NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Keheningan di dalam kereta terasa berat, namun Pangeran Ketiga akhirnya membuka pembicaraan. Tatapannya serius, tanpa bercanda sedikit pun.

"Feng Wu, aku mengundangmu atau lebih tepatnya membawamu bukan tanpa alasan," ucapnya rendah namun tegas. "Aku ingin memperingatkanmu. Hati-hatilah terhadap Pangeran Mahkota dan Permaisuri. Mereka bukan orang yang mudah dihadapi. Pangeran Mahkota terbiasa mengambil apa pun yang ia inginkan, tanpa peduli milik siapa. Dan Permaisuri... ia jauh lebih licik dan berbahaya dari yang kau bayangkan. Jika kau tidak berhati-hati, kau bisa terjebak dalam rencana mereka tanpa sempat menyadarinya."

Feng Wu menatapnya lurus, tanpa takut sedikit pun. Namun jawabannya justru membuat Pangeran Ketiga terdiam.

"Yang Mulia bilang mereka berbahaya..." ucap Feng Wu pelan namun tegas. "Tapi bagiku, yang paling berbahaya justru Yang Mulia sendiri. Hampir setiap hari kau mengikutiku, mengintai, bahkan memaksaku masuk ke keretamu seperti ini. Bukankah itu tindakan yang jauh lebih mengganggu dan berbahaya? Dan kau melakukannya tanpa rasa malu sedikit pun."

Pangeran Ketiga tertegun. Matanya berkedip pelan, ia tak menyangka akan dijawab begitu. Wajahnya yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan perlahan memerah di balik ketenangannya. Ia salah tingkah. Namun ia berusaha tetap tenang, menutupi kegugupannya dengan wajah yang serius.

"Aku melakukannya demi keselamatanmu," jawabnya pelan, suaranya terdengar sedikit lembut.

"Keselamatan macam apa!" gumam Feng Wu pelan.

Namun Pangeran Ketiga tak berhenti di situ. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, lalu berkata dengan nada yang sedikit berat: "Dan satu hal lagi... Pangeran Ketujuh sepertinya menyukaimu dan.......... "

Belum selesai Pangeran Ketiga berbicara, Feng Wu langsung memotongnya dengan wajah kesal.

"Yang Mulia! Apa urusan ini denganmu?!" suaranya meninggi sedikit, penuh ketidaksukaan. "Ini urusan hidupku, perasaanku, dan orang-orang di sekitarku. Kenapa Yang Mulia terlalu mencampuri urusanku? Siapa yang aku temui, siapa yang menyukaiku itu bukan hak Yang Mulia untuk mengaturnya!"

Pangeran Ketiga terdiam. Ia menatap Feng Wu, matanya yang bersinar penuh amarah dan kemandirian. Sebenarnya ia ingin mengatakan satu hal bahwa ia cemburu, bahwa ia tidak ingin orang lain mendekatinya, bahwa ia sendiri mulai menyukainya. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan, tak sanggup diucapkan.

"Kau benar..." ucapnya pelan, suaranya kehilangan ketegasannya. "Aku... terlalu jauh masuk ke dalam hidupmu. Maafkan aku."

Tepat saat itu, kereta berhenti. Pengawal di luar membukakan pintu, mereka sudah tiba di depan gerbang kediaman Wen.

Feng Wu langsung berdiri tanpa menoleh lagi. "Terima kasih sudah mengantarku. Dan tolong mulai besok, jangan ikutiku lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

Tanpa menunggu jawaban, ia turun dan berjalan masuk ke dalam kediaman tanpa menoleh sedikit pun.

Pangeran Ketiga tetap duduk di dalam kereta, menatap punggung Feng Wu yang menjauh. Tangannya mengepal pelan di atas lututnya.

"Aku tahu aku tidak berhak... tapi melihatmu, aku tak bisa berhenti peduli" Batin Pangeran ketiga.

