

Hannah mengangguk kecil.

Mereka kembali berdiskusi, mempertimbangkan beberapa lokasi yang mungkin digunakan. Namun, belum selesai pembicaraan itu, suara mobil terdengar dari halaman depan vila.

Farah spontan menoleh ke arah pintu.

“Apakah itu Kak Faz?”

“Mungkin,” jawab Riri.

“Aku bukakan pintu dulu.”

Farah segera berdiri dan berjalan menuju pintu utama. Begitu pintu terbuka, ia melihat dua orang laki-laki baru saja keluar dari mobil.

Benar saja, salah satunya adalah Faz.

“Kak Faz! Sudah baikan?” tanya Farah sambil menghampiri mereka.

“Alhamdulillah, sudah agak baikan,” jawab Faz singkat.

“Syukurlah.” Farah tersenyum lega. “Ayo, masuk, Kak. Kami sedang membicarakan rencana pemotretan berikutnya di sekitar sini. Tapi Kak Faz istirahat saja dulu, ya. Jangan terlalu memaksakan diri.”

Faz hanya mengangguk, lalu mengikuti Farah masuk bersama Rozin.

Ketika mereka tiba di ruang tengah, Riri segera bangkit dari duduknya.

“Kamu baik-baik saja, Faz?” tanyanya, memperhatikan wajah Faz yang masih terlihat pucat.

“Insyaallah.”

Hannah yang sejak tadi duduk di sofa ikut menoleh. Tatapannya berhenti pada wajah Faz selama beberapa saat sebelum ia mengajukan pertanyaan sederhana.

“Sudah makan?”

Faz menggeleng.

Hannah menghela napas pelan. Belum lama siuman, laki-laki itu sudah kembali ke vila. Kini, ternyata ia bahkan belum makan.

Riri langsung menoleh kepada Rozin.

“Bagaimana, sih, kamu, Zin? Pasien kok tidak diberi makan?”

Rozin mengangkat kedua tangannya, seolah hendak membela diri.

“Lho, tadi katanya dia sudah kenyang. Aku juga tidak mungkin memaksanya makan kalau dia tidak mau.”

Riri mendengus pelan, masih tidak puas dengan jawaban itu.

Sementara itu, Hannah beranjak menuju dapur tanpa banyak bicara. Ia mengambil beberapa piring dan menyiapkan makanan untuk Faz dan Rozin. Karena dirinya, Riri, dan Farah sudah makan sebelumnya, ia tidak perlu menyiapkan hidangan untuk mereka lagi.

Tak lama kemudian, Hannah kembali membawa dua piring berisi gado-gado khas daerah setempat.

Ia meletakkan salah satunya di hadapan Faz, lalu menaruh piring yang lain untuk Rozin.

“Makan dulu. Setelah itu, istirahat,” ujar Hannah. “Untuk pemotretan, kita bicarakan besok saja. Tidak perlu terburu-buru.”

Faz menatap makanan di hadapannya, kemudian mengangkat wajah untuk melihat Hannah.

Ada kehangatan sederhana dalam perhatian perempuan itu. Tidak banyak bertanya, tidak pula mendesaknya menjelaskan apa yang terjadi. Hannah hanya memintanya makan dan beristirahat, seolah itu sudah cukup untuk saat ini.

Faz mengangguk pelan.

“Terima kasih, Hannah.”

Hannah membalasnya dengan anggukan kecil sebelum kembali duduk.

Faz meraih sendok dan mulai menyantap makanannya. Rozin yang duduk di sebelahnya akhirnya ikut makan, meskipun sesekali masih melirik sahabatnya dengan tatapan penuh peringatan.

Riri dan Farah kembali duduk. Suasana perlahan terasa lebih tenang, meski kekhawatiran mereka belum sepenuhnya hilang.

Di tengah keheningan itu, Faz sesekali mencuri pandang ke arah Hannah. Ia tidak tahu sampai kapan masih bisa duduk bersama mereka seperti ini. Karena itu, ia ingin menyimpan setiap momen sederhana yang masih bisa ia rasakan.

Namun, ada satu hal yang belum diketahui siapa pun di ruangan itu.

Faz belum memberi tahu mereka tentang keputusan dokter setelah ia kehilangan kesadaran tadi.

1
naar0rrrr
lanjutt yaa kakk, semangatt💪 jangan lupa mampir cs ku yakk/Smile/
naar0rrrr
Hannah kayak nya bingung mau jawab apa ya..
naar0rrrr
kenapa faz nya gak jujur ya?
naar0rrrr
lanjuttt kakk, semngatttt
naar0rrrr
di ingetinn dongg, lanjutt yaa kaaa
naar0rrrr
lanjutttt thorrrrr
Putry Chan
kmu ingin mempertemukan hannna Dengan masa lalu nya apakah mereka ini gak tau
Putry Chan
berdoa dulu insyaallah aman kok
Putry Chan
faz itu masa lalu Hannah btw mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Hannah kamu knp
Putry Chan
Hannah kamu kenal dia
aefpe fp
mampir juga ya...sesama pemula ini😍
jinggaarundari
yahhhh gantung.... lanjut terus kaa😍😍
jinggaarundari
ya ampun Hannah...
jinggaarundari
Faz cek lagi ke RS bikin dejavuu akuu, baru awal udh deep 🫠
semangat terus kaa😍😍
Renjana
pertemuan dengan siapa tu?🤭
R: dengan masa lalu 🤭
total 1 replies
Renjana
bagus kak,
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!