Sesampainya di dalam kediaman Wen, Feng Wu langsung disambut oleh seluruh keluarga besar yang sudah menunggu di ruang tengah. Jenderal Wen, Paman Wen, Bibi Yun, serta Wen Jin semuanya ada di sana. Begitu melihat Feng Wu masuk, mereka segera menyambutnya dengan wajah penuh harap.

"Wu'er, kau sudah kembali!" seru Bibi Yun dengan senyum hangat. "Bagaimana pertemuan dengan Yang Mulia Kaisar tadi? Beliau tidak menyulitkanmu, kan?"

Jenderal Wen juga mendekat, menatap cucunya dengan tatapan penuh kasih sayang sekaligus rasa ingin tahu. "Ceritakan pada Kakek, apa yang terjadi di istana tadi? Apakah semuanya berjalan lancar?"

Feng Wu tersenyum lembut, lalu duduk di hadapan mereka dan mulai menceritakan semuanya secara detail, mulai dari percakapannya dengan Kaisar, pemeriksaan penyakit yang diderita Kaisar, hingga kunjungan ke Paviliun Abadi untuk melihat keadaan Ibu Suri.

"Dan di akhir pertemuan," lanjut Feng Wu dengan tenang, "Kaisar berkehendak mengangkatku menjadi Tabib Khusus Istana. Dengan begitu, aku bisa keluar-masuk istana kapan pun diperlukan, untuk mengobati Ibu Suri maupun membantu urusan pengobatan lainnya."

Ruangan itu seketika hening sejenak, lalu meledak dengan ucapan syukur dan kegembiraan.

Di antara mereka, Wen Jin yang berdiri di sudut ruangan tampak paling terkejut. Matanya membelalak tak percaya, namun perlahan senyum tulus merekah di wajahnya. Selama ini, menjadi Tabib Istana adalah impian terbesarnya. Ia belajar keras setiap hari, meracik obat, mempelajari kitab-kitab pengobatan kuno, berharap suatu hari nanti ia bisa melayani di istana.

Namun kini, posisi itu justru jatuh ke tangan adik sepupunya, Feng Wu. Dan bukannya merasa cemburu atau kecewa, hati Wen Jin justru dipenuhi rasa bahagia yang tulus.

"Wu'er... kau benar-benar hebat!" ucapnya dengan suara penuh kekaguman, melangkah mendekat. "Selama ini aku bermimpi untuk menjadi Tabib Istana, tapi aku tahu kemampuanku belum seberapa. Tapi kau... kau jauh lebih berbakat dariku. Yang Mulia Kaisar tidak salah memilih. Aku sangat bahagia karena kau yang dipercaya oleh Kaisar!"

Feng Wu tersenyum mendengarnya, merasa berterima kasih memiliki keluarga yang begitu tulus menyayanginya. "Kakak Wen Jin, kau juga hebat. Pengetahuanmu tentang tanaman obat jauh lebih luas dariku. Kita bisa saling belajar dan membantu satu sama lain."

Jenderal Wen menepuk bahu kedua cucunya dengan mata berkaca-kaca karena bangga. "Kakek sangat bangga pada kalian berdua. Tidak ada yang lebih berharga daripada kasih sayang dan kesetiaan keluarga. Wu'er, kau menerima tanggung jawab besar itu dengan rendah hati dan bijaksana, itu yang membuatmu pantas menduduki posisi tersebut."

Malam itu, kediaman Wen dipenuhi dengan kehangatan dan sukacita. Berita tentang pengangkatan Feng Wu menyebar ke seluruh penjuru rumah, dan semua orang bersorak gembira bukan hanya karena status barunya, tapi karena mereka tahu gadis itu pantas mendapatkan segala hal baik yang datang padanya.

Dan jauh di dalam hatinya, Feng Wu berjanji jika ia tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu. Ia akan menjadi Tabib yang baik, melindungi orang-orang yang ia sayangi, dan membuktikan kepada seluruh dunia bahwa putri terbuang itu kini telah bersinar lebih terang dari bintang mana pun.

1
jenny
jangan² pria selingkuhan selir Yu nih yang menebarkan racun atas usulan selir Yu
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!